Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Sepuluh


__ADS_3

Akhir pekan tiba. Itu berarti, tiba pula acara kencan yang telah direncanakan Naveen sejak beberapa hari lalu.


Ketika Naveen menengok ke arah jendela kamarnya, jelaga hitamnya tak melihat sediki tpun awan kelabu yang bergelayut manja di bawah birunya langit, menandakan hari ini benar-benar cerah. Hari yang sempurna untuk acara kencan yang sangat sempurna. Luar biasa!


Satu senyuman indah tak pernah luntur dari bibir Naveen ketika ia mengenakan pakaian, menyisir rambut, serta memandangi penampilan dirinya sendiri di depan cermin.


"Wah, coba lihat siapa b*jing*n gila yang ada di depan cermin ini?" Naveen memiringkan tubuh jangkungnya ke kiri dan ke kanan bak model profesional. Berdecak kagum seolah memuji dirinya sendiri yang terlihat sangat sempurna. "Br*ngs*k kau, Nav! Kau benar-benar tampan!" Lelaki itu bersiul seraya bertepuk tangan heboh. Kali ini bibirnya menampilkan sebuah seringai. "Tapi yah, mau bagaimana lagi, aku harus menerima anugrah Tuhan yang satu ini, 'kan?" tanyanya seraya mengangkat bahu. Setelah itu, Naveen tertawa keras ketika menyadari  apa yang dilakukannya adalah hal tak berguna yang benar-benar bodoh.


Namun karena suasana hatinya benar-benar bagus, Naveen memilih untuk tak peduli. "Jadi, berhenti membuat anak gadis diluaran sana berteriak histeris, Sial*n!"


Naveen melihat jam yang melingkar di pergelangan tangannya, sedikit terkejut karena ia hampir terlambat.


"Si*l! Ayana benar-benar akan membunuhku jika aku terlambat menjemputnya."


Naveen segera menyambar kunci mobil serta ponsel yang tergeletak di atas tempat tidur lalu berjalan keluar dari kamar. Ketika melewati ruang tamu, ia sedikit heran karena tak menemukan seorang pun di sana. Kemana penghuni rumah yang lain? Apa mereka belum bangun? Naveen kembali mengangkat bahunya memilih tak peduli. Acara kencannya dengan sang kekasih lebih penting daripada seluruh penghuni rumah yang entah kemana.


Lelaki itu kembali melangkahkan kakinya menuju garasi. Ia bersiul senang ketika melihat mobil kesayangan yang baru saja dibelinya seminggu lalu tampak mengkilap.


"Hai, jagoan. Aku akan menggunakanmu sekarang. Jadi, jangan coba-coba mengecewakanku, oke?"


Naveen segera memasuki mobil barunya dan mulai mengendarainya dengan santai. Sesekali, lelaki itu terkekeh ketika membayangkan acara kencannya dengan Ayana. Pokoknya hari ini ia akan menghabiskan waktu seharian dengan bersenang-senang bersama sang kekasih.


Namun suasana hatinya yang luar biasa bagus tak berlangsung lama. Karena sekarang, kaki sialan berbalut sneaker warna putih berlambang ceklis menginjak rem secara tiba-tiba saat jelaga hitamnya melihat ada beberapa mobil yang membawa barang-barang keperluan rumah tangga berada tepat di depan rumah Rallin. Tak jauh dari mobil-mobil tersebut, terlihat sang pemilik rumah tengah berbincang asik dengan sosok jangkung yang sangat Naveen kenali. Ada sosok berambut merah yang beberapa hari lalu Naveen temui berdiri kaku di sisi tubuh Rallin, mengenakan pakaian formal meski pun ini akhir pekan.

__ADS_1


Mata Naveen semakin menyipit kala melihat Rallin tertawa. Ia yakin sosok jangkung yang tak lain adalah kakak bodohnya tengah mengeluarkan lelucon aneh yang tak lucu sama sekali.


Tak memerlukan waktu lama bagi Naveen untuk melepas sabuk pengaman yang membelit tubuhnya dan keluar dari mobil. Berjalan tergesa untuk menghampiri ketiga orang yang memiliki warna rambut berbeda.


"Oh, Naveen." Rallin yang pertama menyadari kehadiran Naveen segera menyapa. Memberikan senyuman sehangat mentari pagi yang mampu membuat siapa saja akan terpesona ketika melihatnya. Kedua mata  berwarna hijaunya terlihat menilai penampilan Naveen yang terlihat cukup rapi dan juga bersinar. "Kau akan pergi?" tanyanya kemudian.


Naveen mengangguk. Mengusap tengkuknya dengan gerakan kaku. "Ya. Aku ada sedikit urusan."


"Urusan? Apakah penting?" Kali Xavier yang bertanya. "Aku rasa memang hal yang penting. Kau menggunakan mobil itu." Xavier menunjuk mobil baru Naveen dengan dagunya. Rallin mengikuti arah pandang Xavier. Melihat mobil berwarna hitam yang bisa Rallin tebak adalah mobil baru.


Tentu saja itu hal yang sangat penting! Tidak ada hal yang lebih penting selain acara kencanku dengan Ayana!


Naveen ingin sekali meneriakan hal tersebut tepat di depan wajah menyebalkan Xavier. Namun kalimat yang keluar dari mulut sialannya justru berbanding terbalik dengan apa yang diperintahkan otaknya.


"Tidak. Tidak terlalu penting." Mata sekelam malam milik Naveen beralih pada Rallin. "Kau pindah hari ini? Kenapa tidak memberitahuku." Lalu berdecak sebal setelahnya.


Rallin hanya mengangkat bahunya. "Kenapa? Kau ingin membantuku lagi?" tanyanya dengan nada menggoda. Reiner yang berada di sisi tubuh Rallin hampir saja melayangkan tangannya untuk memukul bagian belakang kepala gadis itu. Sejak kapan saudara kembarnya berubah jadi gadis binal? Astaga.


Diam-diam Reiner menghela napas saat jam yang melingkar di pergelangan tangannya menunjukkan hampir pukul sepuluh pagi. Ia menepuk pelan bahu Rallin untuk mengalihkan atensi gadis itu agar berfokus padanya— bukan pada dua orang berambut gelap yang ada di hadapan mereka.


"Aku harus pergi sekarang," kata Reiner dengan raut wajah bersalah. "Mereka akan mengomeliku jika aku terlambat datang."


Rallin memberikan senyum iba untuk Reiner dan mengangguk. "Terimakasih sudah meluangkan waktumu yang sibuk untuk menemaniku." Tidak ada nada sindiran atau ejekan dalam kalimat yang dilontarkan Rallin kali ini. Ia mengerti, Reiner adalah lelaki sibuk yang tak memiliki banyak waktu luang, meski di akhir pekan sekali pub. Dan itu semua karenanya. "Hati-hati," tambahnya.

__ADS_1


Reiner mulai melangkahkan kakinya setelah Rallin memberikan satu kecupan singkat di pipi. Sedikit menyeringai ketika mendapati satu dari dua orang yang Reiner ketahui bernama Naveen tengah mengeraskan rahang dengan bola mata yang hampir meloncat keluar.


"Dan Naveen." Rallin mengembalikan atensinya untuk Naveen setelah mobil yang Reiner kendarai benar-benar menghilang di belokan. " Selamat bersenang-senang," katanya." Aku harus masuk dan menata beberapa barang pada tempat yang semestinya."


"Aku akan membantu," ujar Xavier. "Lagi pula, hari ini aku tak memiliki kegiatan apa pun selain bermalas-malasan."


Rallin mengangguk senang. Sangat berbanding terbalik dengan mata Naveen yang memicing tak suka.


"Aku juga. Aku akan membantumu." Naveen ikut bersuara, tak ingin kalah dengan apa yang dilakukan kakaknya. "Aku bisa menyelesaikan urusanku lain kali," jelasnya ketika melihat Rallin mengangkat alis serta kakak bodohnya yang memberikan senyum mengejek.


Dalam hati, Naveen berkali-kali meminta maaf pada Ayana karena telah membatalkan acara kencannya secara sepihak. Dan jika Ayana tahu alasan dibaliknya adalah Rallin, Naveen yakin riwayatnya akan benar-benar tamat.


"Dia kenapa?" tanya Rallin ketika memperhatikan Naveen yang mulai mengendarai mobilnya. Berbalik arah menuju rumahnya sendiri.


Xavier hanya mengangkat bahu tak peduli. Kali ini dibarengi dengan raut wajah geli. "Entahlah, aku rasa dia benar-benar sudah gila."


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2