Terpaut Cinta Uncle

Terpaut Cinta Uncle
mengkhawatirkan


__ADS_3

Hari Rania datang ke kantor untuk bekerja, menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat dan harus menghindari laki-laki itu, ini sudah menjadi rencananya dari rumah, ia tidak mau terlalu dalam lagi menyukai laki-laki itu


Saat sedang bekerja membersihkan salah satu meja karyawan tak sengaja ia menumpahkan minuman di baju karyawan tersebut


"Ah maafkan saya nona, saya tidak sengaja" Ujarnya ketakutan


"Dasar tidak tahu diri, kau pasti sengaja kan ingin menumpahkan minuman itu di bajuku" Balas wanita itu dengan berapi-api


"Tidak!, sungguh saya benar-benar tidak sengaja" Jawabnya dengan kepala menunduk


Plakk


Suara tamparan itu terdengar nyaring memenuhi seisi ruangan


Rania gadis itu sampai terjatuh di lantai saking kuatnya tamparan itu


Melihat hal itu pegawai yang lain pun berusaha untuk melerai nya


"Sudah rima, kau sudah memukul nya bahkan di juga mengatakan dia tidak sengaja" bela salah seorang karyawan


"Kau membelanya Ris, dia ini hanya perempuan bodoh yang beruntung bisa bekerja disini, dia pasti menggoda tuan David dengan wajahnya, kemarin aku melihat sendiri bahwa ia baru saja keluar dari ruang tuan David" ujar Rima


Mendengar hal itu sontak saja membuat karyawan yang lain saling berbisik


"Ada apa ini? " Suara itu menghentikan keributan yang terjadi saat ini


Pandangan mata itu tak sengaja melihat seorang gadis yang sedang duduk di atas lantai sambil memegangi pipi nya yang merah


"Ada apa ini? " Tanya sekertaris jek sekali lagi


"Tuan, wanita dengan sengaja menumpahkan minuman ke baju saya" Ujar rima mendramatisir keadaan


"Ti.. Tidak tuan, saya tidak sengaja" Jawab Rania


"Lalu kau menampar nya? " Tanya sekertaris jek kepada Rima


Mendengar hal itu membuat Rima menundukkan kepalanya


"Bukankah kau bisa mengganti baju, peraturan yang berlaku disini memperbolehkan karyawan membawa baju cadangan bila terjadi kejadian seperti ini, lalu kenapa harus dengan tamparan juga? " Pertanyaan itu menusuk hati Rima


"Ma.. Maaf tuan, saya refleks menampar nya" Ujar Rima


Tiba-tiba


Plakk


Suara tamparan yang sama kembali menggema


"Kalau begitu aku juga refleks menamparmu, sekarang angkat kaki dari perusahaan ini" Ujar sekertaris jek


"Tu.. Tuan, maksud anda saya di pecat, apa karena wanita sialan ini? " Tanya Rima tidak Terima


"Siapa yang kau sebut wanita sialan? " Suara bass itu memotong perkataan Rima

__ADS_1


"Tuan David" Gumam para karyawan


"Rismawati, kau sudah tiga tahun bekerja disini, empat kali melakukan pembullyan dan dua kali melakukan penggelapan dana, kau di pecat" Singkat padat dan jelas itulah kalimat yang keluar dari mulut David


"Berterima kasihlah karena aku tidak membawa ini ke rana hukum, Jek urus ini, dan kau gadis bodoh ikut aku" Ujar David


Sepeninggalan David dan Rania, para karyawan kembali mengerjakan pekerjaannya masing-masing,ada yang bersimpati dan tidak sedikit yang senang atas pemecatan Rima, ya wanita itu berstatus pegawai biasa namun berlagak seperti nyonya besar, hukuman yang adil untuk orang seperti dia, terlihat saat ini wanita itu sedang terduduk lemas di lantai sambil meratapi nasibnya yang tragis, yang baru saja berubah beberapa waktu yang lalu


-


"Kenapa kau tidak melawannya bodoh" Marah David ketika mengobati wajah Rania


"Au.. " Desah Rania menahan perih di pipinya


"JEK..." Panggil David


"Iya tuan? " Sahut sekertaris jek dari arah pintu


"Panggilkan firman kemari" Ujar David


"Baik tuan" Sahut jek


"Apa kau belum makan, sehingga tidak punya tenaga untuk melawan, cihh" Kesal David


"Ada apa ini, kenapa dia marah-marah, apa dia sedang mengkhawatirkan ku" Batin Rania


"Jangan dulu senang, aku bukan mengkhawatirkan mu, kau ini kan sahabat keponakan ku, kalau kau terluka dia pasti akan memarahiku" Ujar David menjelaskan


"Apa itu?, hah jadi dia mengkhawatirkan ku sebagai sahabat dari ponakannya"


"Ti.. Tidak tuan" Sahut Rania


Tak lama datanglah seorang laki-laki yang sambil membawa tas yang ia tenteng di tangannya


"Siapa yang sakit, apa kau David? " Tanya laki-laki itu


"Apa kau baru saja lari maraton? " Tanya David


"Hei aku pikir kau kenapa-napa makanya aku meninggalkan semua pekerjaan ku di rumah sakit dan langsung datang kemari, jek juga tidak memberitahu siapa yang sakit" Ujar laki-laki tersebut panjang lebar


"Cepat periksa dia" Sahut David sambil beranjak dari duduk nya


"Eh siapa dia?"


"Kau digaji untuk mengobati bukan untuk bertanya" Sahut David


"Ck kau ini, aku kan cuman penasaran saja, baiklah tunggu sebentar" Ujar laki-laki tersebut yang tak lain adalah firman, dokter pribadi David


"Eh pipi mu merah, David apa kau baru saja memukulnya? " Tanya dokter firman


"Lakukan tugasmu bodoh, jangan banyak tanya" Kesal David


"Baiklah, ck kau ini" Sahut firman

__ADS_1


"Ini sudah aku resep kan salap untuk memarnya, tidak ada yang perlu di khawatirkan" Ujar dokter firman setelah memeriksa keadaan Rania


"Memang siapa yang mengkhawatirkan nya" Sahut David


" kau ini, baiklah aku pergi" Ujar firman mengalah


Memang menghadapi orang seperti David harus punya banyak kesabaran kalau tidak kalian bisa saja langsung menangis


"Oleskan itu pada pipimu nona cantik" Setelah mengatakan itu firman pun langsung mengambil langkah seribu untuk kabur


Bisa di pastikan wajah David terlihat memerah menahan kesalnya ketika firman memuji Rania


"Kau jangan senang dulu, dia hanya bercanda, lagi pula kau mengalami hal ini pada jam kerjamu otomatis kau merupakan tanggungjawab perusahaan, hah sudahlah cepat keluar dari ruangan ku" Ujar saga sambil berjalan duduk di tempat duduknya


Tak mau membuat laki-laki ini marah lagi, Rania segera melangkah keluar dari ruangan


"Suruh jek menebus obat mu" Ujar David pada Rania yang sudah berada di depan pintu


"Baik, terimakasih tuan " Sahut Rania menghilang di balik pintu


-


setelah keluar dari ruangan David, kini Rania kembali ke ruangan cleaning service nya untuk rehat sejenak, terlalu banyak masalah yang ia hadapi semenjak ia bekerja di perusahaan ini, lelah kata itu cocok di sematkan dengan keadaan saat ini


"Hai Rania, kau tak apa? " tanya Abi yang tiba-tiba saja muncul


"ah iya, aku tak apa" jawab Rania


"pipi mu merah, apa kau sudah mengobatinya, maaf aku tadi tak bisa membantumu, saat kejadian berlangsung aku sedang berada di lantai dua " ujar Abi dengan perasaan tak enak hati


"tak apa senior, bahkan aku sudah senang kau mengkhawatirkan ku" sahut Rania tersebut sambil menepuk bahu Abi


"khemmm" dehem seseorang


mendengar hal itu sontak saja mereka berdua kaget, dan langsung memandang ke arah sosok yang sedang berdiri menatap tajam ke arah mereka


"nona Rania, ini salap anda" ujar sekretaris jek sembari menyodorkan sebuah tas plastik kecil


"ah terimakasih tuan " sahut Rania sembari mengambil tas itu


"apa kau tidak bekerja? " mengabaikan pertanyaan Rania dan malah bertanya kepada Abi


"sa.. saya baru saja selesai bersih-bersih tuan, sekarang sedang istirahat sebentar" jawab Abi dengan perasaan yang gugup


"baiklah" sahut sekretaris jek, lalu berjalan meninggalkan dua orang yang sedang menatap nya dengan cemas


"fyuuuh, rasanya ingin pingsan, ternyata ada juga orang seperti itu di dunia ini, kau tidak bekerja? " ujar Abi yang memperagakan kembali gaya berbicara sekertaris jek


" senior kau ini, nanti ketahuan orang nya bisa kencing celana, sudah lah aku ingin mengobati pipi cantik ku ini, setelah itu baru aku lanjutkan pekerjaan" sahut Rania


"mau aku bantu oleskan? " tanya Abi dengan penuh harapan


"tak perlu, aku bisa sendiri" ujar Rania membuat wajah Abi yang berbinar tadi dengan sekejap menjadi cemberut

__ADS_1


-


jangan lupa like, komen dan vote 😊


__ADS_2