
“Lihatlah bagaimana Allah sudah menyediakan semuanya, kita hanya perlu menurunkan gengsi kita”.
Malam tiba dengan sangat cepat. Tak ada satu tetes hujanpun yang menjatuhi Bandung malam itu.
Semilir angin begitu syahdu berhembus dengan lembut. Adzan isya’ baru saja berhenti, dalam bilik kamar, seorang perempuan tengah bersiap untuk menunaikan sholat. Dia gelar sajadah yang berbau wangi itu, tubuhnya sudah berbalut mukenah putih yang tidak kalah wangi.
“Mas Alan sudah kenal, Mira?” Ucap Alin.
“Belum.” Jawab Alan.
Tiba-tiba air bening menggenang di sudut matanya, hingga tak terasa menetes tanpa persetujuannya, jatuh membasahi mukenah putih itu.
Sejak pertemuannya dengan Alan siang tadi, Mira terus mengingat perkataan Alan saat di kantor. Dia tidak mengerti apa maksud dari perkataannya. Mira mengusap air matanya perlahan.
“Kenapa aku menangis,” lirihnya. Sambil terus mengusap air matanya. Tapi air bening itu seakan tidak ingin berhenti keluar dari matanya.
Bersamaan dengan itu, perkataan Alan yang mengaku tidak mengenalnya terus berlarian diingatan Mira.
Mira mengangkat kedua tangannya. Berdo'a dengan serius pada sang pencipta.
“Ya Tuhan ku, berikanlah aku pasangan yang terbaik dari sisi-mu, pasangan yang juga menjadi sahabat aku dalam urusan Agama, urusan Dunia, dan Akhirat.”
Tiba-tiba wajah Alan terlintas dalam pikirannya, dengan wajah juteknya, cueknya, dan terkadang galak.
Mira mengingat semua kejadian saat di rumah sakit, sejak pertama kali dia bertemu dengan Alan. Tiba-tiba wajah Mira tersenyum sangat kecil, mengangkat kedua pipinya hingga nampak manis.
“Terserah engkau, Tuhan?” lirihnya, dalam hati.
Tok, Tok, Tok …
Suara ketukan pintu kamar. Mira membereskan mukenahnya lalu menghampiri pintu untuk membukanya.
“Kak Nadia.” Ucap Mira mengetahui kakak nya sudah ada di depan pintu kamarnya.
“Ada perlu apa, kak?” tambah Mira melihat kakaknya masih diam berdiri. Nadia terus menundukan kepalanya.
“Kakak boleh masuk,” jawab Nadia sambil mengangkat kepalanya. Matanya sembab seperti habis menangis sangat lama.
“Boleh, kak. Silahkan masuk.” Mira tahu betul, kakaknya sedang dalam keadaan yang tidak baik akhir-akhir ini.
__ADS_1
Kemudian Nadia masuk ke dalam kamar adiknya. Jarang sekali Nadia mau masuk ke dalam kamar Mira. Begitupun dengan Mira, dia bahkan tidak diperbolehkan masuk ke dalam kamar kakanya.
Semenjak dia tinggal bersama kakak dan neneknya, Mira hampir belum pernah masuk ke dalam kamar kakanya.
“Kakak kenapa?” tanya Mira mengawali pembicaraan. Nadia sudah duduk di samping tempat tidur Mira. Sementara Mira duduk di kursi belajar yang ada di sampingnya.
Nadia masih diam. Dia seperti tidak menghiraukan pertanyaan Mira. Tiba-tiba Nadia mendekat dan memeluk Mira begitu erat. Sangat erat.
Mira terkejut dengan apa yang dilakukan oleh kakaknya. Nadia terus memeluk Mira sambil menangis tertahan. Melepaskan kesedihan yang selama ini ia pendam.
“Kak. Kak Nadia kenapa? Cerita sama Mira,” ucap Mira dengan penuh rasa peduli.
Dia terlihat tidak tega melihat keadaan kakaknya. Mira mengusap bahu dan rambut Nadia yang masih ada di dalam pelukannya.
“Kakak tenang dulu. Baru cerita sama Mira. Aku akan bantu kakak semampu aku.” Tambah Mira mencoba menenangkan kakaknya.
Nadia mencoba menghentikan tangisannya. Dia bangkit dari pelukan Mira, mengusap air matanya. Mira memberikan beberapa lembar tisu yang selalu dia sediakan di meja belajar kepada Nadia.
“Alan tadi siang ke rumah.” Ucap Nadia. Mira diam sejenak.
“Ada perlu apa Mas Alan ke rumah, Kak?” tanya Mira.
“Kak. Kak Nadia kan punya aku. Kak Nadia bisa cerita sama Mira.” Ucap Mira.
“Apa yang sebenarnya terjadi pada Kak Nadia dan Mas Alan,” Tambah Mira mencoba menenangkan kakaknya.
“Kakak sama Alan sebenarnya pernah pacaran.” Mira terdiam menyembunyikan kekagetannya setelah mendengar pengakuan Nadia.
Entah kenapa dia merasa ada yang sesak di dalam hatinya. Namun dia mencoba terus mendengarkan cerita kakaknya.
"Maksud kakak gimana?" tanya Mira.
“Alan merupakan cinta pertama kakak. Dia orang yang tegas, dan peduli pada keluarganya. Sejak pertama kali kakak melihatnya, kakak sudah suka pada dia. Alan seperti matahari yang selalu menerangi bumi, bulan yang menghiasi malam hari. Kakak sayang sama Alan, dek.” Jelas Nadia, lalu kembali melepas tangisnya.
Nadia menutup separuh wajahnya dengan kedua tangannya. Mira mengelus bahu kakaknya sambil menyeka air di matanya yang tak terasa sudah lama menggenang.
“Lalu, apa yang terjadi dengan Kakak dan Mas Alan?” Kata Mira, penasaran.
“Apa benar yang dikatakan oleh Mas Alan saat di Rumah Sakit itu?” Tambah Mira.
__ADS_1
“Nggak, dek. Kakak nggak pernah selingkuh.” Tegas Nadia sambil mengangkat kepalanya.
“Lalu kenapa, kak?” Kata Mira.
“Kakak nggak bisa cerita.” Jawab Nadia.
“Bahkan pada adikmu sendiri,” Tukas Mira.
“Bagaimana Mira bisa bantu kakak kalo kak Nadia nggak cerita yang sebenarnya. Kakak sudah banyak memendam semuanya sendiri,” Tambah Mira. Nadia terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
“Kamu dan Nenek akan dalam bahaya kalo kakak cerita.” Ujar Nadia.
“Aku dan Nenek? Maksud kakak?” Tambah Mira semakin penasaran.
Nadia nampak ragu. Dia terlihat sedang kebingungan. Mira terus membujuknya untuk bercerita apa yang sebenarnya terjadi. Nadia tetap berdiam diri, dia terlihat sedang memikirkan sesuatu. Dari wajahnya, dia seperti menyembunyikan banyak sesuatu yang besar.
Drrrt … Drrrt … Drrrt …
Dito is Calling …
Tiba-tiba panggilan dari Dito memotong pembicaraan Nadia dan Mira. Nadia bergegas keluar kamar Mira dan mengangkat panggilan itu.
Mira berdiam di kamarnya sendirian.
Mencoba mencerna setiap perkataan kakaknya. Dia tak kalah penasaran, apa yang sebenarnya terjadi pada kakaknya; kenapa Nadia mengatakan dia dan Syarifah akan dalam bahaya?
“Kakak mau kemana malam-malam begini?” tanya Mira, melihat kakaknya sudah rapih. Nadia keluar kamarnya dengan buru-buru.
“Kakak ada perlu, kamu tetap di rumah sama Nenek.” Hanya itu yang Nadia ucapkan, lalu pergi meninggalkan Mira.
“Tapi, kak Nadia.” panggil Mira, namun Nadia tak menghiraukan panggilan Mira.
Mira merasa penasaran apa yang sebenarnya sedang terjadi pada kakaknya; Kenapa dia terlihat buru-buru setelah menerima telepon dari temannya; Apa ada yang sedang terjadi pada Alan. Mira diam memikirkan banyak hal.
Malam semakin larut. Jam di dinding rumah Mira menunjukan tengah malam. Suasana di luar rumah nampak sepi tak ada aktivitas, hanya suara binatang malam yang semakin kencang bersahutan.
Mira membuka kamar neneknya, disana terlihat seorang perempuan tua sudah tertidur dengan lelap. Mira keluar kamar, menutup pintu dengan pelan.
***
__ADS_1