
“Berikanlah usaha terbaikmu untuk melihat senyum keluargamu”.
Suasana siang itu terasa sejuk, matahari bersinar cukup terik. Udaranya begitu sangat menyegarkan. Matahari belum terlalu tinggi, Via baru sampai rumah.
Hari ini Via sudah diperbolehkan untuk pulang ke rumah, tapi dia belum boleh banyak beraktifitas. Agar tidak begitu kecapean, Alan membeli kursi roda untuk Via. Untuk satu minggu ke depan mungkin kursi roda itu akan berguna, membantu Via dalam beraktifitas.
“Bang, Via kan bisa jalan sendiri. Kenapa beli kursi roda?” Via merupakan anak yang aktif, jadi mungkin dia akan merasa kurang nyaman dan bebas jika menggunakan kursi roda.
“Via kan belum sembuh betul, ini aja kamu masih keliatan pucat. Jadi kalo nanti adek mau kemana-mana pakai kursi roda ini dulu aja, ya.” Jelas Alan sambil mendorong kursi roda itu masuk ke dalam rumah.
“Tapi, nanti kalo Via mulai masuk sekolah, masa mau pake kursi roda. Via malu, bang.” Balas Via.
“Via, kan masuk sekolah bulan depan. Kursi roda ini paling untuk satu minggu ke depan aja, sampai adek sudah enakan.” Jelas Alan.
“Oke deh.” Via mengangguk faham.
Sudah lima hari mereka meninggalkan rumah, semenjak Via masuk rumah sakit mereka hanya sesekali pulang ke rumah untuk mengambil keperluan.
Suasana rumah tidak begitu berantakan, hanya saja beberapa daun kering yang berserakan mengotori halaman depan.
Hari sudah siang. Alan baru saja selesai menyuapi Via makan, dia harus segera minum obat. Sementara Nia sedang sibuk membersihkan halaman depan yang sudah dipenuhi daun kering.
Setelah selesai minum obat Via minta Alan untuk menyalakan televisi, lalu Alan pergi meninggalkan Via di ruang tengah untuk membantu ibunya membereskan rumah termasuk kamarnya sendiri.
Hari selasa harusnya dia pergi kuliah, tapi dia belum bisa meninggalkan adik dan ibunya. Sebenarnya Nia sudah menyuruh Alan untuk pergi kuliah, hanya saja Alan belum tega meninggalkan Via, adiknya. Sekalipun Alan pergi kuliah, dia pasti akan terus kepikiran keadaan Via.
Setelah selesai membereskan kamarnya, dia meraih lap dan menuju dapur dengan sigap. Alan membersihkan inci demi inci dapur itu dengan telaten.
Tiba-tiba dari posisinya, dia mendengar suara ramai di depan. Alan menghentikan kegiatannya lalu pergi ke depan untuk memastikan.
“Kak Alan.” Seorang pria kecil menghamburkan tubuhnya ke badan Alan setelah berlari kecil. Tentu itu membuat Alan sedikit terkejut.
“Alwi,” Itu adalah Alwi, anak bungsu Indra.
Ternyata keramaian yang Alan dengar dari dapur adalah teriakan Alwi. Dia datang bersama Ayah dan Ibunya, Indra dan Zula. Indra adalah adik bungsu Sugeng, ayah Alan.
__ADS_1
Nia mengajak keluarga dari adik suaminya itu untuk masuk ke dalam rumah. Nampak, Nia juga telah meninggalkan sisa kerjaannya di halaman depan untuk menyambut Indra dan keluarganya.
Setelah masuk ke ruang tengah, Via sedang asik menonton serial kesukaannya. Dia juga terlihat sangat senang kedatangan Indra apalagi Alwi.
“Via gimana kabarnya?” Tanya Inrda.
“Udah baikan ko, Om.” Jawab Via yang tengah asik bermain dengan Alwi.
“Dek, hadiahnya di kasih dong sama Mba Via.” Kata Zula menyuruh anak bungsunya. Lalu Indra mengeluarkan sebuah bingkisan. Via terlihat senang ketika membuka bingkisan itu.
“Via suka Om, Tante. Terimakasih yah,” Ucap Via setelah melihat Tas dan beberapa peralatan sekolah lainnya.
Kemudian Nia datang dari dapur sambil membawa minuman untuk tamunya itu. Dia terlihat senang melihat Via tersenyum.
“Via sekolah yang pinter ya.” Ucap Zula. Via hanya tersenyum.
“Kalo itu boneka dari siapa, ko tante baru liat?” tambah Zula menunjuk boneka panda pemberian Mira.
“Itu dari Kak Mira, pacar Bang Alan.” Jawab Via sambil tersenyum.
“Bukan ko, Om. Dia orang yang nabrak Via.” Ucap Alan.
“Oh, jadi yang nabrak Via pacar kamu?” Tambah Indra. Alan berhasil dibuatnya salah tingkah.
“Bukan, Om.” Balas Alan, lagi. Indra dan Zula tertawa. Nia juga terlihat senang melihat moment hangat itu.
“Alwi juga katanya bulan depan sudah mulai masuk sekolah, tante?” Itu dari Alan, mencoba mengalihkan pembicaraan.
“Iya, tadi sebelum ke sini sekalian beli peralatan sekolah buat Alwi juga.” Jawab Zula. Alan mengangguk faham.
“Kalau Alin bagaimana kabarnya, Ndra?” Ucap Nia bertanya pada adik suaminya itu.
“Dia lagi sibuk sama tugas-tugas kuliahnya, mba. Tapi dia juga lagi belajar nulis novel, katanya.” Jelas Indra, menceritakan anak sulungnya itu.
“Oh. Memangnya sudah semester berapa?” Tambah Nia.
__ADS_1
“Dia baru semester lima, mba.” Ucap Indra.
“Kemarin juga, dia nanyain soal Alan.” Tambah Indra.
“Soal aku? Ada apa, Om?” sahut Alan.
“Katanya mau minta koreksiin tulisannya. Mungkin karena dia tahu kamu editor di perusahaan, Om.” Balas Indra sambil tersenyum kecil.
“Kamu kan tahu sendiri, lan. Alin itu pemalu. Kalau bukan sama seseorang yang sudah kenal mana mungkin mau minta tolong.” Tukas Zula sambil tersenyum kecil. Alan dan Nia hanya tersenyum.
Suasana begitu hangat. Matahari masih terlihat sangat terik, tidak ada tanda-tanda akan terjadinya hujan. Via merasa senang setiap kali Alwi datang ke rumah. Dia merasa seperti punya adik kecil.
Menjelang sore. Langit di sekitar rumah Alan berubah warna menjadi abu-abu pekat. Langit terlihat muram, tidak lama kemudian rintik hujan yang begitu tipis jatuh secara perlahan.
“Lan. Besok kamu sudah bisa masuk kantor, kan?” ucap Indra.
“Dari kemarin juga sudah Mba suruh berangkat, barangkali Om Indra nyariin, tapi dia nggak mau.” Tukas Nia. Alan hanya garuk-garuk kepala yang sebenarnya tidak gatal.
“Tidak apa-apa, mba. Yang penting kasih kabar. Lagian, mungkin Alan masih belum bisa ninggalin Via.” Alan hanya tersenyum mendengar itu, merasa ada yang membelanya.
“Iya, Om. Besok Alan ke kantor. Tapi seperti biasa, Alan kuliah dulu.” Ujar Alan.
“Ya sudah tidak apa-apa. Tapi, karena kamu tidak masuk selama lima hari, jadi kamu akan dapat tugas tambahan. Soalnya kejar deadline juga. Tidak apa-apa, kan?” jelas Indra.
“Siap, Om. Tidak apa-apa.” Tegas Alan.
Melihat cuaca di luar sudah sangat gelap, Indra dan Zula memutuskan untuk pulang. Mereka khawatir akan terjadi hujan yang sangat lebat. Meskipun mereka menggunakan mobil, tapi tetap saja berkendara di saat cuaca tidak baik akan mengkhawatirkan, belum lagi mereka membawa anak kecil. Alwi takut dengan cuaca buruk, terutama pada petir.
Nia, Via, dan Alan melepas tamu mereka. Meskipun Sugeng tidak ada, Indra sangat mengerti dengan keadaan keluarga dari kakak kandungnya itu. Dia juga merasa punya tanggung jawab untuk menjaga mereka agar tetap hidup bahagia.
Setelah mengantar tamunya, Alan kembali masuk ke dalam. Dia meraih ponselnya. Sejak sampai rumah, dia tidak sempat memeriksa ponselnya.
Dia terlihat sibuk membantu ibunya membersihkan rumah, kemudian kedatangan tamu yaitu Indra. Ada 9 panggilan yang tidak terjawab, itu bukan dari Nadia, tapi dari Dito.
Dia mencoba menghubungi Dito kembali. Tapi tidak diangkat. Alan mencobanya beberapa kali, tapi tetap tidak diangkat. Dia melempar ponselnya tanpa arah, lalu melanjutkan kegiatannya membersihkan rumah.
__ADS_1
***