
Jam sudah menunjukkan pukul 10.00 malam dan mereka baru selesai mengalihkan semua harta kakek Devano atas nama Devano. Devano bernafas lega saat Semua kini sudah menjadi miliknya.
Sebenarnya walau dia tak bersikeras dan berusaha untuk mendapatkan harta itu, semua harta itu tetap akan menjadi miliknya, mengingat hanya dia keluarga satu-satunya. Namun, entah mengapa ia ingin memperjuangkan harta itu agar mengalihkannya atas namanya.
Devano dan yang lainnya pun berdiri dan saling berjabat tangan tanda pekerjaan mereka sudah selesai, " Terima kasih ya, Pak. Atas bantuan kalian semuanya," ucap Devano menyalami semua para pengacara, ada sekitar lima pengacara yang hadir di ruang kerja kakeknya. Ada dua pengacara dari Devano dan tiga dari kakeknya. Sementara kakeknya sendiri sudah tertidur di kamar yang ada di ruangannya. Usia tuanya sudah tak mengizinkan ia tidur di atas jam sembilan malam.
"Ya sudah, aku pamit dulu. Sepertinya kakek sudah tidur," ucap Devano mengurungkan niatnya untuk berpamitan pada kakeknya.
__ADS_1
Devano pun keluar dari ruangan kakeknya, berjalan keluar dari kantor itu. Begitu ia berjalan di lobby kantor, mobilnya sudah terparkir di depan perusahaan kakeknya tersebut. Sopir langsung membukakan pintu untuknya dan begitu Devano sudah duduk sopir kembali menutup dan dengan cepat berlari mengitari mobil dan duduk di kursi kemudi.
Sopir melajukan mobilnya membelah jalan raya yang sudah mulai sepi karena Jam sudah menunjukkan jam 11 malam.
Devano memijat lehernya, ia membaringkan kepalanya ke belakang, bersandar untuk mengistirahatkan sejenak tubuhnya. Ia menutup matanya. Namun, sesaat kemudian ia kembali membuka matanya saat Lily terlintas di benaknya. Ia langsung mengambil ponselnya berniat untuk menelpon orang yang dimintanya mengikuti Lily siang tadi. Namun, ia melihat ada pesan dari orang itu. Devano pun dengan cepat membukanya dan alangkah terkejutnya saat melihat apa yang sudah dikirim orang yang disuruhnya mengikuti Lily.
Terlihat jelas jika Lily sedang bersama seorang pria dan terlihat mereka bermesraan, belum lagi terlihat jika Lily masuk ke dalam kamar hotel. Orang suruhan Devano juga menyertakan alamat hotel serta nomor kamarnya.
__ADS_1
"Lily, berani sekali kau," kesalnya mengepal tangannya.
Sementara itu di kamar hotel lily dan Reno tertidur di atas kasur dengan saling memeluk, tadinya mereka hanya ingin memanas-manasi Devano dan mereka yakin jika Devano akan segera datang.
Nita akan memberikan informasi saat melihat mobil Devano datang dan mereka mulai beraksi. Mereka hanya tinggal di kamar itu sebentar sesuai dengan rencana mereka. Namun, sampai mereka ketiduran Devano belum juga datang untuk menggerebek mereka sementara Nita yang lelah menunggu memilih untuk pulang membawa mobil mereka.
Devano yang sampai di hotel itu langsung meminta resepsionis untuk membuka kamar dimana Lily sedang berada dengan seorang pria, berhubung karena pemilik hotel itu adalah dirinya, tentu saja dengan mudah ia bisa meminta resepsionis untuk membuka kamar yang diinginkannya.
__ADS_1
Begitu sampai di depan kamar hotel wajah Devano sudah memerah padam karena menahan amarahnya, pintu kamar hotel pun terbuka, resepsionis membuka pintu dan mempersilahkan Devano untuk masuk ia bisa melihat kemarahan di wajah Bosnya itu membuat dia memilih untuk tak ikut campur dan kembali ke tempat kerjanya.
"Lili," teriak Devano membuat Lily dan Rara yang langsung terperanjat kaget mendengar bentakan itu, mereka berdua membelalakan matanya melihat wajah Devano menatapnya dengan tatapan tajam, sementara posisi mereka saat ini sedang saling memeluk dan wajah Reno tepat di dada Lily, tempat yang merupakan area kesukaan dari Devano.