
Lily menjadi istri yang menuruti apa yang Devano katakan, kandungannya yang semakin membesar membuat Ia tak bisa terlalu banyak memberontak, jika Devano mengatakan Iya maka Lily akan melakukannya dan jika Devano mengatakan tidak, maka Lily pun tak akan melakukannya.
Tak di izinkan keluar membuat Lily sedikit merasa bosan, tinggal di rumah besar dan sama sekali tak memiliki teman. Art juga terlihat menjaga jarak darinya. Devano juga tak memberikannya akses internet ataupun ponsel.
Walaupun Devano selalu di sampingnya. Namun, tetap saja ia ingin seseorang untuk diajak berbicara. Devano ada di rumah itu, tapi dia menemaninya di saat-saat tertentu saja.
Suaminya bukanlah pengangguran, jadi dia juga harus mengerjakan beberapa pekerjaan kantor, walaupun mengerjakannya di rumah dan Lily mengerti akan hal itu.
Sementara itu walaupun Lily sudah menjelaskan kepada ayahnya, tetap saja Diego terus mencarinya. Namun, setelah mengerahkan beberapa orang kepercayaannya tetap saja Diego tak menemukan dimana putrinya.
Setiap Minggu Lily akan menelponnya. Namun, dengan kecerdasan Devano, Diego tak bisa melacak melalui sambungan telepon tersebut. Diego sudah tahu Devano membawa putrinya di negara mana, tapi ia masih belum tau dimana posisi pasti mereka.
Seminggu sekali, Devano akan diizinkan Lily untuk menelepon ayahnya. Namun, itu belum cukup untuk membuat Diego merasa tenang.
Hari-hari Lily hanya berada di kamar diruang tengah, di ruang tamu, dan balkon kamarnya. Setiap Minggu Devano mengajak istrinya itu untuk berjalan-jalan di sekitaran kawasan tempat mereka tinggal, tapi tetap saja semua itu tak membuat Lily senang. Devano tak mengizinkan ia untuk keluar dari mobil, mereka hanya berjalan-jalan dan mengitari tempat itu dengan mobil.
Devano tahu jika beberapa orang Diego berkeliaran di kota itu dan ia tak ingin sampai dia kembali berpisah dengan Lily.
Satu bulan, dua bulan, tiga bulan, sampai usia kandungan Lily sekarang sudah menginjak 9 bulan semua itu terus terulang.
"Sampai kapan aku menunggu untuk bertemu dengan ayah?" tanya Lily.
__ADS_1
"Sabar ya, aku akan membawa kamu kembali setelah bayi kita lahir." Mendengar itu lily yang malas berdebat hanya menghela nafas.
Tapi, ada satu yang membuat Lily nyaman berada di negara itu di tengah kebosanannya, ia bisa merasakan cinta dan perhatian Devano.
Semakin hari ia bisa merasakan Devano semakin mencintainya, begitupun yang ia rasakan cinta semakin tumbuh di hatinya.
Lily bisa merasakan cinta itu dari sikap Devano padanya di setiap harinya, membuatnya bisa melewati 9 bulan bersama Devano di negara yang ia sendiri pak tahu di mana mereka sekarang berada.
"Sayang, bangun," ucap Lily menggoyang-goyang lengan Devano yang sedang tertidur lelap.
"Ada apa?" tanya Devano dengan suara seraknya.
"Perutku sakit, apa aku sudah mau melahirkan ya?" tanya Lily membuat Devano langsung terkejut.
"Tunggu! Jangan bilang kita akan pergi ke rumah sakit dengan seperti ini, kamu tak memakai baju dan aku hanya memakai piyama. Tidak, aku tak mau. Berikan aku baju dulu," ucap Lily mendorong dada Devano yang sudah siap menggendongnya.
Mendengar itu Devano baru tersadar jika ia tak menggunakan baju. Ia pun memakai baju terlebih dahulu kemudian mengambil kan baju untuk Lily. Devano membantu istrinya itu memakai bajunya.
"Awww, Sakit," keluh Lily.
"Kita kerumah sakit sekarang," ucap Devano langsung mengangkat Lily dan meminta sopir untuk menyiapkan mobil.
__ADS_1
Supir yang sedang memanaskan mesin mobil di pagi hari, langsung membukakan pintu untuk majikan, kemudian mereka langsung menuju ke rumah sakit.
"Pak, kita ke rumah sakit mana?" tanyanya.
"Kerumah sakit mana saja yang terdekat dan yang terbaik," ucap Devano yang panik membuat supir pun mengerti dan langsung melajukan mobilnya menuju ke rumah sakit terdekat sesuai dengan keinginan tuannya.
Devano sama sekali tak mempersiapkan rumah sakit dan pengamanan saat Lily melahirkan, dia lupakan akan hal itu. Sementara itu, Diego sudah menyebar orang-orangnya di semua rumah sakit di negara itu, ia yakin jika Lily akan melahirkan di bulan ini dan Devano pasti membawa lily ke salah satu rumah sakit besar di negara itu.
Hay. Aku punya rekomendasi nih buat kalian. yuk mampir
Nama pena : Senja_90
Judul: Anak Genius: Antara Benci dan Rindu
Blurb:
"Aku pergi, Xander. Kuharap kamu akan baik-baik saja." ~ Tania Maharani
"Pergilah! Jangan pernah menampakkan dirimu lagi di hadapanku! Aku sangat membencimu! ~ Alexander Vincent Pramono
Rumah tangga harmonis yang diharapkan langgeng hingga maut memisahkan rupanya hanya angan belaka. Tania harus pergi meninggalkan suami tercinta dalam keadaan hamil.
__ADS_1
Lantas, bagaimana kehidupan Tania setelah resmi berpisah dari Xander? Akankah Arsenio menerima Xander sebagai ayahnya setelah mengetahui pria itu akan menikah lagi?