
Naura menatap takjub rumah mewah yang ada di hadapannya. Rumah dengan arsitektur islami dan dipenuhi oleh lukisan kaligrafi, membuat Naura merasa terhipnotis. Rumah ini dua kali lipat lebih mewah dari rumahnya.
Naura tak menyangka jika Damar berasal dari keluarga yang super kaya dan menjunjung tinggi nilai-nilai agama. Melihat dari pakaian yang dikenakan oleh orang tua Damar yang tertutup, kontras dengan kelakuan Damar yang Naura ketahui.
Damar yang dikenalnya adalah pria adalah sosok yang brengsek dan suka berpesta seperti Naura. Suka mabuk-mabukan dan yah hanya sebatas itu. Naura tak begitu tahu kehidupan Damar di luar semua itu.
"Nak Naura, selamat datang di rumah kami," ucap ibu Damar lembut.
"Eh, iya Tante...," ucap Naura gugup.
Ibu Damar menatap Naura dengan ekspresi cemberut.
"Jangan panggil Tante, dong. Panggil saya Ummi."
Naura hanya mengangguk canggung. Rasanya sedikit aneh memanggil ibu Damar dengan panggilan 'Ummi'. Tapi, ia mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungan baru dan mulai mendekatkan diri dengan keluarga Damar, terutama adiknya.
"Iya, Ummi," ucap Naura canggung.
Naura tak berhenti berdecak kagum karena melihat semua hiasan yang terletak di nakas adalah barang mahal. Membuatnya terasa seperti upik abu. Level kekayaan keluarga Naura dan Damar sangat jauh berbeda.
Keluarga Naura termasuk keluarga kaya. Papanya memiliki bisnis kontraktor yang cukup sukses dan Mamanya adalah seorang sosialita yang berjualan berlian dengan harga fantastis. Tapi, Naura merasa kekayaan orang tuanya jauh di bawah level keluarga Damar.
"Damar, bawa koper Naura ke kamarmu, ya? Bi Inem, tolong siapkan makan malam untuk kami, ya."
Naura tersenyum menyapa kepada pembantu di rumah mewah ini. Dia tak mengenal siapapun di sini, jadi lebih baik ia mencari seseorang untuk diajak mengobrol. Toh biasanya Naura juga suka bercanda dengan Bi Surti, pembantunya di rumah.
Naura hanya diam berdiri di ruang tamu rumah ini. Dia menatap ke langit rumah, lampu kristal mewah dan juga ukiran kaligrafi dengan tulisan Arab yang sangat indah. Walau Naura tak mengerti bacaannya, ia tetap berdecak kagum.
"Sini duduk, sayang. Sekarang ini menjadi rumahmu juga. Jangan sungkan, ya," ucap ibu Damar lembut.
Naura hanya mengangguk canggung. Dia merasa menjadi perempuan paling aneh di rumah ini. Semua wanita memakai hijab, termasuk Bi Inem. Hanya Naura yang tak menggunakan hijab. Naura merasa jadi sosok paling aneh di rumah ini.
"Annisa, ayo sini. Kita mengobrol dengan kakak iparmu. Kamu belum sempat mengobrol dengannya, kan?"
Annisa hanya diam dan menatap Naura dengan sinis. Tak berusaha bersikap bersahabat dengan Naura. Apa karena Naura tak berhijab sepertinya, jadi Annisa tak mau akrab dengannya?
Annisa melengos menatap kearah lain, "Untuk apa aku ngobrol sama wanita murahan kayak dia," ucap Annisa dengan sinis.
Naura sangat terkejut mendengar ucapan Annisa yang menusuk itu. Meremas ujung blouse yang ia gunakan agar menahan diri untuk tak bersikap kasar. Naura harus sabar menghadapi orang seperti Annisa. Dia sudah sering bertemu dengan yang seperti Annisa dan ini bukan apa-apa.
"Annisa ...! Jaga ucapanmu, Nak! Dia ini kakak iparmu sekarang."
Annisa berbalik dan mendekat pada Ummi dan Naura yang tengah duduk di sofa. Menatap dengan seringai mengejek kepada Naura dan menatap penampilan Naura dari atas hingga bawah.
__ADS_1
"Aku nggak akan pernah mengakui dia sebagai kakak iparku, Ummi."
Annisa berdecih pelan, "Lihat aja pakaiannya, kayak pel*cur. Beda jauh sama Kak Aisyah yang lemah lembut dan pakaiannya tertutup," lanjut Annisa membanggakan Aisyah.
Plakk!
"Cukup Annisa ...!" teriak Ummi tegas.
"Sekali lagi kamu menghina Naura, Ummi tak akan segan memukul kamu lagi," ucap Ummi tegas.
Baik Annisa maupun Naura terkejut melihat Ummi memukul Annisa dengan keras. Selama ini Ummi tak pernah memukul anak-anaknya, tapi kali ini Ummi memukul Annisa hanya demi Naura yang baru saja datang ke rumah ini.
"Ummi ...," ucap Annisa tak percaya.
Tanpa peduli pada Annisa, Ummi berbalik dan membawa Naura untuk masuk ke dalam kamarnya. Meninggalkan Annisa yang masih terkejut dengan apa yang Ummi lakukan padanya tadi.
Naura sendiri mencuri pandang menoleh pada Annisa. Ia merasa tak enak pada gadis berusia 18 tahun itu. Demi membela Naura, Ummi sampai memukul anaknya sendiri. Tapi, jujur Naura merasa sakit hati dihina sebagai pel*cur oleh gadis yang berstatus sebagai adik iparnya sendiri.
Naura dituntun saat menaiki tangga oleh Ummi. Rasanya sedikit risih karena Naura merasa masih cukup mampu dan hati-hati menaiki tangga. Dia belum menjadi manula hingga harus diperlakukan seperti ini.
"Ummi, aku bisa jalan sendiri," ucap Naura tak enak.
Ummi hanya tersenyum malu. Dia takut Naura akan terpeleset dan jatuh dari tangga. Itu bisa membuat kandungannya berada dalam bahaya. Ummi hanya ingin menjaga menantu dan calon menantunya.
Setelah sampai di lantai dua, Naura makin dibuat takjub oleh arsitektur rumah ini yang sungguh sangat mewah. Naura bisa memperkirakan harga lukisan yang tertempel di dinding rumah itu seharga uang jajan Naura selama 3 tahun.
"Nah, ini kamar Damar."
Naura terkejut melihat betapa mewah dan besarnya kamar pria yang sekarang berstatus sebagai suaminya ini. Kamar ini tiga kali lipat lebih besar dari kamarnya di rumah orang tuanya. Bahkan TV yang ada pun sangatlah besar dan mewah.
"Ini menjadi kamar kamu juga sekarang. Mungkin Damar sedang wudhu atau mandi, kamu masuk saja."
Ummi mendorong tubuh Naura pelan dan menutup pintu langsung setelahnya. Membuat Naura merasa canggung karena pemilik kamar sedang berada di kamar mandi. Suara gemericik air terdengar hingga membuat detak jantung Naura bergemuruh.
Hei jantung kamu kenapa malah dag-dig-dug kayak lagi dugem, batin Naura merasa kesal. Di saat seperti ini jantungnya malah tak bisa diajak kompromi. Apalagi kamar ini sudah seperti kamar pengantin sungguhan saja.
Kelopak bunga mawar berserakan di setiap sudut dan juga ranjang yang di duduki Naura. Bahkan ada lilin aromaterapi di semua tempat. Naura menatap horor suasana kamar ini. Siapa sih yang memiliki ide tak jelas ini?
Ceklek
Naura yang sedang memunguti kelopak mawar sialan itu langsung berdiri dengan ekspresi terkejut. Setelah melihat wajah Damar, Naura mengelus dadanya lega. Tanpa peduli dengan Damar, Naura kembali memungut kelopak mawar itu.
"Lo lagi ngapain?" tanya Damar sok penasaran.
__ADS_1
Naura memutar matanya malas, "Lo buta sampe nggak lihat gue lagi ngapain?" tanya Naura kesal.
Damar mengusap kepalanya yang basah dengan handuk. Wajahnya sangat tampan dengan rambut yang basah dan juga air yang menetes dari rambutnya. Apalagi aroma tubuhnya yang membuat Naura tak tahan ingin memeluknya.
"Oh, lo lagi cosplay jadi pemulung?" tanya Damar mengejek.
Naura yang merasa geram langsung menoleh pada Damar dan melempar kelopak bunga itu padanya. Tak puas hanya dengan itu, Naura memukul dan menendang kaki Damar. Membuat pria itu kesakitan karena ulah Naura.
"Sakit, woi ...! Lo manusia apa kingkong sih?" tanya Damar sambil mengelus kepalanya yang terasa sangat sakit.
"Aish, gara-gara lo gue harus wudhu lagi untuk sholat Isya," ucap Damar kesal.
Naura hanya menatap dengan wajah tak kalah kesal.
"Kalo mau sholat mah sholat aja. Kenapa harus wudhu lagi?" tanya Naura kesal sekaligus heran.
Damar menatap tak percaya Naura. Apa gadis ini tidak tahu jika wudhu akan batal jika menyentuh seseorang yang bukan muhrimnya? Damar hanya menggeleng pelan, ternyata Naura benar-benar ratu berpesta. Hal mendasar tentang agamanya saja ia tak tahu.
"Begini Naura Srikandi, gue sama lo itu bukan muhrim. Jadi kalo gue nyentuh lo saat gue udah wudhu, wudhu itu batal. Begitu juga dengan lo." Jelas Damar panjang lebar.
Naura hanya mengangguk seolah mengerti, padahal ia belum memahaminya sama sekali. Damar masuk kembali ke kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelahnya ia keluar dan mengambil sajadah dan peci.
"Lo nggak sholat?" tanya Damar pada Naura.
Naura menggeleng pelan, "Gue nggak tahu cara sholat," gumam Naura, nyaris berbisik.
Damar nyaris tak mendengar, tapi ia bisa memperkirakan kenapa Naura seperti itu. Damar mengambil sesuatu di lemari buku dan memberikannya kepada Naura. Membuat Naura bingung karena Damar memberinya sebuah buku tuntunan sholat dan juga buku iqro.
"Apa ini?" tanya Naura bingung.
Damar melipat tangannya di dada, "Itu buku tuntunan sholat sama iqro," ucap Damar menerangkan.
Naura menatap dan membuka setiap lembar buku tuntunan sholat itu dengan seksama.
"Lo bisa belajar bacaan sholat dulu di sana, ada huruf latinnya juga. Kalo iqro lo bisa minta ajarin Annisa atau Ummi kalo Annisa nggak mau ngajarin," lanjut Damar pelan.
Naura hanya melihat buku dengan antusias. Rasanya baru kali ini ia melihat dan membaca buku tentang keagamaan. Selama ini ia tak pernah melakukannya bukan karena Papa dan Mamanya tak mengajarkan, tapi Naura yang selalu kabur setiap disuruh ikut mengaji di TPA.
Naura mendongak dan melihat Damar sedang sholat. Dengan pelan Naura menumpukan dagunya pada telapak tangannya. Menatap punggung Damar yang terlihat lebar dan kokoh. Melihat setiap gerakan sholatnya tanpa berkedip sekalipun.
Jantung Naura berdetak lebih kencang dari sebelumnya saat melihat Damar menoleh ke kanan dan kiri. Detak yang tak normal saat melihat wajah Damar yang terlihat cerah dan seribu kali lebih tampan dari biasanya. Eh, dia bilang apa tadi?
Naura menggelengkan kepalanya dengan kuat. Ada apa sih dengan jantungnya saat ini? Kenapa berdetak sangat kencang dan juga dia tadi mengatakan Damar tampan? Omong kosong apalagi ini? Tidak ada yang lebih tampan baginya selain Kak Banyu.
__ADS_1
"Nggak ... Nggak mungkin gue suka sama Damar," gumam Naura pelan.
Bersambung