Terpaksa Menikah Karena Hamil

Terpaksa Menikah Karena Hamil
Bab 3. Hamil


__ADS_3

Naura terbangun setelah mematikan alarm yang terus berbunyi sejak setengah jam lalu. Berusaha keras untuk bangkit dari tempat tidur dengan susah payah. Matanya terasa berat hanya untuk terbuka, tapi ia harus mandi dan pergi kuliah.


Dengan berat hati Naura berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan menggosok gigi. Saat membuka penutup pasta gigi, perutnya terasa teraduk-aduk dan mual. Secara refleks Naura menutup mulutnya. Menatap heran pasta gigi yang biasa ia gunakan.


"Kenapa bau banget, ya?" tanya Naura heran.


Naura menatap heran pasta gigi yang ia pegang. Dengan menahan mual, Naura menggosok giginya menggunakan pasta gigi tersebut. Berkali-kali perutnya seakan ingin muntah, tetapi ditahan.


Setelah mandi dan bersiap-siap, Naura turun dari kamarnya dan tersenyum tipis melihat ayah dan ibunya yang tengah sarapan. Mencium pipi sang ibu lembut dan menutup hidungnya cepat karena merasa aroma parfum sang ibu yang menyengat.


"Kamu kenapa sih, Nau?" tanya ibunya heran.


Naura menjauhkan dirinya dan menutup hidungnya dengan ekspresi wajah aneh. Hal itu membuat sang ibu bingung dan refleks mencium kedua ketiaknya, karena melihat anaknya seperti mencium bau tak sedap.


"Mama kok bau banget sih? Nau mau muntah rasanya," ucap Naura menutup hidung.


Ayah dan ibu Naura menatap heran anak semata wayang mereka. Ada apa sih dengan anak ini? Apa dia sedang masuk angin?


"Kamu lagi masuk angin, ya? Atau asam lambung kamu naik?" tanya ibunya pelan. Dia menempelkan punggung tangannya di dahi Naura.


Naura mengangkat bahunya pelan. Dia duduk di meja makan dan mengambil roti lapis yang telah disiapkan ibunya. Memakan dengan satu gigitan kecil dan mengunyahnya pelan. Pada gigitan ketiga, perutnya terasa teraduk-aduk kembali dan memaksa Naura berlari ke wastafel untuk memuntahkan makanan tersebut.


"Uweekkk ...!"


Naura merasakan pijatan pelan di lehernya dan terbatuk, sambil berusaha memuntahkan isi roti lapis itu. Setelah beberapa menit dan hanya memuntahkan air liur, Naura bernapas lega.


Ibunya menatap heran. Naura mengelap bibirnya puas setelah berhasil mengeluarkan semua isi perutnya. Menghela napas dengan mata sayu dan keringat yang mengalir.


"Kamu ini kayaknya masuk angin, deh. Sini mama kerokin, ya?" tanya ibunya pelan.


Naura menggeleng pelan. Tubuhnya terasa lemas dan entah kenapa ia sangat ingin memakan sesuatu yang asam. Ah, yang menyegarkan juga seperti jus jeruk yang sangat asam dan es yang sangat banyak. Membayangkannya membuat Naura meneteskan air liur.


"Nau pergi dulu, ya, Ma. Dadah Papa," ucap Naura mencium pipi ayahnya.


Ayah dan ibu Naura hanya menggelengkan kepala melihat kelakuan Naura yang masih kekanakan.


***


Naura memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa pusing. Dia baru saja keluar dari kelas pengantar ilmu ekonomi Pak Simalungun dan tubuhnya terasa lemah dan pusing. Naura yang merasa pusing dan tak bisa menahan berat tubuhnya, langsung limbung jika tak ditahan oleh seseorang.


"Naura ...!"


Naura langsung membelalakkan matanya mendengar suara teriakan seseorang yang familiar. Dengan pelan Naura menoleh dan mendapati Banyu, kakak tingkat sekaligus asisten dosen dalam mata kuliah yang Naura ikuti.

__ADS_1


Naura dipapah menuju salah satu kursi yang ada di sekitar. Menduduki salah satu kursi, Naura memegang kepalanya yang terasa berdenyut. Wajahnya yang pucat dan matanya sayu menatap Banyu.


"Kak Banyu," ucap Naura pelan, nyaris berbisik.


Banyu meletakkan barang bawaannya dan mengambil sebuah minyak angin dari saku kemejanya. Menyodorkan ujung minyak angin ke hidung Naura, mencoba membuat gadis itu merasa lebih baik.


"Kalo kamu lagi sakit, jangan memaksakan diri untuk ikut mata kuliah Pak Simalungun," ucap Banyu sambil mengusap punggung Naura pelan. Namun, tak mendapat tanggapan dari Naura.


"Saya minta maaf, ya, menyentuh punggung kamu. Apa sudah lebih baik?" tanya Banyu lembut.


Naura mengangguk lemah. Rasanya ia tak memiliki tenaga untuk sekadar mengeluarkan suara untuk menjawab pertanyaan Banyu. Tubuhnya terasa lemah dan kepalanya berkunang-kunang. Perutnya juga terasa sangat mual dan ingin muntah.


"Makasih Kak Banyu," ucap Naura.


Banyu sedikit merapikan rambut Naura yang berantakan dan menyampirkannya ke samping. Naura hanya diam dan melihat Banyu yang membereskan buku-bukunya yang diletakkan sembarangan karena membantunya tadi.


"Sudah lebih baik? Apa perlu saya antar ke ruang kesehatan supaya kamu bisa beristirahat?" tanya Banyu khawatir.


Naura menggeleng dengan senyum lemah. Naura sangat senang, Banyu terlihat khawatir pada keadaannya. Naura memberikan botol minyak angin yang dipegangnya kepada Banyu.


"Makasih Kak, aku udah lebih baik," jawab Naura pelan.


Banyu mendorong tangan Naura yang hendak mengembalikan minyak angin itu padanya. Dia tersenyum lembut pada Naura dan mengambil barang-barangnya yang diletakkan di samping gadis itu.


Setelahnya Banyu pergi meninggalkan Naura sendiri, tersipu malu karena Banyu tadi memapahnya. Banyu begitu lembut padanya dan Naura menyukai semua yang ada pada diri Banyu.


Naura memang menyukai Banyu Pranata Sujatmiko. Pria yang tiga tahun lebih tua darinya itu adalah pria kharismatik yang mampu meluluhlantakkan hati Naura. Membuat Naura bermimpi untuk bisa bersanding dengan pria baik dan sempurna seperti Banyu.


Naura menutup wajah dengan telapak tangan, takut jika orang-orang melihatnya tersipu. Kepalanya sudah tak begitu berdenyut dan perutnya sudah tak terlalu mual. Walau tubuh masih lemas, Naura masih sanggup berdiri dan berjalan untuk bertemu teman-temannya.


***


Naura mengunyah asinan yang tadi ia beli saat di tengah jalan menuju gedung fakultas kedokteran. Stefano dan Rinjani yang melihat Naura memakan asinan itu, hanya menatap dengan wajah meringis.


"Lo nggak apa-apa, Nau?" tanya Rinjani khawatir.


Naura mengangguk singkat, tetap mengunyah asinan yang menggugah selera makannya. Asinan ini adalah makanan pertamanya hari ini dan tak membuat mual sama sekali. Rasanya enak, persis seperti yang Naura bayangkan dan idamkan sejak jam mata kuliah tadi.


Stefano hanya bergidik melihat dua bungkus asinan yang telah tandas. Naura tak pernah memakan asinan sebanyak itu setahu Stefano. Jadi, melihat Naura memakannya dengan lahap dan sebanyak ini, Stefano tanpa sadar mengucapkan hal aneh.


"Nau, lo hamil, ya?" tanya Stefano tanpa sadar.


Naura tersedak mendengar pertanyaan Stefano yang terlalu tiba-tiba. Dia terbatuk-batuk dan melambai pada Rinjani untuk meminta minuman. Dengan cepat Rinjani menyodorkan botol air mineral miliknya dan memberikannya pada Naura.

__ADS_1


Rinjani mendelik pada Stefano yang terlihat kikuk karena pertanyaannya yang aneh. Rinjani memukul kepala Stefano menggunakan buku tebal miliknya hingga pria itu mengaduh kesakitan.


"Awww, sakit tahu!" teriak Stefano.


"Lo tuh kalo ngomong di filter, dong! Mana mungkin si Naura hamil, pernah gituan aja nggak. Kita nakal, tapi punya prinsip untuk menjaga diri," ucap Rinjani sewot.


Stefano memegangi kepalanya yang berdenyut karena dipukul buku tebal milik Rinjani. Menatap Rinjani dengan wajah cemberut sekaligus merasa bersalah pada Naura. Mungkin Naura hanya sedang ingin memakan asinan saja.


"Ya, maaf atuh," ucap Stefano merasa bersalah.


Naura hanya diam melihat perdebatan Rinjani dan Stefano. Matanya tanpa sengaja melihat Damar tengah berjalan bersama gadis berhijab. Walau jarak Damar dan wanita itu cukup jauh, tapi tak terlalu berjarak dan mereka terlihat berbincang.


"Damar jalan sama siapa itu?" tanya Naura heran.


Rinjani dan Stefano langsung menoleh pada Naura dan melihat arah pandangan Naura.


"Oh, si Aisyah. Mungkin lo jarang ketemu dia, tapi dia mahasiswa kedokteran. Dia seangkatan sama kita dan gosipnya, dia lagi ta'aruf sama Damar," ucap Stefano.


Rinjani mengangguk membenarkan. "Dia dulu sering dimarahin sama dosen karena selalu pake pakaian ala burka gitu. Sekarang sih udah nggak," ucap Rinjani menambahkan.


Naura hanya mengangguk saja.


"Gue balik dulu deh. Bye." pamit Naura. Dia berdiri dan membereskan semua barangnya.


***


Naura menatap gelisah benda pipih di genggamannya. Ia memanjatkan doa agar semua kekhawatirannya tak menjadi kenyataan. Dia terlalu takut untuk menghadapi orang tuanya jika kekhawatiran itu menjadi kenyataan. Ia tak ingin mengecewakan mereka.


Naura membalik benda pipih itu dengan perlahan. Tubuhnya terasa lunglai saat melihat dua garis merah pada benda pipih tersebut. Hamil. Satu kata yang paling Naura takutkan akhirnya menjadi kenyataan.


"Nggak, ini pasti salah. Testpack-nya pasti udah kadaluwarsa. Ini nggak benar," ucap Naura tak terima.


Naura membanting apa pun yang ada di dekatnya. Menangis meraung seperti orang hilang akal sehat. Ayah dan ibunya sedang berada di luar kota sejak sore kemarin. Jadi, tak ada yang mendengar jeritan Naura sama sekali.


"Nggak mungkin gue hamil. Gue nggak mau hamil. Gue nggak mau berhenti kuliah," gumam Naura frustrasi.


Naura menggigiti kukunya ketakutan. Bagaimana jika orang tuanya mengetahui kehamilannya? Bagaimana jika Damar tak mau mengakui bayi yang ada di dalam kandungannya? Berbagai pemikiran buruk menghampiri Naura.


Dia tak menginginkan bayi ini, mungkin juga Damar tak menginginkannya. Bayi ini hadir karena tak sengaja, hasil dari perbuatan mereka dua bulan lalu. Naura bingung apa yang harus ia lakukan sekarang. Apa ia harus memberitahu Damar tentang kehamilannya?


Setelah berpikir panjang, Naura memutuskan untuk menelepon Damar. Namun, tak diangkat sama sekali oleh Damar. Naura tetap berusaha untuk menelepon, walau tetap telepon itu tak dijawab oleh Damar.


"Sialan ...!" teriak Naura membanting ponselnya. Meraung menangisi nasibnya yang buruk.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2