
"Apakah kamu mau menikah denganku?" tanya Diego pada Anisa yang sejak dari tertunduk di sampingnya.
Mendengar pertanyaan itu Anisa hanya mengangguk samar membuat senyuman Diego pun merekah, walau hanya sebuah anggukkan, tapi itu jawaban yang pasti jika wanita itu menerima lamarannya.
Lily dan Devano yang sedang mengintip dari balik pintu mereka juga merasa senang akan hal itu. Mereka berpelukan dan merasa bahagia.
"Ya ampun, ayahmu itu beruntung sekali," gumam Devano membuat Lily langsung meliriknya tajam.
"Apa maksudmu beruntung sekali?" tanyanya.
"Iya, ayahmu sudah tua, tapi mendapatkan istri yang cantik dan juga masih muda," ucap Devano lagi membuat Lily langsung menginjak kaki suaminya. Hampir saja Devano berteriak karena apa yang dilakukan Lily padanya. Namun, dia menahannya, ia bisa ketahuan oleh Diego jika mereka berdua sedang nguping dan mengintip dari balik pintu.
"Apa kamu merasa tak beruntung mendapatkanku? Aku ini masih cantik, masih muda dan memberimu seorang putri yang cantik," melirih tajam pada suaminya.
"Iya, kamu wanita tercantik dan aku pria paling beruntung mendapatkan kamu dalam hidupku."
"Cantikanmana aku dengan Anisa? Jangan bilang selama ini kamu sering lirik pada Anisa," kesal Lily.
Walau mereka berbisik, Lily bisa mendengar jelas kalimat Devano yang mengatakan jika Anisa adalah wanita yang cantik dan Lily hanya ingin dialah wanita tercantik yang ada di mata suaminya.
"Iya, Sayang. kamu adalah wanita tercantik di muka bumi ini," ucap Devano mencoba merayu istrinya itu.
Lily balik badan dan meninggalkan tempat itu, ia sudah mendengarkan apa yang ingin dia dengar, yaitu Anisa yang menerima lamaran Ayahnya.
Sebulan kemudian, kata sah bergemah di sebuah ruangan dan disaksikan beberapa keluarga dan kerabat dekat.
__ADS_1
Ya, Diego hanya menggelar pernikahan sederhana di kediamannya, kini kalimat sah membuat Anisa sudah menjadi istrinya walau sudah pernah menikah beberapa kali, tapi tetap saja situasi ini membuat Diego merasa gugup. Namun, rasa gugup itu perlahan menghilang saat Anisa sudah menjadi istrinya yang sah.
Anisa perlahan menunduk dan mencium punggung tangan suaminya dan mendapatkan ciuman di kening dari Diego yang kini sudah menjadi suaminya.
Anisa sudah kembali mewarnai hari Diego dengan cinta setelah Delisa memberi dan menorehkan luka di sana. Dengan perlahan Anisa menyembuhkan luka itu dan menggantinya dengan cinta yang baru.
Waktu berlalu dengan begitu cepat kebahagiaan Diego semakin lengkap saat mendapat kabar gembira dari sang istri. Ia memberikan benda yang memiliki dua garis di sana, garis yang menunjukkan jika saat ini ada benihnya yang tumbuh di rahim Anisa.
"Kamu hamil?" tanya Diego pada Anisa, membuat Anisa hanya mengangguk.
Diego sangat bahagia mendengar kenyataan itu, dia tak pernah menyangka akan kembali memiliki anak selain Lily.
Lily bahagia mendengar kabar itu. Lily pun mengusap perutnya, ia juga baru saja melakukan tes pack dan saat ini ia juga sedang mengandung. Sepertinya mereka akan melahirkan di bulan yang sama.
Di ruang persalinan
Kini Lily dan Anisa sedang berjuang mengejan, mengeluarkan bayi mereka. Setelah 30 menit akhirnya Anisa berhasil melahirkan bayinya. Anisa melahirkan bayi laki-laki yang sangat tampan. Suara tangisan yang menggema di ruangan itu. Lily mendengar suara tangisan bayi yang tak lain adalah adiknya.
"Ayo Sayang, kamu pasti bisa. Lihat adik kamu sudah lahir, kamu juga pasti bisa melahirkan anak kita," ucap Devano mengelus perut Lily. Lily pun mengejan sekuat tenaga dan akhirnya bayi yang ditunggu pun lahirlah. Lily juga melahirkan bayi laki-laki.
Bayinya dan adiknya hanya berbeda 15 menit dari kelahiran bayinya.
Dua suara bayi bergema di ruangan itu, dimana mereka hanya terpisah oleh kain penyekat ruangan.
Diego sangat bahagia mendengar suara anak dan juga cucunya.
__ADS_1
Satu tahun kemudian.
Saat ini Diego dan Anisa sedang berjalan-jalan, mereka membawa tiga orang anak. Anisa memegang tangan Bianca, kemudian Diego menggendong dua bayi tampan. Mereka berjalan menyusuri taman kota. Sementara itu, Devano sedang menemani Lily berbelanja. Di kedua tangan Devano saat ini sudah penuh dengan paper bag yang berisi tas mewah milik Lily, begitu juga dengan keperluan pribadi lainnya yang dibeli oleh istrinya itu.
Sudah dua tahun ini mereka tak shopping. Lily fokus pada bayi dan kandungannya beberapa tahun terakhir. Fokus membesarkan Putri dan putranya.
Hari ini adalah hari untuk Lily. Lily meminta Devano untuk tak bekerja dan fokus menemaninya berbelanja. Tak ada hal yang menyenangkan untuk menghilangkan rasa stress dari kepadatan hidup selain bersama dengan suaminya, membeli barang-barang kesukaannya dan mendatangi tempat-tempat yang diinginkannya.
Devano dengan setia mengikuti kemanapun istrinya pergi hari ini. Selain menjadi suami, ia juga menjadi seorang supir pribadi.
Malam ini, tepat satu tahun usia kedua anak-anak itu. Lily selain membeli barang-barang kesukaannya, ia juga membeli tiga buah kado untuk ketiganya, untuk Bianca dan kedua anak laki-laki yang kini sudah sudah berusia 1 tahun. Mereka menyanyikan lagu selamat ulang tahun, kemudian keduanya meniup lilinnya.
Kebahagiaan terjadi di keluarga mereka, baik Devano maupun Diego, mereka memiliki istri dan juga anak-anak yang lucu. Mereka tak menginginkan apa-apa lagi, semua sudah cukup, mereka sudah sangat bersyukur dengan apa yang mereka miliki.
TAMAT.
Makasih semua, telah mengikuti perjalanan Lily...
Kita ketemu lagi di karya selanjutnya bulan depan ya. ☺
Makasih semua. 😍
Sampai Jumpa.
__ADS_1