Terserah

Terserah
BAB 4


__ADS_3

Alaeina tersenyum smirk melihat sikap Dicky. Gisel benar-benar merasa terganggu dengan perubahannya, apalagi melihat reaksi dari Dicky.


"Maaf aku buruh-buruh," ujar Al memutus percakapan karena dirinya tahu tidak akan selesai bila berurusan dengan kedua orang itu. Dengan menaiki tangga cepat menuju kamarnya.


"Al tunggu!" Melihat itu Dicky kesal dia meninggalkan Gisel mengikuti Al.


Al tak peduli dia semakin mempercepat langkahnya agar cepat sampai kamarnya. Meski Dicky sudah menaikkan satu oktaf suara memanggil namanya.


Al cekikikan semakin menggoda Dicky, dia merasa puas membuat Dicky kelabakan. Dan Dicky tak terima entah mengapa sikap Al sungguh mengganggu baginya.


Al segera meraih gagang pintu kamar membuka segera masuk.


Eh?


Pintu tertahan tak bisa tertutup ternyata terganjal oleh kaki Dicky. Disini terjadi adegan saling dorong. Dimana Al terdorong tenaga kalah telak oleh tenaga Dicky, membuat Dicky berhasil masuk kedalam kamarnya.

__ADS_1


"Rupanya sekarang kamu berani melawan," kesal Dicky dengan mengunci pintu kamar Al.


Al tahu itu mulai ada rasa was-was dan cemas. Dia menelan ludahnya paksa terasa berat tercekat ditenggorokan. Apalagi melihat Dicky mencabut kunci dari lubang dimasukan saku celananya.


"A-apa yang sedang kamu lakukan? Kembalikan kunci itu, dan cepat pergi." Al mencoba mengusir Dicky.


Dicky tersenyum dengan tatapan yang sangat tajam. Al yang melihat bergidik ngeri segera dirinya berbalik menuju kamar mandi namun dengan cepat Dicky meraih tangan Al dan merengkuh erat pinggangnya.


"Le-pas!" Dia merontah bukannya dilepaskan oleh Dicky justru semakin erat Dicky merengkuh, sehingga membuat mereka sekarang tidak berjarak.


Wajah mereka begitu dekat mereka dapat saling merasakan hembusan hangat nafas masing-masing menerpa kulit wajah mereka.


Cup.


Dicky mencium Al membola matanya dia terkejut yang mendapatkan serangan secara tiba-tiba tak sempat dirinya menghindar. Cukup lama ciuman itu membuat Al kehabisan nafas dengan meremas kemeja dicky dibagian dada, merasakan itu Dicky segera melepaskan tautan itu.

__ADS_1


Dicky melihat Dada Al naik turun terasa kembang kempis, mencoba menghirup udara mengisih pasokan oksigen didadanya yang terasa sudah kosong.


Tiba-tiba merasakan perasaan bersalah dari Dicky, tapi kembali teringat sikap pembangkang dari Al Dicky kembali kesal.


"Jangan pernah membantahku!" peringatnya dengan mendorong tubuh Al menjauh darinya. Kemudian dia berlalu pergi dari kamar Al. Al hanya bisa diam seribu bahasa melihat Dicky menghilang dari balik pintu.


****


Sebuah mobil mewah berwarna hitam memasuki area berhenti didepan sebuah panti asuhan sinar kasih. Terlihat turun dari mobil itu. seorang pria yang berusia sekitar 40 tahunan. Penampilannya sungguh waow dan auranya sungguh berwibawah. Berjalan dengan begitu gagah. Dengan setelan formal khas bisnisman.


Musik segera dimainkan menyambut kehadiran tamu spesial. Ibu panti datang menyambut.


"Selamat datang tuan!" dengan menjabat tangan pria itu. Kemudian maju seorang anak panti memberikan buket bunga pada pria itu.


Pria itu tersenyum menerimanya kemudian berdiri mensejajarkan posisinya setinggi anak kecil itu. Terlihat mereka saling berkenalan suasana itu terasa mengharukan. Meski pria itu dari kalangan atas namun sikap yang ditunjukan begitu hangat.

__ADS_1


Gilberto sungguh kagum akan sambutan yang mereka lakukan untuk menyambutnya. Sederhana tapi menyiratkan arti keluarga, kebersamaan.


"Apakah ini semua kalian yang lakukan?"


__ADS_2