
“Maafkan aku, menikahlah denganku. Jadilah bagian dari orang yang akan selalu aku jaga”.
Sesampainya di rumah sakit. Beberapa petugas dengan sigap menghampiri mobil Indra sambil membawa brankar dorong untuk Nadia, kemudian langsung di bawa ke dalam.
Indra mengikuti dari belakang membantu mendorong, Nadia di bawa ke ruang ICU. Sementara Mira menggunakan kursi roda, didorong oleh Alan mengikuti dari belakang.
Mira di bawa ke ruangan yang berbeda untuk segera ditangani. Wajah Mira terlihat pucat dan lemas. Dia terus menangis dengan suara serak, air matanya tidak keluar sudah habis.
“Aku mau lihat kak Nadia.” Ucap Mira dengan suara seadanya.
“Kamu harus diobati dulu,” kata Alan mencoba menenangkan.
“Aku nggak mau. Bawa aku ke kak Nadia, Mas.” Pinta Mira sambil menangis.
“Aku mau lihat kak Nadia.” Mira terus merengek minta dibawa ke ruangan Nadia. Alan tidak tega melihat keadaan Mira.
“Suster, biarkan aku bawa dia ke kakaknya.” Ucap Alan pada seorang perawat yang belum selesai memasang infus.
"Baik Mas, kalo bisa jangan lama-lama ya," balas perawat itu. Alan hanya mengangguk.
Kemudian dengan cepat Alan membawa Mira ke ruangan Nadia ditemani seorang perawat menggunakan kursi roda. Dari kejauhan Indra nampak sedang menunggu di depan ruangan.
“Bagaimana keadaan Nadia, Om?” Ucap Alan.
“Dia masih ditangani.” Balas Indra.
Indra tak kalah cemas, wajahnya menggambarkan kepedulian pada kakak dari teman anaknya.
Tak lama dokter bersama dua orang perawat keluar dari ruangan. Alan dan Mira langsung menghampiri mereka.
“Bagaimana keadaan pasien, dok?” Alan terlihat cemas, begitupun juga dengan Mira dan Indra.
__ADS_1
“Kami minta maaf. Pasien tidak bisa diselamatkan. Dia mengalami luka sayatan yang cukup dalam hingga mengenai organ vital didadanya. Hal itu juga membuat pasien kehabisan darah.” Jelas dokter dengan wajah lesu.
“Kak Nadia.” Teriak Mira dengan suara serak. Reflek, Alan memeluk Mira yang masih duduk di kursi roda. Mira terlihat sangat lemas.
Isak tangis Mira memecah keheningan sekitar ruangan ICU. Dia terlihat sangat terpukul mendengar perkataan dokter tersebut. Alan masih memeluknya, suara tangis Mira perlahan menghilang tidak terdengar, Mira tidak sadar.
“Mira?” Panggil Alan. Baju Alan basah oleh sisa air mata Mira. Alan terus memanggilnya, namun tetap tidak ada jawaban dari Mira. Dia pinsan.
Adzan subuh baru saja selesai. Suasana rumah sakit masih begitu sepi. Beberapa petugas silih berganti keluar dari masjid rumah sakit tersebut.
Ini adalah rumah sakit saat Via dirawat karena kecelakan dulu. Rumah sakit yang cukup banyak menyimpan kenangan Alan bersama Mira.
Perlahan sinar matahari terbit dari ufuk timur. Cahaya keemasannya mulai menyinari halaman rumah sakit, dan menghangatkan setiap ruangan pasien. Satu persatu lampu di rumah sakit itu dimatikan.
Pagi berlalu dengan cepat. Tak terasa jam di dinding ruangan Mira menunjukan pukul Sembilan lebih.
Mira masih belum sadar, tapi pakaiannya sudah di ganti dengan pakaian rumah sakit oleh perawat. Selang infus masih terpasang, wajahnya mulai lebih segar dari sebelumnya. Namun, matanya masih terlihat merah kehitaman karena terlalu banyak mengeluarkan air mata.
Tiba-tiba Alan bangun dari tidurnya. Dihadapanya ada Mira yang masih memejamkan matanya. Dia mengusap matanya, melihat wajah Mira dalam-dalam, mengingat setiap kejadian yang pernah mereka lalui.
Pertemuan pertama saat di rumah sakit ini. Alan sedikit tersenyum begitu kecil saat mengingatnya.
Wajah Mira nampak teduh, Alan tidak habis memandang wajah Mira. Tiba-tiba seekor lalat hinggap di pipi lembut Mira, Alan mencoba mengusirnya namun lalat itu tetap di tempatnya.
“Hushh, pergi. Tau aja tempat yang nyaman.” Ucapnya, tapi lalat itu masih di posisinya.
Alan memutar matanya untuk memastikan tidak ada orang, lalu dia mencoba mengambil lalat itu. Tapi, belum sampai menyentuh kulit pipi Mira, tiba-tiba Mira perlahan membuka matanya. Alan dengan cepat menarik kembali tangannya.
“Mas Alan.” Mira melihat Alan sudah ada dihadapannya.
“Keadaan kamu gimana? Mana yang sakit?” Ucap Alan.
__ADS_1
“Aku udah nggak apa-apa ko, Mas.” Jawab Mira dengan wajah lesu. Dia memalingkan wajahnya dari Alan. Alan menghela napasnya.
“Kakak kamu sudah dimakamkan. Kasihan kalo dibiarkan lama-lama. Om Indra sudah mengurus semuanya. Nenek kamu dan Mamah juga ikut bersama Om Indra mengurus pemakaman kakak kamu.” Jelas Alan. Air mata Mira kembali mengalir tanpa suara.
Pagi itu cuaca nampak cerah. Cahaya matahari menerobos masuk ke dalam ruangan Mira hingga suasana terasa hangat.
Mira masih dalam posisinya, membelakangi Alan yang duduk di samping ranjang.
“Mira,” Panggil Alan.
“Kak Nadia perempuan yang kuat. Dia sangat peduli pada keluarganya, meskipun dia selalu marah-marah sama aku, tapi aku tahu dia sangat peduli padaku. Dia idola aku. Kak Nadia seperti matahari buat aku.” Ucap Mira sambil menahan isak tangisnya. Dia terus memalingkan wajahnya dari Alan.
“Aku minta maaf, selama ini udah jahat pada kalian. Aku menyesal. Kamu berhak membenci aku.” Kata Alan penuh dengan rasa bersalah.
“Kak Nadia tidak pernah mangajari itu padaku.” Alan terdiam mendengar ucapan Mira.
Selama ini dia cuek pada Nadia karena kecewa dan marah setelah tahu apa yang Nadia lakukan dengan ayahnya tanpa mencari alasan Nadia melakukan itu semua. Ternyata ini semua adalah kelakuan sahabatnya sendiri yaitu, Dito.
“Pada saat malam terakhir aku bicara dengan dia. Kak Nadia terlihat sangat mencintai kamu, Mas. Sebelumnya, dia tidak pernah bicara tentang laki-laki padaku. Malam itu Kak Nadia terlihat sedang banyak beban pikiran. Dia dibenci oleh orang yang dia sayang, dengan alasan yang tidak pernah dia lakukan. Tapi, dia tidak bisa memberitahu hal yang sebenarnya karena keselamatan adik dan neneknya yang akan menjadi taruhan.” Jelas Mira sambil menahan kesedihannya.
“Apa kamu tidak pernah memikirkan itu? Orang lain juga bisa sangat mencintai keluarganya seperti kamu.” Tambah Mira sejenak memandang wajah Alan lalu kembali membuang wajahnya.
“Mira. Aku sadar aku salah. Izinkan aku membayar semua kesalahanku,” Alan terlihat sangat bersalah.
“Dengan apa?” Mira kembali memandang wajah Alan yang tiba-tiba terlihat teduh penuh dengan ketulusan.
“Menikahimu.” Ucap Alan dengan tegas.
“Menikahlah denganku, Mira.” Tambah Alan. Mira terdiam mendengar ucapan Alan, dia kembali memalingkan wajahnya menjauh dari tatapan mata Alan.
Suasana ruangan itu seketika terasa begitu lengang, hanya suara detik jam di dinding yang menghiasi keheningan ruangan Mira.
__ADS_1
***