Terserah

Terserah
22 AKAD


__ADS_3

Jika ditanya kenapa aku mau menikah denganmu?


Maka aku akan menjawab,


“Aku ingin ke surga bersamamu”.


Selain itu.


Aku merasa hati kamu adalah tempat paling aman untuk berlindung.


Wajah kamu adalah pemandangan paling indah yang selalu ingin aku lihat.


Suara kamu adalah nyanyian paling merdu yang selalu ingin aku dengar.


Pelukan kamu adalah rumah paling nyaman untuk beristirahat.


Dan jika ditanya, apa bukan karena Cinta?


Aku tidak bisa memastikan,


Apa rasa khawatir saat tidak ada kabar darimu itu, Cinta?


Atau tidak bisa tidur karena terbangun setelah mimpi buruk tentang kamu, itu juga Cinta?


Atau mungkin, memikirkan kamu seharian itu namanya Cinta?


Jika iya, berarti aku juga jatuh Cinta padamu.


Pagi itu nampak cerah, awan di langit berwarna putih mengkilap. Angin berhembus cukup tenang menerbangkan daun kering tanpa arah. Sementara kicauan burung terdengar begitu merdu, melengkapi keindahan pagi itu.


“Saya terima, nikah dan kawinnya Mira Liyana Ali Rahman binti Bapak Ali Rahman, dengan mas kawin seperangkat alat sholat dibayar, Tunai.” Ucap Alan dengan satu tarikan napas, penuh dengan keyakinan.


“Sah.” Suara gemuruh saksi dan beberapa tamu undangan yang menyaksikan ijab qobul. Alan terlihat lega.


Sementara di dalam sebuah kamar, Mira ditemani Alin dan beberapa sahabatnya terlihat sangat bahagia. Kemudian Alin mengantar Mira keluar menuju ruangan Ijab Qobul. Disana sudah ada Alan yang saat ini sudah sah menjadi suaminya. Zula membantu Alin mengantar Mira duduk di samping Alan.


Alan mengulurkan tangan kanannya, lalu Mira menyambutnya dan dilanjutkan menciumnya penuh hormat. Mira terlihat canggung, begitu juga dengan Alan. Nia dan Rahmi terlihat tengah mengusap air matanya, terharu melihat anak mereka. Zula dan Alin juga tidak kalah senang bercampur haru.


Alan terlihat tampan dengan memakai jas berwarna putih. Rambutnya sengaja dia potong sedikit pendek supaya terlihat pangling.


Sementara Mira menggunakan gaun putih yang membuat dia terlihat begitu anggun. Pakaian pengantin mereka sengaja di buatkan khusus oleh desainer handal sahabat Zula.


Pernikahan mereka berlangsung begitu khidmat di rumah Nia. Sangat sederhana namun senyum kebahagiaan bertebaran di mana-mana. Rumah Nia disulap layaknya istana dengan sentuhan tim dekorasi sahabat Indra. Beberapa hiasan juga terlihat indah di halaman depan rumah.


Siap sangka, kecelakaan pada Via membawa sebuah pertemuan Alan dan Mira di rumah sakti. Setelah beberapa kejadian yang mereka alami, sekenario Allah telah mempersatukan mereka di pelaminan. Tiba-tiba Alin mendekati Mira dan Alan.

__ADS_1


“Teteh,” Panggil Alin sambil memeluk Mira, hangat.


“Baarakallahu laka wa baarakaa alaika wa jamaa bainakumaa fii khoir.” Tambah Alin mendo’akan Mira dan Alan.


“Iya. Ko, Teteh?” Balas Mira sambil mengusap air matanya.


“Kamu kan sekarang jadi Teteh aku.” Alin semakin mempererat pelukannya pada Mira. Sementara Mira hanya tersenyum.


“Mas. Aku boleh panggil dia Teteh kan?” Tanya Alin pada Alan yang ada di samping mereka.


“Apa aja juga boleh, yang penting jangan sayang.” Jawab Alan.


“Kenapa?” Balas Alin dan Mira hampir bersamaan.


“Itu kan panggilan aku.” Alan tersenyum.


“Cieee, Mas Alan sama Teh Mira.” Goda Alin sambil terus memeluk Mira.


“Oiya, aku punya kejutan buat kamu sama Mas Alan.” Tambah Alin berbisik pada Mira.


“Kejutan apa?” Tanya Mira merasa penasaran.


“Nanti juga kamu tahu.” Mira berhasil dibuatnya penasaran.


Nia terlihat sedang sibuk menyambut beberapa tamu dan kerabat dekatnya. Alan dan Mira pun tidak kalah sibuk menyambut teman-teman mereka yang datang untuk memberikan selamat. Terlihat, Bima dan teman satu kelasnya juga datang. Semua nampak bahagia hari itu.


Malam semakin larut. Sebuah mobil dengan hiasan pengantin berhenti di depan halaman rumah Mira. Tidak lama setelah mobil itu pergi, hujan jatuh dengan begitu deras di sekitar halaman rumah Mira. Udara malam kian dingin menyentuh kulit manusia. Dari kejauhan Alan melihat istrinya sedang berdiri di depan pintu kamar Nadia.


“Sayang, kamu kenapa?” Panggilan itu. Begitu syahdu menembus gendang telinga Mira. Dia melihat suaminya yang baru saja keluar dari kamar mandi. Mira hanya tersenyum.


Alan menghampiri Mira lalu memeluknya, lembut. “Kak Nadia selalu melarang aku masuk ke dalam kamarnya. Aku penasaran, kenapa aku nggak boleh masuk ke dalam kamarnya. Waktu aku pulang dari rumah sakit. Aku memberanikan diri untuk masuk ke dalam kamar Kak Nadia.” Jelas Mira sambil meneteskan air mata. Alan mengelus bahu Mira penuh dengan kepedulian.


“Aku menemukan banyak foto aku waktu masih kecil. Dia masih menyimpannya.” Tambah Mira sambil menangis. Alan mengusap air mata istrinya dengan lembut.


“Sudah jangan menangis. Nadia sangat menyayangimu, hanya saja dia tidak tahu cara menunjukannya.” Mira larut dalam pelukan suaminya.


Alan mengantarnya masuk ke dalam kamar untuk segera menunaikan sholat sunnah bersama. Setelah masuk ke dalam kamar, Mira dan Alan nampak terkejut melihat beberapa hiasan di kamarnya. Lalu Mira membuka sebuah bingkisan yang ada di tengah ranjangnya. Ternyata itu berisi sebuah pakaian bayi dan selembar kertas.


Untuk Mas Alan dan Teh Mira.


Semoga Allah SWT selalu memberkahi kalian, baik dalam suka maupun duka, dan mempersatukan kalian dalam kebaikan.


Itu pakaian untuk calon keponakan aku.


Ttd Alin.

__ADS_1


Ternyata bingkisan dan hiasan di kamar adalah kejutan yang Alin maksud. Dia meninggalkan tanda senyum di sudut kanan bawah surat. Alan dan Mira tersenyum hampir bersamaan setelah membaca surat tersebut. Kemudian Alan mengajak Mira untuk sholat sunnah berjamaah.


Setelah mengambil wudhu, Alan berdiri di depan sebagai imam. Mira terlihat sangat khusyuk, dia terharu sholat sunnah kali ini ada yang menemaninya. Dan yang menjadi teman sholatnya kali ini adalah pemuda yang Namanya sekian lama ia simpan di dalam Al-Qur’an nya.


Setelah selesai, Alan memutar posisinya menghadap istrinya. Melihat wajah teduh perempuan yang sudah membuat dia tidak bisa tidur. Yang membuat dia bicara dengan boneka seperti orang bodoh. Yang membuat dia di keluarkan dari kelas karena terus memikirkan dia.


Masih lengkap dengan mukenahnya, Mira meraih tangan suaminya dan menciumnya dengan penuh hormat.


“Aku mau mendo’akan kamu.” Alan mendekat dan menyentuh ubun-ubun istrinya dengan lembut.


“Allaahumma innii as-aluka khoirohaa, wa khoiro maa jabaltahaa ‘alaihi, wa a’uudzu bika min syarrihaa, wa syarri maa jabaltahaa ‘alaihi.” Lalu meniupkan pada ubun-ubunnya, dilanjutkan mengecup kening istrinya dengan penuh kasih dan sayang.


“Aku diajarkan sama Om Indra.” Ucap Alan sambil tersenyum.


Hujan terdengar masih sangat deras menjatuhi halaman depan rumah. Udara semakin dingin menyentuh kulit manusia. Air hujan seakan jatuh menghapus setiap luka di masa lalu. Dan menyegarkan kembali dengan banyak hal baru yang akan dimulai esok hari.


“Oiya. Tadi siang, yang sama Alin itu pacarnya?” Ucap Alan sambil melepas peci hitamnya.


“Bukan. Dia Rio, ketua kelas. Tapi, pernah suka sama Alin.” Balas Mira sambil membereskan mukenahnya. Dia melepas kerudung yang selama ini menutup rambutnya. Alan terlihat terkesima melihat Mira tanpa kerudung.


“Memangnya kenapa, Mas?” Tambah Mira melihat Alan mematung melihatnya.


“Nggak apa-apa. Mas liat kaya deket banget.” Mira hanya mengangguk.


“Kalo Mas Bima itu satu kelas sama Mas Alan?” Tambah Mira balik bertanya.


“Iya, dia juga ketua kelas.” Mira Kembali mengangguk mendengar jawaban Alan.


“Terus, Rio juga pernah suka sama kamu nggak?” Mira menghentikan kegiatannya yang sedang melipat mukenah, lalu memandang Alan.


Mira tersenyum begitu manis mendengar pertanyaan suaminya. Orang yang ia kenal cuek, galak, dan dingin, saat ini berubah menjadi orang yang sangat peduli dan sayang padanya.


“Mana aku tahu.” Jawab Mira, singkat.


“Sudahlah, kok kita malah ngomongin orang sih.” Tambah Mira sambil meneruskan kegiatannya.


“Terus kita harus ngapain sekarang?” Alan menatap wajah Mira dalam-dalam. Mira hanya diam menerima tatapan suaminya.


“Terserah.”


Kebencian menunjukkan bahwa kita masih terjebak pada masa lalu dan belum mampu hidup dimasa sekarang. Kita harus ingat betapa banyak energi yang di sia-siakan untuk membawa beban itu. Cepat atau lambat, kita harus segera melepaskannya.


Hidup dalam kebencian sempat membuat hidup Alan terasa sempit. Dia hanya berpikir, bahwa hal yang perlu dia jaga hanya satu, yaitu keluarganya, namun dia mengabaikan sesuatu, bahwa yang memiliki keluarga bukan hanya dia. Bahkan orang yang dia benci pun memiliki keluarga.


Hingga rencana Tuhan telah mempertmukannya dengan Mira, perempuan yang mengira dibenci kakaknya sendiri, yaitu Nadia orang yang dibenci oleh Alan.

__ADS_1


Tuhan punya banyak cara untuk membentuk hambanya, bahkan dengan kebencian. Tuhan tidak akan tinggal diam melihat hambanya dalam kesulitan, dia mempertemukan Alan, pemuda yang selalu hidup dalam kebencian dengan Mira, seorang perempuan yang selalu hidup dibenci oleh kakaknya. Lalu, Tuhan menjatuhkan benih cinta di antara keduanya, hingga rasa benci itu hilang. Mereka hidup bahagia.


TAMAT


__ADS_2