Terpaksa Menikahi Selingkuhan Ibu Tiri

Terpaksa Menikahi Selingkuhan Ibu Tiri
Kemarahan Diego


__ADS_3

Hari-hari Lily semakin bahagia tinggal dirumah mewah Devano, ia menikmati semua fasilitas di rumah itu. Bukan hanya Rara yang bisa keluar masuk di rumah mewah itu. Namun, Nita juga sudah bisa masuk dengan izin Devano.


Awalnya Devano menolak ada tambahan lagi, tapi Lily terus merengek ingin  memasukkan temannya. Devano sangat tak suka jika rumahnya ramai dengan orang-orang yang tak diinginkannya. Namun, karena Lily yang memintanya hampir setiap detiknya akhirnya ia pun mengizinkan Nita untuk ikut masuk ke dalam kediamannya. 


Walaupun Devano tak mengizinkan Reno untuk masuk. Namun, Reno memegang kartu As dari kakek.  Sudah tunjuk sebagai pengawal pribadi istrinya bos mereka, menantu di rumah itu. Tak ada keamanan yang berani menyentuhnya walaupun mendapatkan perintah Devano. Bachtiar masih tetap Raja di istana itu.


Walau sebenarnya di rumah itu sudah sangat aman dengan puluhan bodyguard yang sudah berjaga di sana dan sudah dipastikan tak akan ada orang yang bisa masuk tanpa seizinnya pemilik.


Saat Lily keluar untuk ke kampus Ia juga mendapat pengawasan ketat dari bodyguard dari kejauhan. 


"Lily, ternyata enak juga ya menjadi pengawal istri Devano," ucap Rara cekikikan. Selain menjadi pengawal pribadi dari Kakek untuk Lily, Rara juga ditugaskan oleh kakek membuat Devano menyadari cintanya. Tanpa Lily ketahui Rara melakukan perintah kakek dan Rara bisa melihat jika Devano terlihat cemburu dengan sikap perhatian ala Reno lakukan. 


Rara seorang jomblo akut, ia banyak memimpin adegan romantis dari pacarnya kelak, membuat ia melakukannya pada Lily. Mulai dari membuka penutup botol, melindungi Lily dari sudut meja yang mungkin melukainya, membersihkan sisa-sisa makanan yang ada di bibir Lily dan masih banyak lagi hal romantis yang Reno lakukan. Reno sengaja melakukan semua itu saat tau Devano memperhatikan mereka dari kejauhan. Ia juga bekerja sama dengan kepala pelayan di rumah mewah itu. Tugasnya hanya mengabarkan dimana posisi Devano, agar Reno bisa menjalankan rencananya. 


Sementara itu di kediaman keluarga Lily,

__ADS_1


Delisa semakin merasa kesal saat Devano terus mengabaikannya hingga ia memutuskan untuk menemui Devano di kantornya.


"Delisa. Apa yang kau lakukan di sini? Aku kan sudah bilang jika hubungan kita sudah berakhir dan aku tak mau berurusan lagi denganmu," tegas Devano.


"Aku tak mau mengakhiri hubungan kita. Aku mencintaimu." tegas Delisa.


"Itu bukan cinta, itu hanya nafsu belaka. Berhentilah mengatasnamakan nafsumu itu sebagai cinta. Cobalah untuk menerima suamimu, aku juga sudah merasa nyaman dengan Lily, istriku. Ibu mertua," ucap Devano menyunggingkan senyumnya menatap Delisa. Walau sampai saat ini ia tak tau apakah ada cinta di hatinya untuk Lily maupun tidak, yang jelas ia merasa nyaman saat melakukan hubungan dengan Lily, tubuh Lily sudah menjadi candunya. Ia bahkan sudah tak minat lagi pada Delisa.


Delisa terus memaksa agar mereka terus berhubungan. Namun, tetap saja Devano menolak. 


"Cukup, Delisa! Aku sudah bilang hubungan kita berakhir dan aku tak ingin lagi meneruskan hubungan kita. Aku sudah janji pada Lily dan aku akan menepati janjiku."


"Jangan bilang kamu sudah jatuh cinta padanya!"


"Entahlah, tapi saat ini aku hanya ingin bersama Lily. Kamu tau sendiri kan jika aku tak suka berhubungan dengan dua orang wanita dan aku memutuskan hanya akan berhubungan dengan Lily jadi jangan pernah berharap lagi padaku."

__ADS_1


"Baiklah, kita akhiri hubungan kita, jika itu keinginanmu," kesal Delisa, ia tau seperti apa sifat Devano. sekalian ia mengatakan janji ia akan menepatinya. Delisa berbalik ingin meninggalkan ruangan itu. Namun, ia mematung saat melihat suaminya berdiri di depan pintu depan tatapan tajamnya.


"Sa-Sayang! Sejak kapan kamu di sana?" tanya  Delisa sangat terkejut begitu juga dengan Devano. Mereka tak menyangka jika Diego ada di sana. Devano lupa jika hari ini mereka memang ada pertemuan di ruangannya dan sepertinya sekretarisnya yang membawanya masuk ke dalam ruangannya.


Diego menatap keduanya dengan tatapan membunuhnya. Tak ada sepatah katapun yang keluar dari mulutnya, tapi tatapan itu sudah mencabik-cabik keduanya. Ia pun berbalik dan ingin keluar dari sana.


Delisa langsung mengejarnya, " Sayang dengarkan dulu, kamu salah paham," ucap Delisa menahan pintu saat Diego ingin keluar dari ruangan itu. Delisa tak akan membiarkan Diego pergi dengan keadaan marah seperti saat ini.


"Plak." Satu tamparan keras mendarat di pipi Delisa.


"Jangan pernah memanggilku lagi dengan mulut kotor kamu itu, jangan pernah menganggap aku suamimu. Delisa, detik ini juga aku talak kamu," ucap Diego dikuasai amarahnya.


"Talak? Jangan ucapkan itu, tarik ucapan itu kembali! Aku tak terima," Delisa yang sejak tadi terduduk dilantai karena tamparan keras Diego, memeluk kaki suaminya itu, ia tak mengizinkan Diego pergi meninggalkannya.


"Lepaskan! Wanita murah! Aku sudah menempatkan kamu sebagai wanita terhormat tanpa melihat masa lalumu, tapi sepertinya sampah memang seharusnya berada di tempat sampah. Walaupun di tempatkan di kotak emas sekalipun dia tetaplah sampah yang akan mengeluarkan bau busuknya cepat atau lambat." Rahang Diego mengerat menatap Delisa dan Devano secara bergantian dan keluar dari sana.

__ADS_1


__ADS_2