
Untuk menghilangkan nama 'Rallin' yang memenuhi hampir seluruh ruang kosong yang ada di kepalanya, Naveen memutuskan untuk berguling-guling di atas tempat tidur dengan gerakan tak beraturan. Bantal dan guling tergeletak mengenaskan di atas lantai, selimut tebal sudah Naveen lempar dengan kesal ke arah sofa yang ada di sudut kamarnya. Tempat tidur yang tadinya rapi, kini porak poranda seolah telah dilanda badai yang sangat besar.
Entah apa yang terjadi dengannya, tapi ia terus memikirkan gadis bermata indah yang baru beberapa kali ditemuinya itu. Mereka bahkan tak pernah benar-benar berbincang serius! Astaga.
Untuk kesekian kalinya, Naveen menjambak rambutnya. Kembali merasa frustasi atas apa yang terjadi dengan dirinya sendiri. Naveen yakin ada yang salah—sangat salah di sini. Selama ini Naveen tak mudah tertarik dengan lawan jenis. Oke, Rallin memang gadis yang sangat cantik, memiliki bentuk tubuh aduhai dengan bola mata berwarna hijau serta rambut merah mudanya yang unik. Sikap menyenangkan Rallin ketika diajak bicara juga menjadi hal lebih di pandangan Naveen.Tapi itu semua tak lantas membuat Naveen menyukai Rallin begitu saja.
Tapi sekarang? Naveen ingin sekali mengumpati dirinya sendiri dengan keras. Tidak mungkin 'kan kalau ia menyukai Rallin di saat ia benar-benar mencintai Ayana, perempuan cantik yang ia dapatkan dengan susah payah?
Ah, Sial*n!
Bagus sekali, Naveen! Sekarang kau berubah menjadi lelaki brengsek yang melupakan kekasihnya sendiri. Ia mengacungkan jari tengahnya pada dirinya sendiri.
Naveen mulai mencari ponsel yang entah di mana ia telantarkan begitu saja. Ia harus segera menghubungi Ayana dan menanyakan kabar perempuan yang sudah dari kemarin sama sekali tak ia hubungi dan juga menghubunginya.
"Ayana, akhir pekan ini kita pergi berkencan, oke?" kata Naveen menyemangati dirinya sendiri.
.
__ADS_1
.
.
"Aku akan pindah akhir pekan ini."
Rallin merebahkan tubuh berbalut celana pendek selutut serta baju tanpa lengannya di atas tempat tidur Reiner. Manik emerald-nya tampak fokus memperhatikan punggung lebar nan tegap yang kini membelakanginya—duduk di depan meja kerja yang letaknya tak jauh dari tempat tidur seraya memeriksa beberapa berkas yang Rallin tak tahu itu apa.
"Baiklah. Jika aku tidak sibuk, aku akan ke sana."
"Kau harus," tegas Rallin.
Rallin merubah posisinya menjadi duduk bersila di tengah tempat tidur ketika Reiner berjalan mendekat ke arahnya. Melepaskan kacamata baca yang bertengger manis di hidung mancungnya dan duduk di tepi kasur.
"Dan sebentar lagi aku akan mati karena kesepian setelah kau pindah dari sini, " lanjutnya. Wajah Reiner terlihat bersedih, tapi Rallin tahu jika itu hanyalah pura-pura. "Tak ada lagi gadis cerewet yang selalu membuatku merasa kesal. Tak ada lagi gadis bar-bar yang akan memukulku—"
"Reiner?"
__ADS_1
"Ya?"
"Apa kau merajuk?"
Reiner menggeleng. "Tidak. Kenapa aku harus merajuk?"
"Lalu, kenapa kau berbicara seolah aku akan mati besok? "
"Benarkah?" tanya Reiner. "Apa perkataanku terdengar seperti itu?"
Mata Rallin memicing. Seperti dugaannya, wajah Reiner yang terlihat bersedih adalah kepura-puraan belaka. Karena sekarang, pria itu justru tengah menampilkan seringai menyebalkan andalannya. Ekspresi wajahnya terlihat puas karena berhasil membuat dirinya merasa kesal.
"Kau! Aku benar-benar akan membunuhmu sekarang juga!"
Setelah itu, aksi kejar-kejaran serta berbagai macam umpatan dari saudara kembar berbeda warna rambut tersebut terjadi di kamar luas milik Reiner.
.
__ADS_1
.
-To Be Continued-