Terpaksa Menikah Karena Hamil

Terpaksa Menikah Karena Hamil
Bab 16. Ngidam


__ADS_3

Damar berulang kali menutup telinganya menggunakan bantal. Dia tak menghiraukan suara Naura yang terus memanggilnya. Dia masih ingin tidur, tetapi Naura terus membangunkannya di tengah malam begini. Membuat Damar kesal saja.


"Dam, bangun," ucap Naura merengek.


Damar tak mengindahkan rengekan Naura dan tetap berusaha untuk memejamkan matanya. Ia harus tidur sekarang, karena besok ada jadwal kuliah pagi yang harus ia ikuti. Namun, suara Naura yang merengek membuatnya tak bisa tidur.


"Mau lo apa sih, Nau?!" teriak Damar kesal.


Damar bangun dan menatap Naura dengan tajam. Matanya yang sayu karena mengantuk terlihat memerah. Ia sangat mengantuk, tapi Naura terus saja berisik. Membuat Damar menjadi kesal dan marah.


"Gue ..."


Damar menunggu apa yang ingin Naura ucapkan. Damar akan meladeni Naura dan setelah apa yang Naura inginkan tercapai, ia akan tidur sepuasnya tanpa gangguan Naura.


"Iya, lo mau apa?" tanya Damar dengan muka mengantuk.


"Gue mau Seblak Fettucini," ucap Naura pelan.


Damar membulatkan matanya mendengar apa yang Naura ucapkan. Seketika matanya yang tadi mengantuk langsung terbuka dengan lebar. Permintaan Naura ini sungguh aneh. Memangnya ada Seblak Fettucini?


"Ini lo ngelantur? Mau Seblak atau Fettucini?" tanya Damar memastikan.


Naura melipat tangannya di dada dan mengerucutkan bibirnya kesal. "Gue mau Seblak Fettucini!" Jawabnya tegas. Damar mengusap wajah kesal. Ada apa sih dengan Naura? Permintaannya sungguh tidak masuk akal.


"Gue bilang, gue maunya Seblak Fettucini. Lo tuli atau gimana? Cepetan!" Naura membuang muka, tak ingin menatap Damar.


Damar merasa sangat kesal saat ini. Sekarang sudah pukul 1.30 malam dan Naura meminta sesuatu yang sangat mustahil untuk diwujudkan. Memangnya ada Seblak Fettucini? Hanya orang gila kurang kerjaan yang menciptakan menu makanan tersebut.


"Lo jangan aneh-aneh deh, Nau. Mana ada Seblak Fettucini di sini. Nggak ada orang waras yang mau bikin Seblak dicampur sama Fettucini. Cuma orang gila yang mau bikin makanan nggak jelas kayak gitu." Jawab Damar berapi-api.


Naura menatap Damar dengan mata berkaca-kaca, bersiap untuk menangis. Damar yang melihatnya merasa curiga dan mulai menerka apa yang akan dilakukan Naura. Tak lama ada suara isakan kecil, lalu berangsur membesar. Membuat Damar memukul dahinya bingung.

__ADS_1


"Huwaaa, hiks ... hiks ... Damar jahat banget huhuhu," ucap Naura sambil menangis. Membuat Damar bingung kalang kabut karena suara tangis Naura yang makin kencang. Mungkin saja suara Naura akan membangunkan orang satu rumah.


"Stop dong, Nau. Gue mohon jangan nangis lagi. Ok, gue akan cari Seblak Fettucini itu buat lo." Damar melepas tangannya yang menempel di telinganya. Melihat Naura yang tersenyum dengan ceria dan sedikit melompat karena kegirangan.


"Cari sekarang juga!" Naura memerintah dengan gayanya yang sok seperti bos. Berkacak pinggang dengan piyama biru tua yang ia kenakan.


Damar turun dari ranjang dan mengambil jaket miliknya. Ia akan mencari Seblak Fettucini yang entah di mana ia akan mendapatkannya. Untuk saat ini ia harus mencarinya terlebih dahulu untuk menghindari tangisan Naura.


"Lo tunggu di sini, biar gue yang cari." Damar memakai jaket miliknya dan mengambil kunci mobil miliknya. Namun, Naura berjalan mengikutinya.


"Gue ikut. Mungkin aja lo kabur dan nggak beliin Seblak Fettucini itu buat gue." Damar hanya bisa menatap Naura dengan ekspresi lelah dan juga kesal. Kenapa Naura bisa menebak isi hatinya yang ingin kabur dan tak berniat membeli makanan aneh bin ajaib itu?


Damar berdecak, "Lo di rumah aja. Gue cariin sampe ketemu. Gue janji nih," ucapnya dan menyodorkan jari kelingkingnya pada Naura. Naura menautkan jari kelingkingnya pada kelingking Damar. "Janji, ya? Awas kalo lo bohong." Damar hanya mengangguk malas.


"Ya udah, gue pergi dulu." Jawab Damar pelan. Namun, baru beberapa langkah ia meninggalkan kamarnya, Naura telah mengikutinya lagi. Membuat Damar kesal dan berbalik menatap Naura. "Lo kenapa buntutin gue lagi?" tanyanya menahan kesal.


"Gue nggak percaya sama lo. Pokoknya gue mau ikut!" Damar menghela nafas lelah melihat Naura yang memaksa untuk tetap ikut. Dengan sangat terpaksa, Damar akhirnya membawa Naura untuk mencari Seblak Fettucini itu.


"Nggak mau! Nanti lo ninggalin gue sendiri." Damar yang sudah merasa kesal, melepas jaket miliknya dan memakaikannya pada Naura. Hal itu membuat Naura kaget dan juga merasa jika Damar sedikit peduli padanya.


"Lo pake itu aja," ucap Damar pelan. Ia mengalihkan pandangan karena merasa gugup. Tak sengaja ia melihat tali bra Naura.


Naura membenarkan jaket yang tadi Damar pakaikan. Ukurannya sedikit kebesaran dan panjang di daerah tangan, membuat tangan Naura tak terlihat sama sekali.


"Ayo cepet!"


Naura dengan senyum berlarian kecil menyusul langkah kaki Damar yang lebar. Berjalan menuju bagasi dan masuk ke dalam mobil. Senyum cerah tak pernah lepas dari wajah Naura, membayangkan nikmatnya rasa Seblak Fettucini. Liurnya hampir saja menetes jika ia tak cepat membersihkannya.


***


Damar memasuki mobil setelah bertanya pada warung yang buka. Dia mengusap kedua lengannya untuk memberikan kehangatan. Udara malam yang dingin membuatnya merasa menggigil. Naura yang melihatnya menjadi tak enak hati.

__ADS_1


"Ada nggak?" tanya Naura penuh harap.


Damar menggeleng dengan wajah kedinginan. "Ya, nggak ada. Orang waras nggak ada yang jual Seblak tengah malam, apalagi Seblak Fettucini. Cuma orang nggak waras yang jualan makanan aneh kayak begitu." Damar meniupi tangannya untuk menghangatkan tubuh.


Naura menghela nafas sedih, tetapi ia sangat menginginkan hal itu. Ia menatap Damar dengan tatapan memohon dan air mata yang mengalir. Membuat Damar merasa iba dan akhirnya melajukan mobilnya untuk mencari benda yang Naura inginkan.


Damar menyetir mobil dengan kecepatan rendah karena ia sangat mengantuk. Selain itu, ia tak ingin ada warung yang terlewat dari pandangannya. Ia menjaga agar tak terjadi kecelakaan dan sekaligus memenuhi permintaan Naura yang aneh-aneh.


Tanpa sadar, Damar telah menyetir sampai jauh. "Eh, ini udah sampe ke Tanggerang aja," ucapnya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Naura yang ketiduran akhirnya terbangun karena mendengar suara berisik yang Damar timbulkan. "Udah dapet Seblak Fettucini-nya?" tanyanya tak sabaran.


Damar menggaruk kepalanya dan menatap Naura sebal. Dia hanya memikirkan Seblak Fettucini terus sejak tadi, tak memikirkan Damar atau di mana mereka sekarang.


"Lo sebenarnya mau apa sih, Nau? Ini lo ngidam atau mau nyiksa gue?!" Damar mengusap wajahnya kesal.


Damar sudah sampai pada batas kesabarannya. Dia menuruti apa kemauan Naura dan mencari Seblak Fettucini yang diinginkan Naura. Walaupun Damar tahu makanan itu tak akan ada yang menjual di tengah malam seperti ini. Namun, Damar tetap mencarinya demi memuaskan keinginan Naura.


"Lo mau Seblak aja nggak ada yang jual jam segini. Apalagi lo mau Seblak Fettucini. Itu Seblak model apa juga gue nggak ngerti dan nggak pernah dengar." Damar mengeluarkan isi hatinya.


"Terus mau lo apaan sekarang? Masih mau Seblak Fettucini lagi?" tanya Damar dengan emosi yang telah memuncak.


Naura yang melihat Damar emosi malah menangis dalam diam. Air matanya mengalir deras tanpa bisa ia hentikan. Dia menangis hanya dengan mendengar keluhan Damar. Mungkin karena ia lebih sensitif belakangan ini tanpa alasan yang jelas.


"Gue ... gue cuma mau makan Seblak Fettucini itu," ucapnya dengan air mata berlinang.


Damar menoleh dan terkejut melihat Naura menangis dengan air mata berlinang. Suaranya juga terputus-putus karena sesenggukan, membuat Damar merasa bersalah.


"Gue cuma mau makan Seblak Fettucini, huwaaaa hiks hiks."


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2