Terpaksa Menikah Karena Hamil

Terpaksa Menikah Karena Hamil
Bab 5. Meminta Tanggung Jawab


__ADS_3

Naura masih diam dalam pelukan Mamanya.  Ia menangis sesenggukan dan menggeleng pelan seolah tak mau memberitahu Papanya.


"Katakan Naura ...! Siapa lelaki bajingan itu!?" Tanya teriak Doni.


Naura hanya diam tak menjawab pertanyaan Papanya. Hal itu membuat Doni merasa berang karena Naura seperti melindungi lelaki bajingan itu. Doni berteriak frustrasi, rasanya ia telah gagal sebagai orang tua.


Mama Naura menenangkan Naura yang ketakutan. Tubuh putri semata wayangnya itu bergetar ketakutan. Bibirnya menggumamkan permintaan maaf berulang kali. Mamanya memeluknya dengan erat.


"Sudah, Pa. Jangan memaksa Naura lagi. Dia sangat ketakutan saat ini. Coba Papa lihat," ucap Mama Naura menatap putri semata wayangnya dengan iba.


Doni menatap dengan sorot mata tajam. Dia berusaha mengatur emosinya yang terasa meledak-ledak. Dia merasa gagal menjaga dan mendidik putri semata wayangnya. Dia kecewa mengetahui Naura hamil tanpa suami.


"Tolong jawab Naura. Siapa lelaki yang melakukan ini sama kamu, Nak. Papa nggak akan memarahiku, justru ingin membantu kamu," ucapnya dengan sedih.


Naura tetap menggeleng kuat. Mulutnya terasa kelu untuk mengatakan Damar. Dia juga tak ingin Papanya memaksanya untuk menikah dengan Damar. Naura tahu seperti apa kelanjutan hal ini dan Naura tak ingin itu semua terjadi.


"Katakan saja Naura pada Papamu. Apa lelaki itu tak ingin bertanggung jawab?" Tanya Mamanya sedih.


Naura hanya diam tak ingin berbicara sama sekali. Lebih baik ia diam dan tak mengatakan tentang Damar. Belum tentu Damar akan mau bertanggung jawab padanya, melihat pria itu sedang dekat wanita lain.


"Baiklah, Papa akan mencari tahu sendiri siapa lelaki bajingan itu. Serapat apa pun kamu merahasiakan lelaki itu, Papa bisa menemukannya."


Naura yang mendengar ucapan Papanya dengan cepat mendekat padanya dan berlutut, menyatukan kedua tangannya seolah memohon. Membuat Mama dan Papanya menatap tak percaya pada Naura.


"Naura mohon jangan, Pa. Naura nggak butuh dia sama sekali. Naura akan urus diri Naura sendiri, Naura janji sama Papa dan Mama," ucap Naura memohon.


Naura memeluk kaki Papanya kuat. Menangis sesenggukan dan memohon agar Papanya tak mencari tahu siapa pria yang menghamilinya. Naura tak ingin menikah dengan Damar dan melahirkan anak ini.


Mama dan Papa Naura saling memandang tak percaya. Dengan cepat Mamanya menarik tubuh Naura menghadapnya. Mencengkeram kedua lengan anaknya dengan kuat.


"Katakan Naura! Ini demi kebaikan kamu. Dia harus bertanggung jawab atas kehamilanmu dan janin di perut kamu. Apa dia tidak mau bertanggung jawab?" Tanya Mamanya kesal.


Naura menggeleng dengan air mata mengalir. Ia tak berani untuk membalas tatapan mata Mamanya. Sedikit meringis kesakitan karena cengkeraman yang begitu kuat. Dia takut melihat kemarahan Papa dan Mamanya yang baru kali ini tak terbendung.


"Dia nggak mau tanggung jawab?" Tanya Mamanya memastikan.


"Aku nggak tahu dia mau tanggung jawab atau nggak," ucap Naura lirih.


"Dan aku nggak butuh tanggung jawabnya, Ma. Aku juga nggak menginginkan anak ini. Dia aib, Ma," lanjut Naura di iringi air mata.


Naura menangis dengan air mata berderai. Ia mengatakan semuanya dengan jujur. Toh kehamilannya bukanlah sesuatu yang ia inginkan dan ia tak sengaja melakukan hal itu dengan Damar. Itu semua karena di bawah pengaruh alkohol dan obat perangsang sialan itu.


"Mulai sekarang, kamu Papa kurung. Sebelum kamu mengatakan siapa bajingan yang menghamilimu itu, takkan Papa biarkan kamu keluar rumah."


Setelah mengatakan itu, Papa dan Mama Naura pergi meninggalkan Naura di kamar itu. Tak lupa mengunci pintu kamar tersebut dari luar. Membuat Naura secara refleks menggedor pintu untuk meminta dibuka.


"Pa, Ma, tolong buka pintunya! Jangan kunci Naura disini!" Teriak Naura dengan nada histeris.


Tapi, itu tak membuat kedua orang tuanya merasa iba. Mereka melakukan ini agar Naura mau mengatakan siapa pria yang telah menghamilinya. Ini semua mereka lakukan agar tak mendapat hinaan dari keluarga besar dan masyarakat umum.

__ADS_1


"Papa nggak akan ngeluarin kamu sebelum kamu mengatakan siapa bajingan itu," ucap Papanya.


"Ponsel kamu juga Papa sita. Siapa tahu bajingan itu menghubungi kamu," lanjutnya tak kalah kuat.


Setelah suara langkah kaki yang semakin tak terdengar. Membuat Naura menangis terisak karena merasa semuanya telah hancur. Masa depan yang telah ia rancang dengan sempurna sirna karena kesalahan satu malam. Kesalahan yang ia lakukan bersama Damar tanpa sengaja.


Dia juga tak tahu apakah Damar akan menghubunginya atau tidak. Ponselnya telah disita dan ia tak tahu bagaimana cara memberitahu Damar. Tapi, apakah Damar akan menghubunginya setelah tahu orang tua Naura mengetahui kehamilannya?


"Damar nggak mungkin kabur, kan?" Tanyanya dengan nada gusar.


***


Damar menatap layar ponselnya dengan ragu. Ia ingin menelepon Naura untuk memberitahu solusi masalah mereka. Tapi, ia ragu apakah Naura akan setuju dengan solusi yang akan Damar beritahu.


Solusi yang Damar pikirkan akan membuat mereka makin masuk dalam kubangan dosa yang tak terhenti. Damar merasa tak memiliki pilihan lain selain berpikir untuk menyuruh Naura menggugurkan kandungannya. Tapi, saat ingin memberitahu Naura, dia merasa ragu.


Apakah itu keputusan yang tepat? Tapi, itu hanya satu-satunya jalan pintas yang mereka miliki. Naura tak ingin mengandung anak Damar dan Damar tak menginginkan Naura sebagai ibu dari anaknya.


"Baiklah, gue telepon dia aja," ucap Damar penuh keyakinan.


Akhirnya setelah bergelut dengan konflik batinnya, Damar memutuskan untuk menelepon Naura. Ia tak peduli jika Naura menentangnya, toh mereka tak memiliki pilihan lain selain memilih jalan itu. Mereka tentu tak menginginkan opsi pernikahan.


Setelah menunggu setelah beberapa detik, Damar mengulas senyum lega saat telepon itu diangkat. Damar dengan tak sabar berkata pada orang di seberang telepon tanpa berpikir jika bukan Naura yang mengangkat telepon tersebut.


"Naura, gue punya solusinya. Lo cuma perlu menggugurkan kandungan lo dan semuanya selesai. Lo mau, kan?" Tanya Damar tak sabaran.


Tak ada jawaban sama sekali hingga membuat Damar menatap layar ponselnya yang memang sedang menelepon nomor Naura. Tapi, tak ada suara balasan diseberang telepon. Hanya suara benda pecah dan Damar kaget mendengar suara bariton yang terdengar mengintimidasi.


***


Doni memecahkan asbak yang ada di ruang kerjanya dengan kesal. Dia mendengar ucapan pria yang menelepon ponsel Naura dan langsung mengatakan hal yang membuat darah Doni terasa mendidih. Tak salah lagi, lelaki itu adalah bajingan yang telah menghamili putrinya. Menutup panggilan dari ponsel Naura.


Dengan amarah yang tertahan Doni mengambil ponsel miliknya di meja. Mencari sebuah nomor dan menempelkan benda persegi itu ke telinga. Setelah menunggu beberapa detik, dia menatap ke depan dengan tatapan angkuh.


"Cepat datang ke sini. Aku minta kau untuk mencarikan seseorang untukku."


Doni mematikan panggilan dan menunggu orang yang ia panggil datang. Dia tak bisa diam saja dan menunggu hingga Naura mengatakan siapa pria yang menghamilinya. Perut Naura akan semakin membesar dan itu akan menjadi bahan gosip banyak orang.


Setelah menunggu selama 30 menit, pintu ruang kerjanya terbuka. Istrinya membuka pintu dan di belakangnya ada sosok pria berbadan kekar yang sekitar usia 40-an.


"Ada apa Bapak memanggil saya?" Tanya pria itu.


Doni mengambil ponsel Naura dan memberikannya kepada pria itu. Dengan sopan pria itu mengambil ponsel yang di sodorkan padanya. Menatap dengan penuh tanda tanya, tugas seperti apa yang akan ia terima.


"Temukan pria bernama Damar. Kontaknya ada di ponsel itu. Cari dia hingga ketemu dan bawa ke hadapanku hidup-hidup."


Doni memberikan perintah dengan tegas.


"Jika dia menolak, Pak?" Tanya pria itu.

__ADS_1


"Kau bisa patahkan kakinya dan bawa ke sini. Asalkan jangan membunuhnya. Kau harus bisa membawanya malam ini juga!" Perintah Doni tegas.


Pria itu mengangguk paham dan berpamitan kepada Doni.


"Pa, siapa Damar itu? Kenapa Papa memintanya untuk mencarinya?" Tanya Mama Naura bingung.


Doni hanya diam dan menumpukan dagunya pada kedua tangannya yang terlipat. Setetes air mata mengalir di wajahnya, membuat Mama Naura terkejut. Tak pernah ia melihat suaminya menangis sepanjang pernikahannya. Ini adalah pertama kalinya.


"Kamu tenang saja, Widya. Lelaki bajingan itu, aku sudah tahu siapa dia. Dia harus bertanggung jawab atas perbuatannya," ucap Doni penuh keyakinan.


***


Damar merasa khawatir setelah telepon dimatikan secara sepihak dari ponsel Naura. Apakah itu suara ayah Naura? Apakah kehamilan Naura sudah diketahui, atau Naura memilih mengadu kepada ayahnya?


Berbagai macam pertanyaan dan pemikiran negatif terputar di kepala Damar. Sudut hatinya sedikit memberi pengharapan jika Naura tak mungkin mengatakan hal itu pada orang tuanya. Iya, pasti begitu, karena konsekuensinya Naura harus menikah dengan Damar.


"Tapi, gimana kalo dia ketahuan?"


Damar mengacak rambutnya frustrasi. Dia tak peduli pada tatapan orang di cafe ini tentang dirinya. Dia sedang stres memikirkan masalahnya yang tak memiliki kejelasan ataupun jalan keluar yang baik. Satu-satunya jalan adalah pernikahan yang tak diinginkan Damar mau pun Naura.


"Kamu yang namanya Damar?"


Damar mendongak untuk melihat siapa orang yang mengajaknya berbicara. Sosok pria tinggi besar dengan tato naga di lengannya. Cukup membuat Damar menyimpulkan bahwa pria itu preman.


"Iya, saya Damar. Ada apa ya, Bang?" Tanya Damar sopan.


Damar ketakutan, tapi ia tak ingin menunjukkannya. Lagi pula dia merasa tak memiliki kesalahan apa pun dan dia tak mengenal pria ini.


"Bisa ikut saya sebentar?" Tanya pria itu.


Damar merasa tubuhnya terhuyung ke depan saat kaus miliknya ditarik pria bertubuh gempal itu ke depan. Membuatnya merasa sedikit ketakutan karena pria itu menariknya begitu saja keluar dari cafe ini.


"Ini kenapa ya, Bang? Kok saya diseret begini?" Tanya Damar gemetar.


"Ada seseorang yang ingin bertemu dengan kamu," ucap pria itu lalu membanting Damar ke kursi penumpang mobil.


"Siapa orangnya?" Tanya Damar khawatir, tapi tak ada jawaban. Mobil tersebut berjalan membelah jalanan kota yang ramai.


Setelah perjalanan kurang lebih satu jam, Damar ditarik keluar menuju sebuah rumah yang lumayan mewah. Tubuhnya terlempar hingga tanpa sengaja ia mencium sebuah sepatu yang terlihat mewah.


"Oh, jadi kamu yang namanya Damar? Lelaki bajingan yang dengan beraninya menyuruh putriku untuk aborsi?"


Damar membulatkan matanya mendengar suara bariton yang sama seperti yang ditelepon tadi siang. Matanya mendongak untuk melihat sosok ayah Naura. Melihatnya saja sudah membuat Damar gemetar karena takut.


Bugh!


"Kau harus menikahi putriku dan bawa orang tuamu kemari ...!" Teriak Doni setelah memukul Damar.


Damar hanya terpekur ketakutan melihat aura ayah Naura yang sungguh menakutkan.

__ADS_1


Bersambung


__ADS_2