
Sesampainya di Mall mereka tak membuang waktu, mereka bertiga langsung mencari apa yang mereka butuhkan. Lily dan juga Nita dengan semangat memilih baju dan semua perlengkapan yang akan dipakai Rara.
Setelah mendapatkan semua perlengkapan yang mereka butuhkan. Mereka pun langsung menuju ke sebuah salon dan mendandani Rara persis seperti seorang pria. Rambut Rara yang memang pendek ala-ala Korea membuatnya semakin lebih mirip seorang pria, hanya sedikit menambahkan bulu-bulu halus di sekitar wajahnya dan memakaikan perlengkapan yang tadi sudah mereka beli.
"Wah, aku benar-benar tak mengenalimu, Ra! Walau aku tahu kamu Rara, tapi sepertinya aku jatuh cinta padamu," ucap Nita mengagumi Rara yang terlihat begitu tampan dengan penampilannya saat ini. Lily mengangguk, membetulkan apa yang diucapkan oleh Rara.
Rara mengambil kacamata yang ada di lehernya dan memakainya, membuatnya semakin terlihat tampan, "Panggil aku Reno," ucapnya membuat suaranya terdengar seperti laki-laki.
"Ayo, tunggu apa lagi, kita mampir dulu ke kantor suamimu," ucap Nita kemudian menggandeng kedua temannya itu menuju ke parkiran dan Rara kembali melajukan mobilnya, ia bak supir kedua nona muda yang duduk santai di kursi belakang.
"Kita mau ke mana? Di mana kantor suamimu?" tanya Rara melirik ke arah Lily dan kembali fokus mengendarai mobilnya, sementara kedua temannya itu memilih duduk di belakang dan saling bercengkrama.
Mendengar pertanyaan itu Lily diam, ia tak pernah menanyakan alamat kantor suaminya.
__ADS_1
"Sebentar, aku telepon suami mesemku dulu, aku lupa menanyakan dimana kantornya," ucap Lily mengambil ponselnya dan menelepon nomor Devano. Namun, beberapa kali ia mencoba menelpon, suami mesumnya itu tak menjawab panggilannya, walaupun sambungannya terhubung.
"Coba kamu telepon Ayahmu saja. Bukankah kamu bilang mereka salah satu rekan bisnis, mungkin saja ayahmu tahu di mana perusahaannya," ucap Rara membuat Lily mengangguk, benar juga apa yang dikatakan oleh sahabatnya itu. Papanya pernah mengatakan jika ia mengenal Devano Karena Devano adalah salah satu rekan bisnisnya.
Lily menekan nomor ayahnya dan nada sambung pun terdengar, sambungan terhubung dan tak lama kemudian terdengar suara ayahnya.
"Halo, Lily. Ada apa, Nak?" tanya Diego.
"Ayah, aku boleh nanya nggak, aku selama ini nggak pernah menanyakan dimana alamat kantor suamiku. Ayah tahu nggak dimana? Ini aku bawakan makan siang untuknya, tadi kan dia tak sarapan aku takut dia lupa makan karena saking sibuknya," ucap Lily sedikit berbohong, ia tak ingin ayahnya merasa curiga karena Ia bahkan tak tahu dimana suaminya itu bekerja.
"Oh ya. Udah ya, Yah! Aku tutup dulu ini juga kami kebetulan ada di jalan ke arah yang ayah maksud," ucap Lily yang melihat jalan yang disebutkan ayahnya tadi tepat berada di jalur di bandara sedang mengendarai mobil mereka.
"Kamu ini ada-ada saja, kamu kok nggak tahu kantor suami kamu sendiri," ucap Diego menggeleng.
__ADS_1
"Iya, Yah! Selama ini aku nggak mau tahu tentang pekerjaannya. Aku hanya ingin bersamanya dan tak pernah bertanya masalah kantor. Sudah dulu ya, Yah! Aku tutup dulu," ucap Lily menutup panggilannya. Ia pun bernafas legah, sebelumnya ia tak pernah berbohong kepada Papanya. Namun, kali ini dia terpaksa berbohong demi rencana mereka.
"Kita beli makan dulu ya, aku akan menjadikan makanan itu sebagai alasanku datang ke kantornya, aku juga tadi mengatakan itu sebagai alasan pada ayah, aku tak mau berbohong," ucap Lily membuat Rara hanya menaikkan jempolnya dan membelokkan mobilnya menuju ke salah satu Restoran.
Setelah pesanan pun jadi, mereka kembali melajukan mobilnya menuju ke perusahaan yang dimaksud Lily. Begitu mereka sampai di sana, ketiganya melihat perusahaan itu yang begitu megah dan memiliki beberapa lantai, mereka bahkan mendongak untuk melihat puncak gedung tersebut .
"Wah, sepertinya suamimu memang miliarder," ucap Nita menggeleng mengagumi sosok suami sahabatnya itu. Namun, ia kembali menarik kata-katanya saat mengingat cerita Lily tentang siapa Devano sebenarnya, walaupun kaya raya Ia juga tak mau menikah dengan orang seperti Devano.
"Ya sudah, masuk sana dan jangan gugup ya, ingat rencana kita harus berhasil," ucap Rara membuat Lily pun mengangguk pasti, kemudian Ia pun masuk dan langsung menuju ke Resepsionis dan menanyakan apakah benar jika suaminya bekerja di sana dan ternyata memang pemilik perusahaan itu adalah suaminya.
"Apa Pak Devano ada, saya ingin membawa makanan ini untuknya," ucap Lily memperlihatkan makanan yang dibawanya. Resepsionis itu melihat Lily dengan tatapan sinis dan menyepelekannya.
"Maaf, Mbak. Jika ingin bertemu pak Devano harus membuat janji terlebih dahulu, bahkan orang yang sudah membuat janji seminggu yang lalu masih harus menunggu untuk bertemu pak Devano," jelas resepsionis tersebut.
__ADS_1
"Katakan saja pada Devano jika istrinya datang membawa makan siang untuknya," ucap Lily dengan kesal melihat tatapan Resepsionis itu yang terlihat meremehkannya.
Mendengar kata istri membuat Resepsionis itu pun mengerutkan keningnya. 'Benarkah seorang Devano memiliki istri seperti wanita yang ada di hadapannya,' pikir Resepsionis tersebut. Namun, ia tak ingin melakukan kesalahan. Ia pun menelepon sekretaris Devano untuk memastikan.