
"Aaaarg," Delisa melemparkan ponsel hingga membentur dinding kamarnya. Ponsel itu hancur berantakan, dimana sejak tadi ia mencoba menghubungi nomor Devano. Namun, nomor kekasihnya itu tak aktif dan saat mencoba menelepon menggunakan ponsel milik asisten rumah tangganya ke nomor Devano, panggilannya tersambung membuatnya sangat kesal.
"Kurang ajar. Jadi kamu ingin menutup akses kita, kamu pikir kamu bisa meninggalkanku begitu saja setelah semua yang terjadi diantara kita," kesal Delisa, ia kembali mengingat kejadian pagi tadi.
Saat pagi hari ia turun dari kamarnya dan melihat Lily sibuk di dapur bersama Bibi, membuat ia kembali naik ke lantai atas dan masuk ke kamar Lily, ia ingin berbicara pada Devano. Namun, Delisa tak melihat Devano ada di sana.
Saat akan keluar Delisa mendengar suara percikan air, ia yakin jika Devano sedang mandi dan saat membuka pintu ternyata pintu kamar mandinya tak dikunci.
Gairahnya langsung membara saat melihat Devano mandi di bawah kucuran shower, ia langsung ikut mandi bersama.
Awalnya Devano hanya membiarkan saat Delisa terus berada di belakangnya, ia ikut menikmati apa yang Delisa lakukan. Delisa memeluknya, Ia berpikir jika yang sedang melakukan itu adalah Lily, ia bahkan sampai menegang karena apa yang dilakukan wanita yang ada di belakangnya itu, wanita yang dianggap jika wanita itu adalah istrinya. Namun, saat ia berbalik Devano sangat terkejut saat bukannya Lily yang sedari tadi membangkitkan gairahnya tapi justru Delisa.
Devano yang marah langsung mencekik lehernya, menetapnya dengan kemarahan. Devano mencengkram lehernya dengan kuat sampai ia tak bisa bernafas, karena cekikan Devano pagi tadi sampai saat ini ia masih terasa sakit di tenggorokannya. Devano juga mengancam jika ia sekali lagi mengganggunya, ia tak akan memaafkannya dan sangat mudah untuk menyingkirkan. Hanya dengan satu telepon ia bisa menyuruh orang untuk menyingkirkannya dari dunia ini.
"Semua ini karena kamu, Lily. Aku yang dulu dipuja-pujanya kini tak ada harganya lagi di matanya," kesalnya. Delisa melihat ke arah bibi yang masih berdiri di dekatnya.
"Ada apa? Mengapa Bibi tak keluar? Aku sedang kesal Bi, jangan membuatku semakin kesal," ucap Delisa menatap tajam pada pembantunya itu.
"Bagaimana dengan ponsel saya, Bu?" tunjuk Bibi pada ponselnya yang sudah hancur berantakan.
Mendengar itu Delisa baru menyadari jika ponsel yang di lemparnya tadi adalah milik pembantunya.
"Saya tidak punya ponsel lagi, Bu. Hanya itu ponsel satu-satunya milik saya," ucap Bibi lagi dimana ponsel itu yang digunakan untuk menghubungi keluarganya di kampung, Bibi menyisihkan gajinya untuk membeli ponsel itu dan sebagian lagi dikirimkan ke kampung untuk anak-anaknya. Namun, Sekarang ponsel itu sudah hancur tak berbentuk lagi. Mungkin bagi Delisa itu tak ada harganya. Namun, bagi bibi ponsel itu sangat berharga.
Delisa yang masih merasa kesal langsung berdiri dari duduknya, ia mengambil uang dari brankas suaminya. Delisa asal mengambil tak tahu berapa banyak uang yang diambil dan memberikan kepada bibi, "Itu cukup kan, Bi?" tanyanya membuat bibi langsung mengangguk cepat,
"Makasih, Bu. Ini sudah sangat cukup, Bu. Terimakasih Bu," Bibi tergopoh-gopoh keluar dengan uang di tangannya.
"Jangan menggangguku," ucap Delisa saat melihat Bibi akan menutup pintunya..
__ADS_1
"Iya, Bu." Bibi menutup pintunya dan melihat uang yang ada di pelukannya. Saat ini Bibi memegang uang yang bisa membeli 10 ponsel bahkan lebih banyak dari ponselnya yang rusak. Bibi bergegas menuju ke kamarnya menyimpan uang itu, ia tak ingin nyonya nya itu sampai berubah pikiran dan mengambil kembali uangnya.
"Ya, ampun. Bu Delisa itu kenapa sih, beberapa hari ini seperti orang lain, Ibu Kenapa berubah ya," batin Bibi yang juga menyadari perubahan Delisa.
Semenjak Lily mengetahui perselingkuhannya dengan Devano. Delisa tak lagi menyembunyikan karakter sesungguhnya dari mereka semua kecuali pada Diego, suaminya. Ia masih seorang wanita yang lugu dengan penuh kasih sayang dan lemah lembut di hadapan suaminya.
****
Sementara itu di kantor, Lily menegang saat melihat isi chat dari Rara. Kenapa juga Rara mengirim pesan sampai sebegitunya, tanpa memberikan aba-aba sebelumnya. Jika ia tahu akan kejadian itu ia bisa mempersiapkan jawaban atas pertanyaan Devano.
"Katakan siapa Reno, tak tahan untuk apa? Kalian ingin apa?" tanya Devano menatap tajam mata Lily.
Lily langsung merampas ponselnya, kami nggak ingin apa-apa, dia tak tahan ingin mengerjakan tugas kuliah." Lily langsung berjalan menuju ke meja sofa yang ada di ruangan itu, mengambil kembali makanan yang tadi di bawahnya.
"Kamu mau makan atau enggak?" tanyanya meletakkan makanan yang di bawahnya di meja sofa.
"Baiklah, siapkan!" Devano menyusul Lily duduk di sofa. Lily dengan telaten menyiapkan makanan yang di bawahnya dan memberikan kepada suaminya. Devano yang memang lapar makan dengan lahap makan yang dibawa Lily, rasanya sungguh sangat enak di lidahnya.
Lily tak tahu harus membeli apa, ia sama sekali tak tahu apa makanan kesukaan dari suaminya, membuat ia memilih untuk membeli makanan kesukaannya saja.
Saat Devano makan, Lily sesekali membalas chatnya, bahkan ia senyum-senyum sendiri setelahnya, membuat Devano merasa kesal, ia ingin merampas ponsel Lily. Namun, Lily dengan sigap berdiri dan menyembunyikan ponselnya di balik punggungnya.
"Maaf ya, dosennya sebentar lagi akan masuk. Aku ada jam kuliah dan tak ingin terlambat. Aku pergi dulu," ucap Lily kemudian berlari meninggalkan ruangan itu, mengabaikan panggilan Devano yang memintanya untuk tetap di ruangannya.
Devano yang tadinya makan dengan lahap menghentikan makannya, ia tak berselera makan lagi, ia yang merasa curiga menelpon seseorang untuk mengikuti mobil istrinya itu.
Devano ingin menyusulnya. Namun, banyak pekerjaan yang harus diselesaikannya, terlebih lagi adalah pertemuan dengan kakeknya untuk membahas pengalihan harta atas nama dirinya karena ia telah berhasil membawa menantu impian kakeknya dan ia tak akan melewatkan hal itu.
"Bagaimana?" tanya Rara saat Lily masuk ke mobilnya.
__ADS_1
"Beres. Ayo kita ke hotel," ucapnya membuat Rara pun mengangguk dan melajukan mobilnya menuju ke hotel. Biasanya mereka memakai mobil Lily, khusus hari ini mereka memakai mobil Rara.
Rara melihat ke belakang sambil tetap fokus menyetir.
"Sepertinya suamimu tak mengejarmu," ucapnya yang tak melihat mobil Devano mengikuti mereka.
Lily bernafas jengah. "Sepertinya dia tak terpengaruh, aku pergi dengan pria lain atau enggak," ucap Lily mengerucutkan bibirnya.
"Coba kamu ambil jalan lain," sahut Nita yang sejak tadi melihat ke arah belakang.
Rara hanya mendengarkan apa yang Nita katakan, ia mengambil jalan lain dan benar saja mobil yang sejak tadi dipantau Nita dan dicurigai mengikuti mereka. Ternyata benar Ia pun tersenyum,
"Rencana kita berhasil, ayo langsung ke hotel. Sepertinya suamimu mengirim seseorang untuk membuntuti kita."
Mereka bertiga tersenyum puas dan kembali melajukan mobilnya menuju ke hotel.
Sesampainya di hotel Lily dan Reno alias Rara masuk ke hotel, sementara Nita masih tetap di mobil, mengawasi situasi yang ada di parkiran hotel.
Mereka memesan sebuah kamar dan langsung menuju ke kamar seperti pasangan pada umumnya.
Rara memerankan aktingnya sebagai seorang pria. Namun, identitas yang diperlihatkan saat memesan kamar tetaplah identitas aslinya sehingga tak menyusahkan mereka.
Mereka berjalan dengan mesra, Reno merangkul Lily dan sesekali terlihat mengecup keningnya.
Semua itu tak lolos dari jepretan kamera orang yang mengikutinya mereka, sadar akan hal itu keduanya membantu orang itu mengambil foto yang bagus, sengaja semakin lengket.
Mereka masuk ke dalam kamar dan orang itu kembali memotret nomor kamar yang mereka masuki.
Pesan terkirim, orang itu mengirim hasil fotonya pada Devano.
__ADS_1
Namun, Devano tak langsung melihat pesan tersebut karena saat ini ia sedang bersama kakeknya, ia sibuk mengurus pengalihan harta atas namanya. Seluruh harta kakeknya jatuh ke tangannya.