Terserah

Terserah
18 KATA MAAF TERAKHIR


__ADS_3

“Kamu boleh membenciku seumur hidup kamu sekarang”.


Rintik hujan masih menjatuhi sebagian kota Bandung malam itu. Masuk ke dalam jalan pinggiran kota, sebuah gedung yang sudah tidak terpakai berdiri cukup tinggi. Dari kejauhan ada sekitar sepuluh lantai dalam gedung itu, dan sudah tidak dipakai.


Saat ini bangunan itu dijadikan tempat nongkrong anak muda atau geng motor. Sebagian bangunan tersebut ditumbuhi rumput liar yang sudah meninggi.


Perlahan rintik hujan itu berubah menjadi tetes hujan yang cukup besar. Tak lama kemudian mobil Indra berhenti di halaman samping bangunan itu. Halaman itu sudah ditumbuhi ilalang yang cukup banyak.


“Bener disini tempatnya, om?” Tanya Alan sambil membuka jendela mobil.


“Berdasarkan alamat yang diberikan Nadia, ini memang tempatnya.” Jawab Indra.


“Kalo begitu, coba masuk lagi, om.” Kemudian Indra menyalakan Kembali mesin mobilnya.


Setelah lebih dekat dengan bangunan utama, Alan dan Indra keluar dari mobil. Mereka masuk ke dalam gedung itu.


Meskipun sudah tidak dipakai, lampu bangunan itu masih berfungsi. Alan dan Indra naik ke lantai dua, tapi dia tidak menemukan siapa-siapa. Lalu mereka naik lagi ke lantai tiga, dan mereka juga tidak menemukan siapapun. Mereka naik lagi ke lantai empat, tiba-tiba suara gemuruh beberapa orang mencuri perhatian mereka.


Mereka melihat dari balik dinding, disana ada Dito dan Nadia. Alan sedikit mendekat, dia juga melihat beberapa anak-anak yang tidak asing bagi Alan. Mereka adalah geng motor yang menabraknya saat mau ke rumah Nadia tempo hari.


PLAKK …


Sebuah tamparan berhasil mendarat di pipi mulus Nadia, “Itu karena lo goblok.” Teriak Dito pada Nadia.


Dito duduk di atas sofa bekas, sementara Nadia duduk di lantai.


“Gue nggak pernah bilang sama siapa pun.” Nadia mencoba memelas.


“Dit. Gue akan turutin semua kemauan lo. Tapi tolong lepasin adik gue.” Tambah Nadia.


“Kita tunggu polisi datang saja.” Alan tidak kuat melihatnya, tangannya terus mengepal. Dia mencoba mendekat tapi dilarang oleh Indra.


“Gue udah nggak percaya sama lo, Nad. Lo tahu kan, gue udah lama suka sama lo. Tapi kenapa lo malah suka sama Alan,” Kata Dito.


“Lo brengsek, dit. Gue udah turutin semua kemauan lo selama ini. Alan udah sangat membenci gue. Tapi lo masih jahat sama keluarga gue.” Dito melirik wajah Nadia begitu tajam. Sementara Alan tertegun mendengar perkataan Nadia.


“Gue bajingan? Lo tau, ucapan lo sangat menyakiti hati gue.” Bisiknya pada Nadia.


“Bawa adiknya kemari.” Perintah Dito sambil mencengkram baju Mira hingga sobek.


“Mira,” Panggil Nadia melihat keadaan adiknya.


“Kak Nadia.” Mira menangis. Suaranya hampir hilang, sepertinya dia sudah lama menangis.


Lengan kanan bajunya sobek, begitu juga gamisnya yang sudah tidak berwarna. Tapi, kerudungnya masih terpasang walaupun sobek seperti bekas tarikan yang sangat kuat. Mira terus menangis meskipun tidak terdengar suaranya.

__ADS_1


Alan meneteskan air mata melihat keadaan Mira. Lalu kemudian dia bangkit dari balik dinding itu.


BRAAKKK …


Alan melempar sebuah kayu besar di tengah mereka hingga mereka terkejut, “Keliatannya lo lagi sibuk hari ini.” Ucap Alan.


Tiba-tiba Dito tertawa begitu renyah. Nadia hanya melirikan matanya. Dia tidak bisa bicara karena kedua pipinya dicengkram oleh Dito.


“Udah gue duga. Si ****** ini emang tidak bisa di percaya.” Dito melepaskan cengkramannya dari pipi Nadia. Nadia terlihat kesakitan.


“Gue nggak nyangka sekarang lo maennya sama bocah-bocah gini.” Alan mencoba memancing emosi Dito.


“Lo liat, gue udah dapetin Nadia. Sekarang dia tunduk sama gue.” Dito kembali tertawa. Alan juga ikut tertawa.


“Lo mau terlihat hebat dari perempuan? Apa Lo udah kehabisan lawan yang sebanding?” Dito terlihat tidak senang dengan ucapan Alan.


Tangan kiri Dito menjambak rambut Nadia, sementara tangan kanannya mencengkram kerudung dan baju Mira hingga sebagian rambutnya keluar.


“Lihat kedua boneka gue. Lo goblok, lan. Sampe lo nggak tahu kalo gue yang nyuruh Nadia godain bokap lo.” Kali ini Alan yang merasa geram dengan apa yang dilakukan Dito. Nadia mengerang kesakitan, sementara Mira hanya bisa menangis tertahan.


“Dito. Lepaskan mereka.” Ucap Indra. Dito tertawa renyah.


“Lo akan bayar mahal untuk semua itu, dasar Psikopat.” Alan berlari kecil menghampiri mereka, kemudian menendang kayu yang semula dia lempar hingga mengenai salah satu dari mereka.


“Hajar mereka,” Perintah Dito yang masih memegangi Nadia dan Mira.


“Lo lupa siapa gue.” Ucap Alan.


BHUUKK …


BRAAKK …


PLAAKK …


Indra terlihat lihay meringkus anak-anak yang kebanyakan masih SMA itu. Indra berhasil melumpuhkan mereka tanpa memberi luka yang serius.


Tiba-tiba sebagian dari mereka mengambil senjata tajam yang sudah mereka siapkan di ruangan itu.


Alan juga tidak kalah memberi pukulan yang cukup keras pada mereka. Alan berkali-kali menendang dan menampar mereka.


CRAAK, satu sayatan sebuah parang berhasil merobek baju dan kulit perut Alan. Kemudian Indra menendang dan melumpuhkan anak itu.


“Kamu nggak apa-apa, lan?” Indra terlihat khawatir pada keponakannya.


“Nggak, Om.” Alan sempat menghindar, jadi lukanya tidak terlalu dalam. Kemudian Alan kembali maju untuk mendekati Dito, tapi anak-anak itu menghalangi.

__ADS_1


“Dibayar berapa kalian sama Psikopat ini,” Alan terus menghajar mereka tidak peduli mereka membawa senjata tajam. Setelah sebagian mereka sudah dilumpuhkan, akhirnya Alan berhasil mendekati Dito.


“Siapa yang mau lo liat mati duluan?” Tiba-tiba Dito sudah mengalungkan sebilah belati di leher Mira.


“Lo emang sakit, dit. Lepasin Mira.” Teriak Alan.


Mira terlihat sangat ketakutan. Nadia tidak bisa berbuat apa-apa karena rambutnya masih dalam cengkraman tangan Dito.


Dito terlihat bersiap untuk menyayatkan belati pada leher Mira. Tapi, dengan cepat Nadia menarik rambutnya dari tangan Dito hingga sebagian rontok masih di tangan Dito.


Kemudian dia mendorong Mira dari cengkraman Dito hingga Mira terjatuh di sofa. CRAAK, Dito mengarahkan belati itu ke dada sampai bahu Nadia hingga menancap dengan sempurna. Darah pun keluar dari dada Nadia.


“Nadia,” Ucap Alan hampir bersamaan dengan Indra yang masih menahan dua remaja di tangannya. Mira hanya bisa menangis melihat kakaknya. Kemudian Nadia terjatuh.


BHUUKK …


“Brengsek, lo.” Teriak Alan sambil memukul wajah Dito. Dia terjatuh, lalu Alan kembali memukul wajahnya.


“Lo udah pisahin ayah dari anaknya,” BHUUKK.


“Lo udah pisahin suami dari istrinya,” BHUUKK.


“Lo udah pisahin cucu dari neneknya,” BHUUKK.


“Lo udah pisahin kakak dari adiknya,” BHUUKK.


“Dan, lo udah pisahin gue dari orang yang gue sayang,” BHUUKK, Dito hanya tertawa. Wajahnya sudah tidak berbentuk karena pukulan-pukulan Alan.


Tak lama kemudian polisi datang menangkap geng motor dan Dito. Alan dan Indra langsung membawa Nadia dan Mira ke rumah sakit. Nadia meringis kesakitan, darah masih keluar dari dadanya.


Mira menangis melihat keadaan kakanya, dia juga terlihat masih lemas. Indra menancap gas menuju rumah sakit terdekat.


“Alan.” Lirih Nadia sambil mengatur napasnya.


“Iya, Nad.” Alan menggenggam tangan Nadia.


“Aku minta maaf karena nggak jujur sama kamu. Aku terlalu takut kehilangan kalian semua. Aku tahu kamu sangat mencintai Mira. Aku minta padamu, tolong jaga Mira baik-baik, jangan biarkan dia telat makan.” Ucap Nadia dengan suara seadanya sambil melirik Mira, dan menggenggam tangannya.


“Tidak, Nad. Aku minta maaf karena nggak pernah percaya sama kamu, membiarkan kamu menanggung semuanya sendiri. Aku minta maaf. Kamu harus selamat.” Alan terlihat sangat menyesal.


“Kamu boleh membenciku seumur hidup kamu.” Lalu Nadia menutup matanya. Mira menangis histeris meskipun tidak terdengar jelas suaranya.


“Tidak, Nad. Nadiaaa.” Teriak Alan memanggil Nadia, tapi tidak ada jawaban.


“Om, cepetan,” Pinta Alan pada Indra.

__ADS_1


Jam di dinding kaca mobil sudah menunjukan pukul tiga dini hari. Jalanan sudah sepi tidak ada kendaraan yang melintas, namun hujan sudah berhenti dengan sempurna menyisakan genangan air di jalanan. Alan terus menatap kedua perempuan yang ada di sampingnya.


***


__ADS_2