
pagi itu matahari bersinar begitu terang, seorang gadis yang tak pernah lelah dalam menjalani kehidupannya yang keras sedang menghirup udara pagi di depan teras rumahnya
sebuah bangunan rumah yang kecil, atap yang terbuat dari genteng dan air yang harus ia timba dari sumur setiap harinya membuat ia terbiasa hidup sederhana
"hah. aku harus segera melunasi uang semester , tapi masih kurang banyak, harus kerja apa lagi, kemarin baru saja di pecat mana belum seminggu" keluh Rania sambil mengedarkan pandangannya menikmati udara segar
Tiba-tiba
tring.. tring
bunyi headphone itu memecah keheningan
"sandra? " beo Rania sambil menatap layar ponsel miliknya
"hallo Nia dimana ,aku kesana ya nanti kita pergi sama-sama ke kampus" Ujar orang dibalik telepon
"iya, Hati-hati" balas Rania
'panggilan berakhir'
Sandra sahabat yang sudah ia anggap sebagai saudaranya sendiri, meski tahu Rania bukanlah dari kalangan yang berada sama sepertinya namun gadis itu tetap mau berteman dan menerima ia apa adanya
tak berselang lama sebuah mobil mewah terparkir di depan rumahnya, turun lah seorang gadis dari dalam mobil tersebut
"uncle nanti tidak perlu menjemput ku, aku dan Nia sudah janjian mau ke perpustakaan kota untuk meminjam buku" ujar Sandra kepada seseorang di sampingnya
"kenapa tidak beli saja san, uncle masih mampu untuk membelikan mu sebuah buku" desah seorang pria matang yang di sapa uncle
"isss kata Rania, ia lebih senang meminjam buku di bandingkan harus membelinya" bantah Sandra kepada uncle nya
"apa ia tidak mampu untuk membeli buku, kalo begitu uncle akan... "
"uncle bukan seperti itu, hah sepertinya uncle harus segera menikah" bantah sandra
"hey apa hubungannya dengan menikah?"
"sudahlah aku harus segera turun menemui sahabat ku" ujar gadis itu sambil membuka pintu mobil
"bye uncle" lambaian tangan itu di tujukan untuk seorang laki-laki di dalam mobil tersebut
setelah memastikan bahwa ponakan tersayangnya baik-baik saja, mobil tersebut pun melaju meninggalkan jalanan tersebut
-
"hai Rania, kau sedang apa? " tanyanya kepada gadis di depannya
"menikmati udara pagi" balas Rania
"hey kau tidak pergi bekerja?"
"aku sudah di pecat"
"Apa, hey bagaimana bisa bahkan kau baru seminggu bekerja disana" heboh Sandra
"bisa saja kalau memang belum rezeki" jawab Rania
"lalu bagaimana dengan uang semester? " tanya Sandra hati-hati
__ADS_1
"akan aku usahakan, mungkin besok aku akan mulai melamar pekerjaan"
" aku akan membantu, mungkin saja di kantor uncle sedang membuka lowongan pekerjaan "jawab Sandra
" hey tunggu apa barusan kau di antar oleh uncle mu? " tanya Rania
"iya, kenapa? " tanya Sandra
"aku belum pernah melihat uncle mu" ujar Sandra
"aku takut jika kau melihat uncle David kau akan langsung jatuh cinta" ujar Sandra yang diakhiri dengan tawa
"hey mana mungkin aku menyukai uncle mu itu, dia bahkan mungkin seumuran dengan paman ku di kampung"
"apa , yang benar saja maksudmu paman jo yang sudah tua itu, hey Rania walaupun dia itu uncle ku tapi dia masih terlihat tampan, umurnya bahkan baru menginjak kepala 3" bantah Sandra yang tidak Terima
"yayaya aku harus memastikan nya lebih dulu" bela Rania
"mungkin jika kau bekerja di kantor uncle, kau akan bertemu dengannya setiap hari" ujar Sandra
"baiklah, aku mau bersiap-siap dulu untuk ke kampus"
"baik, aku akan menunggumu disini"
-
di lain sisi, seorang pria matang baru saja keluar dari mobilnya, berjalan masuk ke dalam kantor miliknya
di belakangnya terdapat seorang laki-laki yang bertugas sebagai asistennya
semua pandangan mata yang melihat nya langsung menunduk memberi hormat kepada orang tersebut, laki-laki yang mempunyai kekuasaan tertinggi , bahkan dengan sekali berdehem saja itu bisa merubah nasib seseorang
"hemm" balas laki-laki tersebut
ia melangkah memasuki lift khusus yang dibuat untuk dirinya dan sekertaris nya
selepas menghilangnya punggung kekar itu dibalik pintu lift, semua orang pun bisa bernafas lega, bahkan setiap pagi mereka akan disuguhkan dengan pemandangan seperti uji nyali
-
laki-laki itu duduk di kursi kebesarannya sambil memeriksa beberapa laporan di atas mejanya
"apa yang kau dapat jek? "
"maaf tuan muda, informasi yang saya dapat mengatakan bahwa nona jessica akan kembali dari paris" ujar asisten jek, orang kepercayaannya sekaligus tangan kanannya
"hah, persiapkan semuanya"
"baik tuan" sahut asisten jek dengan wajah datar tanpa senyuman di bibirnya
orang ini memang sebelas dua belas dengan Bos nya, bahkan kehidupan mereka terlihat sangat kaku tanpa sebuah senyuman
-
setelah selesai kuliah, waktu nya untuk makan siang, kedua gadis tersebut berniat untuk makan siang di dekat perpustakaan kota, agar bisa cepat meminjam buku
di sela-sela makan, ponsel milik sandra pun berdering
__ADS_1
"hallo uncle, ya aku sedang makan bersama Rania" berbicara sambil menatap sahabat nya
"baiklah, jika sudah selesai akan aku kabari" lanjut sandra
setelah selesai menerima telpon ia pun kembali melanjutkan makannya
"uncle mu? " tanya Rania
"iya, dia bilang mau menjemput ku selepas dari perpustakaan" jawab sandra
"uncle mu begitu menyayangimu"
"ya, mungkin karena aku ponakan tersayangnya" jawab sandra sambil tertawa
melihat hal itu membuat Rania, ikut tertawa
-
di sinilah mereka sekarang, perpustakaan kota, tempat yang penuh dengan rak-rak buku yang berjejeran dan tersusun rapi
setelah mengambil buku yang di cari mereka kemudian kembali ke meja petugas untuk membuat catatan peminjaman buku
"buku apa kali ini yang ingin kau baca Rania? " tanya petugas perpustakaan yang telah mengenal Rania, ya gadis itu selalu langganan meminjam buku di tempat ini
"buku tentang bisnis" jawab Rania
"wah semoga kau menjadi pengusaha yang sukses"
" aamiin, terimakasih doanya bi"
setelah mengisi catatan untuk meminjam buku, kini mereka sedang menunggu jemputan
tidak lebih tepatnya jemputan sandra
tak berselang lama sebuah mobil yang ia lihat pada pagi hari tadi, kini sudah terparkir di depan Pandangannya
"uncle sudah datang, ayo Rania aku akan mengantarmu pulang" ajak sandra
"apa tidak apa-apa? " tanya Rania hati-hati
"hey, apa yang kau pikirkan, aku yang akan bicara pada uncle, apa kau pikir aku akan membiarkanmu pulang sendirian? "
"baiklah" pasrah Rania
tak lama pintu belakang mobil terbuka dengan sendirinya menampakkan seorang pria tampan yang sedang terfokus dengan iPad di tangannya, di depannya terdapat sekertaris jek dan supir
"apa kalian akan tinggal disana, cepatlah masuk" Ujar David tanpa mengalihkan pandangannya dari iPadnya
tunggu bagaimana dengan perasaan Rania saat ini? ah gadis itu masih terkesima di tempatnya, seperti sedang melihat seorang malaikat di hadapannya, walaupun wajahnya tak tampak jelas karena sedang menunduk namun dari posisi dan bentuk tubuhnya sudah pasti ia adalah pria yang tampan
"hey ayoo" ujar sandra membuyarkan lamunannya
-
hening dan tenang kondisi yang bisa menggambarkan jelas keadaan di dalam mobil tersebut, hanya terdengar deru nafas dari masing-masing orang
Rania, gadis itu sesekali masih mencoba untuk mencuri pandang pada laki-laki tersebut, bahkan kelakuannya itu tertangkap jelas di mata sekertaris jen dari kaca depan
__ADS_1
David, sandra, dan Rania mereka duduk di bangku yang sama namun tanpa saling berbicara, hanya sesekali terdengar keluh kesah dari sandra yang mengatakan vibes saat ini seperti sedang berada di kuburan saking heningnya
-jangan lupa like, vote dan komen guys... nantikan kelanjutan kisahnya