Terpaksa Menikah Karena Hamil

Terpaksa Menikah Karena Hamil
Bab 13. Patah Hati Aisyah


__ADS_3

Kedua orang tua Aisyah beserta Aisyah akhirnya pergi ke rumah Damar. Memastikan jika apa yang didengar oleh Aisyah dari mulut Damar adalah kebenaran. Jika memang benar Damar telah menikah, maka proses ta'aruf yang sedang berlangsung harus diakhiri.


Aisyah meremas gamis yang ia kenakan untuk mengurangi rasa takut. Ia berharap jika apa yang Damar ucapkan tidaklah benar. Aisyah lebih berharap jika ini hanyalah mimpi buruk yang dia alami.


Aisyah melangkahkan kaki turun dari mobil dengan enggan. Dia tak ingin percaya dan mendengar kebenaran itu dari orang tua Damar sendiri. Aisyah tak sanggup dan ia belum siap untuk pergi dari hidup Damar.


"Aisyah, ayo masuk." Aisyah dengan berat hati melangkahkan kakinya menuju rumah besar itu.


Mereka duduk di sofa yang terasa empuk dan juga mahal. Namun, perasaan Aisyah tak tenang. Ia memikirkan banyaknya pemikiran negatif yang tercipta dari pikirannya sendiri.


"Pak Andi, ada apa datang ke sini sore begini?" tanya ayah Damar yang baru saja datang ke ruang tamu. Menyodorkan tangannya untuk bersalaman dengan tamunya.


Ayah Aisyah berdiri dan menyambut uluran tangan ayah Damar. Lalu kembali duduk setelah dipersilahkan untuk duduk oleh tuan rumah.


Ayah Aisyah menarik nafas sebelum mengutaran maksudnya. "Begini Pak Ridwan, ada yang ingin saya tanyakan. Apakah benar Damar telah menikah?" tanyanya langsung.


Suasana ruang tamu seketika hening. Hanya suara jam dinding yang berbunyi, menandakan pergantian waktu. Ayah Damar menghela nafas berat lalu mengangguk sebagai jawaban. Hal itu membuat bahu Aisyah melemas seketika. Berarti apa yang dikatakan oleh Stefano dan Damar memang benar.


Ayah Aisyah mengepalkan tangannya kuat. Dia merasa tak dihargai dan ditipu oleh orang tua Damar. Untuk apa mereka menyuruh Damar untuk melakukan proses ta'aruf dengan Aisyah, jika akhirnya bukan Aisyah gadis yang dinikahi oleh Damar.


"Apa Pak Ridwan sedang meremehkan kami?" tanya ibu Aisyah dengan nada ketus.


Suasana yang hening menjadi memanas karena ibu Aisyah yang emosi. Ibu mana pun takkan ikhlas saat putrinya ditipu oleh seorang lelaki. Apalagi lelaki itu telah menikah dengan gadis lain, disaat ia masih dalam proses ta'aruf dengan Aisyah.

__ADS_1


Ayah Damar menggeleng kuat, "Bukan seperti itu, Bu Karmila. Ada hal pribadi yang mengharuskan Damar menikahi gadis itu. Saya meminta maaf atas nama anak saya. Maaf proses ta'aruf antara Nak Aisyah dan putra saya harus berakhir," ucapnya penuh penyesalan.


"Hal pribadi apa, Pak Ridwan? Kami tentu harus mengetahui hal ini. Kalian tak bisa memutuskan proses ta'aruf ini secara sepihak. Kami harus tahu alasannya." Ayah Aisyah berucap tegas dengan tangan terlipat. Menatap dengan cukup tajam kepada ayah Damar.


"Maafkan saya, Pak Andi. Saya tidak bisa memberitahukan alasannya. Ini masalah pribadi keluarga kami." Jawab ayah Damar lembut, tapi tegas.


Ayah Aisyah berusaha keras untuk tak bersikap kasar. Demi tata krama dan hubungan baik keluarga mereka yang terjalin, membuatnya tak bersikap semena-mena pada keluarga ini. Ia masih menghargai hubungan baik mereka.


"Pak Ridwan, keluarga kita sudah saling mengenal sejak sepuluh tahun lalu. Saya menerima proses ta'aruf antara Nak Damar dan putri saya karena hubungan baik kita. Jadi, saat proses ta'aruf ini dihentikan, saya berhak bertanya alasannya." Ayah Aisyah bertanya dengan nada cukup tegas.


Ayah Damar menghela nafas. Rasanya berat untuk memberitahukan mengenai masalah keluarganya. Apalagi ini adalah aib bagi keluarganya dan juga keluarga Naura. Namun, ayah Damar merasa tak apa jika memberitahukan hal ini kepada Aisyah dan juga orang tuanya.


"Alasan kami menikahkan Damar adalah karena Damar—"


Ayah Damar menghentikan ucapannya karena lidahnya yang terasa kelu untuk mengatakannya. Dia masih begitu berat dan tak sanggup membuka aib keluarganya sendiri.


"Karena Damar telah menghamili gadis itu," ucap ayah Damar pelan.


Ayah Damar memejamkan matanya dengan kuat. Merasa malu dan juga tak enak pada tamu yang ada dihadapannya. Rasanya ayah Damar ingin pergi dari tempat ini karena terlalu malu untuk berhadapan dengan mereka.


Aisyah meneteskan air mata saat mendengar fakta yang tak pernah ia bayangkan sebelumnya. Dari semua pemikiran negatifnya, tak pernah terpikirkan olehnya jika Damar menikah karena menghamili gadis tersebut.


"Om Ridwan bohong, 'kan? Mas Damar tidak mungkin menghamili seorang gadis." Aisyah menggelengkan kepalanya kuat. Ia tak percaya atas apa yang dikatakan oleh ayah Damar.

__ADS_1


Aisyah mengenal Damar dengan sangat baik. Selama satu tahun proses ta'aruf, mereka jarang berjalan berduaan. Annisa—adik Damar—yang selalu menemani mereka setiap mereka ingin bertemu. Damar bahkan tak pernah menyentuh sehelai pun rambut Aisyah. Damar tak mungkin menghamili gadis itu.


Ibu Aisyah memeluk putrinya dengan lembut. Ia juga terkejut mendengar kebenaran ini. Tak percaya jika Damar menghamili seorang gadis. Lelaki soleh dan taat agama seperti Damar tak mungkin bisa melakukan hal serendah itu.


"Maafkan anak saya, Pak Andi. Beginilah fakta yang sebenarnya. Saya harap hubungan baik kedua keluarga kita tidak renggang karena masalah ini. Saya mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada keluarga Bapak." Ayah Damar menyatukan kedua telapak tangannya. Memohon maaf kepada mereka bertiga.


Ayah Aisyah berdiri dengan cepat. Tak menghiraukan permohonan maaf dari ayah Damar sama sekali. Dia merasa ditipu dan dikhianati oleh keluarga Damar. Tak memberitahukan hal sepenting ini pada mereka, dan membiarkan Aisyah mengetahuinya setelah semuanya terjadi.


"Kami permisi, Pak Ridwan. Saya rasa hubungan baik kita cukup sampai di sini saja." Ayah Damar mendongak dan lantas berdiri untuk melihat Aisyah dan kedua orang tuanya pergi.


Ayah Damar memejamkan matanya karena merasa bersalah dan juga sepertinya hubungan baik keluarganya dan keluarga Aisyah sudah hancur.


***


Di sepanjang perjalanan menuju rumah, Aisyah tak berhenti menangis. Ia sangat kecewa pada Damar. Aisyah begitu mengagumi dan mencintai Damar sejak pertama kali mereka bertemu. Lalu benih-benih cinta tumbuh seiring dengan proses ta'aruf yang mereka jalani.


Aisyah menyukai Damar yang tampan dan juga baik hati. Ia juga rajin beribadah dan sering ikut dalam kajian dan juga pengajian yang sering diadakan di majelis. Bahkan ia juga aktif dalam kegiatan sosial. Semua sikap Damar mampu meluluhkan hati Aisyah. Sekarang Damar juga berhasil mematahkan hati Aisyah dengan mudahnya.


Aisyah turun dari mobil dan berlari masuk ke dalam kamarnya. Tak ia pedulikan teriakan ibu dan ayahnya yang memanggilnya. Sekarang yang ia butuhkan adalah waktu untuk sendiri. Ia tak ingin diganggu oleh siapa pun.


Aisyah menangis menumpahkan semua kesedihannya di dalam kamarnya. Menangisi impiannya untuk menikah dengan Damar yang kandas begitu saja. Damar telah menjadi milik orang lain. Membayangkan Damar bersanding dengan gadis lain selain dirinya, Aisyah tak sanggup membayangkannya. Suara ketukan pintu dari luar kamarnya tak membuat Aisyah untuk membukanya.


"Mas Damar ..."

__ADS_1


Aisyah menangis tersedu-sedu dan memanggil nama Damar dengan lirih.


Bersambung


__ADS_2