Terserah

Terserah
15 MALAPETAKA SEBELUM HUJAN


__ADS_3

“Matahari tidak akan muncul di malam hari, tapi bulan memberikan keindahan yang tak jauh berbeda”.


Pagi itu, Alan menghentikan sepeda motornya di parkiran belakang kampusnya. Selama perjalanan dia terus memikirkan mengenai mimpinya tentang Mira semalam.


Alan terlihat sangat khawatir sekaligus penasaran. Semalaman dia mencoba untuk bersikap tidak peduli dengan mimpinya itu, tapi dia tidak bisa. Alan merasa penasaran; kenapa tiba-tiba dia mimpi seperti itu tentang Mira.


Cuaca pagi terlihat cerah. Warna langit di atap sekitar kampusnya biru cerah. Awan di langit menggumpal membentuk berbagai macam benda.


Sesampainya di kelas, dia tidak melihat Dito. Alan pergi ke kantin kampus untuk mencari sahabatnya, namun di kantin dia juga tidak melihat Dito disana. Kemudian Alan mencoba menghubunginya, tapi Dito malah mematikan panggilan dari Alan.


“Kenapa ini bocah,” Gumamnya sambil terus mencoba menghubungi Dito, tapi dia kembali mematikan panggilan Alan.


Alan kembali ke kelasnya. Tiba-tiba pelajaran pertama berjalan begitu lama bagi Alan pagi itu, mimpinya semalam terus melintas ke dalam pikirannya. Dia terus memikirkan Mira.


“Apaan sih ini,” Teriak Alan di tengah-tengah pelajaran sedang berlangsung.


Tentu saja itu mencuri perhatian isi ruangan, termasuk dosen yang sedang menjelaskan materinya. Semua mata mengarah ke Alan yang duduk di kursi pojok belakang.


“Kamu kenapa, Alan?” Kata dosen yang merasa penyampaiannya terpotong oleh teriakan Alan.


“Tidak apa-apa, Pak.” Ucap Alan kebingungan.


“Lalu apa maksud perkataanmu barusan? Kamu tidak suka dengan materi saya?” Tambah dosen tersebut.


“Bukan begitu, Pak …” Balas Alan.


“Silahkan kamu keluar sekarag juga.” Potong dosen tersebut dengan tegas.


“Tapi, Pak.”


“Alan. Keluar,” Alan menutup bukunya dan keluar membawa tasnya. Mata teman-temannya mengiring langkah Alan keluar dari ruangan.


Ini pengalaman pertama bagi Alan selama dia kuliah. Dikeluarkan oleh dosen tanpa diberi kesempatan untuk menjelaskan.


Dia terlihat kesal. Cuaca pagi yang cerah tak sama dengan suasana hati dan pikiran Alan hari itu. Setelah semalaman dibuat tidak bisa tidur, dan ditambah dengan dikeluarkan dari kelas, membuat Alan geram.


“Mira,” Lirihnya.


Dia mengambil ponselnya lalu menelpon Alin.


“Hallo, Alin.” Panggil Alan.


“Iya, mas. Ada apa?” Balas seorang perempuan dari balik layar ponsel.


“Kamu lagi di kampus apa nggak?” Ucap Alan.

__ADS_1


“Iya, ini Alin lagi di kelas. Kenapa, mas?” Balas Alin, terdengar beberapa suara teman-temannya.


“Mas mau tanya, temen kamu yang waktu itu ada nggak?” Tanya Alan, to the point.


“Maksud Mas Alan, Mira?” Jawab Alin memastikan.


“Iya, dia ada nggak? Mas mau bicara sebentar,” Balas Alan nampak ragu.


“Hari ini Mira nggak masuk, mas. Alin juga nggak tau, biasanya dia rajin.” Jelas Alin.


“Memangnya ada apa, Mas?” Tambah Alin, penasaran.


“Bukan apa-apa ko. Ya sudah makasih yah.” Ucap Alan terlihat kecewa.


“Ciee ... Mas Alan suka sama temen Alin,” Goda Alin pada Alan. Sementara Alan hanya tersenyum kecil.


“Dia perempuan yang baik, dan banyak yang suka lho, Mas.” Tambah Alin, menggoda.


“Ya sudah, nanti Mas telepon kamu lagi. Kamu belajar yang bener.” Ucap Alan mencoba mengalihkan pembicaraan.


“Siap, mas. Nanti Alin sampaikan ke Mira kalo Mas Alan nyariin, hehe.” Kemudian Alin mematikan panggilannya.


Mendengar itu, Alan berlari kecil menuju parkiran belakang dimana sepeda motornya berada. Dia menancap gas pergi menuju rumah Nadia untuk menemui Mira.


“Assalamu’alaikum,” Ucap Alan. Tidak lama kemudian terdengar suara langkah kaki mendekat dari balik pintu.


“Wa’alaikumsalam.” Syarifah membuka pintu itu dan menyambut Alan begitu ramah.


“Nadia nya belum pulang, dek.” Tambah perempuan tua itu, menebak. Alan diam sejenak, selama di kampus dia juga tidak melihat Nadia.


“Bukan, nek. Aku mencari Mira. Apa dia ada di rumah?” Balas Alan menjelaskan tujuannya.


“Dia tidak ada, sepertinya ikut kakaknya.” Jelas Syarifah pada Alan.


“Tunggu saja, mari masuk. Sebentar lagi juga kayanya mereka pulang.” Tambah Syarifah sambil memperlihatkan jam di dinding ruang tamu yang menunjukan pukul 10 siang. Alan hanya mengangguk.


“Baik, nek.” Alan masuk ke dalam rumah dan duduk di ruang tamu.


Menjelang sore cuaca di luar berubah menjadi gelap. Warna langit sekitar rumah berubah menjadi abu-abu pekat. Gumpalan awan di atap rumah seperti siap menjatuhkan hujan dengan sangat deras.


Alan kembali melihat jam di punggung tangannya sudah menunjukan pukul 1 lebih. Tiga jam sudah dia menunggu di rumah Mira. Teh dihadapannya yang sudah dia minum separuh berubah menjadi dingin.


“Kemana mereka, jam segini belum juga pulang.” Itu dari Syarifah keluar dari kamarnya, setelah meninggalkan Alan untuk menunaikan sholat dzuhur.


“Memangnya mereka kemana, nek?” Ucap Alan.

__ADS_1


“Nenek tidak tahu. Sejak pagi nenek tidak melihat mereka berdua.” Jelas Syarifah.


“Tapi, tadi pagi Nadia telepon katanya dia akan pulang sore.” Tambah Syarifah. Kini wajahnya terlihat cemas memikirkan keadaan kedua cucunya.


Alan mencoba menghubungi Dito, tapi ponselnya tidak aktif. Lalu dia mencoba menghubungi Nadia. Alan nampak ragu setelah mengingat perlakuannya hari itu.


“Assalamu’alaikum,” Suara seorang perempuan dari balik pintu.


“Wa’alaikumsalam.” Jawab Syarifah dan Alan hampir berbarengan.


Ternyata itu Nadia. Alan langsung berdiri dari tempat duduknya melihat Nadia di depan pintu. Mungkin dia sudah tahu setelah melihat sepeda motor Alan terparkir di depan halaman rumahnya.


“Mau apa kamu disini?” tanya Nadia pada Alan.


“Adik kamu mana?” Tukas Syarifah.


“Nadia nggak tahu, memangnya dia kemana?” Ucap Nadia.


“Dari pagi dia tidak ada di kamarnya, nenek kira ikut kamu.” Jelas Syarifah nampak cemas.


Melihat neneknya, Nadia kemudian mengambil ponselnya di tas kecilnya. Lalu dia menelpon Mira untuk mengetahui keberadaannya. Namun tidak diangkat oleh Mira. Nadia mencobanya lagi, tetap tidak diangkat oleh Mira. Kemudian Nadia mencobanya sekali lagi, dan akhirnya diangkat.


“Lo mau main-main sama gue?” Ucap seorang laki-laki dari balik layar ponsel.


“Maksud, lo apa? Mana adik gue?” Ucap Nadia setelah mendengar suara laki-laki dari telepon adiknya. Dia seperti sudah mengenal siapa pemilik suara itu.


“Lo pikir gue goblok. Adik lo ada sama gue, kalo lo main-main, gue bisa balikin adik lo tanpa nyawanya.” Tegas laki-laki itu mengancam Nadia.


“Tolong jangan apa-apakan adik gue. Gue akan turutin semua kemauan, lo.” Laki-laki itu tertawa begitu renyah. Nadia terlihat begitu khawatir. Alan yang mendengar itu merasa penasaran.


“Memang harus begitu. Lo cuma budak gue, jadi jangan macam-macam. Nyawa adik lo ada di tangan gue.” Ucap laki-laki itu lagi, kembali mengancam.


“Please, balikin adik gue.” Ucap Nadia memohon. Laki-laki itu kembali tertawa.


“Adik lo udah terlanjur tahu semuanya. Gue mau kasih dia hadiah dulu, dan gue juga udah kirim nenek tua lo itu hadiah.” Lalu laki-laki itu mematikan panggilannya sepihak.


Air mata Nadia jatuh membasahi wajahnya, dia melihat wajah neneknya dalam-dalam. Dia terlihat sangat menyayangi adik dan neneknya.


Dia terihat kebingungan tidak tahu harus berbuat apa. Hal itu membuat Alan dan Syarifah merasa penasaran. Bersamaan dengan itu, hujan yang begitu lebat menjatuhi tanah di sekitar rumah Nadia.


“Ada apa, Nad?” Itu dari Alan.


"Mira diculik," kata Nadia.


***

__ADS_1


__ADS_2