Terserah

Terserah
16 SEBELUM KATA MAAF


__ADS_3

“Ada banyak hal yang tidak sempurna di dunia ini, manusia adalah salah satunya”.


Menjelang malam, hujan masih terlihat sangat lebat mengguyur sebagian besar Kota Bandung. Gemuruhnya bagaikan suara ratusan kuda berlarian.


Jalan besar yang menjadi perlintasan kendaraan nampak sudah dipadati oleh berbagai kendaraan, berjalan dengan padat merayap menembus hujan lebat di sore menjelang malam itu.


Alan masih berada di rumah Nadia. Dia dan Syarifah merasa heran melihat Nadia yang tiba-tiba menangis setelah menghubungi Mira. Nadia terlihat sedang kebingungan harus berbuat apa, Alan mencoba menenangkan Nadia lalu kemudian bercerita.


“Kamu kenapa? Apa yang terjadi pada, Mira?” tanya Alan pada Nadia. Sementara Nadia masih menangis.


“Kenapa dengan Adik kamu?” Itu dari Syarifah.


Dia juga tak kalah penasaran setelah melihat cucunya menangis.


“Nenek harus pergi dari sini.” Ucap Nadia pada neneknya. Setelah mendengar ancaman dari laki-laki yang angkat telepon, Nadia khawatirkan keselamatan neneknya.


Alan semakin penasaran. Tak biasanya dia sepenasaran itu pada sesuatu, dan tak biasanya dia sepeduli itu pada kehidupan Nadia. Alan ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi pada Mira dan keluarga Nadia.


“Kamu kenapa? Apa yang sebenarnya terjadi?” Alan kembali bertanya pada Nadia.


“Memangnya kamu masih percaya sama aku?” Jawab Nadia. Alan hanya diam mendengar ucapan Nadia.


Nadia bergegas pergi ke dalam kamarnya untuk mengambil beberapa barang keperluan neneknya. Tak lama setelah itu, Nadia keluar dengan membawa tas kecil.


“Kita mau kemana?” Tukas Syarifah. Suara rintik hujan kian bergemuruh, semakin kencang dan lebat.


“Kalau mau, nenek kamu bisa dibawa ke rumah aku.” Usul Alan. Nadia diam sejenak, dia nampak ragu, tapi tidak ada pilihan lain. Jika mencari penginapan dalam keadaan hujan tentu tidak mungkin, dia khawatir dengan kondisi neneknya.


“Baiklah.” Ucap Nadia setelah berpikir keras.


“Aku mau cari taksi. Kamu tunggu disini.” Kata Alan.


Lalu dia pergi keluar rumah dalam keadaan hujan besar.

__ADS_1


“Pakai ini,” Nadia memberikan payung pada Alan. Kemudian Alan pergi keluar untuk mencari taksi.


BRAAKK, tidak lama setelah Alan pergi, sebuah bingkisan besar berhasil menembus kaca jendela rumah Nadia. Bingkisan itu dilumuri darah sehingga berwarna merah.


Nadia meraih dan membuka bingkisan itu secara perlahan, firasatnya sudah tidak sangat baik. Setelah terbuka, Nadia dan Syarifah berteriak hampir bersamaan. Disana ada bangkai seekor kelinci yang sudah berlumur darah diikat bersama dengan foto mereka dan Mira.


Petir kian menyambar bersamaan teriakan Nadia. Dia mengira, bingkisan itu adalah hadiah yang dimaksud oleh laki-laki dalam telepon.


“Ada apa?” Itu dari Alan. Dia melihat sebuah bingkisan yang ada di hadapan Nadia dan Syarifah. Alan tak kalah terkejut melihat itu. Dia keluar rumah memutar kepalanya mencari pemberi hadiah itu, tapi dia tidak menemukan siapapun.


“Ayo kita pergi dari sini.” Kemudian mereka bertiga masuk ke dalam taksi menuju rumah Alan.


Hari sudah mulai gelap dengan sempurna. Hujan semakin lebat mengguyur jalanan. Taksi itu melaju begitu pelan menyusuri jalanan licin yang sudah basah dijatuhi air hujan.


Alan meninggalkan sepeda motornya di halaman depan rumah Nadia, dan pergi bersama menggunakan Taksi. Sebelumnya, Alan sudah memberi kabar pada Nia bahwa dia bersama Nadia akan ke rumah.


Tak lama kemudian, mereka sampai di rumah Alan. Taksi itu berhenti tepat di depan rumahnya. Dari kaca mobil terlihat Nia menghampiri Taksi dengan membawa dua payung.


Setelah membayar ongkos taksi, kemudian mereka berempat masuk ke dalam rumah. Nia menuntun Syarifah dengan penuh kepedulian. Dia saling pandang dengan anak laki-lakinya penuh makna.


Syarifah nampak kedinginan. Dia terlihat masih shock dengan kejadian yang baru saja terjadi di rumahnya. Fotonya bersama kedua cucunya yang berlumur darah bangkai kelinci, masih ada dalam ingatannya.


Pandangannya nampak kosong dan tubuhnya menggigil. Nadia memeluk neneknya begitu erat. Dia merasa tidak tega melihat keadaan Syarifah.


“Ibu, silahkan tehnya diminum dulu.” Ucap Nia sambil mengangkat gelas yang berisi teh hangat buatannya. Tubuh Syarifah masih menggigil, mukanya terlihat pucat.


“Nadia. Nenek kamu kedinginan. Lebih baik kita pindahkan ke kamar tante. Biarkan dia istirahat.” kata Nia penuh dengan kepedulian. Nadia hanya mengangguk, lalu mereka membawa Syarifah ke kamar Nia. Alan diam sejenak melihat perilaku mamahnya pada Nadia.


Ikhlas yang diucapkan oleh ibunya pagi itu memang benar, bukan hanya kata keluar dari bibir saja, tapi tulus dari hatinya.


Setelah membawa Syarifah ke dalam kamarnya, lalu Nia keluar meninggalkan Nadia bersama Neneknya. Nadia terlihat sangat menyayangi Syarifah. Dia terus menggenggam tangan neneknya yang sudah keriput.


“Biarkan Nadia bersama Neneknya.” Ucap Nia pada Alan setelah keluar dari kamarnya.

__ADS_1


“Iya, mah.” Jawab Alan.


“Via mana, mah?” tanya Alan. Sejak sampai di rumah, dia belum melihat adik perempuannya itu.


“Dia sudah tidur. Tadi dia ketakutan karena ada petir, jadi mamah temenin dia di kamar.” Jelas Nia. Alan hanya mengangguk.


“Lan. Apa yang sebenarnya terjadi pada Nadia?” tanya Nia penasaran.


“Alan juga tidak tahu pasti, mah. Nadia menangis setelah menelepon Mira. Lalu ada orang yang melempar bangkai kelinci ke dalam rumahnya, dan ada foto mereka di situ.” Jelas Alan. Nia nampak terkejut dan prihatin.


Alan tak tega memberitahu ibunya, bahwa sebenarnya Mira diculik.


“Apa mungkin ada yang menteror Nadia,” Ucap Nia mencoba menebak.


“Mungkin saja. Tapi yang pasti, Nadia seperti menyembunyikan sesuatu.” Balas Alan.


Malam semakin larut. Tapi hujan masih terdengar sangat lebat. Nia pergi ke kamar Via untuk menemani anaknya. Dia khawatir tiba-tiba Via bangun.


Sementara itu, Alan terlihat sangat lelah malam itu. dia menjatuhkan tubuhnya ke sofa ruang tamu. Tiba-tiba dia tidak sengaja menemukan ponsel Nadia yang tertinggal di ruang tamu. Alan mengambilnya lalu menuju kamar Nia untuk mengembalikan ponsel Nadia.


Om Indra is Calling …


Tiba-tiba langkah Alan terhenti melihat nama di notifikasi panggilan ponsel Nadia.


“Om Indra?” Lirih Alan begitu pelan.


“Kamu jadi ke rumah Alan?"


"Kalo sudah sampe kabarin, Om."


Setelah panggilannya tidak di angkat, Indra mengirim beberapa pesan singkat. Hal itu membuat Alan tahu, Nadia memberitahu Indra kalau dia akan ke rumah Alan.


Seketika peristiwa saat Alan memergoki perselingkuhan Nadia bersama Ayahnya terlintas di pikiran Alan. Dia terlihat sangat terkejut. Wajahnya memperlihatkan kekecewaan yang begitu dalam. Alan mengurungkan niatnya ke kamar Nia, dan kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa.

__ADS_1


"Maaf Om baru balas," pesan dari Indra.


***


__ADS_2