Terpaksa Menikah Karena Hamil

Terpaksa Menikah Karena Hamil
Bab 15. Permusuhan Sengit (2)


__ADS_3

Damar mendengar suara seorang lelaki yang tertawa dengan kuat dan juga suara tepuk tangan meriah. Damar langsung menuju sumber suara dan melihat ibunya, Naura dan juga teman-teman Naura. Stefano yang tengah membuat lelucon lucu yang menurut Damar sangat tak lucu.


"Eh, Damar. Ayo sini gabung. Aduh teman-teman Naura ternyata lucu-lucu loh. Ummi sampai ketawa terus lihatnya," ucap ibunya dengan tawa yang masih menggema.


Damar memutar matanya malas. Apanya yang lucu sih? Damar hanya melihat Stefano memakai rok entah dari mana, lalu ia menari seperti artis pelawak yang suka wara-wiri di TV. Tak ada yang lucu sama sekali menurutnya. Siapa sih yang menyuruhnya melakukan ini?


"Ngapain lo pake rok gituan? Lo mau jadi banci kaleng?" tanya Damar mengejek.


Stefano menatap Damar dengan ekspresi lesu dan seperti meminta tolong. Namun, Damar sepertinya tak menangkap sinyal yang Stefano berikan. Ia malah berlalu, menaiki tangga menuju kamarnya. Membuat Stefano menunduk lesu karena harapannya telah pupus.


"Ayo lagi, Fan." Stefano menatap Naura dengan ekspresi wajah frustrasi. Kembali melakukan hal yang diminta oleh Naura dengan sangat amat terpaksa. Bergaya layaknya putri negeri dongeng.


Semua ini terjadi karena saat mereka mengobrol dan entah kenapa Naura melihatnya dengan senyum penuh harap. Lalu tak lama ia memegang tangan Stefano dan memintanya melakukan hal seperti ini.


Tentu saja Stefano awalnya menolak, tapi kata Rinjani mungkin saja Naura sedang mengidam. Dengan sangat amat terpaksa dan juga properti yang dipinjamkan ibu Damar, Stefano berubah menjadi putri dongeng ala animasi yang sering ia tonton waktu kecil.


"Udah, ah, tuan putri capek," ucapnya lelah.


Rinjani tertawa kencang, begitu pula dengan Naura yang bahkan sampai memegangi perutnya. Rasanya perutnya sakit karena terlalu banyak tertawa. Ibu Damar hanya menggeleng sambil tersenyum melihat ketiga anak itu. Rasanya rumah ini jadi lebih hidup daripada sebelumnya.


"Ummi permisi dulu, ya. Mau menyiapkan makan malam untuk Abi dan yang lainnya. Kalian juga ikut makan malam, ya?" Ibu Damar langsung menawari Stefano dan Rinjani untuk makan di rumah itu. Rinjani dan Stefano langsung menolak dengan cepat.


"Jangan, Tante. Kita pulang aja deh. Kita bisa makan di restoran kok. Iya 'kan, Rin?" tanya Stefano cepat. Sedikit memberikan kode kepada Rinjani.


Rinjani mengangguk cepat. "Iya, Tante. Lagian nggak enak kita numpang makan di sini," ucapnya malu. "Lagian kita ada tugas lain kok, Tan. Maklum, Tan, mahasiswa kedokteran." Rinjani sedikit tertawa untuk menutupi kebohongannya.


Ibu Damar langsung menggeleng cepat. "Tidak ada penolakan, ya. Pokoknya kalian makan malam di sini. Ummi sudah siapkan juga untuk kalian."


Rinjani dan Stefano saling pandang lalu menatap Naura untuk meminta tolong. Naura sendiri mengangkat bahunya bingung dan memberi kode untuk mereka mau saja ikut makan.


"Udah terima aja. Sekalian awet duit kiriman bokap nyokap." Jawab Naura singkat dan pergi mengikuti ibu Damar untuk menyiapkan makan malam.


***


Rinjani dan Stefano melihat menu makanan yang terlihat sangat enak dan menggugah selera makan. Menu masakan yang jarang mereka temui selain di restoran, tersaji di meja makan ini. Namun, masakan ini memiliki cita rasa rumahan yang membuat mereka lapar.

__ADS_1


"Kalian nggak pernah lihat makanan enak, ya?" tanya Annisa mengejek.


"Mulut lo mau gue cabe?" kesal Stefano.


Stefano langsung berdiri dari kursinya dan menunjuk Annisa dengan kesal. Ternyata mulut gadis ini benar-benar persis petasan banting. Ingin sekali Stefano menjahit mulut gadis ini agar tak bisa bicara seenaknya lagi.


Rinjani menahan Stefano agar tak bertengkar dengan Annisa. "Udah, Fan. Kita tamu di sini, jadi harus tahu diri," ucapnya berbisik.


Stefano mengepalkan tangannya kesal. Jika tak ingat bahwa mereka tamu dan Naura tinggal di rumah ini, Stefano pasti akan merobek mulut si petasan banting ini. Masih kecil, tapi mulutnya sudah sepedas cabe domba.


"Awas lo, petasan banting." Stefano melotot kepada Annisa.


Rinjani hanya menggeleng pelan melihat tingkah kedua orang ini. Sejak pertama bertemu dua jam lalu, mereka tak pernah akur. Selalu saja bertengkar dan menatap tajam satu sama lain.


"Makanan sudah siap. Abi, Damar, ayo turun. Kita makan malam." Ummi berteriak memanggil ayah Damar dan Damar untuk turun.


Setelah beberapa saat, Damar dan sang ayah turun untuk makan malam. Melihat sekilas pada Stefano dan Rinjani yang langsung berdiri menatapnya. Menyapa ayah Damar dengan sopan.


"Selamat malam, Om. Terima kasih sudah memperbolehkan kami makan malam di sini," ucap Stefano sopan.


Ayah Damar tersenyum tipis melihat Stefano dan juga Rinjani. "Kalian teman kuliah Naura? Satu fakultas?" tanyanya.


"Kalian kuliah kedokteran?" tanyanya cepat. Stefano hanya tersenyum miring melihat Annisa yang terkejut mendengar ia kuliah di kedokteran.


"Kenapa kalian bisa berteman? Apa karena satu organisasi kemahasiswaan?" tanya ayah Damar lagi.


"Bukan Om. Kami memang teman dari kecil sejak tinggal di Bandung. Kami ketemu lagi saat kuliah. Hanya berbeda fakultas saja." Ayah Damar mengangguk-angguk mendengar ucapan Stefano.


"Ya sudah, ayo makan. Keburu dingin makanannya." Mereka mulai duduk di posisi masing-masing.


Saat Naura, Rinjani, dan Stefano akan mengambil nasi, mereka terdiam melihat keluarga Damar menadahkan tangan untuk berdoa. Mereka saling menatap dan memberi kode harus bagaimana.


"Ikutin aja," ucap Rinjani dengan gerakan bibir.


Akhirnya mereka mengikuti keluarga Damar untuk berdoa. Entah doa apa mereka tak tahu. Setelah itu mereka membuka mata saat mendengar suara ayah Damar mempersilahkan mereka untuk makan.

__ADS_1


"Ayo dimakan, jangan sungkan. Anggap saja rumah sendiri. Naura juga makan yang banyak, ya? Bagaimana hasil pemeriksaannya tadi bersama Ummi?" tanya ayah Damar lembut.


Naura seketika merasa kikuk ditanya oleh ayah Damar. Naura pikir ayah Damar tak begitu menyukainya. Namun, ternyata beliau begitu peduli dan menanyakan keadaan kandungannya di depan keluarga serta tamu.


"B-baik, Abi." Jawab Naura gugup. Ayah Damar hanya mengangguk pelan dan mempersilahkan Stefano dan Rinjani untuk makan. "Ayo silahkan dimakan," ucapnya penuh perhatian.


Setelah itu mereka makan dengan tenang tanpa banyak bicara. Hanya suara dentingan sendok dan garpu yang saling beradu.


***


"Terima kasih Tante udah ngajak kita buat makan malam di sini. Kita kenyang banget," ucap Stefano sambil mengelus perutnya yang sedikit membuncit.


Ibu Damar tersenyum tipis melihat tingkah Stefano yang menurutnya lucu. Apalagi sejak kedatangannya, ibu Damar tak berhenti tertawa karena tingkah lucu Stefano dan juga celetukannya terhadap sindiran Annisa.


"Udah pulang aja sana kamu. Bikin kesal aja tahu." Annisa melipat tangannya di dada. Membuat Naura menggelengkan kepala melihat tingkahnya.


"Jangan begitu, Annisa. Sopanlah sedikit dengan tamu," ucap ibunya sambil menurunkan tangan Annisa supaya tak terlipat.


"Kami permisi Tante. Nau, langsung istirahat, ya? Kalo ada apa-apa telepon kita." Naura mengangguk sebagai jawaban kepada Rinjani.


Naura dan ibu Damar melambai pada Stefano dan Rinjani yang masuk ke dalam mobil. Saat keduanya membuka kaca jendela mobil, mereka melambai pada Naura. Bahkan Stefano berteriak heboh pada Annisa dan memanggilnya petasan banting.


"Dadah petasan banting ...! Gue pulang dulu, ya?!"


"Dasar cowok melambai! Mulut kamu nanti biar aku sobek!" teriak Annisa dengan wajah memerah.


Ibu Damar yang mendengarnya hanya menggeleng pelan. Anak bungsunya ini sangat berani dan suka melawan. Bahkan ia lebih memilih untuk belajar beladiri sebagai ekstrakurikuler. Membuat sang ibu dan ayah menjadi khawatir. Apakah anak gadis mereka bisa mendapatkan jodoh dengan sikap yang tomboy itu.


"Ummi masuk dulu, mau beres-beres. Kalian langsung masuk, ya? Nanti masuk angin." Setelah mengatakan itu, ibu Damar masuk ke dalam rumah.


Annisa menatap tak suka pada Naura yang hanya diam menatap mobil Stefano yang mulai menjauh. Annisa hanya memutar mata, tak ingin berlama-lama di satu ruangan dengan Naura.


Naura yang diperhatikan oleh Annisa menoleh. "Apa lihat-lihat? Mau aku keluarin bola mata kamu?" tanyanya marah.


Annisa hanya memasang ekspresi wajah kesal lalu masuk ke dalam rumah dengan kaki menghentak. Membuat Naura mengelus dada melihat kelakuan gadis berusia 18 tahun itu.

__ADS_1


"Sabar aja, Naura. Orang sabar disayang Tuhan," ucapnya sambil berjalan masuk ke dalam rumah.


Bersambung


__ADS_2