Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Enam


__ADS_3

Satu jam berlalu. Naveen sudah mandi, berganti pakaian, dan siap berangkat bekerja. Tapi kakaknya— Xavier masih saja mengekor di belakangnya bak anak itik yang kehilangan induk. Bahkan sekarang, ketika Naveen berjalan menuruni anak tangga menuju dapur, sang kakak yang kini hanya mengenakan celana pendek serta bertelanjang dada masih setia menempel padanya seperti parasit.


"Berhenti mengikutiku, sial*n!" Naveen menutup pintu lemari es dengan keras setelah mengambil satu botol soda. Jelas sekali jika lelaki itu mulai merasa jengah dengan kehadiran sang kakak.


Melihat sang adik mulai kesal, Xavier justru malah tertawa kecil. Lelaki itu menyandarkan pinggangnya pada tepi meja makan dengan santai, kedua tangannya terlipat di depan dada. Raut wajahnya tampak sangat terhibur.


"Aku akan terus mengikutimu sampai kau mengatakan siapa gadis yang kau sukai," kata Xavier kembali mengalunkan tawa. Kali ini sebuah tawa yang keras. "Oh, aku ingat kata-katamu tadi, dia gadis yang menarik, aku menyukainya. Jadi, siapa gadis yang kau sukai itu?" Xavier menaik turunkan kedua alisnya bermaksud menggoda sang adik. "Jadi, siapa gadis itu? Apa dia cantik? Aku hanya melihatnya sekilas. Rambutnya merah muda. Oh, dia memang gadis yang menarik."


Perkataan panjang lebar bernada menyebalkan dari sang kakak membuat tingkat kekesalan yang dirasakan Naveen hampir mendekati puncak. Hampir. Hanya tinggal sedikit lagi.


"Kau tahu kan aku akan tetap mengikutimu sampai aku mendapatkan jawabannya?" Xavier kembali mengikuti Naveen yang kini berjalan tergesa menuju ruang tengah, duduk di atas sofa tunggal bersiap mengenakan sepatu. "Jadi, siapa gadis itu?" tanyanya lagi.


Naveen menghela napas. Ia tahu, tak pernah ada yang bisa mengalahkan sifat keras kepala Xavier di dunia ini, bahkan mungkin di akhirat pun, tak akan pernah ada yang bisa menandinginya. Dan sekarang Naveen ingin sekali mengirim kakak tercintanya tersebut ke Akhirat sana.


"Ayolah, Nav. Beritahu aku!"


Benar, kan?


"Dia pemilik baru rumah paman Arya. Apa kau puas?" Naveen mulai mengenakan sepatunya dengan cepat. "Dan sekarang, berhenti mengikutiku!"


Naveen hendak berdiri, namun Xavier kembali menahannya dengan sebuah pertanyaan. Br*ngs*k!


"Bukankah pemilik rumah itu adalah wanita paruh baya?" tanya Xavier penasaran. Setidaknya, itu yang ibunya katakan beberapa waktu lalu ketika mereka melakukan video call.


"Dia putrinya."


"Woaaahh!" Xavier berseru semangat seraya bertepuk tangan. "Apakah cantik?"


Naveen mendengus keras. "Ya, dia sangat cantik. Sampai-sampai aku ingin menidurinya!" Naveen segera menyambar tas yang ada di sisi tubuhnya. Menatap sang kakak  dengan pandangan membunuh andalannya. "Sekarang berhenti mengikutiku. Aku harus pergi bekerja!" katanya bersungut-sungut.

__ADS_1


Xavier kembali tertawa setelah Naveen pergi keluar rumah dengan kaki yang di hentakkan, lalu terdengar pintu rumah yang dibanting dengan keras setelahnya. Hiburan di pagi hari setelah ia pulang dari tempat yang jauh untuk urusan bisnis adalah membuat sang adik kesal. Itu teramat sangat sangat menyenangkan.


"Ah, aku jadi penasaran dengan gadis itu."


Xavier mengangkat bahu, mulai berjalan menuju kamarnya di lantai dua untuk membersihkan diri atau kembali tidur atau entahlah.


Terserah. Siapa yang peduli apa yang akan Xavier lakukan di kamar sana.


.


.


.


Suasana di dalam mobil terasa sangat mencekam menurut Rallin. Sedari tadi—setelah Rallin mengambil barang yang tertinggal di rumah barunya— Reiner tak pernah mengeluarkan sepatah kata pun. Bibirnya benar-benar terkatup rapat hingga Rallin berpikir ada seseorang yang dengan sengaja menempelkan lem pada celah bibirnya. Kemana Reiner si cerewet yang mampu mengeluarkan dua ratus ribu kata dalam satu menit? Wajah Rallin berubah masam memikirkan pertanyaan yang baru saja dilontarkan hati nuraninya.


"Jadi, siapa dia?"


"Dia?" tanya Rallin balik. Pura-pura tak mengerti.


Sebuah dengusan keras keluar dari celah bibir Reiner. " Ya, dia. Lelaki yang menyambutmu tadi." Mata berwarna karamelnya masih berfokus pada jalanan yang ramai.


"Oh, maksudmu Naveen?" Reiner mengangguk. " Kenapa? Kau cemburu?" Rallin tertawa saat melihat wajah lelaki di sampingnya berubah masam.


"Sial*n! Kenapa aku harus cemburu?"


Rallin mengangkat bahu. "Yah, aku kan hanya bertanya," katanya kembali tertawa. "Lagipula, kau dan aku sudah bersama dalam waktu yang lama, jadi bisa saja kalau kau cemburu—"


"Rallin?"

__ADS_1


"Ah, oke, oke. Terserah." Rallin mengangkat kedua tangan tanda menyerah. "Dia orang yang tinggal di sebelah rumahku, sekaligus orang yang membantuku membersihkan rumah," jelasnya, melipat kedua tangan di depan dada. "Tidak seperti seseorang yang selalu sibuk dengan pekerjaannya."


Reiner meringis. Jika dia tidak salah menyimpulkan, apa Rallin baru saja menyindirnya?


"Kau menyindirku?"


Rallin yang awalnya menatap ke luar jendela di mana pemandangan membosankan terlihat akhirnya menatap ke arah Reiner. Bibirnya menyunggingkan sebuah senyuman yang sangat manis namun terlihat menyeramkan di penglihatan Reiner. Persis seperti malaikat maut yang mungkin akan mencabut nyawanya sebentar lagi.


"Kenapa? Kau tersindir?" tanya Rallin dengan raut wajah pura-pura terkejut. "Baguslah, aku memang berniat menyindirmu," lanjutnya seraya tertawa. Reiner tak mengatakan apa pun lagi saat hatinya berubah dongkol.


Rallin segera melepas sabuk pengaman yang membelit tubuhnya ketika mobil Reiner berhenti lalu keluar setelahnya. Ia sedikit membungkukkan tubuhnya untuk melihat Reiner.


"Jemput aku jam sebelas," katanya berusaha mengalihkan fokus Reiner pada orang-orang yang berlalu lalang di sekitar tempat kerjanya. Sepertinya lelaki itu merasa kesal padanya. Diam-diam Rallin menyeringai puas.


"Kenapa? Bukankah kemarin kau pulang sore?"


Rallin mengangkat bahu. "Yah, pokoknya jemput aku jam sebelas atau aku akan menendangmu ke luar angkasa."


Reiner tertawa. Rasa kesalnya menguap begitu saja saat mendengar lawakan Rallin yang menurutnya sama sekali tidak lucu. "Oke. Aku akan menjemputmu jam sebelas. Setelah itu kita makan siang bersama."


Rallin mengacungkan ibu jarinya pertanda setuju. "Baiklah. Aku tidak sabar ingin menghabiskan semua uangmu, " katanya dengan nada becanda. "Semoga harimu yang sibuk menyenangkan, Reiner. Aku mencintaimu."


Rallin kembali tertawa keras ketika mendengar umpatan yang keluar dari mulut Reiner. Ia mulai melangkahkan kakinya menuju gedung tempatnya bekerja setelah mobil Reiner benar-benar tak terlihat. Sesekali, perempuan musim semi itu tersenyum ketika ada yang menyapanya.


.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2