
Malam hari di bawah cahaya rembulan Rania, di balik jendela kamar gadis itu tengah menatap langit cerah yang dipenuhi oleh banyak bintang
"Huff aku harus kuat demi paman dan bibi"
Rania, gadis desa itu tinggal di kota untuk melanjutkan pendidikan nya, meninggalkan keluarga nya di kampung, bibi An dan paman jo adalah orang tua Rania, walaupun bukan orang tua kandung namun mereka membesarkan dan menyayangi gadis itu selayaknya anak sendiri, ibu kandung dari Rania sudah meninggal dua tahun yang lalu, waktu Rania kecil, ayah dan ibunya sudah berpisah, sampai saat ini ia tidak tahu dimana keberadaan pria yang biasa di sapa ayah itu
"Ibu, apa aku bisa menemukan dia?, apa dia masih mengenalku, anaknya? " Batin Rania
Selain kuliah, hal ini pula yang menjadi salah satu alasan ia datang ke kota, entah kapan Tuhan akan mempertemukan ia dengan ayah kandung nya
Memikirkan hal itu membuat kepala Rania pusing, apalagi ditambah dengan perasaan nya saat ini, bahkan sekarang ia berniat untuk mengubur dalam-dalam rasa itu
"Mungkin memang bukan jodoh" Gumam Rania
-
Di lain sisi
David, laki-laki itu juga tengah memandang langit sambil menyesap kopi buatan pak Tomi
"Pak tom, bagaimana jika sebentar lagi akan ada nyonya baru di kediaman ini? " Tanya David
Mendengar hal itu sontak saja membuat pak Tomi kaget
"Maksud tuan, nona jesika? " Tanya pak Tomi memastikan
"Bukan, tapi nyonya yang sesungguhnya" Jawab David
"Apa nona jesika bukan calon nyonya di rumah ini, bahkan tuan muda baru saja bertunangan" Batin pak Tomi
"Tidak perlu terlalu memikirkan itu, nanti juga kau akan tahu, perempuan licik itu tidak akan pernah menjadi bagian dari keluarga ini" Sahut David yang dapat membaca pikiran pak tomi
"Saya turut senang bila tuan muda merasa senang" Ujar pak Tomi mencari aman
"Hah, jika sudah waktunya nanti tolong perlakukan dia sebaik mungkin, buat dia betah dan merasa nyaman" Ujar David
"Baik tuan" Sahut Pak Tomi
"Dimana jek? " Tanya David
"Sekertaris jek sedang menemani nona sandra untuk pergi ke mini market di depan" Terang pak Tomi
"Kenapa harus jek, bukankah ada pengawal di bawah? " Tanya David
__ADS_1
"Nyonya besar memerintahkan sekertaris jek untuk menemani nona sandra" Ujar pak Tomi
"Oma, bagaimana dengan keadaan oma? " Tanya David
"Nyonya besar baru saja melakukan konsultasi dengan dokter, hanya perlu beristirahat dan menjaga makan saja" Ujar pak Tomi
"Tolong jaga oma pak Tomi hanya dia saat ini yang aku punya, oh ya bagaimana kabar kakak di Singapore? " Tanya David memastikan keadaan sang kakak
"Besok tuan besar akan kembali dari Singapore, saya sudah mempersiapkan segalanya tuan" Ujar pak Tomi
"Bagus, terimakasih pak Tomi, sudah bekerja sejauh ini" Ujar David
"Ini sudah menjadi tugas saya tuan muda" Sahut Pak Tomi
-
Meninggalkan David yang sedang asik berbincang dengan pak Tomi
Disinilah Sandra, salah satu pusat perbelanjaan bersama dengan sekertaris jek
"Nona apa sudah selesai? " Tanya sekertaris jek dengan wajah datar nya
"Ah iya sudah, em apa kak jek mau beli sesuatu, ambilah biar nanti aku yang bayar, tentunya menggunakan uang uncle" Ucap gadis tersebut dengan terkekeh
"Ahh baiklah, sekarang mari kita bayar" Ujar sandra
Mereka berjalan menenteng belanjaan yang lumayan banyak, tidak! lebih tepatnya sekertaris jek yang membawa semuanya
Ah romantis nya, seperti sepasang kekasih yang sedang belanja bersama mana laki-laki nya akan pasang badan membawa tas dan belanjaan sih wanita
Ketika sampai di kasir, antrian terlihat cukup panjang, apalagi mereka yang berada di barisan terakhir
Tiba-tiba ada yang menepuk bahu sandra dari samping
"Sandra? " Panggil orang tersebut yang tak lain adalah teman kampus nya
"Gerald, hai kau dengan siapa? " Tanya sandra
"Aku sendiri, kau? "
"Ah aku dengan kak jek" Ucap sandra dengan canggung sambil melirik wajah lelaki itu yang masih saja datar
"Oh aku pikir dia kekasih mu" Sahut Gerald
__ADS_1
"Waw belanjaan mu banyak sekali san" Ujar Gerald
"Ah iya, aku memang suka makan" Jawab sandra sambil tersenyum
"Kau doyan makan tapi badanmu tetap kecil, tak apa kau terlihat lebih menggemaskan" Ujar Gerald
"Hei berhentilah berbohong, kau sedang mengejekku kan"
"Siapa yang mengejekmu, aku... "
"Nona sandra, saatnya untuk bayar " Potong sekertaris jek yang memberitahukan bahwa saat ini giliran mereka untuk bayar
"Ohh iya.. " Sahut sandra
"Apa ia cemburu aku berbicara dengan Gerald, oh yatuhan bahkan dia menatap kami tanpa ekspresi apa itu bisa disebut cemburu, tapi wajahnya memang selalu begitu" Batin sandra
"Semuanya total dua ratus ribu nona" Ujar kasir
"Oh iya, ini.. " Sambil memberikan uang bernilai dua ratus ribu kepada kasir
Setelah menyelesaikan pembayaran, dan berpamitan dengan Gerald, kini mereka kembali ke kediaman Wijaya
Hanya ada keheningan saat ini, mobil melaju kencang membelah jalan
"Kak jek, apa tidak bisa di pelan kan sedikit mobilnya! " Tanya sandra sambil berpegangan pada tangan pintu mobil
" Ini sudah pelan nona " Entah kenapa jawaban dari sekertaris jek terdengar sedikit aneh
"Pelan dari mananya, bahkan mobil ini bisa saja terbang saking kencang nya" Ujar sandra
"Apa nona ingin merasakan mobil terbang? " Tanya sekertaris jek
"Hei berhentilah kak jek atau akan aku adukan kau pada uncle" Ancam sandra
"Anda yang harus berhenti berbicara sembarangan dengan orang asing" Ujar sekertaris jek yang terdengar kesal
"Tapi dia bukan orang asing dia temanku, tunggu, apa kau sedang cemburu? " Tanya sandra memastikan
"Dengan bocah ingusan itu, heh mimpi nona" Jawab sekertaris jek sambil menambah kecepatan, di remas nya stir mobil itu sampai tangannya terlihat memerah
"Ada apa ini, apa dia cemburu? " Batin sandra
***kira-kira sekertaris jek beneran cemburu gk ya?, nantikan kelanjutan ceritanya
__ADS_1
jangan lupa dukung author dengan like, vote dan komen☺***