Terpaksa Menikah Karena Hamil

Terpaksa Menikah Karena Hamil
Bab 7. Pernikahan Sederhana


__ADS_3

Naura memasang wajah sedih disepanjang ia di rias. Bukan pernikahan seperti ini yang ia inginkan. Ia menginginkan pernikahan mewah disebuah ballroom hotel mewah dengan ratusan ribu undangan. Melakukan foto prewedding di Bali atau luar negeri.


Memakai gaun pengantin yang di desain oleh desainer terkenal dan juga penuh kebahagiaan. Menikah dengan orang yang mencintainya dan juga dia cintai. Tapi, itu semuanya sirna karena kehamilan yang tak ia inginkan.


Hanya pernikahan super sederhana yang akan di gelar.


Ia harus menikah dengan Damar, itulah keputusan yang dibuat oleh Papanya dan juga ayah Damar. Lalu sekarang seperti inilah Naura, hidup namu tak benar-benar hidup. Dia layaknya sebuah boneka yang tengah di dandani.


"Mbak, jangan nangis terus, dong. Saya jadi susah make up-in mbaknya."


Naura hanya diam tanpa ingin membalas ucapan perias itu. Bahkan Naura tak peduli pada semua orang yang mengeluh karena Naura berulang kali merusak riasannya. Dia sudah tak peduli lagi akan semuanya setelah Papa dan Mamanya mengetahui kehamilannya.


Setelah usaha yang ekstra keras, perias pengantin itu tersenyum puas saat melihat hasil karyanya. Walau ia mendapat kesulitan karena pengantin wanita menangis sepanjang di rias, ia dengan sabar memperbaikinya.


"Mbak, jangan nangis lagi, ya? Ini hari bahagia mbak, bukan hari yang patut mbak tangisi," ucap perias itu sambil membereskan semua peralatan make up miliknya.


Naura hanya diam tak menanggapi ucapan perias pengantin tersebut. Dia tak ingin menjawab ucapannya karena perias itu tak tahu keadaan yang Naura alami. Dia hanya tahu jika ini adalah hari dimana harusnya Naura berbahagia bukan bersedih.


"Apakah sudah selesai?"


Perias pengantin itu mengangguk dan mempersilahkan Mama Naura untuk masuk bersamaan dengan ibu Damar. Naura hanya diam dengan sorot mata datar dan mata yang sembab walau sudah ditutupi oleh make up.


Widya mengelus kepala Naura yang tertutup hijab dan juga hiasan pengantin. Dia sedih melihat Naura yang hanya diam tak menanggapi setiap orang yang mengajaknya berbicara. Putrinya yang ceria dan juga penuh semangat seketika menjadi seperti boneka.


"Nak Naura, jangan menangis lagi, ya? Ummi minta maaf atas kesalahan anak Ummi yang tidak beradab itu. Ummi berharap kalian akan bahagia dalam pernikahan ini."


Naura diam tak berekspresi apa pun, tapi di dalam hatinya ia menertawakan ucapan ibu Damar. Bahagia dalam pernikahan ini? Omong kosong belaka. Apakah pernikahan yang terjadi akibat kehamilannya ini bisa bertahan lama?


"Saya permisi dulu, Bu Widya. Sepertinya akad nikah akan dilaksanakan. Saya permisi dahulu," ucap ibu Damar sambil mengelus bahu Naura lembut.


Suara ramai dari lantai satu rumahnya terdengar sampai ke kamarnya. Naura benci suasana ini dan keadaannya saat ini. Semua orang yang menghadiri pernikahan ini berpikir jika kedua mempelai bahagia akan pernikahan ini. Tapi, itu tak benar. Naura tak menginginkan pernikahan ini.


"Ma, aku nggak mau menikah dengan Damar," ucap Naura lirih.


Untuk pertama kalinya Naura berbicara sejak seminggu yang lalu Naura tak mengucapkan satu patah kata pun. Hal itu membuat Widya senang sekaligus sedih. Dia juga tak ingin putri semata wayangnya menikah secepat ini, tapi ia tak bisa menentang keputusan suaminya.


Widya memeluk Naura dengan erat dan mengelus kepala Naura lembut.


"Maafkan Mama, Naura. Mama lalai menjaga kamu hingga kamu seperti ini," ucap Widya sedih.


Naura menggeleng di dalam pelukan Widya. Bukan, ini bukan salah Mamanya. Ini adalah kesalahan Naura sendiri dan juga Damar. Jika saja mereka tak meminum Red Wine berisi obat perangsang itu, mereka tak akan berakhir seperti ini.

__ADS_1


"Mama nggak bersalah, Ma. Aku yang salah karena terlalu ceroboh," ucap Naura sedih.


Dengan pelan Widya menjauhkan Naura dari pelukannya. Menatap putrinya yang terlihat cantik di hari yang seharusnya menjadi hari bahagianya ini. Sedikit mengulas senyum walau ia yakin terlihat aneh.


"Jalani rumah tanggamu dengan baik, Naura. Kamu harus hormat kepada suamimu. Perkataannya adalah surga untuk kamu," ucap Widya tegas.


Naura ingin protes, tapi melihat tatapan Mamanya ia mengurungkan niatnya untuk protes. Naura hanya memilih untuk diam dan mendengarkan khotbah penghulu yang akan menikahkan Naura dan Damar hari ini.


"Sebentar lagi ijab kabul ...!" teriak salah seorang yang masuk ke dalam kamar Naura.


Naura seketika merasa tegang dan perutnya yang terasa kram.


"Saya terima nikahnya Naura Srikandi binti ... dengan mas kawin tersebut, tunai."


Naura memejamkan matanya karena gugup. Apakah Damar benar mengucapkan ijab kabul? Entah kenapa Naura merasa gugup dan penasaran. Ia ingin Damar benar dalam mengucapkan ijab kabul-nya.


"Alhamdulillah, sah, Naura," ucap Mamanya lega.


Naura membuka matanya dan kaget mendengar jika kata 'sah' telah terucap.


Sekarang ia telah sah menjadi istri Damar.


***


"Saya nikahkan engkau, Damar Prawira Yusuf bin Ridwansyah dengan putriku, Naura Srikandi binti Muhammad Doni Suryopranoto dengan mas kawin seperangkat alat sholat dan emas seberat 3 gram dibayar tunai."


Damar menghela nafas sebelum mengucapkan kalimat kabul. Ia berusaha fokus untuk mengenyahkan nama Aisyah dari pikirannya. Orang yang akan ia nikahi adalah Naura bukan Aisyah.


"Saya terima nikahnya Naura Srikandi binti Muhammad Doni Suryopranoto dengan mas kawin tersebut, tunai."


Damar menghembuskan nafas lega saat merasa ia berhasil mengucapkan kalimat kabul tanpa ada kesalahan sama sekali.


"Bagaimana para saksi, sah?" tanya penghulu.


"Sah ...!" Semua tamu undangan mengucapkan kalimat sah, menandakan jika acara ijab kabul ini berakhir.


Damar tiba-tiba merasa lega dan ringan. Seperti semua bebannya telah terangkat. Padahal berbagai masalah akan menantinya di kemudian hari. Ia heran kenapa ia merasa lega seperti ini.


Damar menadahkan tangan untuk memanjatkan doa setelah ijab kabul selesai. Setelah itu adalah membawa pengantin wanita untuk di sandingkan dengan Damar dihadapan penghulu.


Damar meremas tangannya gugup. Terakhir ia melihat Naura adalah satu Minggu lalu saat ia dibawa paksa menemui ayah Naura. Mereka tak pernah bertemu lagi sejak saat itu. Naura dikurung di rumahnya, sedangkan Damar disibukkan dengan mengurus surat-surat untuk pernikahannya.

__ADS_1


Damar mendongak saat mendengar suara heboh dari para tamu yang berdecak kagum. Untuk sesaat Damar merasa terpana melihat Naura yang terlihat anggun dan cantik. Tubuhnya terbalut kebaya putih sederhana dengan hijab warna senada dan juga hiasan kepala khas Sunda.


"Mas pengantin pria, itu istrinya jangan di lihatin aja. Sabar dong," ucap penghulu menggoda.


Para tamu yang mendengar guyonan penghulu tertawa menggoda kepada Damar. Membuat Damar sedikit kikuk karena merasa malu di goda oleh tamu undangan yang rata-rata adalah keluarga besar mereka.


Naura berjalan pelan dibantu oleh Mamanya. Duduk berdampingan dengan Damar dan hanya diam tanpa menoleh padanya.


"Pengantin wanita, ayo beri salam kepada suaminya. Untuk suami, tolong berikan doa untuk istrinya."


Naura berputar menghadap Damar dan mencium punggung tangan Damar. Hal itu membuat jantung Damar berdetak lebih cepat karena sentuhan Naura. Tanpa sadar Damar meletakkan tangannya di atas kepala Naura dan memanjatkan doa pernikahan.


Mereka melakukan hal itu tanpa paksaan dan tulus dari lubuk hati yang paling dalam. Mereka saling menatap setelah penghulu menyuruh mereka untuk menandatangani buku nikah dan juga memasangkan cincin.


Damar dengan gugup menyematkan cincin di jari manis Naura. Cincin yang terasa begitu pas di jari mungil gadis itu. Begitu pun Naura yang memasangkan cincin di jari Damar.


Mereka saling menatap dengan ekspresi yang berbeda di tengah tamu undangan yang merasa mereka adalah pasangan yang serasi.


***


Doni dan Widya merasa berat untuk melepas Naura pergi bersama Damar tinggal di rumah mertuanya. Bukan karena mereka tak percaya pada besan, tapi mereka tak bisa berjauhan dengan anak semata wayang mereka. Tapi, kedua besan mereka meyakinkan jika mereka bisa datang kapan saja menjenguk Naura.


"Pak Doni dan Bu Widya jangan sungkan untuk datang ke rumah kami menjenguk Naura."


Mereka berdua merasa lega mendengar ucapan Syifa yang memberikan izin untuk menemui Naura. Betapa beruntungnya Naura memiliki ibu mertua sebaik dan selembut Syifa. Mereka tak ragu lagi melepas Naura tinggal bersama keluarga ini.


Widya memeluk Naura yang hanya diam dipeluk olehnya. Damar berdiri di samping Naura dengan membawa koper pakaian Naura yang tak seberapa. Beberapa lembar pakaian tidur dan juga pakaian dalam.


"Kamu harus bahagia, ya? Jaga kandunganmu dan lakukan yang Mama katakan jika merasa mual," ucap Widya menasehati.


Naura hanya mengangguk pelan dan mengelus punggung Mamanya lembut. Dia merasa berat untuk tinggal bersama orang tua Damar. Melihat tatapan tak suka adik Damar saja sudah membuktikan jika adik iparnya itu tak menyukainya.


Orang tua Damar memang sangat baik padanya. Ibu Damar bahkan meminta maaf sampai meneteskan air mata saat pertama kali mereka bertemu. Begitu pula dengan ayah Damar yang walau hanya diam, tapi terlihat berwibawa.


Hanya orang tua Damar yang menjadi alasan Naura mau tinggal di rumah itu. Jika tidak Naura takkan sudi untuk tinggal bersama mertua dan adik iparnya. Apalagi Damar, Naura tak sudi tinggal serumah apalagi di dalam satu kamar.


"Baiklah, kami permisi Pak Doni, Bu Widya," ucap Ridwan dengan sopan.


Doni mengangguk sopan dan membalas salam besannya itu dengan tak kalah sopan. Doni merasa tenang melepas putrinya.


Damar dengan canggung menggenggam tangan Naura dengan lembut. Tangan Naura terasa pas di dalam genggamannya. Seolah tangan itu memang tercipta untuknya dan untuk ia genggam.

__ADS_1


Mereka berlalu pergi meninggalkan rumah mewah keluarga Naura.


Bersambung


__ADS_2