
Damar mengangguk dengan mata terpejam. Dia tak sanggup untuk menatap mata Aisyah saat ini. Melihat ekspresi kesedihan dari gadis itu adalah sebuah kutukan baginya. Damar tak sanggup untuk melihatnya.
Aisyah yang melihat anggukan Damar merasa dunianya runtuh. Semua mimpi indah yang ia bayangkan sirna bersama dengan anggukan Damar. Impian bisa menikah dan hidup bersama Damar hingga akhir hayat telah lenyap. Lelaki itu telah memiliki seorang istri.
Aisyah meneteskan air mata, "Mas Damar bohong, 'kan?" tanyanya tak percaya.
Damar hanya diam dan tak berani menatap Aisyah. Sekuat mungkin Damar tak ingin melihat seperti apa ekspresi wajah gadis yang ia cintai tersebut. Damar tak sanggup untuk melihat air matanya.
Kerumunan mahasiswa yang melihat mereka saling berbisik. Menggosipkan tentang Damar yang telah menikah dan ternyata masih memiliki hubungan dengan Aisyah. Ada juga yang mengejek Aisyah sebagai seorang pelakor.
"Percuma berhijab, tapi perusak rumah tangga orang."
Aisyah yang mendengar bisik-bisik orang yang membicarakannya hanya diam. Dia mengepalkan tangannya untuk meredam emosinya. Namun, itu sepertinya tak cukup karena bisik-bisik itu terlalu banyak.
Aisyah menutup telinganya dengan kedua tangannya. Ia tak ingin mendengar suara-suara itu. Aisyah bukan perusak rumah tangga orang seperti yang mereka tuduhkan. Bahkan Aisyah tak mengetahui jika Damar telah menikah. Mereka sedang dalam proses ta'aruf, tak mungkin Damar sudah menikah.
Stefano menatap Aisyah dengan iba. Hanya saja rasa iba itu tertutup oleh emosi yang menggebu kepada Damar. Stefano ingin mempermalukan Damar setidaknya satu kali saja.
"Sekarang lo tahu 'kan, Aisyah? Lelaki yang setiap hari bareng lo ini adalah lelaki bajingan yang menghamili sahabat gue." Stefano menunjuk wajah Damar. Menatap Aisyah dengan tatapan tajam.
Bisik-bisik mahasiswa makin ramai setelah mendengar ucapan Stefano. Menerka-nerka siapa sebenarnya yang Stefano maksud. Sahabat Stefano hanya Rinjani dan juga salah satu mahasiswa dari fakultas ekonomi. Mereka tak terlalu mengenal gadis itu, tapi ia cukup populer karena gaya hidupnya yang cukup bebas.
"Lo semua nggak usah gosip! Mending lo semua mikirin tugas daripada ghibah nggak jelas kayak gini." Stefano berteriak cukup kuat hingga membuat kerumunan mahasiswa itu perlahan membubarkan diri.
Hanya tinggal mereka bertiga saat ini dan juga beberapa mahasiswa yang berlalu lalang. Stefano menatap Damar tajam seolah akan membunuhnya saat ini juga. Aisyah hanya diam dalam keterkejutannya sendiri. Ia masih mencerna semua yang sedang terjadi saat ini.
"Gue perlu bicara sama lo," ucap Stefano dengan nada tertahan.
Damar melihat Stefano berjalan lebih dulu. Dia melirik Aisyah sesaat dan terkejut melihat gadis itu tengah menangis dalam diam. Ekspresi wajahnya pias karena terkejut mendengar fakta yang baru ia ketahui.
Damar mendekat, "Maafkan aku, Syah. Aku memang salah. Aku—"
Aisyah mengangkat tangannya di depan wajah Damar, memintanya untuk berhenti bicara. Dia tak ingin mendengar penjelasan Damar lebih lanjut. Dengan pengakuan Damar, itu sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan semuanya. Ia tak ingin mendengar alasan Damar.
"Cukup, Mas. Aku sudah nggak butuh penjelasan atau alasanmu yang klise itu. Sekarang proses ta'aruf kita cukup sampai di sini. Aku akan bilang pada Abi dan Ummi." Aisyah langsung pergi setelah mengatakan hal itu tanpa menoleh pada Damar.
Damar mengacak rambutnya frustrasi. Semua rencana yang ia rancang untuk memberitahu Aisyah secara baik-baik hancur sudah. Semua ini karena Stefano yang dengan lancangnya ikut campur dalam masalah pribadi Damar.
Damar langsung menyusul Stefano menuju belakang gedung fakultas kedokteran. Entah apa yang ingin dibicakan Stefano padanya. Damar tak peduli dan itu juga bukan urusan Stefano.
***
__ADS_1
"Lo mau ngomong apa?" tanya Damar datar.
Stefano berbalik dan menatap Damar datar. "Apa benar yang dikatakan Naura? Lo sama dia dijebak?" tanyanya cepat.
Suara gigi Damar yang bergemeletuk karena kesal. Kenapa Naura harus menceritakan masalah mereka kepada Stefano yang merupakan orang asing bagi mereka. Stefano adalah orang luar dan tak boleh tahu masalah mereka yang sangat pribadi.
Damar mendecih, "Bukan urusan lo dan untuk apa lo mau ikut campur masalah gue dan Naura?" tanyanya.
Stefano tersenyum sinis melihat Damar yang masih saja bersikap angkuh disaat dirinya sedang mengalami masalah.
"Gue mau bantu lo. Kalo benar lo dan Naura dijebak, gue mau bantu cari orang yang kasih obat sialan itu." Jawab Stefano cepat. Dia melipat tangannya di dada.
Damar membulatkan matanya mendengar ucapan Stefano. Apakah benar dia mau membantu Damar untuk mencari siapa pelaku yang melakukan hal ini padanya dan Naura?
"Lo mau bantu gue?" tanya Damar tak percaya.
Stefano menganggukkan kepalanya cepat. "Lo pikir gue bohong? Gue melakukan ini untuk membantu Naura bukan lo," ucapnya cepat. "Sekarang lo ingat lagi, siapa kira-kira yang lo temui dan yang lo curigai memasukkan obat itu ke minuman itu?" tanyanya runut.
Damar mengingat kembali kejadian 3 bulan lalu saat ia datang ke pesta ulang tahun Aldi. Dia datang sendiri karena teman-temannya tak bisa datang. Lalu di pesta ia mengambil minuman yang ditawarkan oleh pelayan dan bertemu dengan Anton.
"Gue cuma ketemu sama Anton, temen gue pas SMA." Jawab Damar mengingat.
"Coba lo ingat lagi, siapa lagi yang lo temui dan apa lo sempat menukar minuman lo?" tanya Stefano cepat.
"Kenapa lo semangat banget?" tanya Damar penasaran.
Stefano berdehem jaim, "Gue mau bantu Naura. Impian Naura adalah menjadi wanita karir, tapi itu terhalang karena dia hamil anak lo."
Damar mengangguk paham. Akhirnya ia mengingat kembali siapa kira-kira yang ia temui selain Anton. Lama ia mengingat, hingga ia sadar jika ia sempat menumpahkan Wine itu karena menabrak seseorang.
"Gue inget! Gue sempat nabrak cowok berhoodie hitam. Iya, benar! Gue nabrak dia." Jawab Damar yakin. Ia menjambak rambutnya kesal.
Stefano yang mendengar langsung mendekat. "Lo ingat ciri-ciri cowok itu?" tanyanya cepat. Damar berusaha mengingat kenangan 3 bulan lalu, tapi tak bisa. "Gue nggak ingat. Dia menutupi kepalanya dengan tudung kepala." Jawab Damar lirih.
Stefano menghela nafas kesal karena Damar ternyata tak melihat wajah orang tersebut. Jika saja Damar bisa melihatnya, mungkin mereka bisa menangkap orang tersebut. Menanyakan apa tujuannya memberikan obat itu kepada Damar.
"Coba lo ingat lagi. Siapa tahu ada petunjuk kecil atau lo sekilas melihat wajahnya." Jawab Stefano mendesak Damar.
Damar yang didesak oleh Stefano merasa frustrasi. "Kenapa lo terus mendesak gue?" tanya Damar frustrasi.
Stefano hanya menghela nafas panjang karena ia tak bisa mengendalikan dirinya.
__ADS_1
"Bukan urusan lo." Jawab Stefano lalu pergi meninggalkan Damar begitu saja. Membuat Damar merasa heran sekaligus penasaran kenapa Stefano begitu antusias membantunya.
***
Aisyah memasuki kamarnya dengan air mata berlinang. Tak menghiraukan panggilan Ummi-nya yang terlihat khawatir. Aisyah membanting tubuhnya ke ranjang dan menangis pilu. Mengingat kembali kejadian saat di universitas saat Damar mengakui jika ia telah menikah.
"Aisyah, kamu kenapa, sayang? Ayo jawab Ummi, Nak. Jangan buat Ummi khawatir." Aisyah mengabaikan suara ibunya yang terus memanggil sembari mengetuk pintu.
Aisyah menangis dan menyesali perkataannya tadi. Dia tak ingin proses ta'aruf yang ia jalani bersama Damar berhenti begitu saja. Mereka telah melakukan pendekatan selama setahun. Kedua orang tua mereka juga sedang membahas tentang Damar yang akan meng-khitbah Aisyah.
"Aisyah, ayo keluar, sayang. Jika ada masalah coba ceritakan kepada Ummi. Siapa tahu Ummi bisa membantu walau sedikit." Aisyah yang mendengar suara lirih ibunya akhirnya memilih membuka pintu.
"Ummi ... ,"
Aisyah meneteskan air mata dan menangis dihadapan ibunya. Ia menumpahkan air matanya di dalam pelukan ibunya dan menangis sejadi-jadinya. Dadanya terasa sesak karena kecewa pada Damar.
"Ada apa, Nak? Cerita sama Ummi," ucap ibunya lembut.
Aisyah menggeleng kuat, belum siap untuk menceritakan apa yang terjadi. Lebih memilih menangis di dalam dekapan sang ibu dan menumpahkan semua sedihnya. Dadanya terasa sesak dan kecewa pada Damar makin menyeruak.
"Ada apa, Aisyah? Kenapa kamu menangis, Nak? Ceritakan apa yang membuatmu menangis tersedu seperti ini?" tanya ibunya lembut.
Aisyah mendongak menatap ibunya dengan air mata mengalir. Ia kembali menangis seperti anak kecil menatap ibunya. Membuat sang ibu merasa bingung karena sikap Aisyah yang aneh.
"Ummi ... ,"
Ibunya menatap Aisyah dengan sabar. Mengulas senyum menenangkan, cukup untuk membuat Aisyah sedikit lebih tenang. Menghapus sedikit air mata yang membasahi pipi Aisyah.
"Ada apa? Cerita ke Ummi." Aisyah menarik nafas dalam sebelum mengatakan apa yang terjadi.
"Ummi, Mas Damar ternyata sudah menikah. Dia ... dia akan menjadi seorang ayah." Jawab Aisyah dengan air mata mengalir deras.
"Apa? Damar sudah menikah?!"
Aisyah dan ibunya menoleh dan mendapati ayah Aisyah berdiri dengan ekspresi marah. Aisyah kembali menangis tersedu dan mengangguk sebagai jawaban. Hal itu membuat ayahnya makin marah.
"Ummi, ayo kita datang ke rumah Pak Ridwan. Kita tanyakan kebenaran kabar ini. Jika benar apa yang Aisyah katakan, maka proses ta'aruf mereka harus berakhir." Jawab ayahnya tegas.
"Abi, jangan!" Aisyah berteriak dan berlari kearah sang ayah. Menahan sebisa mungkin agar beliau tak pergi ke rumah Damar dan mengakhiri proses ta'aruf yang ia jalani bersama Damar.
"Abi, Aisyah mencintai Mas Damar. Aisyah mohon, jangan akhiri proses ta'aruf ini," ucap Aisyah memohon.
__ADS_1
Aisyah berlutut di kaki ayahnya dan menangis pilu. Membuat kedua orang tuanya merasa bingung.
Bersambung