
Dicky menghampiri temannya yang sedang berbincang-bincang.
"hallo bro!" mereka saling sapa lalu bersalaman khas pria. Ternyata mereka masih satu server.
"Ternyata kalian juga donatur dipanti ini?" tanya dicky pada temannya.
"yoi bro!"
Dicky mengedarkan pandangannya dari sudut ke sudut segala arah mencari keberadaan Aleina. Dirinya sampai tidak sadar bahwa ternyata dirinya sedang di awasi oleh laela. Aleina ada didalam ruang kerja ibu panti bersama ibu panti menemani untuk berbicara dengan gilberto.
Laela gadis jahil maka dia tidak kehilangan ide untuk mengerjai Dicky. Tersenyum licik laela sengaja menyapa para pria itu.
"Tommy!?!" seru Laela seraya melambaikan tangan.
"Hai laela," tommy merespon.
Tommy kenal dengan laela karena dia dan teman-temannya donatur tetap panti dan mereka terutama Tommy juga dulu sering dititipkan oleh orang tuanya dipanti apabila orang tuanya ada perjalanan dinas ke luar kota maupun luar negeri, sehingga dia sangat familiar dengan suasana panti.
"Sombong," muka cemberut.
"Hei ibu peri dirimu yang sombong sudah punya cafe kita-kita ini di endorsi," balas tommy.
__ADS_1
"Mulai kalian ini kayak kucing ma tikus, mana bisa akur," timpal beno.
Seperti biasa felix hanya mengulum senyum diantara ketiganya dia yang pendiam tak banyak bicara. Tapi dia sangat baik dan paling pekah orangnya paling enak buat curhat apabila sudah dekat dengannya.
Dicky hanya melongo melihat interaksi kawan-kawannya dengan laela teman Aleina. Begitu sangat akrab sampai-sampai lontaran senda gurauannya begitu los tidak ada kecanggungan atau formal.
"Loh inikan suaminya Al, temanan sama mereka bertiga ini," tunjuk satu persatu. Dicky tersenyum canggung mengangguk kecil.
"Gercep," ledek beno.
"Apanya, ini suami dari Aleina." terang laela.
"Apa?" seketika wajah mereka berubah sinis atau menatap sarkastisme. Karena mereka tahu apa yang terjadi dengan pernikahan sahabatnya itu, meski mereka tidak tahu siapa pria yang dinikahinya. Tahu namanya tapi tidak menyangka bahwa yang dimaksud suami Aleina bernama dicky itu temannya sendiri.
Dicky hanya terdiam awalnya yang suasananya santai menjadi tegang.
Felix langsung maju mencekram krah baju Dicky, membuat yang lain tercengang padahal felix yang paling tenang hampir tanpa emosi dia bisa terpancing aura membunuhnya keluar. Ditarik dicky menjauh dari kerumunan lebih tepatnya mereka membawa ke belakang panti.
"Jelaskan pada kami, apa maksud dari semua itu?" tekan felix dengan melepas cengkramannya dengan mendorongnya. Sehingga membuat Dicky terhuyung akan jatuh untung kesimbangannya tepat.
"Itu bukan urusan kalian." ucap Dicky menantang yang juga tersulut emosinya.
__ADS_1
BUAk!
Sebuah bogem mentah mendarat di pipinya sehingga sudut bibirnya mengeluarkan darah.
"Felix!" pekik lainnya termasuk laela yang ikut juga namun perasaannya senang puas.
"Cih, beraninya keroyokan," Dicky berkata dengan mengusap sudut bibirnya.
"Kau?" Beno ikut marah dia kan maju namun dicegah oleh Tommy dengan menghadang tubuh sahabatnya. "untung saja aku dicegah kalau tidak habislah kau," sarkas beno menunjuk ke arah Dicky.
Tommy berbalik mendekati Dicky dengan sedikit berbisik dia berkata.
"Kamu pikir saat dirumah sakit kamu mengalami kecelakaan yang menolong merawatmu adalah istrimu itu gisel bukan tapi Aleina dia rela memberikan darahnya untukmu dan saat kamu tak sadar dia rela menungguimu, merawatmu untuk istrimu tercinta dia sedang bersenang-senang dengan pria lain." ungkap Tommy yang memang memiliki bukti mengapa dia berani berkata.
Dicky mendengarnya merasa geram karena temannya merendahkan istrinya tercinta.
"Kenapa kamu ingin marah memukul kami?" tantang tommy. "Itu kenyataan nya." saling menatap tajam.
"Kalian jangan menuduh tanpa bukti karena itu sama saja dengan fitnah," sanggah Dicky yang langsung berlalu pergi dari tommy dan teman-temannya.
"Hay, pria bodoh apa kamu yakin anak yang dikandung gisel darah dagingmu?" teriak beno. Yang tak direspon oleh Dicky dia terus berjalanan menuju mobilnya lalu pergi.
__ADS_1