
Rara dan Nita menghampiri Delisa yang membuat keributan di Luar pintu gerbang.
"Hai, nenek lampir. Pergi dari sini, kamu itu mengganggu tau." Rara Dan juga Nita yang sudah keluar dari pintu gerbang dan menghampiri mobil Delisa sambil mengetuk-ngetuk pintu mobilnya, membuat Delisa menghentikan apa yang dilakukannya dan keluar dari mobilnya.
"Aku ingin masuk, suruh mereka membuka pintu gerbangnya," ucapnya pada keduanya. Ia bisa melihat jika Rara dan Nita bisa masuk dengan leluasa. Mungkin ia bisa meminta pada keduanya agar ia bisa masuk. Ia sangat mengenal kedua anak itu, keduanya adalah sahabat dari putrinya.
"Hai, Tante ga tau malu. Kamu itu nggak tahu diri banget sih, kamu itu sudah tak berharga lagi di rumah ini. Kamu nggak lihat penjagaan begitu ketat agar kamu tak masuk, Ha? Sebaiknya kamu sadari kesalahanmu, sana pergi dari rumah ini jangan sampai Paman Diego melakukan hal yang malah merugikan. Bukankah kamu punya Devano, pergi sana ke apartemen Devano, tinggal lah sepuasnya di sana," ucap Nita sengaja mengeraskan suaranya, membuat Delisa ingin menamparnya. Namun, Rara langsung menangkap tangan Delisa dan menepisnya dengar kasar.
"Jangan coba-coba menyakiti kami ya, kamu pikir kami ini takut padamu. Sana pergi! Kalau tidak aku akan meminta mereka semua untuk menyeretmu dari sini atau merusak mobilmu ini dan aku pastikan kamu akan jadi gelandangan di jalan. Jika Kamu pergi sekarang setidaknya kamu punya mobil kan untuk pergi ke selingkuhanmu itu, pergi sana!" ucap Rara lirik Devano yang masih berdiri di tak jauh dari mereka. Devano tak menyerah membujuk mereka semua untuk membiarkannya masuk, Devano bahkan menawarkan membayar para mereka hingga ratusan juta. Namun, tak ada dari mereka yang berani membuka pintu.
"Jangan sangkut pautkan lagi namaku dengannya, aku tak punya hubungan lagi dengan Delisa sejak menikah dengan Lily. Aku sudah memutuskan hubungan dari nya jadi berhenti menyebut namaku dan menyangkut pautkan dengan wanita itu karenanya aku harus mengalami semua ini.
"Apa kau menyalahkanku? Aku juga kehilangan suamiku hanya karenamu," ucap Delisa yang juga menyalahkan Devano.
__ADS_1
"Jika kamu menuruti perkataanku untuk tak datang lagi padaku, untuk mengakhiri hubungan kita dan berhenti mendatangiku semua ini tak akan terjadi. Aku sudah memintamu untuk menerima suamimu, tapi apa yang kamu lakukan? Kamu masih datang tanpa diundang. Mengapa sekarang kamu datang lagi mengemis padanya. Setelah dia menceraikanmu?" ucap Devano.
Bagi Devano semua ini salah Delisa, jika saja Delisa tak datang ke kantornya, Diego tak akan pernah mengetahui hubungan mereka yang sudah diakhirinya. Ia takkan terpisah dengan Lily, sudah beberapa hari ini hubungannya dengan Lily sudah kembali membaik. Lily bahkan sudah kembali mengubah sikap dinginnya menjadi seperti biasanya ramah dan menurut padanya.
"Sudah diamlah, kalian itu pasangan yang serasi, kalian sudah membuat masalah dan harus bertanggung jawab dong," sahut Rara.
"Iya, selama ini kalian memang bersalah kan karena selingkuh di belakang Paman Diego, Lily juga menikah denganmu," menunjuk Devano, "Agar kalian tak berhubungan lagi, tapi nyatanya." Nita menggelang melihat keduanya dengan pandangan tak suka.
"Sudahlah. Devano, jika kamu memang mencintai Lily dan benar-benar ingin bersamanya kamu harus memperjuangkannya, tinggalkan wanita ini dan perjuangkan cintamu," ucap Rara membuat Nita langsung menatap tajam pada temannya itu.
"Kamu lupa Lily kan sedang hamil, kamu ga kasih pada Bayinya. Walau bagaimanapun Devano tetap ayahnya," jawab Rara kembali berbisik.
"Sudahlah kami masuk dulu, untuk apa juga kami meladeni kalian, sebaiknya Kalian pergi dari sini Paman Diago sedang sakit jangan membuat kegaduhan," ucap Nita menarik Rara masuk ke dalam rumah begitu keduanya masuk pintu kembali tertutup rapat. Nita menghentikan langkahnya. Pak, jika wanita itu masih membuat kegaduhan usir saja dia. Pak Diego sedang sakit, beliau sedang beristirahat," ucapnya membuat satpam yang ada di luar mengganggu mengerti atas perintah Nita.
__ADS_1
"Mungkin memang sebaiknya aku mencari cara lain," gumam Devano masuk ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan pintu gerbang itu, sepertinya dengan hanya terus menunggu di sana dan memberi tawar-menawar kepada para penjaga itu tak akan berhasil, membuat Devano langsung ke rumah kakek nya.
Begitu juga dengan Delisa, Ia juga mengikuti Devano pergi dari rumah itu, ia mengejar mobil Devano dan menghentikannya.
"Delisa. Ada apa lagi?" tanya Devano turun dari mobilnya saat Delisa menghalangi jalannya dan menghampirinya.
"Mari kita bersama kembali seperti dulu, aku akan bercerai dengan Diego dan kamu bercerai dengan Lily. Kita menikah," ucapnya membuat Devano tertawa terbahak-bahak kemudian ia menggeleng.
"Carilah pria lain, aku tak akan menceraikan Lily sampai kapanpun," ucap Devano masuk kembali ke dalam mobilnya, memundurkan mobilnya karena jalannya terhalang oleh Delisa dan juga mobilnya.
Delisa hanya mengepal tangannya saat melihat mobil Devano meninggalkannya, ia menarik rambutnya frustasi, ia benar-benar kehilangan keduanya. Delisa kehilangan Devano dan juga Diego, ia saat ini sedang sendiri dan sudah tak memiliki apa-apa.
Dulunya ia selalu mendapat apapun yang diinginkannya dan selalu mendapat transparan dari Diego maupun Devano. Sekarang seperti ia harus kembali mencari uang sendiri untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
__ADS_1
"Sial, kenapa bisa seperti ini. Bukan ingin yang aku harapkan." Delisa memukul setir mobilnya melampiaskan kekesalannya.