
“Mungkin Allah mendatangkan Mira untuk menghapus kebencian dalam hati kamu”.
Kicauan burung yang merdu di pohon depan rumah Alan kian kencang, masuk dengan lembut ke dalam gendang telinga.
Suara langkah kaki terdengar tengah menuruni anak tangga. Nia memutar kepalanya ke sumber suara, menanti pemilik suara langkah kaki itu muncul.
“Selamat pagi, mah.” Ucap Alan. Dia duduk di meja makan.
“Pagi,” Balas Nia, memasang wajah heran. Dia sedang mempersiapkan sarapan untuk Alan dan Via.
“Kamu kenapa, lan?” Tambah Nia.
“Maksud mamah?” Balas Alan, balik bertanya.
“Nggak biasanya jam segini udah bangun,” tukas Nia.
“Semalam Alan tidur cepet. Belum dapet tugas dari Om Indra.” Jawab Alan.
Sebagai editor, tidak jarang dia akan lembur sampai malam menyelesaikan tugas edit yang diberikan oleh Indra.
“Via mana, Mah?” kata Alan.
“Dia masih tidur.” Jawab Nia. Alan meraih roti tawar dan selai kacang di hadapannya.
Nia melihat anak laki-lakinya itu makan roti tawar dengan sangat lahap. Kemudian Alan menuang air putih yang ada di sampinya untuk menyeimbangkan roti tawar itu masuk melewati tenggorokannya.
“Lan. Mamah boleh tanya sesuatu?” tukas Nia, kemudian duduk di hadapan puteranya.
“Soal apa, mah?” sahut Alan. Mulutnya masih dipenuhi oleh roti dan selai.
“Nadia, lan.” Mendengar itu Alan langsung menghentikan makannya sejenak. Dia meneguk air putih yang ada di sampingnya sampai habis tidak tersisa.
“Ada apa, mah?” jawab Alan, singkat.
“Mamah rasa kamu jangan berlebihan seperti itu. Mamah dengar semua ucapan kamu pada Nadia. Kamu harus minta maaf, lan.” Jelas Nia dengan nada lembut.
“Mamah tahu kan siapa Nadia?” ucap Alan.
“Mamah tahu, lan. Mamah masih sangat ingat. Mamah juga sedih setiap kali Nadia datang ke rumah. Tapi kita jangan berlebihan membenci orang. Apa lagi kita belum tahu alasan Nadia melakukan itu.” Ujar Nia menasehati puteranya.
__ADS_1
“Mamah juga perempuan, lan. Mamah bisa merasakan apa yang dirasakan oleh Nadia,” Tambah Nia.
“Mungkin Allah mendatangkan Mira untuk menghapus kebencian dalam hati kamu.” Nia kembali meyakinkan Alan.
Sementara itu, Alan hanya diam terpaku mendengar setiap ucapan ibunya.
“Mamah sudah Ikhlaskan ayah kamu. Sekarang mamah cuma punya kamu dan Via. Mamah nggak mau kamu akan terus hidup bersama rasa benci.” Alan melihat wajah ibunya dalam-dalam. Dia mencerna setiap ucapan Nia secara perlahan.
“Baik, mah. Akan Alan coba.” Hanya itu yang Alan ucapkan, kemudian dia melanjutkan melahap roti tawar di depannya. Nia tersenyum, wajahnya begitu teduh. Nia terlihat sangat peduli pada puteranya itu.
“Alan berangkat ya, mah.” Setelah menyelesaikan makannya, dia berpamitan untuk berangkat.
“Alan, kamu inget kan?” ucap Nia, menghentikan langkah Alan.
“Iya, mamah.” Balas Alan sambil mencium pipi ibunya.
Sebelum pergi, Alan masuk ke dalam kamar Via. Di sana Via masih tertidur dengan lelap sambil memeluk boneka panda pemberian Mira. Seketika dia mengingat perkataan ibunya.
“Mungkin Allah mendatangkan Mira untuk menghapus kebencian dalam hati kamu.”
Alan mencium kening Via dengan lembut. Lalu dia keluar dari kamar itu untuk segera berangkat kuliah.
“Mah, Via jangan lupa minum obat, ya.” Ucap Alan, mengingatkan.
Sepanjang jalan, tidak disangaka perkataan ibunya sangat membekas di dalam pikirannya.
Kata-kata itu seakan terus berdengun di dalam telinganya. Alan berkali-kali memikirkan perkataan Nia. Perkataan yang masuk ke dalam dirinya seperti roti tawar dan selai kacang yang dia makan baru saja.
Jalanan kota Bandung sudah dipadati oleh kendaraan yang berlalu lalang menembus udara sejuk di pagi hari. Ada yang berjas dan berdasi. Ada yang berseragam pabrik. Bahkan ada juga pelajar sekolah.
Matahari bersinar cukup terik. Langit nampak sedang berbahagia pagi itu. Dari kejauhan Alan melihat segerombolan remaja bermotor sedang memainkan kenalpot bising mereka. Hal itu cukup mengganggu pendengaran Alan. Tapi tidak terlihat petugas keamanan di sekitar wilayah tersebut.
Setelah sampai di kampus, Alan menghentikan motornya di parkiran belakang kampus. Setelah melepas helm nya, dia memutar kepalanya mencari seseorang.
Biasanya Nadia ada di sana. Dia selalu menunggu kedatangan Alan di parkiran belakang.
Alan langsung masuk ke dalam kelasnya, disana masih ada beberapa teman-temannya, tapi dia tidak melihat Dito.
“Bim. Dito mana?” ucap Alan pada Bima, dia merupakan ketua kelas di kelasnya.
__ADS_1
“Tadi gue liat di kantin.” Jawab Bima. Alan langsung pergi menuju kantin untuk menemui Dito.
“Lan.” Suara itu. Alan sudah sangat hapal panggilan itu. Dito melambaikan tangannya dari kejauhan. Alan menghampiri Dito.
“Akhirnya, lo kuliah juga.” Sambut Dito sambil menepuk bahu sahabatnya itu.
“Dit, gue mau minta maaf sama lo, mengenai kejadian di rumah sakit.” Ucap Alan.
“Nggak apa-apa ko, lan. Gue yang harusnya minta maaf udah berkata kasar sama, lo. Gue nggak tau masalah, lo.” Balas Dito sambil kembali menepuk bahu Alan. Sementara Alan hanya tersenyum.
“Ngomong-ngomong, lo kenapa kemarin nelfon gue?” kata Alan.
“Kemarin gue mau nanya soal Nadia. Udah tiga hari dia nggak masuk kuliah, barangkali dia hubungin, lo.” Jelas Dito. Alan sedikit terkejut.
Sudah 3 hari dia tidak masuk kuliah? itu berarti semenjak kejadian di rumah sakit itu.
“Lo udah coba hubungin dia hari ini?” Kata Alan.
“Gue udah beberapa kali hubungin dia, tapi tidak dia angkat.” Mendengar itu, Alan mengambil ponselnya. Dia coba mau menghubungi Nadia. Tapi, tidak diangkat. Begitu pun percobaan kedua dan ketiga.
“Sama nggak diangkat,” ucap Alan.
Dia sedikit kecewa, padahal dia berencana hari ini mau minta maaf pada Nadia, tapi sepertinya Nadia sangat marah pada Alan.
“Gimana kalo kita ke rumahnya?” Usul Dito. Alan terlihat ragu.
“Memangnya lo masih ingat rumahnya?” tanya Alan.
“Masih. Ayo kita cabut sekarang aja.” Ajak Dito sambil menarik tangan Alan.
“Tapi sekarang kan jam kuliah, Dit.” Potong Alan.
“Udahlah. Nanti gue bilang ke Bima, kita izin mau jenguk temen.” Ucap Dito meyakinkan Alan.
Kemudian mereka pergi menuju parkiran, dan pergi ke rumah Nadia.
Menjelang siang, terik matahari kian menyengat kulit manusia di bumi. Cahayanya semakin menyilaukan mata, namun hal itu tidak mampu mengurung niat kedua pemuda keluar dari kampus.
Alan dan Dito pergi ke rumah Nadia menggunakan motor masing-masing. Dito memimpin di depan. Sudah lama Alan tidak ke rumah Nadia.
__ADS_1
Alan berencana, setelah ke rumah Nadia, Alan akan langsung pergi ke kantor Indra untuk kembali bekerja. Sudah lima hari dia bolos kerja. Dia merasa tidak enak kalo hari itu kembali tidak masuk kantor.
***