
"Ada apa? Kau bertengkar dengan Naveen?" Regis bertanya ketika melihat wajah muram Ayana. Awan berwarna kelabu seolah mengelilingi seluruh tubuh perempuan yang kini tengah memasang seatbelt dengan ekspresi tak enak di pandang.
"Tidak, tidak ada apapun," jawab Ayana tanpa menatap Regis.
"Baiklah." Regis mulai melajukan mobilnya setelah memastikan Ayana duduk nyaman di tempatnya. Ia yakin, tak lama lagi Ayana akan membuka mulut untuk menceritakan apa yang sebenarnya terjadi. Lagipula, ia juga sudah tahu alasan kenapa wajah Ayana seperti itu.
Selama hampir lima belas menit perjalan hanya diisi keheningan. Baik Ayana mau pun Regis, keduanya tak ada yang berniat membuka percakapan sama sekali. Regis fokus dengan acara menyetirnya sedangkan Ayana dengan pemandangan membosankan dari balik kaca jendela mobil yang sudah sangat sering dilihatnya.
Matahari di atas sana sudah sangat terik pertanda waktu makan siang telah datang. Regis memutuskan untuk singgah di salah satu kedai ramen yang mereka lewati. Sebenarnya Regis tidak tahu ke mana mereka akan pergi. Ia hanya mengikuti keinginan Ayana untuk memperbaikinya mood-nya yang buruk.
"Kita makan siang dulu," kata Regis yang kini telah telah keluar dari mobilnya. Ayana hanya mengangguk menyetujui dan mulai berjalan menuju pintu masuk beriringan.
"Kau tahu apa alasanku mengajakmu keluar?" Ayana bertanya setelah menghabiskan satu porsi ramen berukuran jumbo. Sebenarnya itu masih kurang, tapi mungkin orang-orang akan memandangnya aneh jika ia kembali memesan porsi yang kedua.
Regis yang kini tengah mengelap mulutnya dengan tisu hanya mengangguk. "Naveen membatalkan acara kencan kalian?" katanya dengan nada pura-pura bertanya.
"Sial*n! Dia memang pria br*ngs*k!"
Jika saat ini di dalam mulutnya terdapat makanan atau ia tengah meminum sesuatu, mungkin Regis akan kembali menyemburkannya karena kaget. Demi Tuhan! Seorang Ayana yang sudah dikenalnya semenjak sekolah menengah pertama, seorang wanita lemah lembut bak putri keraton kini tengah mengeluarkan umpatan! UMPATAN!
Regis memandang ngeri Ayana seolah tengah melihat Hantu Sadako. "Ayana, k-kau—"
"Aku benar-benar ingin mencakar wajah sok tampannya itu sekarang juga!" seru Ayana. Kali ini dibarengi dengan gebrakan meja.
Astaga. Regis hampir saja terkena serangan jantung dadakan. Ia yakin, jika sekarang Ayana benar-benar tengah kesal pada Naveen.
"Ayana," panggil Regis sekali lagi. Kali ini dengan menyentuh tangan wanita itu untuk mengalihkan atensi Ayana. "Dengarkan aku, oke?" Ayana tiba-tiba saja terdiam dan berubah menjadi anak baik. "Tarik napas yang panjang lalu keluarkan secara perlahan. Lakukan itu beberapa kali."
Ayana menuruti apa yang Regis katakan, menarik napasnya dengan panjang lalu mengeluarkan secara perlahan sebanyak tiga kali. Ia mencoba mengontrol emosinya yang hampir saja meledak dan mungkin saja akan memporak porandakan kedai ramen yang mereka singgahi.
"Kenapa Naveen membatalkan acara kencan kalian?" tanya Regis setelah memastikan emosi Ayana sudah terkontrol.
Mengingat percakapan yang dilakukannya dengan Naveen tadi pagi, wajah Ayana kembali merengut. Rasa kesal yang dirasakannya kembali naik ke permukaan. Regis hanya memandangnya dengan raut geli. Menurutnya, ekspresi yang ditampilkan Ayana benar-benar menggemaskan sekarang ini.
"Kau tahu, Naveen mengatakan omong kosong itu lagi." Kedua alis Ayana menekuk ke dalam, kedua tangannya terlipat di depan dada dengan punggung yang menyandar pada kursi. "Dia bilang, pemilik baru rumah bekas pamannya hari ini pindah, dan sebagai tetangga yang baik, Naveen harus membantunya."
Kali ini Regis benar-benar menahan tawa yang sudah berada di ujung lidahnya. Naveen yang ia ketahui cinta setengah mati pada Ayana bisa mengatakan omong kosong seperti itu? Astaga, dunia memang sudah renta.
__ADS_1
"Wanita aneh berambut merah muda itu, aku benar-benar ingin menemuinya," lanjut Ayana.
"Wanita aneh berambut merah muda?" tanya Regis. Terdengar lebih bertanya pada dirinya sendiri.
Tunggu. Kenapa itu terdengar familiar di pendengarannya?
"Ya. Tetangga baru Naveen adalah wanita aneh dengan rambut merah muda."
Regis diam-diam tersenyum. Haruskah ia memastikannya sendiri?
"Ayo." Ayana berdiri, merapikan pakaiannya yang sedikit kusut lalu menyampirkan tas di bahu. Suasana kedai yang mulai ramai membuat Ayana merasa tak nyaman."Temani aku berbelanja. Aku ingin menghabiskan semua uang yang kupunya."
Regis ikut berdiri seraya terkekeh. "Baiklah, Nona. Aku akan menuruti apa pun keinginanmu."
.
.
.
Mereka berdua makan dengan lahap dan sama sekali tak ada percakapan selama acara makan siang. Entahlah, mungkin sudah menjadi kebiasaan keduanya yang tak boleh melalukan percakapan selama di meja makan, meski pun pada kenyataannya mereka kini makan di ruang tengah—di atas lantai.
"Nanti malam kita akan pesta barbeque, Xavier bilang dia akan datang." Rallin membuka percakapan setelah membereskan bekas makan mereka berdua dan membuangnya ke tempat sampah. "Aku harap kau bisa bergabung bersama kami," lanjutnya.
Naveen mengangguk. "Tentu. Aku akan bergabung."
Jawaban yang diberikan Naveen membuat sudut bibir Rallin terangkat membentuk satu senyuman.
"Aku harus menghubungi Reiner untuk mengantarku berbelanja."
Mendengar nama asing yang baru saja di dengarnya, mata Naveen sedikit memicing. Ia yakin yang dimaksud Rallin adalah pria berambut merah dengan ekspresi menyebalkannya.
"Lelaki itu ... Dia kekasihmu?"
Mendengar pertanyaan Naveen yang sudah seperti sebuah bisikan membuat Rallin memiringkan kepalanya. Ia menyimpan kembali ponsel yang ada di genggamannya dia atas sofa lalu menatap Naveen. "Siapa?"
"Lelaki berambut merah itu."
__ADS_1
"Ah, maksudmu Reiner?" tanya Rallin. Naveen mengangguk sebagai jawaban. "Apakah kami terlihat seperti itu?"
Apakah Rallin bercanda dengan pertanyaannya? Yang benar saja!
"Kau tak menyadarinya?" Naveen menatap Rallin tak percaya. Haruskah ia menyebutkan satu persatu alasan kenapa ia bisa menanyakan hal tersebut pada Rallin?
Rallin dan pria berambut merah yang terlihat akrab serta mungkin memiliki usia sama saja sudah cukup menjadi alasan Naveen atau bahkan orang lain menyimpulkan hal tersebut. Ditambah, fakta tak terbantahkan lainnya adalah, tadi pagi Rallin yang mencium pipi pria itu secara terang-terangan di hadapan umum.
"Kalian terlihat sangat akrab," ucap Naveen dengan nada sesantai mungkin. Padahal ia sudah kesal setengah mati hanya dengan memikirkannya saja.
"Benarkah?" tanya Rallin lagi. Naveen kembali mengangguk. "Kami sudah bersama sejak masih berbentuk embrio, jadi mana mungkin kami tak akrab." Rallin tertawa di akhir kalimatnya. Tak menyadari bahwa kini mata Naveen kini terbelalak.
"Kalian kembar?"
Rallin tersenyum dan mengangguk. "Aku tak terlalu menyukai fakta ini. Tapi, Reiner dia adalah kakakku," bisik Rallin seolah fakta tersebut adalah aib negara yang harus disimpan rapat-rapat dan tak boleh disebarkan ke depan publik. "Dia lahir lima menit lebih dulu dariku."
Masalah yang ada di seluruh dunia yang sempat Naveen tanggung beberapa jam lalu seolah lenyap. Wajahnya memancarkan kelegaan yang tak pernah ditampilkan lelaki itu sebelumnya. Mungkin Naveen juga melupakan jika ada masalah yang jauh lebih besar dari ini telah menunggunya.
Naveen segera meraih lengan Rallin saat perempuan itu hendak mengambil kembali ponselnya.
"Aku akan mengantarmu berbelanja," kata Naveen sembari tersenyum.
"Tidak, tidak. Aku tak ingin merepotkanmu lebih dari ini," tolak Rallin sehalus mungkin.
"Aku tak merasa di repotkan." Naveen berdiri, membuat Rallin harus mendongak ketika menatap wajah pria itu." Sekarang aku akan bersiap-siap dan mengambil mobil. Kebetulan aku belum mencobanya sejak membelinya minggu lalu." Lelaki itu menyeringai bangga setelahnya.
Rallin diam-diam mendengus. Sifat narsis Naveen yang sedikit mirip Reiner membuatnya merasa kesal. Namun tak ayal hal tersebut membuat Rallin tersenyum dan menangguk.
"Baiklah. Kalau begitu aku juga harus bersiap-siap."
Rallin masuk ke kamarnya untuk berganti pakaian setelah memastikan Naveen benar-benar pulang.
.
.
-To be continued-
__ADS_1