
Damar masuk ke ruang pemeriksaan dengan setengah hati. Dia yang sedang asyik merokok tiba-tiba ditelepon Ummi dan disuruh masuk ke ruang pemeriksaan. Entah untuk apa, tapi sepertinya ada masalah sampai ia disuruh masuk.
"Apa anda suami Bu Naura Srikandi?" tanya dokter perempuan itu lembut.
"Iya, Dok." Damar mengangguk pelan.
"Baiklah, akan saya mulai." Dokter mulai menggerakkan alat ultrasonografi menuju perut Naura dan menekan sebuah tombol.
'Dag-dig-dug ... Dag-dig-dug ...'
Suara seperti detak jantung manusia terdengar dari alat tersebut. Entah kenapa rasanya jantung Damar berdetak kencang dan terenyuh. Tiba-tiba rasa yang sulit ia jelaskan menyeruak menyelimutinya.
Begitu pula dengan Naura yang entah kenapa ia meneteskan air mata mendengar suara tersebut. Ada sebuah nyawa yang sedang berkembang di dalam tubuhnya. Berlindung di dalam perutnya hingga ia lahir ke dunia kelak. Perasaan Naura campur aduk saat ini. Ia tak bisa mengungkapkannya dengan kata-kata.
"Luar biasa, bukan?" tanya dokter dengan senyum.
Ummi melihat lebih jelas layar tersebut. Dia merasa takjub dan haru karena ini adalah cucu pertamanya. Perasaan campur aduk tak bisa ia bendung. Ia meneteskan air mata seperti Naura. Rasanya sangat membahagiakan baginya.
Dokter berhenti menggerakkan alat ultrasonografi dan membereskan peralatan itu. Sebelumnya ia mengambil sebuah kertas yang mungkin saja hasil USG dari alat tersebut.
"Saya hanya akan memberikan vitamin saja." Dokter itu duduk di kursinya dan menuliskan resep untuk Naura.
Naura berdiri dibantu oleh Ummi dan turun dengan hati-hati. Berjalan pelan menuju meja ruangan dokter dan menunggu apa yang akan dikatakan oleh dokter perempuan itu.
"Apa tidak perlu obat penguat kandungan, Dok?" tanya Ummi.
Dokter itu menggeleng, "Untuk sekarang tak perlu, Bu. Si ibu terlihat sehat dan baik-baik saja."
Dokter tersebut menyodorkan hasil USG kepada Naura dan Damar. Dengan mata berembun Naura menatap hasil USG itu. Perasaannya saat ini campur aduk, antara senang dan sedih. Naura senang melihat jika janin di dalam rahimnya tumbuh dengan baik. Di lain sisi ia merasa bersalah karena sempat menolaknya.
"Berapa usianya?" tanya Naura dengan air mata menggenang.
"Usianya sudah 11 Minggu. Hampir mendekati tiga bulan," ucap dokter itu.
Naura tanpa sadar memegang perutnya dengan tangan bergetar. Apakah secepat itu pertumbuhannya? Naura merasa kalau baru kemarin ia mengetahui kondisinya. Tapi, sekarang usia kandungannya sudah tiga bulan. Waktu berjalan dengan begitu cepat.
"Kapan akan lahir?" tanya Damar cepat.
Dokter tersenyum geli, "Masih enam bulan lagi untuk bayi lahir, Pak. Perut istri anda bahkan belum membuncit."
Damar menggaruk kepalanya yang tidak gatal, merasa malu. Ummi yang melihat tingkah konyol anaknya malah menoyor kepalanya dengan kuat. Membuat Damar mendengus karena kesal pada Ummi-nya.
"Kalau begitu kami permisi, Dok." Mereka semua berdiri dan pamit kepada dokter tersebut.
Dokter mengangguk singkat, "Iya, Bu Syifa."
Mereka akhirnya meninggalkan ruang pemeriksaan itu.
***
"Naura ...!"
__ADS_1
Naura menoleh ke belakang saat mendengar ada suara familiar yang memanggilnya. Stefano dan Rinjani berlarian sambil melambaikan tangan padanya. Membawa banyaknya buku tebal yang pastinya sangat berat.
"Hosh ... Hosh ... Kita dari tadi manggil lo terus." Nafas Stefano tersengal-sengal dan memegang lututnya karena lelah.
"Aduh, capek banget gue." Rinjani juga langsung terduduk di koridor fakultas Ekonomi.
Mereka terduduk seperti pengemis yang meminta-minta. Untung koridor fakultas Ekonomi sedang sepi, jika tidak Stefano dan Rinjani akan tertendang oleh mahasiswa yang lewat.
"Kalian ngapain di sini?" tanya Naura heran.
Naura, Stefano, dan Rinjani memang berbeda fakultas. Gedung mereka saja terpisah, tapi kenapa mereka datang ke sini?
"Kita berdua nyariin lo. Lo udah sebulan nggak masuk kuliah. Kak Banyu bahkan nanyain lo ke kita." Jawab Rinjani sambil mengipasi tubuhnya menggunakan tasnya.
Jantung Naura berdetak kencang mendengar nama Kak Banyu. Naura merasa sangat senang karena Kak Banyu menanyakannya kepada Rinjani dan juga Stefano.
"Katanya dia khawatir ke lo. Terakhir kali ketemu lo 3 bulan lalu pas lo lemas gitu. Lo ke mana aja sih?" tanya Rinjani heran.
"Gue dikurung sama Papa. Gue lagi hamil sekarang." Rinjani dan Stefano langsung berdiri.
"Lo ... apa tadi? Hamil?" tanya Rinjani tak percaya.
Stefano tak kalah terkejutnya dengan Rinjani. Bahkan ia memukul pipinya untuk memastikan ini bukan mimpi atau khayalan. Tapi, rasanya sakit dan ini bukanlah mimpi.
Naura mengangguk lemah. Dia berjalan menuju kursi yang tersedia di setiap koridor dan duduk dengan menyandar. Dia menghela nafas panjang sebelum menceritakan apa yang ia alami bersama dengan Damar di pesta ulang tahun Aldi.
"Kurang ajar si Damar! Dia bilang begitu ke lo, Nau? Mau gue gampar itu mukanya." Stefano berdiri dan hendak mencari Damar, tapi ditahan oleh Rinjani dan Naura.
"Terus sekarang lo menikah sama Damar?" tanya Rinjani hati-hati.
Naura mengangguk, "Iya, dan gue tinggal sama orang tua Damar sekarang."
Rinjani mengelus punggung Naura pelan. Naura memang menghilang selama 3 bulan ini. Ia tak mengangkat telepon, tidak datang untuk kuliah dan saat Rinjani dan Stefano datang ke rumah Naura, Bi Surti mengatakan Naura tidak ada di rumah.
"Sekarang gue udah nggak punya kesempatan untuk dekat sama Kak Banyu," gumam Naura sedih.
Rinjani refleks memeluk Naura dengan erat. Dia sangat mengerti akan perasaan Naura yang menyukai Kak Banyu. Wanita manapun pasti akan menyukai Kak Banyu karena sifatnya yang bijaksana dan lembut.
"Udah, lo jangan nangis. Sekarang lo fokus sama kandungan lo dulu." Rinjani melepas pelukannya dan menghapus air mata Naura.
Stefano berkacak pinggang dengan emosi yang meluap-luap. Amarahnya naik sampai ke ubun-ubun mengingat cerita Naura tadi. Sebagai sahabat Naura, Stefano tak terima dengan penghinaan Damar.
"Lo mau ke, Fan?" tanya Rinjani heran.
Stefano berbalik, "Mau ke kantin." Stefano pergi meninggalkan Naura dan Rinjani.
"Gue mau masuk kelas dulu. Udah lama gue absen." Naura membereskan semua barangnya dan berdiri untuk masuk ke kelas perkuliahannya.
"Gue ikut lo kuliah deh." Rinjani berdiri dan mengapit tangan Naura dengan cengiran khas miliknya.
Naura tersenyum tipis dan mengangguk. Berjalan dengan senyum bersama dengan Rinjani menuju kelas yang akan ia ikuti hari ini. Semoga saja ia kuat menjalani kegiatan perkuliahan hingga selesai.
__ADS_1
***
"Ternyata pelajaran ekonomi bikin mumet juga." Rinjani menempelkan pipinya di meja dengan mata terpejam.
Dua jam menemani Naura mengikuti kelasnya terasa seperti neraka baru bagi Rinjani. Ternyata bukan cuma kelasnya yang bagaikan sebuah neraka, tapi di kelas Naura juga bagaikan neraka bagi mahasiswa fakultas ekonomi.
Apalagi Profesor yang mengajar sangat aktif dan sering memberikan pertanyaan kepada mahasiswa. Rinjani hampir saja ditanya, tapi untungnya Kak Banyu sebagai asisten dosen berkilah jika Rinjani adalah mahasiswa pindahan.
"Lo sih sok-sokan mau ikut mata kuliah gue," gumam Naura kesal.
Saat mereka keluar dari kelas, mereka melihat Kak Banyu tengah menunggu mereka. Membuat Naura gugup dan merasa sedih karena sekarang ia sudah tidak memiliki kesempatan untuk dekat dengan Kak Banyu.
"Kak Banyu, ada apa?" tanya Naura berusaha bersikap biasa.
Banyu terlihat gugup dan juga menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia seketika sulit untuk mengatakan apa yang akan ia katakan tadi.
"Kamu nggak apa-apa? Saya khawatir karena terakhir ketemu kamu sangat pucat. Apa kamu sedang sakit?" tanya Kak Banyu khawatir.
Naura mengangguk pelan, "Iya, Kak. Aku nggak apa-apa." Naura berusaha untuk tak menatap Kak Banyu lebih lama.
Banyu yang merasa Naura tak ingin berbicara lebih lama dengannya, tersenyum sedih. Menghela nafas pelan, Banyu berpamitan kepada dua gadis itu.
"Kalau begitu saya pamit, ya." Banyu pergi begitu saja meninggalkan Naura dan Rinjani.
***
Stefano melihat ke seluruh tempat di fakultas tempat Damar biasa terlihat. Kebetulan Damar selalu datang ke fakultas kedokteran, fakultas tempat Stefano menuntut ilmu. Stefano menatap geram saat melihat Damar tengah mengobrol dengan Aisyah dengan asyik.
Padahal dia telah menikah dengan Naura, tapi ia masih mendekati Aisyah? Apakah orang tua Damar tidak melarang Damar untuk bertemu dengan Aisyah kembali?
"Bangs*t lo ...!"
Stefano memukul Damar dengan kuat, membuatnya terhuyung ke belakang. Aisyah menjerit histeris karena Stefano memukul Damar tiba-tiba. Mahasiswa langsung berkerumun untuk melihat apa yang terjadi.
"Lo apa-apaan sih, bajingan?!" Damar berjalan pelan sambil memegang pipinya yang terasa perih.
Stefano menatap Damar tajam. Bahkan saat Damar menarik kausnya, Stefano hanya tersenyum sinis padanya. Membuat emosi Damar terpancing dengan provokasi yang Stefano lakukan dengan senyum mengejeknya.
"Lo yang apa-apaan! Bukannya lo udah punya istri, tapi kenapa lo masih jalan sama dia!?" Stefano berteriak dan menunjuk Aisyah dengan tatapan tajam.
Aisyah yang ditunjuk terkejut dan menatap Stefano tak percaya. Ia jauh lebih terkejut mendengar bahwa Damar sudah menikah. Apakah Aisyah tak salah dengar?
"Mas Damar sudah menikah?" tanya gumam Aisyah.
Damar menatap Aisyah dengan gugup. Ia takut jika Aisyah mengetahui tentang kebenaran jika Damar telah menikah dengan Naura.
"Mas Damar, apakah benar yang dikatakan olehnya? Mas sudah menikah?" tanya Aisyah dengan air mata mengalir.
Semua mahasiswa yang menonton kejadian itu saling berbisik dan heboh melihat keributan yang tercipta. Menanti jawaban yang akan Damar berikan.
"Itu ...,"
__ADS_1
Bersambung