
Lantai yang kotor, kaca yang berdebu, serta hal-hal menyebalkan lainnya adalah hal yang pertama kali Rallin lihat ketika ia turun dari mobil menuju rumah barunya. Benar, rumah baru. Rumah yang dibeli ibunya sekitar sebulan lalu sebagai hadiah ulang tahun namun baru sempat ia kunjungi hari ini karena kesibukannya yang benar-benar padat.
Ini diluar ekspetasinya. Dilihat dari sisi mana pun, ini benar-benar di luar ekpsetasinya.
Ibunya, Naila Adiwijaya, mengatakan bahwa rumah yang akan Rallin tempati adalah rumah layak huni dengan lingkungan yang nyaman. Sang ibu bahkan mengatakan dengan semangat bahwa ia pasti akan benar-benar menyukai rumah barunya. Tapi nyatanya?
Rallin menghela napas, memilih untuk pasrah. Sudahlah. Lagipula, ekspektasi memang jarang sekali yang sesuai dengan realita, kan? Rallin akan menelepon ibunya nanti untuk mengeluarkan kekesalan yang sudah dirasakannya sejak beberapa menit lalu. Oh, bukan berarti ia tak menghargai apa yang sudah sang bu berikan padanya. Hanya saja... Sudahlah, lagi pula Rallin mengatakan kalau dirinya sudah pasrah, kan?
Yang perlu ia lakukan sekarang hanyalah membersihkan seluruh bagian rumah yang bahkan tak memiliki pagar tersebut dengan sisa tenaga yang dirinya miliki. Rallin bahkan tak yakin masih memiliki sisa tenaga mengingat pekerjaan yang dikerjakannya benar-benar telah menguras semuanya.
Menghela napas lagi, Rallin memutuskan untuk mengambil kunci rumah dari dalam tas dan mulai membuka pintu. Namun—
"Kau perlu bantuan?"
—perempuan itu hampir saja mengayunkan tas yang ada dalam genggaman tangannya ketika mendengar suara dari arah belakang. Ia mengusap dadanya, menatap nyalang seorang lelaki yang kini tengah memamerkan senyum tipis ke arahnya.
__ADS_1
Sial*n! Jantungnya hampir saja terlepas dari tempatnya.
"Oh, apa aku mengagetkanmu?" tanya lelaki itu dengan raut wajah bersalah.
Rallin menggeleng dengan dada naik turun seolah ia sudah lari marathon sejauh sepuluh kilo meter. "S*al— ah, maksudku sedikit. Kau sedikit mengagetkanku," jawabnya dengan senyum kaku. Ingin sekali memukul bibirnya sendiri karena hampir mengumpati orang baik hati yang menawarkan bantuan padanya.
Rallin berjalan memasuki rumah, sepasang bola mata berwarna hijaunya terlihat berpendar meneliti setiap sudut yang terlihat.
Ini buruk. Sangat buruk.
"Aku rasa ini perlu tenaga ekstra untuk membersihkannya."
"Brengs*k! Kenapa kau mengikutiku!" Oke, mulut manis Rallin kembali berulah. Mulutnya memang gemar sekali berulah, apalagi jika ia merasa terkejut. "Maaf aku mengumpatimu. Aku hanya kaget," jelas Rallin cepat seraya menggaruk pipinya. Lagipula, kenapa ia tak mendengar langkah kaki lelaki berparas tampan itu?
Tampan? Ya, Rallin mengakui itu. Lelaki aneh yang mengikutinya itu memang memiliki paras diatas rata-rata.
__ADS_1
Tubuh jangkung dengan kulit putih, hidung yang mancung, bibir tipis, serta lesung pipit yang akan terlihat di kedua pipinya ketika tersenyum. Lalu yang paling penting dari semua hal yang Rallin sebutkan di atas adalah, kedua bola mata segelap langit malam yang mampu menghipnotis siapapun ketika menatapnya—kecuali dirinya.
"Rumah ini sudah ditinggalkan cukup lama, jadi wajar jika terlihat kotor." Lelaki itu kembali bersuara, sama sekali tak terpengaruh oleh umpatan yang dilayangkan Rallin beberapa saat lalu. "Jadi, selamat bersih-bersih, Nona. Jika kau memerlukan bantuan, kau bisa memanggilku. Rumahku tepat di samping rumah ini," jelas lelaki itu dengan kekehan pelan yang terdengar menyebalkan di indera pendengaran Rallin.
Lelaki aneh yang sialnya sangat tampan itu mulai melangkahkan kakinya santai dengan tatapan Rallin yang setia mengikuti, terlihat tengah berperang dengan pikirannya sendiri.
"Hei, aku rasa aku benar-benar membutuhkan tenaga ekstra untuk membersihkan rumah si*lan ini." Lelaki itu menghentikan langkahnya ketika Rallin membuka suara. "Jadi, maukah kau membantuku?" tanyanya dengan nada memelas.
Lelaki itu mengulum senyum, berbalik untuk menatap wanita yang memiliki sepasang mata indah itu lewat bahunya. "Tentu," katanya yakin.
.
.
.
__ADS_1
Tbc.