Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Empat


__ADS_3

Sepi. Itulah yang Naveen rasakan ketika melewati rumah lama yang kini kembali berpenghuni setelah ratusan abad dibiarkan kosong begitu saja. Dalam hati Naveen bertanya-tanya, ke mana tetangga barunya itu? Apakah dia tertidur? Naveen terkekeh, sepertinya perempuan itu memang tertidur akibat kelelahan. Karena sebenarnya ia juga merasakan hal yang sama, seluruh tubuhnya pegal luar biasa akibat kegiatan yang mereka lakukan sore tadi.


Memilih untuk mengangkat bahunya, lelaki itu kembali melajukan mobilnya yang sempat terhenti menuju rumahnya sendiri. Naveen langsung merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur setelah sebelumnya mencuci muka serta mengganti pakaian dengan setelan tidur. Ia mengambil ponselnya, mengecek beberapa pesan yang masuk dan tersenyum tipis setelahnya. Ada sebuah pesan dari Ayana yang mengatakan selamat tidur padanya.


Sungguh manis, pikir Naveen. Lelaki berparas aduhai itu segera membalas pesan tersebut kemudian menyimpan kembali ponselnya di atas nakas, di samping tempat tidur. Karena rasa lelah yang mendera, tak butuh waktu lama sampai kelopak mata Naveen mulai terpejam serta napasnya yang berubah teratur pertanda jika ia benar-benar terlelap dan mulai berkelana ke alam mimpi. Mimpi yang sangat indah.


.


.


.


.


Si*lan! Br*ngs*k!


Mungkin hanya dua kata itulah yang keluar dari celah bibir Rallin dari hampir satu jam lalu. Kamar bernuansa putih tulang yang tadinya terlihat rapi, kini berantakan akibat ulah sang pemilik. Alasannya sederhana, ia tak menemukan sesuatu yang dicarinya. Sesuatu yang sangat penting. Karena jika tidak ada sesuatu tersebut, Rallin tidak akan bisa bekerja.


"Aku yakin aku membawanya kemarin." Rallin menjatuhkan dirinya yang berbalut celana pendek serta baju tanpa lengan ke atas tempat tidur. Mata berwarna hijaunya terlihat memelototi langit-langit kamarnya. "Aku yakin aku membawanya," ulangnya seraya mengurut pangkal hidung.


Setelah cukup lama dengan posisi terlentangnya, Rallin memutuskan untuk bangkit. Ia membuka laci nakas paling bawah, berharap apa yang dicarinya ada di dalam sana. Lalu pencariannya berpindah pada lemari yang berisi tumpukan pakaian ketika ia tak menemukannya di dalam laci, seketika itu juga Rallin tertawa.


"Mana mungkin aku menyimpannya di lemari pakaian, dasar bodoh!" Rallin memaki dirinya sendiri. Perempuan itu bahkan mengacungkan jari tengah pada pantulan dirinya di cermin saat menutup lemari pakaian dengan keras.

__ADS_1


Untuk kesekian kalinya, Rallin mengacak rambut sebahu merah mudanya karena frustasi. Lalu, kembali melakukan hal yang sama ketika matanya melirik jam yang ada di atas nakas.


Sial! Ia akan terlambat!


Rallin berjalan cepat menuju kamar mandi, namun langkahnya mendadak terhenti ketika otaknya merasa mengingat satu hal.


"Sebentar." Mata hijau Rallin terlihat memicing dengan kedua alis saling menekuk. "Benar! Rumah si*lan itu! Aku meninggalkannya di sana!" Lalu perempuan itu bertepuk tangan dengan heboh dan benar-benar masuk ke dalam kamar mandi  setelahnya.


Tak butuh waktu lama bagi Rallin untuk bersiap-siap, karena tak sampai setengah jam, ia sudah berpenampilan rapi. Mengenakan pakaian kerjanya serta wajah yang dipoles dengan make up natural.


"Sempurna," kata Rallin bangga. Memutar tubuhnya ke kiri dan ke kanan lalu mengedipkan sebelah mata pada pantulan dirinya sendiri di cermin.


Setelah mengambil tas kerja serta memastikan tak ada yang tertinggal, Rallin segera melangkahkan kakinya keluar kamar dan berjalan tergesa melintasi ruang tamu dengan suasana hati riang.


Namun itu tak berlangsung lama, karena kini suasana hatinya berubah suram saat mendengar pertanyaan dari pria berambut merah berpenampilan rapi yang kini tengah duduk santai di atas sofa. Ada sebuah koran di tangannya serta secangkir kopi hitam tanpa gula di atas meja. Rallin meringis ketika melihat penampilan seorang Reiner. Benar-benar tipikal pengusaha muda berpenampilan panas  yang mungkin selalu menjadi objek fantasi liar beberapa wanita di luaran sana—kecuali dirinya. Tentu saja.


"Ya, aku akan berangkat sekarang," jawab Rallin pada akhirnya. Kedua tangannya terlipat di depan dada dengan mata yang masih menilai penampilan Reiner.


"Kenapa? Kau terpesona padaku?"


Rallin mendengus keras. "Dalam mimpimu, B*jingan."


Reiner terkekeh, melipat koran yang beberapa saat lalu masih menjadi pusat perhatiannya, kemudian menatap Rallin. "Aku akan mengantarmu."

__ADS_1


"Kenapa kau harus mengantarku?" tanya Rallin dengan alis terangkat tinggi.


"Apa aku perlu sebuah alasan?"


Rallin mengangguk mantap. "Sebenarnya, ya. Kau harus mempunyai alasan untuk melakukan itu."


Kali ini giliran Reiner yang mendengus. "Pokoknya, hari ini aku akan mengantarmu."


Rallin memutar bola matanya. "Terserah kau saja," ucapnya malas. "Ah, aku harus ke rumah baruku terlebih dahulu!" tambahnya seraya berlalu menuju pintu keluar dengan kaki dihentakkan.


"Kalau begitu bagus. Sekalian aku melihat-lihat rumah itu." Reiner mengangkat bahu tak acuh. Lelaki itu menandaskan kopi hitamnya dan segera menyusul Rallin.


"Reiner, aku benar-benar akan membakar mobil barumu jika kau tak keluar dalam hitungan ke lima!"


Reiner kembali terkekeh saat mendengar teriakkan melengking Rallin di luar sana. Satu hal yang paling Reiner sukai adalah membuat seorang Rallin yang memiliki sikap tempramen merasa kesal. Dan mungkin ia akan melakukannya sepanjang waktu.


"Aku datang, Cerewet."


.


.


.

__ADS_1


Tbc.


__ADS_2