Terpaksa Menikahi Selingkuhan Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Selingkuhan Ibu Tiri
Rasa Sayang Devano


__ADS_3

Devano membawa Lily ke Bandara, di sana sudah menunggu pesawat jet pribadi yang akan membawa mereka.


Lily tak ingin turun dari mobilnya dan mengeratkan pegangannya, "Kita mau ke mana?" tanya Lily tak ingin membuka sabuk pengamannya. Namun, Devano membukanya secara paksa. Ia bahkan menggendong Lily untuk naik ke pesawat, tak peduli Lily yang meronta-ronta dan memukulnya, Ia tetap membawa Lily naik di pesawat. Devano kembali menahan Lily di pangkuannya, tak membiarkan Lily memberontak, ia menahan tangan Lily agar tak terlalu banyak bergerak. Ia sudah tau jika ada janin yang harus dijaganya.


"Tenanglah aku mohon tenanglah! kau bisa membahayakan anak kita," ucapnya membuat Lily pun tenang. Sejenak karena rasa kesalnya pada Devano ia lupa jika ada janin yang ada di rahimnya. Ia pun memegang perutnya memastikan jika bayinya tak apa-apa.


"Kamu jahat, aku ingin pulang ke ayah, aku mohon aku tak mau bersamamu, aku membencimu. Ini anakku ini bukan anakmu," ucapnya yang kini sudah berlinang air mata. Lily menangis tersedu-sedu layaknya anak kecil yang mencari ayahnya. Devano mengusap air mata Lily dengan sangat lembut.


"Tenanglah. Aku minta maaf. Aku tahu aku salah, aku hanya ingin memperbaiki semuanya, ini demi anak kita, Sayang."


"Enggak, ini bukan anakmu. Bayi ini hanya anakku, aku membencimu. Aku ingin pulang ke Ayahku," ucapnya yang kini semakin menangis hingga sesenggukan, para kru pesawat hanya diam melihat mereka.


Devano tak mengindahkan permohonan Lily, pesawat kini sudah membawa mereka meninggalkan kota dan negara itu.

__ADS_1


Devano membawa Lily ke pelukannya, memeluknya dengan erat. Walau Lily memberontak, Devano tak mau melepas pelukannya, ia membiarkan kemejanya basah oleh air mata Lily. Membiarkannya menangis hingga tangisan itu perlahan pelan dan menghilang.


Devano melihat Lily, ternyata istrinya itu sudah tertidur, ia pun tersenyum dan mengecup keningnya Lily.


"Maaf karena telah membuatmu membenciku. Aku akan kembali membuatmu mencintaiku," ucapnya kembali mempererat pelukannya dengan menempelkan bibirnya di kening Lily.


Sepanjang perjalanan, Devano tak pernah melepaskan pelukannya. Begitu pun ciumannya, ia menutup matanya dan merasakan hangatnya tubuh Lily dalam pelukannya. Devano sudah sangat lama merindukan pelukan hangat itu, aroma tubuh Lily yang sudah menjadi candunya.


Setelah beberapa saat Devano membuka matanya, alangkah terkejutnya Ia saat Lily tak ada di pelukannya. Devano langsung berdiri dan mencari istri.


"Lily dimana kamu?" teriaknya, bahkan ia ingin membuka pintu pesawat. Namun, pramugari langsung menahannya.


"Ada apa, Pak?" tanyanya yang bisa melihat kepanikan di wajah Devano.

__ADS_1


"Dimana istriku? Jangan bilang dia berhasil kabur dariku?" ucap Devano dalam kepanikannya ia bahkan tak sadar jika mereka masih mengudara.


"Kita masih di udara, Pak. Kita masih satu jam sebelum sampai di negara tujuan kita, ibu Lily ada di kamar mandi, beliau baru saja masuk," ucapnya menunjuk ke arah kamar mandi yang ada di sisi lain pesawat itu.


Devano langsung merosot menjatuhkan tubuhnya di bangku pesawat, tulangnya terasa lemas. Ia tak ingin kehilangan Lily lagi setelah bersusah payah merebut dari ayahnya.


Devano pun menghampiri Lily dan ingin membuka pintunya. Namun, pintu kamar mandi itu terkunci, " Sayang, buka pintunya. Kamu sedang apa?" tanya Devano, ia berpikir jika terjadi sesuatu pada Lily di dalam sana..


"Kamu sedang apa? Ayo buka pintunya!" Devano terus mengetuk-ngetuk pintunya.


"Diamlah, aku tak apa-apa!" Seru Lily dari dalam membuat Devano pun berhenti mengetuk pintunya dan hanya menunggu di luar pintu. Tak lama kemudian ia melihat pintu terbuka dan melihat Lily yang menatapnya dengan tajam.


"Kamu bisa diam nggak sih? kamu tuh ganggu tahu," kesal Lily mendorong dada Devano agar menyingkir dari jalannya dan kembali ke tempat duduknya, ia bersandar membelakangi Devano dan kembali menutup matanya.

__ADS_1


__ADS_2