Terpaksa Menikah Karena Hamil

Terpaksa Menikah Karena Hamil
Bab 14. Permusuhan Sengit


__ADS_3

Annisa melihat semuanya. Dia melihat bagaimana Aisyah menangis setelah mendengar fakta jika Damar menghamili Naura. Tangisannya mampu membuat hati Annisa perih. Dia juga bisa merasakan kesedihan Aisyah. Pasti sangat tak adil bagi Aisyah harus merelakan pria yang ia cintai untuk menikah dengan gadis lain.


Annisa mengepalkan tangannya kuat. "Ini semua karena si pel*cur litu," ucapnya geram.


Jika saja gadis itu tak datang membawa berita aib itu, pasti saat ini keluarga mereka tengah bahagia. Merencanakan tentang proses lamaran Damar untuk Aisyah. Namun, yang terjadi adalah bencana dalam bentuk manusia bernama Naura Srikandi. Wanita itu datang dan menghancurkan kebahagiaan keluarga mereka.


Suara pintu yang terbuka membuat Annisa langsung menoleh ke pintu depan. Terlihat Naura baru saja pulang dan membawa dua orang berbeda jenis kelamin. Annisa yang datang mendekati Naura dengan tatapan marah.


"Bagus banget, ya. Pulang bawa pasukan iblis." Annisa menatap dengan sorot mata tajam. Tangannya ia lipat di dada seolah menantang Naura.


"Nau, siapa? Mulutnya kayak petasan banting aja." Naura hampir saja tertawa, tapi ia berhasil menahannya. Ucapan Stefano yang spontan kadang membuat siapa pun tertawa.


Rinjani menginjak kaki Stefano. "Mulut lo dijaga. Ini rumah mertuanya Naura," bisik Rinjani sambil melirik Annisa dan mengulas senyum sok manis.


Annisa memutar matanya bosan. Ternyata teman-teman Naura. Pantas saja Annisa sudah tak suka pada Naura sejak pertama bertemu, ternyata teman-temannya pun sama sepertinya. Pasti mereka suka datang ke tempat hiburan malam dan melakukan maksiat.


Rinjani dan Stefano merasa risih karena cara Annisa melihat mereka. Menatap dari ujung kepala hingga ujung kaki, seolah sedang melakukan X-ray. Rinjani dan Stefano saling menatap heran.


"Kenalin Fan, Jan, ini adik iparku. Namanya Annisa." Naura memperkenalkan Annisa kepada kedua temannya.


Rinjani mengulurkan tangannya ke depan, berniat menyalami Annisa. Namun, Stefano hanya diam dan melipat tangannya di dada. Dia balas menatap Annisa tak kalah tajam.


Annisa hanya diam tak menyambut uluran tangan Rinjani. Hal itu tentu membuat Rinjani agak kesal pada gadis ini. Padahal Rinjani berniat untuk berkenalan, tapi sepertinya gadis ini tak sudi untuk berkenalan dengannya.


"Hehe, mungkin kamu nggak mau jabat tanganku karena aku belum cuci tangan, ya? Maaf ya, lain kali aku cuci tangan dulu." Rinjani menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


Naura hanya menggelengkan kepala melihat tingkah Rinjani yang aneh. Dia melihat Stefano yang masih tetap menatap Annisa dengan tajam. Dengan cepat Naura memukul kepala Stefano menggunakan buku miliknya yang paling tebal.


Plak!


"ADUHHH ...!"


Stefano memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Telinganya terasa berdengung karena getaran buku. Dengan pelan ia menoleh kepada Naura dan menatapnya kesal. Rinjani bahkan tertawa dengan kencang melihat adegan itu.

__ADS_1


"Lo kenapa geplak kepala gue, Nau?" tanya Stefano kesal.


Naura terkikik geli dan memasukkan kembali buku itu ke dalam tas. Annisa menautkan alisnya bingung, merasa aneh dengan sikap ketiga orang ini. Lebih baik ia cepat-cepat pergi dari sini. Ia tak ingin berlama-lama dan berdekatan dengan Naura.


Annisa pergi dan menuju arah belakang, entah mau ke mana. Sesekali melihat Naura dan kedua temannya, entah siapa tadi namanya.


"Eh, itu Abi. Ada apa, ya?" tanya Naura yang melihat ayah Damar tengah tertunduk dengan wajah sedih.


Naura ingin bertanya, tapi ia masih terlalu canggung. Apalagi ayah Damar sepertinya tidak begitu menyukainya. Mungkin karena Naura menorehkan aib di keluarga ini, atau karena ia yang tak berhijab. Jadi, Naura agak segan untuk mendekati ayah mertuanya tersebut.


"Lo berdua tunggu di sini, ya? Gue mau minta izin nyokap Damar dulu." Stefano dan Rinjani mengangguk bersamaan. Tak menoleh dan fokus pada arsitektur rumah itu yang sangat mengagumkan. Belum pernah mereka melihat rumah semewah ini.


Naura pergi mencari ibu Damar untuk meminta izin. Dia merasa itu perlu karena ia menumpang tinggal di rumah ini. Mungkin saja setelah ia melahirkan, ia akan diusir dari rumah ini oleh Damar. Apalagi ia sadar diri dan meminta izin untuk membawa orang luar untuk bertamu.


"Ummi ..."


Naura berlari kecil untuk menemui ibu Damar yang sedang memasak. Membuat wanita berusia 46 tahun itu meringis karena takut Naura akan jatuh. Ia takut Naura akan terpeleset. Di sini licin dan mungkin ada bekas minyak yang berceceran.


"Naura, jangan lari-larian. Nanti terjadi apa-apa sama kandungan kamu bagimana? Jalan pelan-pelan saja, ya?" Naura mengangguk patuh mendengar nasehat ibu Damar.


Naura hanya menatap dengan tajam Annisa. Dia sudah cukup sabar dan menganggap sikap Annisa selama ini hanya sikap kekanakan. Namun, tidak lagi. Annisa sudah cukup kelewatan dalam berkata dan sikapnya sungguh kurang ajar.


"Astaghfirullahaladzim, Annisa! Jaga ucapan kamu, ucapan itu adalah doa." Ibu Damar menegur Annisa dengan tegas. Raut wajahnya memerah karena marah. Naura hanya diam, ia tak ingin ikut berkomentar.


"Memang ada yang salah dari ucapanku, Ummi? Dia ini membawa sial dalam keluarga kita. Gara-gara dia, hubungan keluarga kita dan Kak Aisyah jadi buruk." Annisa menunjuk Naura tanpa peduli apakah Naura tersinggung atau tidak.


Setelah mengatakan itu, Annisa pergi dari dapur dengan kaki menghentak. Sengaja menabrak bahu Naura cukup kuat hingga Naura hampir jatuh. Untung ibu Damar menahannya agar tidak jatuh.


"Anak itu ..."


Ibu Damar langsung melihat keadaan Naura, takut jika terjadi sesuatu terhadapnya. Ia menghela nafas lega saat tak terjadi apa pun pada menantunya itu. Kalau terjadi apa-apa pada Naura, ia tak tahu harus bagaimana.


"Ada apa mencari Ummi ke sini, hmm?" tanyanya.

__ADS_1


Naura menggigit bibirnya ragu. Ia takut untuk meminta izin, tapi Rinjani dan Stefano sudah ada di depan. Dengan keberanian yang secuil, Naura meminta izin kepada ibu Damar.


"Ummi, Naura mau minta izin. Ada dua teman Naura di depan yang ingin bertamu. Apakah boleh, Ummi?" tanya Naura sopan.


Ibu Damar terkejut dan memegang dadanya karena mendengar pertanyaan Naura. Apa Naura takut membawa temannya? Ibu Damar langsung memeluk Naura erat. Dia mengelus rambutnya yang tak dikuncir dengan lembut.


Ibu Damar melepas pelukannya dan membelai pipi Naura lembut. "Naura, kamu tidak perlu izin Ummi untuk membawa temanmu ke rumah ini. Kamu boleh membawa temanmu, tapi—"


Naura menaikkan alisnya bingung melihat ibu Damar yang menggantung kalimatnya. Ia menanti kelanjutan ucapan ibu mertuanya dengan sabar.


"Kamu harus meminta izin Damar jika membawa teman lelaki ke rumah ini." Jawab ibu Damar lembut.


Naura langsung kikuk karena memang benar ia mengajak teman lelaki ke rumah ini. Namun, ia juga membawa teman perempuan kok.


"Aku bawa teman perempuan juga kok, Ummi. Mereka cuma mau berkunjung dan main sebentar. Boleh 'kan, Ummi?" tanya Naura penuh harap.


Ibu Damar terlihat berpikir sejenak. Tak lama kemudian anggukan ia berikan sebagai jawaban. Tentu saja Naura merasa senang dan memeluk ibu Damar karena diperbolehkan mengajak temannya.


"Terima kasih banyak, Ummi," ucap Naura dengan bahagia.


Ibu Damar tersenyum dan mengelus punggung Naura lembut. Ia merasa sangat dekat dan mudah dekat dengan Naura. Gadis ini memiliki sifat dan daya tarik tersendiri hingga ibu Damar suka padanya dalam waktu dekat.


"Iya. Sudah sana temui temanmu. Ummi akan buatkan minuman untuk kalian." Naura mengangguk dan pergi meninggalkan dapur setelah berpamitan kepada ibu Damar.


Naura berjalan dengan riang dan langkahnya terhenti saat Annisa menghadang jalannya. Hal itu membuat Naura heran. Kenapa sih adik iparnya ini selalu ingin mencari masalah dengannya? Memangnya sebegitu tidak sukakah ia pada Naura hingga melakukan hal ini?


"Gara-gara kamu hubungan keluarga kami dan Kak Aisyah rusak. Itu semua gara-gara aib yang kamu bawa!" Annisa berteriak dengan kencang, tapi karena rumah ini besar tak ada yang mendengar.


Naura menghela nafas panjang. "Gara-gara aku? Kamu dengar Annisa, semua yang terjadi sampai aku masuk ke rumah ini, semuanya karena Damar. Damar yang menghamili aku, menghancurkan masa depanku. Lalu—"


Naura menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. "Dia sendiri yang yang membuat hubungan keluarga kalian dan siapa itu? Aku nggak peduli semua itu. Minggir, aku mau ketemu temanku." Naura menabrak tubuh Annisa dengan kuat, seolah membalas perbuatan Annisa tadi.


Annisa hanya bisa menatap Naura yang berjalan angkuh dengan tatapan tak percaya. Naura berani melawan dan juga bersikap semena-mena terhadapnya. Dia merasa menang karena dibela oleh ibunya.

__ADS_1


"Akh ...!"


Bersambung


__ADS_2