Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Lima


__ADS_3

Entah apa yang merasuki Naveen, tapi yang pasti, pagi ini pemuda yang memiliki paras di atas rata-rata itu tampak sudah berkeringat. Sangat berbanding terbalik dengan julukan yang diberikan ibunya, berandal kecil pemalas. Ya, si berandal kecil pemalas itu kini tengah berolahraga. Berolahraga!


Kaki panjang berbalut celana olahraga berwarna biru tua itu tampak berlari-lari kecil di jalan aspal sekitaran rumahnya. Sesekali, mata sekelam langit malam miliknya melirik ke arah rumah lama yang baru-baru ini kembali berpenghuni. Kedua alisnya menekuk tajam persis sebuah tikungan.


Ke mana dia? Apakah belum bangun?


Naveen menggeleng pelan, merasa bodoh dengan rasa penasarannya yang terlampau tinggi. Ia kembali melanjutkan acara olahraganya, menggerakan kedua lengannya ke kiri dan ke kanan sebagai peregangan otot. Titik-titik keringat memenuhi dahi yang tertutupi rambut hitamnya. Di tambah sinar mentari pagi yang menerpa tubuh jangkungnya, Naveen terlihat berkali lipat lebih tampan dari biasanya. Sampai-sampai seorang gadis yang kebetulan berpapasan dengannya hampir terjatuh akibat tersandung batu saking terpesonanya.


Naveen terkekeh ketika melihat gadis berambut cokelat yang ia ketahui warga komplek sebelah kini berjalan cepat karena malu.


Setelah rasa lelah yang cukup mendera jiwa dan raga, lelaki itu memutuskan untuk mengakhiri sesi olahraga yang dilandasi rasa penasarannya. Lagipula, ia harus pergi bekerja pukul sembilan nanti.


Naveen mulai berjalan menuju rumahnya, hendak pulang, mandi lalu berganti pakaian setelah itu sarapan. Namun sebuah mobil berwarna merah menyala yang berhenti tepat di rumah tetangga barunya berhasil membuat langkah Naveen terhenti. Tak lama kemudian, sosok berambut merah muda keluar dari mobil tersebut, Naveen mengangkat alisnya.


"Rallin?" sapanya. Kaki panjangnya secara otomatis mendekati perempuan musim semi yang kini melambai sembari tersenyum ke arahnya.


"Oh, Naveen," sapa Rallin balik. "Sedang apa?"

__ADS_1


Naveen hanya mengangkat bahunya. "Kau lihat sendiri, kan?"


"Berolahraga?" Naveen mengangguk membenarkan ucapan Rallin. "Kau pria rajin, aku suka itu," lanjut Rallin, kembali memamerkan senyumnya.


"Yah, aku memang pria yang rajin."


Rallin tertawa. "Naveen, aku ingin sekali mengobrol denganmu. Tapi maaf, sekarang aku sedang terburu-buru. Ada sesuatu yang harus aku ambil di rumah ini." Perempuan berambut gulali itu mulai berjalan menuju rumah yang akan di tempatinya setelah Naveen mengatakan 'tak masalah' seraya mengangguk dan tertawa.


Sedangkan Naveen, 'pria rajin' itu kini masih memperhatikan Rallin yang sudah tertelan pintu rumah. Saat suara pintu mobil kembali terbuka, memperlihatkan sosok lain yang berhasil mengalihkan fokus Naveen detik itu juga.


"Kau sudah menemukan apa yang kau cari?"


Naveen mengikuti arah pandang pria berambut merah. Tak membutuhkan waktu lama untuk Rallin berada di antara keduanya, menenteng kantong kertas yang Naveen tak tahu apa isinya. Tapi sepertinya itu sesuatu yang ditinggalkan oleh Rallin kemarin sore. Naveen sempat melihatnya sekilas, tergeletak begitu saja di atas karpet.


"Wah, situasi macam apa ini?" tanya Rallin dengan nada tak percaya. Kedua bola mata berwarna hijaunya tampak menatap Naveen dan juga Reiner secara bergantian. "Kenapa mencekam sekali," tambahnya seraya tertawa.


Perempuan itu memberikan pelototan tergarang yang ia punya pada Reiner, menyuruh lelaki berparas tampan itu untuk masuk ke dalam mobil. Setelah memastikan Reiner duduk manis di balik kemudi dan tak akan keluar, pandangan Rallin kembali beralih pada Naveen. Ia memberikan senyuman manisnya pada lelaki itu, sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia berikan pada Reiner.

__ADS_1


"Naveen, kita akan berbincang lain kali, oke? Aku akan segera pindah ke sini, dan aku tak sabar untuk mengobrol denganmu, " ujar Rallin dengan nada semangat. "Tapi sekarang, aku benar-benar harus pergi. Aku terlambat, aku tak ingin mereka semua mengomel."


Rallin segera melambai, ia mengedipkan sebelah matanya sebelum masuk ke dalam mobil. Naveen membalas lambaian itu dengan kekehan pelan. Ia yakin, jika pria berambut merah yang duduk di balik kemudi merasa sangat kesal padanya sekarang. Terbukti dari mobil yang dikemudikannya berada pada kecepatan di atas rata-rata.


"Ah, dia gadis yang menarik. Aku suka padanya."


"Siapa yang kau sukai?"


"Brengs*k! Kau mengagetkanku!"


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2