
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan”.
Tok, Tok, Tok …
Suara ketukan pintu itu berhasil memecah keheningan ruangan. Alan dan Mira memutar kepalanya ke sumber suara, ternyata itu Via dan Nia.
“Abaang,” Teriak Via sambil berlari kecil menghampiri Alan kemudian menghamburkan tubuhnya ke badan Alan.
“Mira, bagaimana keadaan kamu, sayang?” Ucap Nia sambil mencium dan memeluk hangat Mira. Dia terlihat sangat khawatir pada keadaan Mira.
“Mira udah baikan ko, bu.” Mira tersenyum begitu manis.
“Kak Mira cepet sembuh yah. Terus nanti main ke rumah Via.” Ucap Via yang masih dipelukan Alan.
“Iya dek, nanti kakak main ke rumah Via.” Balas Mira.
Untuk sejenak Alan dan Mira saling pandang memikirkan pembicaraan mereka sebelumnya. Tiba-tiba ketukan pintu kembali terdengar, dilanjutkan dengan kehadiran Indra bersama Syarifah, dan kedua orang tua Mira.
“Bapak. Ibu.” Ucap Mira.
Seorang perempuan paruh baya sesegera mungkin memeluk dan mencium Mira yang masih terbaring di ranjang pasien.
Rahmi, Ibunya Mira terlihat sangat mengkhawatirkan keadaan puterinya, dia nampak baru saja menangis, itu terlihat dari matanya yang merah. Syarifah tidak kalah sedih melihat keadaan cucunya yang semalaman dia khawatirkan.
Sementara Rahman, ayahnya Mira tiba-tiba menepuk bahu Alan. Alan terkejut dan berniat untuk memberi salam pada ayahnya Mira. Tapi, pandangannya kosong, dia meraba sekeliling untuk menghampiri anaknya. Setelah melihat keadaannya, Alan mengerti, ternyata Rahman tidak bisa melihat.
Tangisan satu keluarga itu pecah mengingat kepergian Nadia yang sudah menjadi tulang punggung keluarga. Mata Alan berkaca-kaca melihat tangisan keluarga Mira.
Dia merasa bersalah yang selama ini terus memendam kebencian pada Nadia. Indra menepuk bahu Alan mencoba menenangkan keponakannya. Begitupun juga dengan Nia yang tidak kalah terharu dengan keadaan keluarga Mira.
“Alan udah jahat, mah.” Ucap Alan. Nia memeluk anak laki-lakinya.
“Alan egois, Alan munafik.” Tambah Alan dalam pelukan Nia. Dia terlihat sangat terpukul.
“Kamu jangan bilang gitu. Setidaknya kamu udah berusaha, dan berhasil menyelamatkan Mira. Nadia pasti mengerti.” Nia mencoba terus menenangkan anaknya.
“Apa yang harus Alan lakukan, mah?” Ucap Alan.
“Lakukan apa yang harus kamu lakukan. Jangan kamu siksa lagi perasaanmu.” Tiba-tiba Alan mengingat pesan terakhir Nadia saat perjalanan ke rumah sakit.
“Aku tahu kamu sangat mencintai Mira. Aku minta padamu, tolong jaga Mira baik-baik.”
“Dia belum menjawabnya, mah.” Ucap Alan memandang ibunya.
__ADS_1
“Mamah bangga sama kamu. Kamu udah berani mengatakannya.” Nia tersenyum pada Alan.
“Abang,” Via memeluk kakaknya yang terlihat sedang menahan tangis. Alan mengusap air matanya yang belum sempat jatuh. Mereka kembali menyaksikan moment haru di hadapan mereka.
Siang hampir berlalu. Adzan dzuhur baru saja selesai. Cuaca saat itu masih begitu cerah, tidak ada tanda-tanda akan turun hujan. Warna langit biru muda bagaikan hamparan laut yang tak bertepi. Mira masih nampak seru ngobrol bersama kedua orang tua dan Yogi, adik laki-lakinya.
Alan sudah mengganti pakaiannya dengan pakaian yang di bawa oleh Nia dari rumah. Perutnya juga sudah diobati oleh perawat di rumah sakit tersebut. Luka sayatan di perutnya tidak begitu parah, jadi tidak ada penanganan khusus.
“Om. Mba Zula sama Alwi nggak kesini?” Ucap Alan pada Indra yang sedang duduk di sofa ruangan.
“Mereka nanti kesini sama Alin. Soalnya Alin harus kuliah dulu.” Alan menganguk, faham.
“Kalo nggak macet, harusnya sih sebentar lagi juga sampe.” Tambah Indra.
Tiba-tiba dua orang perawat masuk ke dalam ruangan Mira dengan membawa makan siang dan obat yang harus diminum siang itu. Dengan sigap, salah satu perawat memeriksa perkembangan Mira. Dari kejauhan Mira nampak lemas untuk bangkit dari posisinya, melihat itu Alan bergegas mengahampiri Mira untuk membantunya.
“Keadaan pasien sudah cukup membaik. Kemungkinan, nanti sore atau besok istri, mas sudah boleh pulang.” Jelas perawat yang baru saja memeriksanya.
Alan tertegun mendengar ucapan perawat tersebut. Begitu juga dengan Mira yang terlihat salah tingkah. Sementara Indra dan Nia dari kejauhan terlihat tersenyum kecil.
“Ini obat yang harus diminum siang ini. Semoga cepat sembuh.” Setelah memberikan makanan dan obat kemudian kedua perawat itu pergi dari ruangan.
“Terimakasih, mba.” Ucap Alan. Rahmi memandang Alan sambil tersenyum.
“Sini biar ibu suapin,” Nia menghampiri Mira yang masih lemas.
“Sama-sama, bu. Mira anak yang baik. Waktu Via dirawat dia juga suka suapin anak saya.” Jelas Nia mengingat saat Via dirawat. Rahmi tersenyum mendengar itu, sambil mencubit lembut pipi Via.
“Ini putera ibu?” Kata Rahmi pada Nia yang sedang menyuapi Mira.
“Iya. Dia anak sulung saya, bu.” Jawab Nia.
“Siapa nama kamu, nak?” Tanya Rahmi pada Alan.
“Alan, Bu.” Mira memandang Alan.
“Oh, jadi ini Alan yang sering kamu certain sama bapak?” Tukas Rahman. Mira tersipu mendengar ucapan bapaknya. Alan hanya diam sambil melirik ke arah Mira.
“Oh, Mira sering cerita soal Alan?” Ucap Nia.
“Iya, katanya Alan itu orangnya galak, cuek, tapi baik.” Alan berhasil dibuat salah tingkah oleh ucapan Rahman.
Ternyata Mira sering membicarakan Alan pada bapaknya.
__ADS_1
“Bapak,” Ucap Mira menggerutu pada bapaknya. Rahman hanya tersenyum sambil mengelus tangan puterinya.
“Dibandingkan dengan kakanya yang selalu sibuk, Mira sering cerita banyak hal pada saya, tapi baru pertama kali dia cerita soal laki-laki.” Tambah Rahman. Mira hanya diam. Alan memandang wajah Mira yang tersipu karena ucapan bapaknya. Nia menatap Alan penuh makna.
“Bapak. Ibu. Maaf jika selama ini Alan sudah banyak merepotkan keluarga bapak dan ibu. Sesuai dengan pesan terakhir Nadia pada Alan, jika Bapak dan Ibu mengizinkan, Alan berniat untuk menikahi Mira.” Ucap Alan dengan yakin. Rahmi terlihat mengusap matanya.
“Itu sangat baik, nak. Tapi bapak dan ibu hanya orang tua yang bisa mendo’akan anak-anaknya. Yang akan menjalankan adalah Mira, jika dia bahagia dan bersedia, bapak dan ibu juga akan menerimanya.” Balas Rahman sambil terus mengelus tangan puterinya.
Rahmi memandang Mira dengan penuh rasa haru. Begitu juga Alan yang sudah menunggu jawaban dari Mira.
“Mira senang jika bapak sama ibu bahagia. Tapi, selama di bandung, Mira dirawat sama nenek yang sudah sangat peduli sama Mira. Jadi, Mira pengen mendengar pendapat dari nenek.” Ucap Mira sambil memandang Syarifah, orang selain Nadia yang selalu ada untuk Mira.
Syarifah memandang Alan, “Nak Alan bisa mengaji?” Ucap Syarifah.
“Alhamdulillah bisa, nek.” Jawab Alan.
“Nenek boleh dengar kamu membaca surat Ar-Rahman?” Alan mengangguk.
Syarifah memberikan sebuah Al-Qur’an yang dia bawa dari rumah. Itu Al-Qur’an milik Mira. Melihat itu Mira sedikit terkejut. Lalu, dengan khusyuk Alan membaca ayat demi ayat surat Ar-Rahman.
“Ar-rohmaan, ‘allamal-qur’aan …”
Semua mendengarkan dengan khusyuk. Nia melihat anak laki-lakinya dengan penuh haru. Mira melirik pemuda yang ada disampingnya, dia mengingat saat pertamakali dia bertemu dengan Alan di rumah sakit ini.
Alan sampai di akhir ayat, tiba-tiba dia berhenti melihat selembar kertas dengan tulisan “MAS ALAN, MAUKAH KAMU MENJADI IMAM KU.” Alan diam untuk beberapa detik melihat tulisan itu. Nia terkejut, lalu memeluk Mira. Mira tersipu.
“Selesaikan dulu bacaanmu,” Ucap Syarifah. Lalu Alan melanjutkan bacaannya sampai selesai.
“Ini Al-Qur’an Mira. Nenek juga baru tahu, selama ini dia menyimpan nama kamu di Al-Qur’an nya. Kalau Mira Bahagia, nenek juga akan bahagia. Semoga kamu akan jadi Imam yang baik buat Mira.” Alan mencium tangan Syarifah penuh hormat. Dilanjutkan dengan memeluk Rahman. Nia dan Rahmi sama-sama memeluk Mira penuh kasih.
“Baiklah. Sebagai wali kamu, nanti Om yang akan mengurus semuanya.” Tukas Indra yang sedari tadi diam mendengarkan percakapan dua keluarga itu.
“Assalamu’alaikum,” Itu Alin dan Zula. Semua menjawab salam Alin hampir berbarengan.
“Apa yang Alin lewatkan? Ko, pada berpelukan semua?” Tambah Alin sambil menyalami tangan ayahnya, lalu menghampiri sahabatnya.
“Alan dan Mira akan menikah.” Jawab Indra pada puterinya.
“Serius?” Alin menatap Mira dengan pertanyaan.
Mira hanya tersenyum dengan sangat manis untuk menjawab pertanyaan sahabatnya. Kemudian Alin memeluk Mira hangat.
Menjelang sore, seketika suasana ruangan terasa sangat hangat. Senyuman bertebaran dimana-mana, suara tawa terdengar di setiap sudut ruangan. Cuaca masih begitu cerah. Untuk memaksimalkan kesehatan Mira, mereka memutuskan untuk membawa Mira pulang besok pagi.
__ADS_1
Nia dan Indra berbicara serius dengan kedua orang tua Mira untuk menentukan tanggal pernikahan Alan dan Mira. Setelah beberapa menit bicara serius, akhirnya tanggal ditentukan dua minggu ke depan, yaitu akhir bulan ini.
***