Terserah

Terserah
BAB 1


__ADS_3

Dua minggu sudah setelah peristiwa itu. Dicky dan istri barunya Gisel pergi keluar negeri dengan alasan pekerjaan. Padahal mereka kesana untuk babymoon meski begitu Aleina tidak ada sedikitpun rasa iri atau cemburu karena hatinya sudah mati.


Dan semenjak satu minggu itu pula Aleina sibuk dengan kerjaannya yang selama ini diam-diam dia geluti tanpa sepengetahuan Dicky suaminya.


Atas saran sahabatnya selama ini sudah cukup baginya tenggelam kini saatnya kamu muncul kepermukaan menunjukan siapa diri sebenarnya.


Merubah penampilan kembalikan Aleina yang dulu. Wanita mandiri dan ceria jangan mau diinjak-injak lagi. Serta sudah cukup mengejar cinta yang tidak bisa kamu miliki. Mulai sekarang prioritaskan dirimu. Dirinya berusaha menyemangati dirinya


Aleina keluar kamarnya menuju meja makan untuk sarapan. Seperti biasa dia akan sarapan seorang diri sebelum mulai beraktifitas.


"Besok Tuan Dicky dan Nyonya Gisel datang," ucap bi mun yang menyuguhkan susu coklat untuk Aleina.


Aleina menghela nafas panjang rasa kecewa sangat kentara. Bi mun menggenggam tangan Aleina. Sepertinya tahu apa yang dirasa Nyonyanya.


"Ya mau gimana lagi bi, yang penting telinga bibi di amanin biar g tuli lihat tiap hari kampanye tu mak lampir." ujar Aleina dengan terkekeh.


"Perbanyak obat telinga," timpal bi mun.


"Panjang kali lebar sama dengan...."


"Luas," sambung bi mun


Kemudian terdengar keduanya tertawa. Seolah semua itu lucu.


"Ok bi mun sudah siang aku berangkat dulu," ucap Aleina yang langsung menenteng tasnya. Berjalan keluar setelah berpamitan dengan bi mun.


"Hati-hati nyonya!" ucap bi mun dengan membereskan meja makan.


Dengan menggunakan taksi online Aleina pergi kerja, sebuah Cafe milik sahabatnya laela. Aleina bukan sebagai pegawai tapi owner sekaligus Arsitek terselubung untuk perusahaan-perusahaan besar.

__ADS_1


Semua orang tak akan mengira karena penampilannya yang sungguh sederhana. Tak memperlihatkan bahwa dirinya seorang bisnis woman.


40 menit taksi berhenti didepan sebuah Cafe dekat taman kota bangun berarsitektur alah eropa barat dipadukan dengan timur tengah.


Di cafe ini menu yang disajikan beraneka ragam dari masakan indonesia sampai western.


Aleina melakahkan kaki masuk Cafe yang masih terlihat sepi, belum begitu banyak pengunjung. Yang dia tujuh lantai dua dimana ruang kerjanya berada.


"Pagi cantik!" sambut laela saat Aleina membuka pintu dan masuk.


"Pagi." sahut Aleina dengan senyuma merekah. Aleina menjatuhkan bobotnya dikursinya. Mulai mempersiapkan alat perangnya.


Laela kembali fokus pada kertas-kertas yang berada diatas mejanya. Dia begitu sibuk biasa akhir bulan pengecekan laporan.


Laela tersenyum saat memeriksa laporan keuangan sambil berkata: "Al tau enggak beberapa bulan ini laba cafe naik, setelah idemu merombak ulang cafe ini," ucap Laela semangat.


"Syukurlah!" timpal Aleina tersenyum ke arah Laela. "Tapi jangan lupa sisihkan untuk panti," ingat Alina pada sahabatnya.


Aleina senang mendengarnya bahwa temannya tak perna lupa akan tanggungjawabnya.


laela adalah anak yatim piatu termasuk dirinya yang harus merantau agar dapat menghidupi diri sendiri. Meski Aleina tidak perna hidup di panti namun disanalah dia menemukan suatu kehangatan dari sebuah keluarga.


Maka dari itu dia bekerjasama dengan laela mendirikan Cafe dia menanam saham saat untuk hasilnya diberikan semua pada Panti. Untuk kebutuhanya dia mencari dengan menjadi arsitek sekaligus design interior menjalin kerjasama dengan perusahaan-perusahaan diluaran sana.


"Dirumah aman?" ucap Laela tiba-tiba.


"Ya begitulah, tapi besok enggak tahu lagi," seloroh Aleina yang masih sibuk dengan laptopnya.


Kening laela mengkerut. "Jadi besok aku bawakan apa? Untuk penyambutan Raja dan Ratu," tanggap laela sudah tahu apa maksud dari sahabatnya.

__ADS_1


"Bawa obat telinga yang banyak," timpal Aleina.


Laela tertawa ngakak mendengar celotehan temannya.


"Pasti tiap hari rumahmu akan terasa horor, dengan hadirnya mak lampir." seloroh laela dengan bergidik ngeri.


"ish, sialanmu!" desis Aleina dengan melototkan mata ke arah laela. Bukannya takut justru terkekeh.


"nanti tidurlah dipanti, karena besok lusa kami akan mengadakan pesta kecil menyambut donatur baru."


"Donatur baru?"


"Yup, dia seorang pria muda yang tampan dan Ceo, siapa tahu kamu bisa bekerjasama."


Alina berpikir ide temannya itu sungguh masuk akal maka dia tertarik.


"Baik aku mau," Alina menerima tawaran laela dan malam ini dia tidak akan pulang. Itu tak jadi masalah karena dirinya yakin suaminya tak akan mencarinya.


Laela tersenyum sahabatnya setujuh karena dia sangat kasihan dengan hidup sahabatnya. Mungkin dengan ini sedikit membuat sejenak melupakan masalahnya.


****


"Tuan apakah anda yakin bahwa nona muda dapat ditemukan?"


Terdengar helaan nafas pandangan berahli menatap sang Asisten yang sedari tadi tatapannya tak lepas dari sebuah pigora kecil yang menyimpan sebuah gambar photo seorang gadis kecil yang lucu dan imut.


"Aku harus menemukannya sesuai wasiat papa, tangisan seorang ibu yang begitu menyayat tiap malam karena rindu akan anak nya yang hilang, membuatku tetap semangat, jadi aku harap jangan pernah melontarkan kata-kata itu lagi. ...apa kamu bosan hidup?" ucap gilberto dingin dengan tatapan ingin membunuh.


"Ma-maaf tuan, tak saya ulangi lagi." ucap asisten gemetaran.

__ADS_1


"Lakukan saja yang aku perintahkan," tambahnya.


"Baik bos," membungkuk lalu pergi dari ruang kerja bosnya, tak ada lagi bantahan atau protes.


__ADS_2