
“Segala hal yang berkaitan dengan dunia hanya bersifat sementara”.
Angin sore berhembus begitu tenang menggoyangkan rerumputan. Udaranya sangat segar, kicauan burung menghias di pepohonan yang daunnya berterbangan tertiup angin.
Seorang perempuan kembali mengusap air matanya yang hampir jatuh. Dia nampak sedih memandang sebuah nama tertulis pada sebatang kayu.
Dia berkali-kali mengusap kayu yang berdiri menancap di gundukan tanah yang dihiasi taburan bunga bermacam-macam warna. Wanginya pun semerbak khas tercium.
“Kak Nadia. Kakak baik-baik disana. Mira akan jagain nenek.” Ucap Mira dengan posisi setengah duduk di depan pusara kakaknya.
Mira terus mengelus nisan kakanya dengan penuh kasih. Nadia Ghanisa Ali Rahman, nama kakanya tertulis sangat indah pada kayu nisan tersebut. Mira tak kuasa menahan kesedihannya, namun dia terus mencoba agar tidak menjatuhkan air matanya.
Yogi yang ada di sampingnya hanya diam melihat kakaknya. Lagi-lagi, Mira mengusap air matanya yang hendak jatuh, lalu dia memeluk adik bungsunya begitu hangat sebagai pelarian untuk membuang kesedihannya.
Ayah dan ibunya tidak mengizinkan Mira pergi sendiri untuk ziarah ke makam Nadia, jadi Mira mengajak adik laki-lakinya untuk menemani.
“Nad. Seperti permintaanmu, aku akan jagain Mira. Minggu depan kami akan menikah.” Ucap Alan yang ada di hadapannya. Mereka menaburkan bunga kemudian berdo’a bersama.
Mira terlihat cantik dengan menggunakan gamis hitam yang senada dengan kerudungnya. Sementara Alan nampak gagah dengan menggunakan kemeja berwarna dongker polos. Rambutnya ia sisir rapih ke samping kiri.
Setelah selesai, lalu mereka berdua pergi dari pemakaman itu. Mira melihat jam di punggung tangan kirinya, menunjukan pukul lima sore.
Tak ada tanda-tanda akan turun hujan. Cuaca sore itu masih terlihat cerah. Sisa cahaya matahari masih terlihat, meskipun hanya sebagian dengan warna memerah.
Minggu depan adalah hari pernikahan mereka. Tangga sudah ditentukan, dan persiapan sudah dilakukan. Sore itu, Mira begitupun Alan terlihat canggung untuk bicara.
“Mas Alan.” Sapa Mira sesampainya di parkiran menghentikan langkah Alan.
“Iya, ada apa?” Alan memutar tubuhnya memenuhi panggilan itu.
“Aku sama Yogi akan pulang naik taksi saja.” Ucap Mira.
“Kenapa? Aku bisa antar kamu pulang, kebetulan aku bawa mobil Om Indra.” Balas Alan. Mira hanya diam sambil menundukan kepalanya.
“Kak, ayo kita pulang,” Ajak Yogi. Hari semakin gelap, malam sebentar lagi tiba.
“Baik kalau begitu. Kamu tunggu disini, aku akan carikan taksi dulu.” Alan tidak mau memaksa Mira untuk mau pulang bersama dia menggunakan mobil Indra.
Alan belajar banyak pada Nia, setelah beberapa hari ini banyak peristiwa yang terjadi, Alan terlihat lebih tenang dan mampu mengontrol dirinya. Dia tahu, setiap orang punya prinsip yang harus dia hargai.
__ADS_1
Setelah mendapatkan taksi untuk Mira dan Yogi, Alan kembali ke parkiran untuk menemui mereka.
“Sebentar lagi gelap, aku akan mengikuti kamu dari belakang.” Ucap Alan. Mira hanya mengangguk.
Alan mengimbangi kecepatan Taksi yang dinaiki Mira dari belakang. Tak lama kemudian hari berubah gelap dengan sempurna. Malam telah tiba membawa gelapnya. Beberapa lampu jalan satu persatu di nyalakan untuk membantu pengguna jalan melintas. Diam-diam Mira melihat Alan dari kaca spion Taksi yang dia naiki.
Mamah is Calling …
“Hallo, mah.”
“Alan kamu ada dimana? Udah malam kok belum pulang?”
“Alan lagi antar Mira pulang, mah. Tadi habis ziarah ke Nadia.”
“Ya udah, hati-hati di jalan. Kalau udah, langsung pulang.”
“Calon penganten jangan keluyuran mulu.”
“Iya, mah.”
Nia terlihat sangat khawatir pada anaknya. Minggu depan adalah acara pernikahan pertama dalam keluarganya. Nia sangat berharap suaminya bisa datang untuk melihat pernikahan puteranya. Tapi, itu sesuatu yang tidak mungkin.
Mobil taksi itu berhenti tepat di depan halaman rumah Mira. Syarifah dan Rahmi terlihat sudah menunggu di depan pintu rumah. Alan keluar dari mobil mengantar Mira ke depan pintu.
“Mira, kamu kok naik taksi? Nggak bareng Alan,” Ucap Rahmi.
“Mas Alan kan belum menjadi suami Mira, bu” Balas Mira begitu polos.
“Minggu depan kalian akan menikah.” Rahmi tersenyum kecil.
“Itu kan minggu depan, bu.” Jawab Mira.
“Jadi kamu mau menikah sekarang?” Goda Rahmi.
“Ibuuu.” Ucap Mira menggerutu pada ibunya.
“Nggak apa-apa, bu. Yang penting Mira sampai rumah dengan selamat.” Tukas Alan.
Mira terlihat enggan melihat wajah Alan meskipun sesekali curi pandang dari sudut matanya.
__ADS_1
Minggu depan. Pemuda yang selama ini namanya ia simpan di Al-Qur’an miliknya akan menjadi imam dalam sholatnya. Akan menjadi teman selama sisa hidupnya.
Minggu depan. Pemuda yang merupakan kakak dari anak yang ia tabrak tempo hari akan menjadi suaminya.
“Alan mari masuk dulu, kita makan malam bersama.” Ajak Syarifah.
“Maaf, nek. Mamah minta aku cepat pulang.” Jawab Alan.
“Maklum, bu. Calon penganten, nggak boleh terlalu lama di luar.” Goda Rahmi. Alan berhasil dibuatnya salah tingkah, dia menggaruk kepalanya yang sebenarnya tidak gatal.
Tiba-tiba rintik hujan turun begitu tipis.
“Ya sudah, kamu hati-hati di jalan.” Ucap Syarifah. Kemudian Alan pergi dari rumah Mira.
“Mas Alan,” Belum sampai masuk mobil. Mira menghentikan langkah Alan dan berlari kecil menghampirinya sambil membawa sebuah bingkisan.
“Ada apa?” Kata Alan sambil menahan air hujan menggunakan tangannya. Dengan sigap, Alan menyambut kedatangan Mira, menahan air hujan yang jatuh mengenai kepala Mira menggunakan tangannya yang satunya.
“Ini ada bingkisan buat Mamah.” Ucap Mira sambil memberikan bingkisan itu pada Alan.
“Mamahnya siapa?” Balas Alan. Mira diam sejenak.
“Mamahnya Mas Alan lah.”
“Bukan Mamahnya kamu?” Mira hanya tersenyum begitu manis. Alan berhasil membuat Mira salah tingkah.
“Ya udah sekarang Mas Alan pulang, udah malam.” Mira mengganti tangan Alan untuk menahan air hujan di atas kepalanya. Sementara Alan hanya tersenyum.
“Jangan lupa minggu depan.” Tambah Mira.
“Emangnya minggu depan ada apa?” Goda Alan. Mira mengerutkan dahinya.
“Iya. Sampai jumpa minggu depan.” Balas Alan. Mira mengangkat kedua pipinya tersenyum begitu manis melepas Alan.
Malam semakin larut. Seketika hujan jatuh begitu deras membasahi jalanan kota Bandung. Udara malam itu semakin dingin ditambah dengan datangnya air hujan.
Semua itu mengingatkan akan sesuatu, bahwa segala yang berkaitan dengan dunia hanya bersifat sementara. Seperti cuaca siang yang cerah, berubah menjadi malam yang dingin diguyur hujan.
Seperti Mira yang semula orang asing, kini menjadi perempuan yang akan selalu menemani setiap langkah Alan.
__ADS_1