
Damar menghentikan mobilnya tepat di depan gerbang rumah Aisyah. Menatap gadis itu dengan senyum tipis dan membukakan pintu mobil untuknya. Hal itu membuat Aisyah tersipu malu dan keluar dari mobil Damar.
"Makasih Mas Damar," ucapnya lembut.
Damar tersenyum pada Aisyah, nyaris ingin menyentuh kepala Aisyah. Tapi ia tersadar dan tak jadi melakukan hal itu. Ia tak akan menyentuh Aisyah sebelum menjadikannya sebagai istri. Jadi ia hanya akan merespon dengan senyum dan menjaga jarak darinya.
"Udah sana masuk. Nanti Ummi khawatir lagi," ucap Damar lembut.
Aisyah mengangguk dengan senyum manis pada Damar. Senyum Aisyah seperti sebuah candu bagi Damar, membuat ketagihan. Damar tak bisa semangat jika tak melihat senyum manis Aisyah.
Bunyi ponselnya yang sejak tadi berdering membuat Damar merasa kesal. Sejak tadi ia menjemput Aisyah, Naura menelepon Damar terus menerus. Walau Damar menolak panggilan tersebut, Naura akan menelepon lagi hingga Damar merasa risih.
"Angkat aja teleponnya, Mas Damar," ucap Aisyah dengan senyum lembut.
Damar langsung mematikan ponselnya dan menatap Aisyah dengan senyum lembut. Dia tak ingin menjawab telepon dari perempuan sialan seperti Naura. Damar juga tak ingin menyita waktu kebersamaannya dengan Aisyah hanya demi mengangkat telepon Naura. Ia tak sudi melakukannya.
"Ini cuma temen kok," ucap Damar lembut.
Tapi, telepon itu kembali berdering. Damar merasa kesal saat lagi-lagi nama Naura tertera di layar ponsel itu. Aisyah yang melihatnya juga merasa risih mendengar suara ponsel itu yang terus berbunyi.
"Angkat aja, Mas. Siapa tahu itu penting," ucap Aisyah sedikit kesal, tapi masih mampu menahan diri.
Dengan berat hati Damar mengangkat telepon Naura.
"Halo, lo kenapa nelepon mulu, sih?" Tanya Damar kesal.
Aisyah hanya melihat bagaimana Damar berbicara dengan orang ditelepon itu. Dari nada suaranya, Damar terlihat kesal dan bahkan sedikit berteriak. Sangat berbeda saat mereka berbicara. Damar akan sangat lembut dan menanggapi ucapan Aisyah dengan positif.
"Ya udah, gue jemput lo nanti."
Damar memutus panggilan secara sepihak. Dia langsung menatap Aisyah dengan senyum permohonan maaf. Hal itu membuat Aisyah tertunduk malu karena ia terpesona pada ketampanan Damar. Senyum lembut Damar mampu membuat pipi Aisyah merona hebat.
"Kamu masuk, ya? Salam untuk Umi dan Abi," ucap Damar pelan. Aisyah mengangguk singkat lalu masuk ke dalam rumah.
Setelah memastikan Aisyah memasuki rumah, Damar langsung masuk ke dalam mobil. Dia langsung menuju ke sebuah tempat yang Naura katakan saat ditelepon tadi.
***
Naura menatap kendaraan yang lewat disekitar rumahnya penuh harap. Ia menunggu kedatangan Damar yang katanya akan datang untuk menjemputnya. Sedikit tak mempercayai ucapan Damar, karena Damar sempat menolak dengan alasan tak ingin berurusan dengan Naura. Tapi, Naura memaksa hingga Damar mau.
Senyum Naura mengembang saat melihat plat mobil Damar yang tak asing di netranya. Dengan cepat Naura memasuki mobil itu setelah berhenti tepat di depannya. Perbuatan Naura yang seperti itu membuat Damar kesal pada gadis menyebalkan yang sekarang duduk di sampingnya.
"Lo mau ngomong apa?" Tanya Damar tanpa basa-basi.
Naura hanya diam tak menjawab pertanyaan Damar. Hal itu membuat Damar merasa kesal bukan main.
"Lo nggak mau ngomong?" Tanya Damar geram.
Naura menatap Damar dan berucap singkat, "Jalan dulu mobilnya."
__ADS_1
Damar menggeram kesal dan melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sedikit membuat Naura hampir terantuk dashboard mobil. Untung dia dengan cepat menahan menggunakan kedua tangannya.
Naura menatap Damar dengan sorot mata tajam, tapi Damar tak merasa terintimidasi sama sekali. Dia memilih untuk fokus menyetir. Membelah jalanan kota dengan kecepatan tinggi untuk cepat sampai di tujuan mereka.
"Cepat, apa yang mau lo katakan?" Tanya Damar tak sabaran.
Naura menghela nafas panjang sebelum mengucapkannya.
"Gue hamil," ucap Naura pelan.
Ckiit
Damar menginjak rem dengan kuat hingga terdengar suara decitan ban yang terbakar. Menatap Naura dengan mata membulat, tapi beberapa detik kemudian ia terkekeh geli mendengar ucapan Naura.
"Sorry, sorry ... Kalo lo hamil, jangan bilang ke gue. Bilang ke cowok yang hamilin lo. Kocak banget lo," ucap Damar tertawa.
Naura mengepalkan tangannya dengan erat melihat reaksi Damar. Dengan cepat Naura mengeluarkan testpack yang ia gunakan tadi dan menunjukkannya ke wajah Damar. Hal itu membuat Damar menautkan alis bingung. Kenapa Naura menunjukkan hasil testpack padanya.
"Gue hamil anak lo, bajingan ...!" Teriak Naura frustrasi.
Naura melempar benda pipih itu ke wajah Damar dan menangis sesenggukan. Bergumam kecil yang tak begitu Damar pahami karena suara tangis Naura yang lebih mendominasi.
"Gue masih mau kuliah," ucap Naura lirih.
"Lo bohong, kan? Gue cuma ngelakuin itu sekali ke lo dan langsung hamil? Lo mau jebak gue?" Tanya Damar skeptis.
"Apa jangan-jangan itu anak orang lain?" Tanya lanjut Damar.
"Gue nggak pernah ngelakuin hal itu kecuali sama lo, Dam. Lo harus tahu kalo lo adalah orang yang merebut kegadisan gue!" Teriak Naura dengan nada tinggi.
Damar membulatkan matanya mendengar teriakan Naura yang terlalu vulgar. Dia tak ingin mengakui kehamilan Naura, karena secara logika mana mungkin Naura hamil setelah satu kali berhubungan badan dengannya. Pasti Naura telah melakukannya dengan pria lain dan menyalahkan Damar atas perbuatan pria itu.
"Bisa aja lo tidur sama cowok lain selain gue setelah itu. Bajingan itu yang dapat manisnya, gue dapat getahnya," ucap Damar kesal.
Naura menatap tak percaya Damar. Bisa-bisanya Damar berpikiran picik seperti itu dan menganggap Naura sebagai gadis murahan. Naura memang nakal dan suka berpesta, tapi ia bisa menjamin dirinya tak terjerumus pada hal-hal negatif apalagi **** bebas.
"Gue nggak bohong sama lo, Dam," ucap Naura lirih.
Naura sungguh ketakutan menghadapi masalah ini. Ia takut orang tuanya mengetahui tentang kehamilannya. Papanya pasti akan marah besar dan Mamanya yang kecewa. Naura tak ingin membuat orang tuanya bersedih lagi, cukup sekali mereka bersedih dan kecewa.
Damar menjambak rambutnya frustrasi. Kepalanya tiba-tiba saja terasa seperti dihantam batu yang sangat besar hingga berdenyut sakit. Semakin berpikir, kepalanya semakin berdenyut sakit.
"Argh ...!"
Damar memukul kemudi mobil hingga kuat dan membuat bunyi klakson mobil terdengar cukup lantang. Untung mereka berhenti di jalanan yang cukup sepi. Jika tidak, mereka akan di protes oleh pengguna jalan atau warga yang tinggal disekitar. Untung saja tak ada pemukiman di sana.
"Jadi mau lo apa, Nau? Lo mau gue nikahin lo? Cih, gue nggak sudi," ucap Damar dengan tatapan seolah jijik.
Naura hanya diam dengan tangan terkepal. Dia merasa tersinggung dengan ucapan Damar. Sejak tadi Damar menyangkal janin di dalam rahim Naura. Menghina Naura sebagai gadis murahan secara tersirat. Membuat hati kecil Naura terluka.
__ADS_1
"Gue kasih tahu lo karena gue nggak tahu mau ngapain. Gue ada di ujung tanduk, Dam," ucap Naura lirih.
Damar terdiam melihat tatapan mata Naura. Buliran air mata mengaliri pipinya yang lumayan gembil. Wajahnya pucat dan bibirnya yang kering sedikit terkelupas. Hal itu membuat Damar merasa prihatin pada kondisi Naura.
"Gue akan pikirkan dulu jalan keluarnya. Lo diam aja, jangan membantah gue."
Damar memutuskan untuk memikirkan kembali jalan keluar yang akan mereka ambil. Naura hanya mengangguk patuh. Dia terlalu gugup dan takut untuk memikirkan jalan keluar masalah ini.
"Oke, gue antar lo pulang," ucap Damar singkat.
***
"Uweekkk ... Uweekkk ... Uweeeekkk ..."
Mama Naura yang tak sengaja lewat di depan kamar Naura merasa heran mendengar suara Naura muntah. Padahal Naura semalam sehat saja dan jika tak salah ingat, kemarin pagi juga Naura muntah-muntah.
"Apa Naura—"
"Ah, nggak mungkin. Dia nggak mungkin hamil," gumamnya penuh keyakinan.
Mama Naura berusaha mengenyahkan pikiran negatif itu, namun tak bisa. Jadi dia masuk ke kamar Naura dan membantu anak semata wayangnya itu untuk memuntahkan apa pun yang keluar.
Saat masuk ke kamar mandi, Mama Naura kaget melihat wajah Naura yang pucat dan juga keringat dingin membasahi tubuhnya. Dengan cepat Mama Naura memapah Naura ke kasur.
"Kamu kenapa, Nau?" Tanya Mamanya sedih.
Naura hanya diam dan memejamkan matanya. Kepalanya terasa berat dan tubuhnya lemas karena tak memiliki tenaga lagi. Mama Naura menatap curiga Naura, tapi ia tak ingin mencerca Naura dengan berbagai pertanyaan.
"Mama panggilkan dokter Hadi, ya?" Tanya Mamanya lembut.
Naura menggeleng lemah tanda tak setuju. Jika Mamanya memanggil dokter Hadi, maka akan ketahuan jika dirinya tengah hamil. Naura tak ingin itu terjadi dan Naura akan mencegahnya sebisa mungkin.
Tanpa peduli pada Naura, Mamanya menelepon dokter Hadi yang merupakan dokter keluarga mereka. Mamanya merasa curiga dan ia akan membuktikannya dari pemeriksaan dokter Hadi nanti.
Setelah menunggu selama satu jam, dokter Hadi datang dan memeriksa Naura. Walau Naura sempat menolak, tapi dengan sedikit paksaan dari Papanya, Naura akhirnya mau di periksa.
Dokter Hadi keluar setelah 10 menit memeriksa Naura. Wajahnya terlihat gugup dan menundukkan pandangannya dari Papa dan Mama Naura.
"Bagaimana, Dok? Apa sakit Naura serius?" Tanya Papa Naura khawatir.
Dokter Hadi menghela nafas panjang. "Bukan begitu, Pak Doni. Mbak Naura saat ini sedang hamil. Usia kandungannya sudah berjalan 7 Minggu."
Mama dan Papa Naura terkejut mendengar ucapan dokter Hadi.
Papa Naura langsung mendobrak pintu kamar Naura dan menyibak selimut tersebut. Menarik tubuh lemah Naura dan membantingnya hingga tersungkur ke lantai. Mama Naura dengan cepat melindungi Naura dari amarah suaminya.
"Siapa bajingan itu!? Jawab! Siapa lelaki bajingan yang menghamilimu itu!?"
Dokter Hadi yang merasa tidak enak melihat hal yang tak seharusnya dia lihat memilih untuk meninggalkan rumah keluarga Naura.
__ADS_1
Naura hanya bisa menangis dalam pelukan hangat Mamanya. Naura hanya pasrah jika Papanya akan membunuhnya saat ini. Lebih baik ia mati daripada harus menikah dengan Damar dan melahirkan darah daging bajingan itu.
Bersambung