Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Tiga belas


__ADS_3

Rallin yang kini berjalan beriringan dengan Naveen terlihat mendorong troli-nya menuju tempat sayuran di mana  beberapa bahan-bahan yang akan digunakan untuk acara barbeque nanti malam terdapat di sana. Berjejer rapi dan terlihat segar.


Tangan Rallin tampak memegang paprika berwarna hijau dan kuning lalu menghela napas super panjang. Kedua alisnya saling bertaut.


"Aku harus pilih yang mana?" tanyanya entah pada siapa. Jika ia pergi bersama Reiner mungkin ia tak akan kebingungan sekarang. Karena pasti saudara kembarnya yang akan memilih. Sebelum ke tempat sayuran, Rallin bahkan sudah lebih dulu memilih beberapa cup daging sapi paling mahal hanya untuk memastikan kalau itu kualitas terbaik. Karena menurutnya, barang dengan harga paling mahal sudah pasti yang terbaik.


Rallin sempat mencoba bertanya pada Naveen, namun pria tampan itu hanya mengangkat bahu tanda tak tahu. Rallin jadi berpikir, jika ia dan Naveen menjadi pasangan suami istri, mungkin mereka berdua akan menghancurkan dapur tepat di hari pertama mereka memiliki rumah.


"Ah, sudahlah. Aku masukan saja semua. lagi pula, mereka semua terlihat sama," katanya seraya mengangkatnya bahu. Rallin memasukkan kedua paprika tersebut, lalu mengambil bebeberapa lagi juga sayuran lainnya sebagai pelengkap.


Setelah itu, ia berjalan menuju tempat di mana Naveen berada. Rallin mendapati mata segelap malam milik Naveen tampak fokus memandangi tumpukan buah berwarna merah yang memiliki citarasa asam dengan pandangan memuja. Perempuan itu kembali mengangkat alisnya.


"Kau kenapa?" tanyanya pada Naveen.


Merasa pertanyaan yang dilontarkan Rallin adalah untuknya, Naveen menoleh sekilas lalu kembali berfokus pada tumpukan buah tersebut. "Mereka indah."


"Indah? Tomat-tomat itu?" Kali ini dahi Rallin mengernyit. "Kurasa kau benar, mereka terlihat segar."


"Mereka indah, Rallin," ralat Naveen.


Rallin diam-diam mendengus. "Ya, mereka indah." Ia memilih untuk mengalah. "Apa kau menyukai mereka?" tanya Rallin kemudian.


"Tentu saja!" seru Naveen semangat. Seketika, Rallin meringis. Membayangkan rasa asam ketika buah tersebut berada di dalam mulutnya. Ia tak habis pikir, kenapa Naveen—kenapa ada orang yang menyukai tomat disaat ada buah lain yang jauh lebih enak dari itu.


"Ya sudah, selamat menikmati keindahan mereka, Nav," kata Rallin seraya tertawa. "Aku harus membeli beberapa cemilan dan hal-hal merepotkan lainnya untuk nanti malam. Jika kau sudah selesai, kau bisa mencariku di sana." Rallin menunjuk ke arah tertentu.


Setelah menepuk pelan bahu Naveen, perempuan itu bergegas menuju tempat di mana beberapa camilan serta berbagai minuman yang berjejer rapi. Kedua tangannya dengan cekatan memasukan secara asal apa saja yang dilihatnya. Mulai dari makanan ringan, soda kalengan hingga bir. Tentu saja setelah ia menata sayuran serta daging yang lebih dulu dibelinya agar tak tertindih. Ia tersenyum puas setelah troli dorongnya hampir penuh.


"Rallin."


Rallin segera menolehkan kepalanya ketika mendengar seseorang memanggilnya. Tepat di belakangnya kini ada sosok jangkung yang begitu ia kenali tengah tersenyum lebar seraya mendekat ke arahnya.


"Astaga! Regis! " serunya tak percaya. "Kenapa kau ada di sini?"


Lelaki yang Rallin panggil dengan sebutan Regis itu hanya mengangkat bahu, senyuman lebar masih terpatri di bibirnya. "Yah, seperti yang kau lihat, aku sedang menghabiskan uangku.


Rallin tertawa seraya meninju lengan Regis main-main. Namun tak lama kemudian, ada suara lain yang meninterupsi mereka berdua.


"Regis?"

__ADS_1


Itu Naveen. Baik Regis maupun Rallin  keduanya mengenali suara itu.


"Nav?" Regis menyebut nama Naveen dengan nada bingung.


Rallin memandangi keduanya berulang kali. Ekspresi keduanya yang terlihat kaget membuat bisa Rallin menyimpulkan bahwa mereka berdua cukup akrab. "Kalian saling mengenal?"


Regis dan Naveen mengangguk secara bersamaan.


"Kau mengenal Naveen?" Kali ini Regis yang bertanya.


"Rumah baruku tepat di samping rumah Naveen."


Regis mengangguk mengerti. "Begitu, ya." Namun setelah itu, bola matanya terbelalak, terlalu terkejut dengan apa yang baru saja ia dengar dari mulut Rallin. "Apa! K-kau—"


"Kenapa kau sekaget itu?" tanya Rallin bingung.


"A-aku hanya terkejut." Regis mencoba mengatur mimik wajahnya sebiasa mungkin.  "Rallin, sebenarnya aku ingin mengobrol banyak denganmu. Tapi, seseorang sedang menungguku di meja kasir sana." Lelaki itu sengaja menekankan kata seseorang, berharap manusia ayam yang kini berada di samping Rallin mengerti kode yang ia berikan. " Jadi, aku harus segera kembali ke sana atau dia akan mengomel tanpa henti." Lalu pandangannya beralih pada Naveen yang kini wajahnya tampak pucat.


Naveen tahu, arti tatapan Regis yang diberikan padanya adalah; kau harus menceritakan semuanya nanti atau kau akan mati.


"Nanti malam kami akan pesta barbeque, jika kau senggang, kuharap kah bisa datang. "


"Baik. Akan kuusahakan." Regis mengacungkan kedua jempolnya dengan langkah tergesa. Sialan! Apa jadinya jika Naveen dan Ayana bertemu? Ia yakin tempat perbelanjaan yang mereka kunjungi akan berubah menjadi arena duel. Dan Rallin, perempuan itu yang akan menjadi satu-satunya korban dari duel yang dilakukan Naveen dan Ayana tanpa mengerti apa yang sebenarnya terjadi.


Belum sempat Regis bernapas dengan benar karena telah berhasil menyelamatkan dunia dari kehancuran, ia kembali dikejutkan dengan tepukan pelan pada bahunya  dari arah belakang.


"Br*ngs*k!" umpatnya, lalu setelah itu ia menutup mulutnya dengan sebelah tangan ketika tahu siapa sang pelaku. "Astaga, Ayana. Kau mengagetkanku." Regis mengusap dadanya dengan dramatis sambil sesekali melirik ke arah di mana Rallin dan Naveen berada, memastikan jika kedua mahluk berbeda warna rambut itu tak terjangkau oleh penglihatannya atau pun Ayana.


"Kau kenapa?" tanya Ayana heran saat melihat ekspresi panik dari Regis. Sesekali, matanya  mengikuti arah ke mana arah pandang. Sikap Regis yang tiba-tiba berubah aneh membuat Ayana sedikit mengkhawatirkan rubah jantan itu.


"Tidak, tidak apa-apa," jawab Regis dengan ringisan pelan. "Kau sudah selesai?" Mata birunya menatap beberapa paperbag yang ada di tangan Ayana. "Kita pulang sekarang, oke? Aku ada urusan mendesak."


Tanpa perlu mendengar jawaban apa yang akan Ayana berikan padanya, Regis segera menarik lengan perempuan itu dan mulai melangkahkan kaki menuju pintu keluar tempat perbelanjaan dengan langkah tergesa. Hingga membuat Ayana diam-diam mengulum senyumnya entah karena apa.


Tapi yang pasti, ada sesuatu yang menggelitik perutnya, dan itu terasa menyenangkan.


.


.

__ADS_1


.


.


Selama hampir setengah perjalanan pulang, tak ada satu pun percakapan yang terjadi antara Naveen dan Rallin


Naveen yang lebih memilih memikirkan apa yang akan terjadi jika Ayana sampai melihat ia tengah bersama tetangga barunya, sedangkan Rallin entah memikirkan apa. Tapi yang pasti, wajah Naveen yang tampak pias dan gelisah semenjak pertemuan mereka dengan Regis membuat Rallin sedikit mengkhawatirkan lelaki itu meski pun ia tak berniat menanyakan apa penyebabnya.


"Kau baik-baik saja?"


Atau mungkin lidahnya sudah terlalu gatal menahan kalimat sial*n yang baru saja meluncur dari celah bibirnya?


Ah, Br*ngs*k! Rallin ingin mengutuk Reiner sekarang juga.


"Aku baik." Naveen akhirnya menjawab. Namun jawaban yang lelaki itu berikan sangat berbanding terbalik dengan ekspresi wajahnya.


"Tapi wajahmu pucat." Rallin kembali berbicara seraya memperhatikan sisi wajah Naveen yang masih fokus menyetir. "Perlu aku menggantikanmu menyetir?"


Naveen menggeleng sembari memaksakan senyumnya, mungkin akan terlihat kaku di pandangan Rallin." Tidak perlu. Aku baik-baik saja."


"Ah, oke. Aku harap kita bisa selamat sampai ke rumah."


Naveen langsung mengerem mobilnya detik Rallin menyelesaikan kalimat bernada main-mainnya. Ia menoleh cepat ke arah Rallin yang kini tengah menahan tawa.


"Aku becanda," kata Rallin dengan kedua tangan yang terangkat. "Aku hanya mengkhawatirkanmu," lanjutnya setengah berbisik.


Entah kenapa, perkataan Rallin berhasil mambuat kegelisahan yang dirasakan Naveen berkurang drastis. Kali ini, sudut bibirnya perlahan terangkat, memperlihatkan lesung pipi yang menambah kadar ketampanan pria itu.


"Terimakasih sudah mengkhawatirkanku, Nona."


Rallin mengangguk sembari membalas senyuman Naveen. "Sama-sama, Tuan. Sekarang, ayo lanjutkan perjalanan sebelum Reiner mengomeliku karena kita terlambat datang."


Ya, Reiner si pria super sibuk baru saja mengirimi Rallin pesan bahwa lelaki itu sudah berada di rumahnya dan hampir mati karena bosan.


"Tentu. Apapun untukmu, Nona."


.


.

__ADS_1


.


-To Be continued-


__ADS_2