
Siang hari cafe begitu ramai sudah banyak pengunjung untuk makan siang, Aleina berdiri didepan kaca jendela melihat situasi. Terlihat Laela begitu ramah dan telaten menyapa pengunjung.
Tanpa sadar bibirnya melengkung melihat itu. Ketika asik mengamati pendengaran Aleina terganggung akan suara dering dari ponselnya di atas meja. Berbalik berjalan meraih ponsel.
"huft hem!" bibirnya mencebik melihat nama yang menghubunginya. "Ya hallo!" jawabnya dengan malas.
"Apa semua sudah disiapkan? Kami segera sampai." ucap Dicky tanpa basa-basi seolah-olah Aleina seorang pelayan.
Aleina mengerutkan kening menjauhkan sedikit ponsel dari telinga dan matanya mengamati layar. "Dasar setres!" umpatnya pelan.
"Hallo hallo hei dengar tidak?" ucap Dicky disebrang.
"Maaf salah sambung." putus Aleina langsung dengan menonaktifkan ponselnya. Aleina merasa malas meladeni dia tidak ingin menjadi wanita bodoh. Mau saja diperalat dan dipermainkan. Maka sejak saat ini dirinya harus yang pegang kendali atas dirinya sendiri. Dia tidak mau dinjak-injak lagi. Cukup sudah!
Aleina kembali fokus dengan pekerjaannya membuat design interior yang akan ditawarkan pada klien barunya. Dia menggambar sesuai dengan apa yang disebutkan oleh kliennya.
"Sibuk?" tanya laela yang baru masuk.
"Iya begitulah, klien sudah mengirimkan design apa yang dia mau," terang Aleina yang matanya sibuk ke layar laptop.
Laela berdiri disamping Aleina pandangannya tiba-tiba terfokus pada ponsel.
__ADS_1
"Ada apa?" laela langsung to the point.
"Dia datang lebih cepat." jawab singkat Aleina.
"Oh ya?" seketika Laela menarik kursi untuk duduk dia sungguh penasaran.
"Aku bilang salah sambung."
Laela tersenyum pongah. "good." mengacungkan kedua ibu jarinya ke arah Aleina. Seolah memberi dukungan dengan apa yang dilakukan sahabatnya.
Sesuai dengan rencana awal tak peduli dengan datangnya kedua pasangan itu Aleina tetap pergi dan menginap di panti. Setelah pekerjaan selesai Aleina dan Laela pergi ke panti untuk membantu anak-anak panti untuk menyiapkan acara penyambutan donatur baru yang besok rencananya akan datang.
*****
"Ada apa sayang?" Gisel yang melihat itu menjadi heran, dengan sikap suaminya, yang emosinya tak stabil karena susah menghubungi Aleina.
"Apakah wanita bodoh itu berulah?" Gisel berkata dengan manja kepalanya disandarkan didada Dicky.
Dicky tak menjawab dia diam sibuk dengan pikirannya. Bukan seperti ini yang dia mau. Dia mengharapkan Aleina yang menderita terpuruk. Tapi semua berbalik tak sesuai ekspektasinya.
Justru sekarang dirinya yang terombang-ambing dengan perasaannya sendiri. Akhirnya setelah 2 jam perjalanan dari bandara ke Rumah Dicky sampailah mereka.
__ADS_1
Mobil mewah berwarna hitam masuk ke plataran terparkir rapi di garasi.
"Selamat datang tuan nyonya." sambut para pelayan membukakan pintu mobil.
Turun Dicky dan Gisel berjalan melewati para pelayan masuk kedalam rumah dengan soknya.
"Dimana Aleina?" tanya dicky saat tak melihat sosok yang dicari.
"Nyonya tidak ada tuan." lapor salah satu pelayan dengan sedikit ketakutan.
"Tidak ada?" beonya. "Kemana?" tanya dicky.
Para pelayan saling pandang bingung harus menjawab apa.
"paling juga kluyuran enggak jelas," timpal Gisel jawabannya yang memprovokasi.
Mendengar itu Dicky meradang apalagi para pelayan tak ada yang menjawab pertanyaannya.
"Apa benar itu?" ucap dicky dengan keras menatap tajam ke arah para pelayan.
Semua pelayan menunduk tak ada yang berani membalas tatapan itu ketakutan. Gisel tersenyum smirk dirinya sangat senang melihatnya berhasil membuat dicky marah dan Aleina semakin jelek dimata Dicky.
__ADS_1
"Awas saja aku akan menghukummu," sumpah Dicky menggenggam erat tangannya. Menahan amarah.