Tetangga Idaman.

Tetangga Idaman.
Enam belas


__ADS_3

Uasana ruang tengah yang tadinya bising oleh tiga lelaki berbeda warna rambut kini berubah hening saat Rallin berjalan tergesa—mungkin setengah berlari dengan napas yang tersengal menuju arah dapur. Meminum air dingin yang diambilnya dari lemari es sebanyak-banyaknya saat ia merasakan panas yang menjalar dari pipi ke seluruh bagian wajah. Ia masih mengibaskan kedua tangannya, berharap angin yang berhembus tidak terlalu kencang itu bisa sedikit meredakan panas itu. Namun, perbuatannya seolah sia-sia.


"Sial! Apa yang telah aku lakukan?" Rallin memukul kepalanya berkali-kali dengan frustasi, merasa marah dengan dirinya sendiri. Bagaimana mungkin ia berubah menjadi wanita super binal? Astaga.


Rallin bergidik ngeri saat membayangkan apa yang telah ia lakukan pada Naveen beberapa menit lalu. "Benar. Sepertinya aku memang sudah gila," racaunya seraya berlalu menjauh dari dapur.


Sekarang ini, yang Rallin harapkan hanya menghilang dari muka bumi.


Saat Rallin kembali melintasi ruang tengah hendak menuju kamar, ia mendapati ketiga b*jing*n tampak tengah menatap penasaran ke arahnya. Apalagi dari Xavier. Pantas saja ruang tengahnya tiba-tiba hening dan mencekam.


"Ada apa?" Rallin bertanya setelah Berdeham. Membersihkan sesuatu—mungkin biji kedondong yang saat ini tengah tersangkut di tenggorokannya.


Ketiganya tampak saling pandang. Lalu setelah itu, Regis serta Xavier kompak menatap Reiner dengan alis naik turun. Sedang Rallin kini menampilkan tatapan awasnya. Tengkuknya kini terasa dingin, bukan karena di rumahnya ada hantu atau mahluk astral lainnya, tapi karena sesuatu yang buruk akan terjadi sebentar lagi. Dan Rallin sangat yakin jika itu berhubungan dengan hal bodoh yang baru saja ia lakukan.


Sial*n lagi!


Reiner yang mengerti arti tatapan yang dilayangkan oleh Regis serta Xavier hanya bisa menghela napas dengan perasaan dongkol. Tapi karena di sini dialah yang paling mengenal dan juga mengkhawatirkan Rallin, jadi dia akan berbaik hati.


"Kau baik-baik saja?" todong Reiner tanpa basa-basi.


"Siapa?"


"Kau."


"Aku?" Rallin menunjuk dirinya sendiri.


"Ya, kau."


"Aku baik-baik saja," balas Rallin. "Kenapa?"


"Kau berjalan mengalahkan kecepatan cahaya, aku kira terjadi sesuatu."


Rallin mendengus mendengar perkataan Reiner. Tubuhnya ia sandarkan pada dinding sembari melipat tangan. "Tidak terjadi apapun," tegasnya.


"Kau yakin?"


"Tentu." Rallin mengangguk mantap.


"Wajahmu memerah," kata Reiner dengan pandangan menyelidik. "Apa kau demam?"


Ah, si*l! Ia ingin mengubur dirinya sekarang juga. Kenapa wajahnya masih memerah padahal ia sudah banyak meminum air dingin? Bayangan itu kembali hadir dan membuat pipi Rallin semakin memanas.


Rallin menyelipkan anak rambut yang membingkai wajahnya ke belakang telinga. Terlihat salah tingkah dan menggelikan di penglihatan Reiner hingga lelaki itu memutar bola matanya karena jengah.


"Mungkin karena di luar dingin?" kata Rallin tak yakin. "Ya, sepertinya memang begitu," tambahnya seraya menganggukkan kepala. Lebih terlihat meyakinkan dirinya sendiri ketimbang tiga orang yang kini masih menatap ke arahnya.


Ketiganya kini memandang aneh Rallin. Terutama Xavier. Oke, lagi-lagi Xavier. Kenapa selalu Xavier? Rallin bertanya dalam hati.

__ADS_1


Penglihatan super tajam yang dimiliki Xavier membuat lelaki itu bisa melihat hal-hal kecil yang tak bisa dilihat oleh orang lain. Bukan makhluk astral atau semacamnya, tapi hal-hal yang jarang orang lain perhatikan padahal itu adalah hal yang sangat penting. Seperti sekarang ini. Jika perkiraannya tepat, ada hal yang terjadi antara Rallin dan juga Naveen di luar sana. Mata Xavier kini  memicing, lalu diam-diam menampilkan seringai—mungkin Naveen akan mengatakan bahwa itu adalah seringai menyebalkan milik b*jing*n kelas teri.


"Kau... Apa kau bertemu Naveen di luar?" tanya Xavier. Masih setia memperhatikan perubahan ekspresi yang coba ditutupi Rallin.


Regis mengangguk menyetujui. "Benar. Tadi Naveen pergi keluar, kan? Apa kalian berpapasan? "


Kali ini giliran mata Reiner yang memicing, perubahan ekspresi Rallin sudah cukup untuk dijadikan jawaban. Ah, sial*n! Adiknya mulai berulah.


"Tidak." Rallin kembali berdeham untuk membersihkan tenggorokkannya. Mungkin kali ini cangkang durian yang tersangkut di sana. "Mungkin dia sudah pulang?"


"Bukankah tadi Naveen mengambil sebatang rokok?" tanya Naruto. "Aku kira dia ke luar hanya untuk merokok."


Diam-diam Rallin tersenyum. Sedang Xavier dan Reiner harus mendengus keras. Regis dan ketidakpekaannya benar-benar perpaduan yang sempurna.


"Entahlah, tapi aku memang tak berpapasan dengannya." Rallin mengangkat kedua bahunya sesantai mungkin. Dalam hati sudah berteriak heboh serta bertepuk tangan atas aktingnya yang luar biasa. Lain kali, ia akan mengikuti casting bila ada sutradara yang tengah mencari pemeran utama wanita untuk sebuah film. Baik, lupakan khayalan sesaatnya karena itu sama sekali tidak penting.


"Tidak ada lagi yang ingin kalian tanyakan?" tanya Rallin sembari memandang ketiga makhluk di hadapannya. "Karena sudah pukul satu, aku akan tidur. Besok aku harus bekerja."


"Aku akan menginap."


Rallin yang kini mulai melangkah menuju kamar sontak menghentikan langkahnya. Berbalik untuk menatap Reiner yang masih setia dengan gitar di tangannya. Duduk tenang seolah tak ada yang terjadi. Sepasang mata hijau milik Rallin melotot sempurna.


"Kenapa kau harus menginap?"


"Kenapa aku tak boleh menginap?"


Reiner dan mulut menyebalkannya benar-benar br*ngs*k!


"Aku hanya ingin suasana baru," potong Reiner saat Rallin hendak mengeluarkan protes. "Tidur sana! Bukankah kau bilang besok harus bekerja?"


Wajah Rallin berubah datar. Ia yakin bahwa Reiner hanya mengatakan omong kosong saja. Ada hal lain yang akan setan merah itu lakukan padanya besok pagi. Pokoknya, Rallinharus bersiap-siap  jika pagi harinya yang cerah akan berubah menjadi buruk.


"Ya sudah, aku tidur. " Dengan kaki di hentakkan, Rallin mulai meninggalkan ketiga b*jing*n gila tersebut menuju kamarnya. Membanting pintu dengan keras hingga tertutup sempurna.


.


.


.


.


Naveen tampak tengah melakukan push up di dalam kamarnya. Titik-titik keringat sebesar biji jagung telah nampak di pelipis dan juga dahinya. Napasnya kian terengah pertanda jika lelaki itu mulai kelelahan.


Olahraga di jam dua pagi adalah hal teraneh yang pernah Naveen lakukan seumur hidupnya. Tapi apa boleh buat, ia tidak bisa memejamkan mata barang sejenak atau pun berdiam diri di atas ranjang empuknya sembari menatap langit-langit kamar. Sebab, jika Naveen bersikeras melakukan itu semua, bayangan itu akan muncul kembali. Bayangan yang mampu membuat darah di seluruh tubuhnya berdesir hebat.


Naveen ambruk saat kedua tangannya tak mampu menopang lagi beban tubuhnya. Kini, ia ada di posisi tengkurap dengan wajah menghadap ke sebelah kanan, menatap lemari kaca berisi beberapa mainan action figure kesayangannya. Rasa lelah tak mampu membuat Naveen merasa tenang, justru ia semakin gusar. Ia membalik posisi menjadi terlentang lalu menatap lurus langit-langit. Mencoba menghitung apa saja yang ada di dalam otaknya saat ini. Namun—

__ADS_1


"Si*l! Kenapa semuanya berwarna merah muda!" Naveen merubah posisi menjadi duduk bersila, menjambak rambutnya yang memang sudah acak-acakan karena frustasi. "Kenapa? Kenapa kalian semua memiliki bulu merah muda!"


Memang apa yang Naveen lihat?


"Kambing-kambing sial*n! Merah muda sialan! Mata hijau si*lan!


Ah, ternyata apa yang berkeliaran di otak Naveen adalah kambing dengan bulu merah muda serta mata yang berwarna hijau. Bukankah itu sangat familiar?


Tak ingin dirinya berubah menjadi gila, Naveen memutuskan untuk masuk ke kamar mandi. Mandi menggunakan air dingin di jam dua pagi bukanlah ide yang buruk saat kondisinya saat ini.


Ia segera melepaskan pakaian yang melekat di seluruh tubuhnya. Memelototi pantulan wajahnya di cermin saat tiba-tiba saja pipinya menghangat. Bayangan sosok merah muda yang sesungguhnya membuat sebelah tangan Naveen terangkat, menyentuh bagian sudut bibir bekas kecupan singkat Rallin.


Meski hanya sekilas dan tak lebih dari kecupan seringan bulu, tapi hal tersebut mampu membuat seluruh tubuh Naveen merasa tersengat listrik bertegangan tinggi.


Jujur saja, ia pernah melakukan hal lebih intim daripada sebuah kecupan bersama Ayana. Bibir mereka saling memagut serta lidah yang saling membelit. Tak lupa, tangan Naveen yang tak akan diam saja saat melakukan hal tersebut. Namun efeknya tak pernah seluar biasa saat Rallin mengecup sudut bibirnya. Demi Tuhan! Hanya sudut bibir!


Naveen memutuskan untuk menyalakan shower lalu mulai terbuai oleh air yang membasuh tubuhnya hingga menggigil. Ia harus segera menyelesaikan acara mandinya lalu bergegas tidur. Naveen baru ingat bahwa besok harus menemui Ayana dan menjelaskan semuanya. Tentang acara kencan luar biasa mereka yang tiba-tiba batal.


Semoga saja ia bisa tidur setelah ini.


.


.


.


Xavier yang baru saja pulang dari rumah Rallin harus menghentikan langkah tepat di depan kamar Naveen  saat indra pendengarannya mendengar sebuah teriakkan. Terdengar frustasi namun juga sedikit menggelikan.


Karena penasaran, Xavier mendekatkan telinganya menuju daun pintu, bermaksud mencuri dengar kalimat apa saja yang akan dikatakan adik kesayangannya itu.


Tapi, tunggu.


Kambing?


Alis Xavier saling bertaut dengan dahi mengerut.


Merah muda?


Kambing berwarna merah muda?


Xavier kembali menjauhkan telinganya dari daun pintu lalu bergidik ngeri setelahnya. Ia yakin jika Naveen benar-benar sudah gila.


Besok pagi, Xavier akan berbicara dengan orang tuanya agar diberikan adik baru yang lebih waras dari Naveen.


.


.

__ADS_1


.


Tbc.


__ADS_2