Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Tujuh


__ADS_3

"Jadi, kapan kau akan pindah ke rumah itu?"


Reiner sudah duduk manis dengan pakaian rapi di meja makan ketika melontarkan pertanyaan tersebut pada Rallin yang baru saja datang dari arah tangga. Sudah ada beberapa makanan yang sudah tersaji di sana, di atas meja makan. Tentu saja itu buatan Reiner sendiri. Selain parasnya yang tampan, Reiner adalah sosok suami idaman bagi ratusan kaum hawa—sayangnya Rallin bukan termasuk golongan tersebut.


Selain dua kelebihan yang sudah Rallin sebutkan, Reiner juga memiliki banyak kelebihan lain dalam dirinya. Sampai-sampai Rallin sering berpikir, kebaikan apa yang pernah Reiner lakukan di masa lalu hingga memiliki banyak kelebihan seperti itu? Apakah penyelamat Negara? Jujur saja, ia sedikit iri dengan hal tersebut.


"Kenapa kau masak sebanyak ini?" Rallin memilih bertanya hal lain daripada menjawab pertanyaan yang Reiner lontarkan padanya. Ia ikut mendudukkan diri di sebrang meja. Ada raut geli yang ditampilkan wajahnya ketika menatap Reiner yang tampak sebal. "Kita hanya tinggal berdua saja," tambahnya dengan kekehan pelan. Mulai menyendok beberapa jenis makanan ke dalam piring keramik dan memakannya.


Reiner mendengus. "Ini untuk merayakan kepergianmu dari rumah ini." Sebisa mungkin menahan tangannya agar tak melemparkan garpu yang tengah ia pegang pada wajah menyebalkan Rallin.


"Si*lan!" umpat Rallin. Ia segera memasukan satu tempura udang ke dalam mulutnya. Perpaduan gurih dan renyah dari tepung, serta tekstur lembut dari udang yang di masak dengan tingkat kematangan pas langsung memanjakan lidah Rallin pada suapan pertama. Ia bahkan hampir berdecak kagum atas mahakarya yang Reiner buat.


Masih ada beberapa makanan lain yang rasanya sama sekali tak mengecewakan lidah Rallin. Menurutnya, Reiner lebih pantas menjadi seorang chef berpenampilan panas ketimbang seorang pengusaha muda. Rallin yakin, Reiner akan sering wara-wiri di berbagai stasiun televisi serta memiliki banyak penggemar jika lelaki itu memutuskan beralih profesi. Apakah ia harus membujuknya?


Mereka berdua makan dengan tenang, tak ada percakapan yang terjadi selama hampir setengah jam lamanya. Namun sesekali,  Reiner mencuri pandang ke arah Rallin yang kini tengah mengelap mulutnya dengan tisu pertanda gadis itu menyudahi acara sarapannya.


"Bagaimana? Apakah masakanku enak?"


"Tidak," jawab Rallin cepat serta penuh keyakinan. Namun ekspresi yang ditampilkan wajahnya menyiratkan hal lain. Dan hal tersebut sudah cukup membuat Reiner menampilkan senyum tipisnya.


"Terimakasih atas pujiannya, Nona. Aku merasa tersanjung."


Rallin memutar bola matanya. "Dasar b*jing*n gila."


"Hei! Berhenti mengumpatiku, sial*n!"


"Kenapa?"

__ADS_1


"Kenapa?" ulang Reiner tak percaya. "Kau bilang kenapa?"


Satu seringai menyebalkan terbit di bibir Rallin. "Ya, kenapa?" tanyanya enteng. "Beri aku sebuah alasan kenapa aku tak boleh mengumpat padamu."


Demi Tuhan! Rallin si manusia paling menyebalkan di Alam semesta kembali berulah.


"Alasan? Baiklah, kali ini aku akan memberimu sebuah alasan." Kali ini giliran Reiner yang menyeringai. "Alasan yang tak mungkin bisa kau bantah sedikit pun."


Rallin mengambil sebuah apel dan mulai memakannya, menunggu dengan sabar alasan apa yang akan diberikan Reiner setelah ini. Namun sampai apelnya tersisa setengah, lelaki itu tak mengeluarkan sepatah kata pun.


Ada hal lain yang membuat Rallin harus memberikan tatapan awasnya pada Reiner sekarang. Tidak mungkin alasan itu, kan?


"Reiner?" panggil Rallin hati-hati.


Reiner tersenyum manis hingga matanya menyipit. "Ya, Rallin?"


"Kau bisa menebaknya?"


"Si*lan, Kau! "


Reiner tampak puas saat melihat wajah Rallin berubah masam. Perempuan itu bahkan menyimpan apel yang tinggal tersisa setengah ke dalam piring kotor. Reiner sangat yakin jika Rallin kini benar-benar sebal kepadanya. Oh, ia merasa sangat senang sekarang.


" Aku tak akan sudi mengakui hal itu!" Rallin berdiri, menyambar tas yang tergeletak di atas kursi dengan perasaan kesal. Niatnya untuk membereskan meja makan hilang sudah karena tingkah menyebalkan pria berambut merah yang kini masih menyeringai lebar ke arahnya. "Jadi, jangan harap aku akan memanggilmu dengan sebutan kakak," lanjutnya. Ia lebih memilih pergi meninggalkan Reiner yang kini masih mengeluarkan tawa nistanya dengan kaki di hentakkan.


"Sudahlah, adikku. Sebaiknya kau mengakui hal itu, Oke?" Langkah Rallin kembali terhenti. Ia yakin jika kini Reiner tengah mengejeknya. "Berhenti mengeluarkan umpatan untukku dan panggil aku dengan sebutan kakak."


Di tempatnya, Rallin benar-benar harus menarik napas dan mengeluarkannya berulang kali untuk menahan emosinya. Apa pun yang terjadi, bahkan jika hujan dan badai tiba-tiba saja merobohkan rumah yang sekarang mereka tempati, pokoknya ia tidak boleh emosi atau harinya akan berubah menjadi buruk dan menyebalkan. Sebelum memutuskan untuk berbalik, Rallin memasang senyuman manis di wajahnya. Bersiap mengeluarkan serangan balik untuk Reiner.

__ADS_1


"Reiner?"


"Kakak, Rallin." Reiner meralat ucapan Rallin.


"Ah, ya. Terserah kau saja." Rallin menghampiri Reiner yang kini tengah menopang dagu. "Apa kau melupakan satu hal?" Tubuhnya sedikit membungkuk untuk membalas manik hazel yang seolah menantangnya.


"Apa? Aku rasa, aku tak melupakan apa pun, tuh."


"Kau yakin?"


"Tentu saja." Reiner mengangguk mantap. "Aku tak pernah seyakin ini selama hidupku."


"Biar kuberitahu satu hal." Rallin mengelilingi meja makan dan kembali duduk di kursi, tepat di sebrang Reiner. "Kita—"


"Oh, kau tak perlu memberitahuku hal itu." Reiner memotong ucapan Rallin sembari mengibas-ngibaskan sebelah tangannya. "Meski pun kita kembar, tapi itu tak mengubah fakta aku adalah kakakmu."


"Sial*n!" Satu umpatan kembali keluar dari celah bibir Rallin. "Kita hanya beda lima menit, Rei. Li.ma.me.nit," tekannya. Ingin sekali melempar wajah menyebalkan Reiner dengan piring kosong bekas makan mereka. "Dan sampai kapan pun, aku tak akan pernah memanggilmu dengan sebutan laknat itu, " lanjut Rallin. "Jadi, berhenti mengharapkan sesuatu yang mustahil. Aku pergi! Dan terimakasih, aku bisa berangkat sendiri," tambahnya ketika melihat Reiner hendak membuka mulut.


Untuk kedua kalinya dalam lima belas menit, Rallin pergi dari area dapur dengan kaki yang di hentakkan. Demi apapun! Kenapa ia tak pernah menang jika beradu mulut dengan setan merah sialan itu. Brengsek!


.


.


.


Tbc.

__ADS_1


__ADS_2