
Naura yang telah diperbolehkan keluar oleh Papanya terkejut melihat Damar yang didorong oleh orang kepercayaan Papanya hingga tersungkur mencium sepatu milik Papanya.
Dengan pelan Naura membuka pintu depan rumah untuk menguping pembicaraan mereka. Naura sedikit tercekat melihat Damar dipukuli oleh Papanya dan matanya makin membulat saat mendengar ucapan Papanya.
"Nggak ...! Naura nggak mau menikah dengannya." Teriak Naura tegas.
Naura langsung mendekati Papanya dan berlutut dihadapannya. Membuat Doni terkejut karena putrinya berlutut padanya. Apakah putrinya tahu apa yang sedang ia lakukan? Dia sedang berusaha membuat pria bajingan ini bertanggung jawab, tapi Naura tak ingin dinikahi olehnya.
"Kamu tahu apa yang kamu lakukan saat ini, Naura? Papa sedang membuat pria ini mempertanggungjawabkan perbuatannya. Kenapa kamu malah tak ingin ia bertanggung jawab?" Tanya Doni dengan tangan terkepal.
Naura memejamkan matanya sebelum memberikan jawaban yang akan ia berikan pada Papanya. Ia tak ingin salah memberikan penjelasan karena Papanya bisa membantah setiap argumen yang ia berikan.
"Karena ini cuma kesalahan satu malam, Pa. Naura dan Damar dijebak menggunakan alkohol dan juga obat perangsang. Kami melakukannya karena efek obat perangsang itu," ucap Naura dengan air mata mengalir.
"Lantas apa bayi itu juga sebuah kesalahan?" Tanya Doni sinis kepada putrinya.
Naura terdiam mendengar ucapan Papanya. Sedikit menyentil hati nuraninya yang masih ia miliki. Benar juga, bayi di dalam perutnya bukanlah sebuah kesalahan. Ia suci tanpa dosa, tapi sisi dirinya yang lain mengatakan hal sebaliknya.
Damar hanya diam dengan pipi yang lebam. Ia tak tahu harus bereaksi seperti apa saat ini. Melihat tatapan ayah Naura saja sudah membuatnya diam tak berkutik, apalagi untuk membantah ucapannya. Tapi, satu yang pasti, ayah Naura telah mengetahui semuanya.
Damar merutuki semua kebodohan dan juga kesialan yang selalu menghampirinya. Apakah ini berarti ia harus menikahi Naura? Menjadikan gadis sialan yang selalu berpakaian minim itu sebagai istrinya? Damar mendecih karena merasa jijik dengan khayalannya.
"Papa tidak mau tahu, kalian harus menikah. Turuti perkataanku, Naura. Lalu kau harus membawa kami kepada orang tuamu."
Setelah mengatakan itu, Doni masuk ke dalam rumah tanpa peduli pada teriakan Naura yang meminta untuk tak menemui orang tua Damar. Membuat Damar merasa iba melihat gadis itu yang terlihat berantakan.
***
Kedua orang tua Naura serta Damar berjalan menuju rumah keluarga Damar yang terlihat mewah. Tak kalah dari rumah Naura yang juga besar dan futuristik. Hanya saja rumah itu kental dengan dominasi arsitektur islami.
"Silahkan masuk, Pak."
Damar tak berani hanya untuk menatap mata ayah Naura. Saat pembantu rumahnya membuka pintu utama, Damar merasa khawatir. Bagaimana reaksi Abi dan Ummi saat mengetahui bahwa dirinya menghamili Naura.
Damar berjalan di belakang orang tua Naura. Langkahnya terasa berat dan rasanya ia ingin kabur dari sini sekarang.
"Silahkan tunggu dulu, Tuan. Pak Ridwan dan Bu Syifa sedang menunaikan shalat Isya," ucap pembantu rumah tangga tersebut.
Doni dan Widya menunggu dengan gelisah. Mereka meninggalkan Naura di rumah bersama dengan pembantu. Sedikit khawatir meninggalkannya karena Naura terlihat tak baik-baik saja.
Setelah menunggu kurang lebih 30 menit, orang tua Damar turun untuk menemui Doni dan Widya. Senyum tak pernah luntur dari wajah mereka berdua saat melihat Damar.
"Maaf membuat Bapak dan Ibu menunggu kami. Kami baru selesai menunaikan shalat Isya," ucap Ridwan dengan nada penyesalan.
__ADS_1
Doni mengangguk paham. Dia lantas berdiri dan menjabat tangan pria yang sepertinya sebaya dengannya. Lalu mengatupkan kedua tangan untuk memberi salam kepada ibu Damar.
"Saya Doni, Pak Ridwan."
Doni memperkenalkan diri lebih dulu. Ia yang tadinya emosi menjadi tidak enak saat melihat orang tua lelaki bajingan ini. Mereka terlihat sangat baik dan sepertinya dari keluarga yang sangat agamis. Entah bagaimana mereka memiliki anak seperti Damar.
"Ah, iya, Pak Doni. Ada apa, ya, ingin bertemu saya?" Tanya Ridwan dengan heran.
Ridwan mempersilahkan Doni untuk duduk kembali. Dia duduk berdampingan dengan istrinya, begitu pun dengan pria yang mengaku sebagai Doni tersebut.
"Bi, tolong buatkan minum untuk Pak Doni dan istrinya," ucap Ridwan lembut.
Dengan cepat Doni menyela, "Tidak perlu, Pak Ridwan. Saya akan langsung ke intinya saja."
"Anak Pak Ridwan, Damar, telah menghamili putri kami, Naura," ucap Doni tegas.
Suasana seketika hening. Ekspresi wajah Ridwan dan Syifa terlihat sangat terkejut. Bahkan Ridwan memegang dadanya saking terkejutnya mendengar ucapan Doni. Syifa bahkan menutup mulutnya dan menatap putra sulungnya.
"Astaghfirullahalladzim, itu tidak benar, kan, Damar?" Tanya Syifa.
Damar tak langsung menjawab pertanyaan yang Ummi-nya berikan. Dia terlalu takut untuk mengakui hal ini. Apalagi ia sempat menelepon Naura untuk memberikan solusi dengan melakukan aborsi. Sialnya malah ayah gadis itu yang mengangkat dan semua ini terjadi.
"Jawab Damar!" Teriak Ummi-nya penuh penekanan.
"Begini Pak Ridwan, saya hanya ingin pertanggungjawaban anak bapak. Dia harus menikahi anak kami karena Naura sedang mengandung darah daging Damar."
Syifa yang mendengar penuturan Doni merasa kepalanya berdenyut sakit. Tubuhnya langsung oleng jatuh ke sofa. Untung Ridwan dengan cepat memegang tangan istrinya lembut.
Doni yang melihat ibu Damar pingsan merasa tidak enak. Tapi, jika ia tak melakukannya, maka putrinya akan melahirkan tanpa suami. Doni takkan mau putrinya menderita sendirian sedangkan orang yang menghamilinya bisa hidup dengan tenang.
"Abi, Ummi tidak salah dengar, kan? Damar ...,"
Ridwan mengangguk pelan menjawab pertanyaan istrinya. Dia sama terkejutnya seperti istrinya, tapi ia masih bisa mengendalikan dirinya. Saat seperti ini, ia tak boleh lemah dan harus bisa mengendalikan diri.
"Ummi tenang, ya? Abi yang akan mengurus ini semua. Bi Inem, tolong bawa istri saya ke dalam untuk istirahat," ucap Ridwan pelan.
Setelah memastikan jika istrinya telah masuk ke dalam kamar, Ridwan menatap putra sulungnya tajam. Emosinya telah membumbung tinggi, tapi ia takkan memakai kekerasan. Ia mengalihkan pandangan menatap Doni dan istrinya.
"Maafkan kami berdua jika kedatangan kami membuat istri Pak Ridwan syok. Kami hanya ingin putra anda bertanggung jawab," ucap Doni.
Awalnya Doni ingin mengatakan tentang Damar yang hendak mengajak Naura melakukan aborsi. Tapi, ia urungkan niatnya itu. Melihat bagaimana terkejutnya ibu Damar membuat Doni tak tega. Dia menatap istrinya dan mendapatkan anggukan dari Widya.
"Kami hanya ingin mereka menikah, Pak Ridwan. Itulah solusi yang terbaik bagi anak-anak kita saat ini," lanjut Doni pelan.
__ADS_1
Doni melirik Damar yang masih menunduk karena ketakutan.
"Kalau begitu kami permisi, Pak Ridwan. Saya harap Pak Ridwan mau menuruti permintaan saya."
Setelah mengatakan itu, Doni bangkit berdiri bersamaan dengan istrinya. Berpamitan pada tuan rumah, walau sepertinya sang tuan rumah sedang syok dan tak mendengarkan.
Tak lama setelah kepergian Doni dan istrinya, Damar merasakan pipinya kebas karena tamparan. Dia menatap Abi-nya yang telah tertutup amarah. Tak terlihat sosok pria lembut namun tegas, yang ada hanyalah sosok dingin yang beringas.
"Kamu tak ada bedanya dengan syaiton. Susah payah kami membesarkanmu dengan ilmu agama dan juga semua kebaikan yang kami ajarkan. Kamu sudah mencoreng nama Abi ...!" Teriak Ridwan menggema di seluruh rumah.
Damar dengan cepat berlutut dihadapan Abi-nya. Dia ketakutan dan juga kalut dengan masalah yang menimpanya. Semua yang terjadi padanya saat ini bukanlah kesalahannya ataupun keinginannya. Dia seperti dijebak oleh seseorang.
"Abi ... Abi ... aku tidak bersalah, Abi. Aku dijebak oleh seseorang, Abi. Percayalah padaku, aku tidak berbohong," ucap Damar terputus-putus.
Ridwan hanya memejamkan mata menahan buliran air mata yang keluar. Jauh di dalam lubuk hatinya, ia merasa kecewa pada putra sulungnya. Putra yang telah ia besarkan dengan penuh nilai kebaikan dan juga nilai agama yang kuat.
Ridwan takut jika apa yang diperbuat Damar akan berbalik menimpa putri mereka. Karma yang tak bisa dihindari sekuat apa pun manusia menghindarinya. Semuanya pasti akan mendapatkan ganjarannya.
"Dijebak? Kamu mau Abi akan percaya dengan ucapanmu?" Tanya Ridwan sinis.
"Apa kamu tak memikirkan Annisa? Dia yang akan mendapat tulah dari perbuatanmu suatu saat nanti!"
Damar hanya terdiam tak berani membantah ucapan Abi-nya. Dia tahu karma baik dan karma buruk akan selalu mendapatkan balasannya. Tapi, ini bukanlah perbuatan Damar sepenuhnya. Dia melakukannya atas dorongan alkohol dan obat perangsang sialan itu.
"Minggu depan," ucap Ridwan menggantung.
"Minggu kamu akan menikahi gadis itu. Tak ada penolakan sama sekali."
Damar mendongak dan kaget mendengar keputusan Abi-nya yang tak bisa di ganggu gugat. Damar melihat Abi-nya yang berjalan menjauh darinya. Membuat Damar dengan cepat berjalan untuk menyusul.
"Abi, aku tidak ...," ucap Damar terhenti.
Ridwan berbalik dan menatap Damar dengan sorot mata tajam, namun tersirat tatapan kecewa di sana. Damar sekelita menghentikan langkahnya.
"Mau apalagi? Bertanggung jawablah atas apa yang kamu lakukan," ucap Abi-nya pelan.
Setelah itu Abi-nya menaiki tangga menuju kamarnya.
Damar hanya terdiam di ruang tamu yang sepi tersebut. Menjambak rambutnya yang telah kusut dan merutuki kebodohannya yang datang ke pesta ulang tahun Aldi.
"Argh, sial ...!" Teriaknya frustrasi.
Bersambung
__ADS_1