
“Penyesalan adalah sesuatu yang tidak kamu lakukan saat kamu memiliki kesempatan”.
Malam semakin larut. Jalanan di kota Bandung perlahan mulai sepi kendaraan. Suasana malam yang begitu dingin tidak menyurutkan niat Nadia untuk pergi setelah menerima kabar dari Dito.
Dia pergi dengan sangat terburu-buru. Dia berjalan kaki menuju jalan besar depan rumahnya, beberapa menit kemudian seorang pemuda berhenti dengan sepeda motornya, itu Dito. Tak lama, lalu mereka pergi bersama meninggalkan tempat itu.
Mira merasa penasaran dengan tingkah kakaknya yang terlihat tidak biasa itu, kemudian dia memutuskan untuk mengikuti Nadia tanpa sepengetahuannya.
Mira menghentikan ojek, lalu memintanya untuk mengikuti Dito. Malam semakin larut, hingga membuat udara malam itu semakin dingin.
Beberapa menit kemudian Dito menghentikan sepeda motornya di parkiran sebuah Cafe. Mereka berdua masuk ke dalam Cafe tersebut, dan Mira mengikuti. Mira melihat tidak ada siapa-siapa di sana, hanya ada mereka berdua dan beberapa pelanggan lainnya.
“Apa yang mereka bicarakan,” Lirih Mira dari balik dinding samping parkiran Cafe tersebut.
Dari sana dia bisa melihat Nadia dan Dito sedang berbincang meskipun dia tidak bisa mendengar apa yang sedang dibicarakan.
Mira melihat jam di punggung tangannya sudah menunjukan pukul sebelas malam. Tiba-tiba dari kejauhan Nadia seperti sedang marah pada Dito, dia bangkit untuk pergi namun dihalangi oleh Dito, kemudian Nadia kembali duduk.
Tak lama kemudian sebuah mobil berwarna silver berhenti di parkiran Cafe tersebut, dan seorang laki-laki keluar dari mobil itu. Wajahnya tak begitu asing bagi Mira.
“Om Indra,” Lirih Mira, terkejut.
“Apa yang dia lakukan,” gumam Mira terlihat sangat terkejut.
Indra menghampiri tempat duduk Dito dan Nadia, tidak lama kemudian Dito pergi meninggalkan mereka berdua. Mira menutup separuh wajahnya, seakan ingin menghentikan prasangka yang sempat ada dalam pikirannya. Lalu Nadia pergi bersama Indra menggunakan mobilnya.
“Kak Nadia,” Ucap Mira. Dia bangkit berniat untuk mengikuti mereka.
Tapi. dengan cepat sebuah tangan menutup hidung dan mulut Mira menggunakan sebuah sapu tangan. Hal itu membuat dia tidak bisa bernapas hingga tak sadarkan diri.
“Kamu mau kemana, cantik.” Suara pemilik tangan itu, terdengar nakal. Dua orang pemuda sudah ada di belakang Mira.
“Hallo. Lo pasti suka dengan apa yang gue temuin.” Ucap salah seorang pemuda berbicara melalui ponselnya.
“Bawa dia ke tempat gue.” Balas seorang laki-laki dari balik layar ponsel. Kemudian kedua pemuda itu membawa Mira dengan mobil mereka.
***
__ADS_1
“MIRA ... ” Ucap Alan sambil bangkit dari tempat tidurnya.
Malam semakin larut, tiba-tiba satu persatu air hujan turun bergantian menjatuhi kota Bandung termasuk atap rumahnya.
Alan tengah mengatur napasnya dengan perlahan. Keringat bercucuran keluar dari setiap pori-pori dalam tubuhnya. Dia meneguk gelas berisi air minum di meja samping tempat tidurnya.
“Kenapa aku mimpi Mira,” Lirih Alan merasa heran.
Dia melihat jam di dinding kamarnya, menunjukan pukul 1 dini hari. Alan bangkit menuju kamar mandi untuk membasuh mukanya.
Keringat masih membasahi tubuhnya. Dia meraih ponselnya, namun tidak ada notifikasi dari siapapun. Dia melempar ponsel itu tanpa arah, lalu kembali membaringkan tubuhnya.
Tiba-tiba dia mengingat Mira. Alan mencoba menuntup wajahnya dengan guling, wajah manis Mira kembali melintas dalam pikirannya.
“Apa-apaan ini,” Gumamnya, tidak biasanya dia susah tidur karena memikirkan seorang perempuan.
Dia bangun dari tempat tidurnya dan turun ke dapur mencari sesuatu yang bisa dia makan.
Alan mengambil martabak sisa tadi sore. Dia memakannya di meja makan.
“Kenapa kamu melihatku?” Ucap Alan, seolah sedang bicara dengan boneka itu.
“Kamu mau martabak,” Tambahnya menawarkan martabak pada boneka panda itu.
“Aku tidak suka denganmu, dan pemilikmu yang dulu itu.” ucap Alan dengan nada setengah tinggi. Lalu dia memasukan martabak itu ke dalam mulutnya.
“Alan.” Suara seorang perempuan mengejutkan Alan.
Alan memutar kepalanya ke sumber suara, ternyata ibunya sudah ada di belakangnya.
“Mamah,” Ucap Alan, terkejut.
“Kamu ngobrol sama siapa?” Tanya Nia, heran.
“Bukan siapa-siapa, mah.” Balas Alan. Nia melihat tangan Alan sedang memegang boneka panda pemberian Mira untuk adiknya. Nia tersenyum sambil mendekat ke anak laki-lakinya itu.
“Alan. Penyesalan adalah sesuatu yang tidak kamu lakukan saat kamu memiliki kesempatan.” Ucap Nia sambil mengelus lembut bahu anak laki-laki nya. Alan hanya diam mematung mendengarkan apa yang dikatakan oleh ibunya.
__ADS_1
Nia membuka lemari es dan mengambil botol minuman, lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
Alan terlihat masih diam dalam posisinya. Mulutnya masih dipenuhi oleh sisa potongan martabak yang belum sempat dia telan, entah apa yang ada di dalam pikirannya.
Tak lama kemudian dia kembali duduk di meja makan sambil terus memikirkan ucapan ibunya. Sepanjang malam Alan hanya berdiam diri di dalam kamarnya, sambil melihat foto Mira bersama Via dan Nia yang dia ambil saat di rumah sakit.
Dia semakin tidak bisa menutup matanya setelah mendengar perkataan ibunya saat di meja makan tadi.
“Sebentar lagi pasti aku bisa tidur.” Lirihnya begitu pelan.
Suara binatang malam masih bersahutan menghiasi malam menjelang pagi itu. Tiba-tiba sinar matahari muncul perlahan dari balik jendela kaca kamarnya. Seketika suasana kamar berubah terasa begitu hangat, ditambah dengan suara kicauan burung, pagi itu nampak begitu cerah.
“Tidaaaaaaaakkk.” Teriak Alan, sambil membuka selimutnya.
“Aku cuma berpura-pura tidak mengenalnya, kenapa aku harus dihukum semalaman seperti ini,” Ucapnya dengan geram.
Alan bangkit dari tempat tidurnya, pergi ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. Dia segera bersiap untuk berangkat kuliah.
Masih dengan muka masam, dia turun ke lantai bawah, disana sudah ada Nia sedang menyiapkan sarapan.
“Kamu kenapa, lan?” Ucap Nia pada Alan.
“Nggak bisa tidur, mah.” Jawab Alan dengan wajah malas.
“Karena ngobrol sama boneka?” Tukas Nia sambil tersenyum kecil. Alan hanya melirik ibunya.
"Abang bisa ngobrol sama boneka?" itu dari Via.
"Ngobrol apa aja, bang?" tambahnya. Alan hanya mencubit kecil pipi adiknya. Nia yang mendengarkan pertanyaan Via hanya tersenyum.
“Tapi, lan. Apa yang mamah bilang semalam itu beneran lho. Kamu pernah bayangin Mira memakai gaun pengantin dengan laki-laki lain?” Jelas Nia, menggoda.
“Apaan sih mamah.” Hanya itu yang Alan ucapkan.
Dia tidak ingin ibunya tau kalau semalam dia mimpi buruk soal Mira. Meskipun dia merasa penasaran tentang mimpi itu, Alan tidak mau membuat ibunya khawatir.
***
__ADS_1