
Naura terdiam mendengar ucapan Damar yang memang sempat mengusik pikirannya. Pasti ada seseorang yang sengaja memberikan obat perangsang itu ke dalam minuman Damar. Jika bukan Naura yang bertemu Damar, mungkin gadis lain yang ada diposisi Naura saat ini.
"Gue penasaran banget, tapi itu bukan urusan gue," ucap Naura pelan.
Damar langsung bangkit dari tidurnya saat mendengar ucapan Naura yang terkesan tak peduli itu. Apa dia masih tidak peduli saat dia sendiri terkena dampak dari ulah orang yang memberikan obat perangsang itu ke minuman Damar?
Damar menatap Naura kesal. "Lo bilang bukan urusan lo? Sekarang ini juga urusan lo karena lo juga dirugikan akibat perbuatannya."
Naura bangkit dan menatap Damar dengan tatapan sinis. "Terus kalo tahu siapa orangnya mau apa? Emang setelah ketemu dengan orang itu, kita bisa kembali seperti semula?" tanya Naura skeptis.
"Nggak ada untungnya mencari tahu siapa orang yang masukin obat itu ke Wine milik lo. Sekarang kita pikirkan gimana caranya bisa lepas dari pernikahan ini," ucap Naura.
Setelah mengatakan itu, Naura memilih untuk tidur. Tak ingin berdebat lebih jauh dengan Damar mengenai siapa yang memasukkan obat perangsang sialan itu ke dalam minuman Damar. Untuk apa dicari tahu, toh nasi sudah menjadi bubur. Mereka tak bisa mengubah keadaan seperti semula.
Damar hanya melihat Naura yang tertidur dengan tatapan marah. Kenapa Naura bisa sesantai itu mengatakan jika itu bukan urusannya? Tentu saja dia tak peduli, toh dia tak harus merelakan apa pun. Tidak seperti Damar yang harus merelakan proses ta'aruf yang ia jalani bersama Aisyah harus berakhir.
"Dasar cewek egois," gumam Damar sinis menatap Naura yang tertidur.
***
"Uweekkk ... uweekkk ... uweekkk ...,"
Damar menutup telinganya menggunakan bantal saat mendengar suara orang muntah-muntah. Ini masih pagi hari dan suara berisik itu membangunkan Damar dari tidurnya yang lelap. Sungguh sangat tidak sopan.
Damar bangkit berdiri dan berjalan menuju kamar mandi. Melihat sosok Naura yang tengah berdiri di depan wastafel dengan wajah pucat dari kaca yang terpasang di dinding.
"Lo kenapa?" tanya Damar datar.
Naura hanya diam dan mengelap bibirnya yang basah oleh air sisa membasuh muntahannya. Mantap Damar dengan sinis dan berbalik dengan tubuhnya yang lunglai karena lemah.
"Lo pikir gue kenapa? Gue muntah-muntah karena hamil anak lo!" teriak Naura kesal.
Naura menunjuk-nunjuk Damar dengan kesal. Entah kenapa emosinya menjadi tak terkendali seperti ini sejak dia hamil. Apalagi saat melihat Damar, ia sangat tak suka melihat wajahnya. Dia selalu emosi setiap melihat wajah menyebalkan Damar.
"Cuma muntah-muntah doang heboh banget," gumam Damar sinis.
Damar berbalik dan meninggalkan kamar mandi dengan santai. Membuat Naura makin kesal karena sikap Damar yang acuh tak acuh padanya. Hei, Naura saat ini tengah mengandung darah daging Damar. Kenapa dia seolah tak peduli pada keadaan Naura?
"Gue muntah-muntah begini juga karena ulah lo," gumam Naura tak kalah sinis.
Naura memilih untuk mandi dan mengosok gigi. Baru akan mengambil sikat gigi, ia sadar jika sikat gigi dan juga peralatan mandinya masih tersimpan didalam koper miliknya. Dengan kesal Naura keluar kamar mandi untuk mengambil peralatan mandinya.
Saat Naura membuka pintu kamar mandi, dia melihat tubuh Damar yang terlihat atletis dan sedang membuka pakaiannya. Tanpa sadar Naura berteriak heboh hingga membuat Damar terkejut dan kembali memakai pakaiannya.
__ADS_1
"Woi, lo teriak-teriak kenapa sih?" tanya Damar membentak Naura.
Naura yang menutup matanya karena gugup melihat tubuh Damar yang sangat menggoda iman. Membuat Damar merasa heran pada Naura yang berjalan dengan mata tertutup dan meraba-raba sekitar. Apa Naura sedang bermain petak umpet atau nenek pinjam pisau? Itu kan permainan anak-anak dan sudah tidak pantas dimainkan oleh mereka?
"Lo lagi ngapain sih?" tanya Damar heran.
Naura yang tengah meraba-raba sekitar hanya diam dan terus meraba ruang kosong alias udara. Membuat Damar tersenyum geli melihat ekspresi lucu Naura yang mengerucutkan bibirnya karena tak menemukan apa yang ia cari.
"Ini koper gue dimana sih?" tanya gumam Naura kesal.
Damar menutup mulutnya agar tak mengeluarkan tawanya lebih keras melihat ekspresi Naura yang menggemaskan. Apa dia menutup mata seperti itu karena tidak ingin melihat tubuh Damar yang tak memakai kaus?
Merasa kasihan pada Naura yang tersandung dan menabrak nakas, Damar memilih memberikan instruksi kepada Naura. Ini juga sekaligus membalas perbuatan jahil Naura semalam. Ia baru membalas Naura satu kali dan ini adalah pembalasan kedua Damar.
Damar terkikik geli, "Terus jalan dikit lagi. Ke sebelah kiri dikit, eh bukan. Sebelah kanan dikit lagi ...,"
Damar mengulum senyum saat melihat Naura mengikuti instruksinya tanpa merasa curiga sama sekali. Ini adalah hiburan terbaik bagi Damar pagi ini. Inilah akibat dari mengusik Damar di pagi hari yang indah.
"Ini mana yang bener sih? Gue pengen cepat-cepat mandi, Dam," ucap Naura frustrasi. Dia melambai-lambaikan tangannya ke depan.
Naura yang merasa tidak sabaran meraba sesuai insting yang ia miliki. Instruksi dari Damar sama sekali tidak membantunya, malah membuatnya makin bingung. Jadi, Naura memilih untuk mencari secara mandiri.
Merasa tak mendengar suara Damar, Naura membuka matanya sedikit. Mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar dan tak menemukan Damar sama sekali. Naura mendengus keras dan menghentakkan kakinya kesal.
Damar yang ternyata berada di luar kamar terkikik geli karena telah berhasil membalas perbuatan Naura.
"Rasain tuh ...!" Damar terkikik geli dan pergi menuju ruang makan.
***
Naura turun ke bawah dan melihat Abi, Ummi, Annisa, dan Damar sudah duduk dengan tenang di meja makan. Bahkan Bi Inem telah menyiapkan sarapan yang benar-benar menggugah selera makan Naura entah kenapa. Mencium aromanya saja sudah membuat Naura berselera untuk makan.
"Ummi, maaf Naura baru turun," ucap Naura dengan raut wajah tak enak.
Ummi hanya tersenyum tipis dan menggeleng pelan. "Nggak apa-apa, kok. Ummi tahu kamu pasti lelah dan mual-mual di pagi hari. Apa hari ini kamu sudah mau kuliah?" tanya Ummi sambil menyodorkan piring kepada Naura.
Naura mengangguk dengan antusias. Tak mempedulikan tatapan Annisa yang tajam seolah tatapan itu bisa mengeluarkan laser dan membolongi jantung Naura. Naura berpikir mengabaikan Annisa adalah hal paling dewasa yang Naura harus ambil. Percuma meladeninya.
"Ummi, aku udah selesai. Tiba-tiba aku nggak nafsu makan karena ada bau busuk disekitar sini," ucap Annisa sinis.
Naura hanya tersenyum miring melihat tatapan Annisa yang terlihat mencemoohnya. Huh, jika bukan adik ipar, sudah dipastikan Annisa akan Naura bully habis-habisan. Naura takkan membiarkan siapa pun berani menatapnya dengan remeh.
Setelahnya Annisa mengambil tas sekolah miliknya dan pergi setelah bersalaman dengan Ummi dan Abi serta Damar. Melewati Naura begitu saja dan tak bersalaman seperti dengan yang lain. Dia menunjukkan permusuhan secara nyata pada Naura.
__ADS_1
"Naura, hari ini sebelum pergi kuliah kamu ikut Ummi ke dokter kandungan, ya," ucap Ummi penuh harap.
Naura yang sedang memakan sarapannya langsung terbatuk karena kaget. Ia memukul dadanya untuk membuatnya bisa bernafas lebih lega. Tapi, tetap tak bisa. Damar yang melihatnya memberikan minum dengan cepat. Berhubung jaraknya yang paling dekat dengan Naura.
Damar menyodorkan gelas berisi air, "Minum dulu, Naura."
Naura menyambut minuman itu dengan cepat dan meminumnya. Bernafas lega karena merasa telah bebas dari rasa sesak akibat tersedak roti yang ia makan untuk sarapan tadi.
Ummi bertanya dengan penuh harap, "Mau, ya?"
Naura yang merasa tak enak akhirnya menyanggupi ucapan Ummi. Melihat tatapan penuh harap Ummi membuat Naura tak mampu untuk berkata tidak. Biarlah, toh mereka hanya akan periksa kandungan. Naura juga tidak pernah memeriksakan kehamilannya selama ini. Mungkin usia kandungannya sudah tiga bulan?
Setelah sarapan, mereka bertiga akhirnya pergi ke salah satu klinik kandungan yang diberitahu Ummi pada Damar. Sedikit ada selisih pendapat antara Ummi dan Naura tentang siapa yang duduk di depan. Hingga akhirnya Naura mengalah dan duduk di depan seperti perintah Ummi.
"Naura, apa kamu tidak gugup?" tanya Ummi dengan senyum.
Naura yang tak mengerti maksud Ummi hanya menggeleng singkat. Dia tak mengerti apa maksud perkataan Ummi. Toh ini cuma periksa kandungan biasa, bukan hal lain yang bisa membuat orang gugup.
Setelah sampai di klinik, Ummi dan Naura langsung mendaftar dan menunggu untuk dipanggil. Damar sendiri memilih untuk merokok di ruangan khusus. Damar hanya mengantarkan dan tidak akan ikut masuk ke dalam ruangan.
Seorang suster berdiri di depan pintu ruangan dokter dan berkata, "Ibu Naura Srikandi."
Naura dengan cepat berdiri dan masuk ke dalam ruangan bersamaan dengan Ummi yang membantunya untuk berjalan. Persis seperti saat Naura pertama kali datang ke rumah besar Damar. Naura akan memakluminya untuk kali ini karena sekarang Naura tengah mengandung anak Damar.
"Silahkan berbaring di ranjang," ucap dokter itu dengan senyum manis. Dia lantas berdiri dan berjalan menuju Naura.
Naura merasa kegelian saat merasakan kulit perutnya diberikan gel. Dengan gugup Naura merasakan alat ultrasonografi bergerak mengelilingi perutnya. Saat melihat layar, Naura kaget melihat sebuah titik kecil yang bergerak-gerak.
Dokter tersenyum tipis, "Wah, bayinya sangat aktif."
Dokter mengetik sesuatu di sana dan menatap Naura dengan senyum yang sangat lembut dan menenangkan.
"Apakah anda ingin mendengar suara detak jantungnya?" tanya dokter itu dengan senyum.
Naura menatap tak percaya. Apakah bisa mendengar suara detak jantung bayinya? Seingat Naura ini baru tiga bulan, tak mungkin detak jantung bayi bisa terdeteksi secepat itu?
"Apa bisa, Dok? tanya Naura kaget.
"Tentu saja bisa," ucap dokter itu dengan senyum tipis.
Naura mengangguk sebagai tanda persetujuan kepada dokter. Saat dokter akan memulainya, Ummi menahan dokter.
"Apakah bisa menunggu sebentar? Suaminya akan masuk untuk mendengarkan juga," ucap Ummi meminta dokter menunggu.
__ADS_1
Bersambung