
"Naveen, bukankah kita harus melanjutkan pembicaraan kita yang sempat tertunda?"
Naveen melepas cekalan tangan Regis pada lengannya dengan kasar, menjatuhkan kembali tubuhnya di kursi seraya menyugar rambutnya ke belakang. Kedua matanya terpejam selama beberapa saat hanya untuk menghilangkan rasa kesal yang bersarang di ulu hati. Perasaan kesal pada pria berambut pirang yang kini tengah menampilkan wajah serius dengan tatapan tajam dari sepasang mata biru yang dilayangkan padanya.
Ah, sial*n!
"Kita sudah membahas ini sebelum si rambut merah itu kemari," gerutu Naveen dengan suara dingin. Lelaki itu embali membuka kelopak matanya untuk membalas tatapan tajam Regis. "Dan aku juga sudah menjelaskan alasanku tentang kenapa aku membatalkan kencan itu."
Mata Regis menyipit. "Kau tidak akan membatalkannya hanya karena tetangga barumu pindah rumah."
Astaga! Kepalanya mulai terasa pening sekarang.
"Lalu aku harus menjelaskan apa lagi padamu?"
"Tentu saja kau harus memberitahuku alasan yang masuk akal. Bukan omong kosong yang baru saja kau sebutkan."
Demi Tuhan! Omong kosong katanya? Regis mengatakan bahwa membantu tetangga yang baru saja pindah rumah adalah omong kosong? Bukankah itu perbuatan mulia karena ia telah membantu sesama manusia? Tuhan juga menganjurkannya, kan?
"Reg—"
"Aku hanya ingin mengatakan satu hal padamu." Regis kembali mengeluarkan suaranya, memotong perkataan yang hendak keluar dari celah bibir Naveen. "Jangan pernah menyakiti Ayana apa pun alasannya. Atau—"
"Tidak akan." Kali ini gantian Naveen yang memotong perkataan Regis. "Kau tahu, kan, seperti apa perjuanganku untuk mendapatkannya? " Setelah itu matanya memicing, menatap Regis dengan pandangan penuh selidik. "Jangan bilang kalau kau—"
"Buang jauh-jauh pikiran itu dari kepalamu!" Regis segera memukul bagian belakang kepala Naveen. Cukup keras hingga lelaki yang memiliki gaya rambut seperti b*kong ayam itu mengaduh seraya memegang kepalanya.
Namun setelahnya, Naveen tertawa keras." Kau tenang saja, aku akan menemui Ayana besok dan menjelaskan semuanya." Naveen mulai melangkahkan kakinya dengan santai menuju Xavier yang terlihat kerepotan karena membawa beberapa botol wine serta gelas yang ia yakini di ambil dari rumah mereka.
Sedangkan Regis, pria itu masih mematung di tempatnya dengan ekspresi kaku. Sepasang mata sebiru langitnya menatap punggung tegap Naveen yang kian menjauh dengan pandangan berbeda. Ada perasaan bersalah di sana, di matanya. Helaan napas lelah keluar dari celah bibirnya.
"Tebakanmu benar, Nav."
.
.
.
Ayana masih berguling-guling di tempat tidurnya dengan senyum bodoh yang terlukis di bibir tipisnya. Sesekali, ia mengangkat tangannya, mengusap bagian lengan yang siang tadi sempat ditarik oleh Regis. Setelah itu, ia menutupi wajahnya dengan bantal saat merasa senyumannya bertambah semakin lebar dan bisa saja mulutnya akan robek.
Regis, salah satu sahabatnya ketika SMP menarik lengannya. Ada debaran menyenangkan yang ia rasakan saat mereka berjalan tergesa keluar dari tempat perbelanjaan menuju tempat parkir dengan tangan yang saling bergandengan. Debaran yang telah lama Ayana rasakan untuk pria berambut pirang itu.
"Regis, kapan kau akan melihatku?" Ayana memindahkan bantal yang menutupi wajahnya ke sisi tubuh. Matanya menatap langit-langit kamar dengan pandangan menerawang. "Aku merasa menjadi wanita paling jahat karena memanfaatkan Naveen hanya untuk menarik perhatianmu."
Benar, alasan Ayana mau menerima Naveen sebagai kekasihnya hanya untuk menarik perhatian Regis. Ia hanya berpikir, jika ada lelaki lain di sisinya, Ayana bisa melihat ekspresi lain yang di tampilkan wajah Regis. Ekspresi yang sangat Ayana harapkan, cemburu.
__ADS_1
Namun ternyata tebakannya salah besar, Regis masihlah sama. Tidak ada perubahan berati dari lelaki itu selain menuruti semua keinginannya ketika mood-nya memburuk.
Ayana mengusap wajahnya dengan kedua tangan secara kasar, memilih untuk beranjak dari tempat tidur menuju kamar mandi.
Mandi dengan air dingin di tengah malam sepertinya bisa mengembalikan akal sehatnya.
.
.
.
Acara barbeque yang dilakukan untuk merayakan kepindahan Rallin berakhir hampir tengah malam. Setelah membereskan kekacauan yang ada—tumpukan piring kotor serta beberapa hal merepotkan lainnya, mereka semua memutuskan untuk masuk ke dalam rumah karena udara yang semakin dingin. Reiner terlihat duduk santai di sofa tunggal seraya memainkan gitar milik Naveen
Jujur saja, Rallin tak menyangka jika saudara kembarnya cukup mahir dalam memainkan gitar.
"Suaranya fals, Bung!" Regis yang tengah berjalan menuju dapur segera menoyor kepala Reiner. "Kau lebih baik duduk di belakang meja kerja saja."
Reiner menatap Regis jengkel, melemparkan bantal yang diambilnya secara paksa dari pangkuan Rallin dengan keras hingga mengenai kepala pirang Regis. Ia Menyeringai, merasa puas karena telah membuat teman semasa kuliahnya merasa kesal.
"Sial*n!" gerutu Regis sembari melanjutkan langkahnya menuju dapur.
Rallin yang sedari tadi duduk di sofa panjang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Pemandangan tersebut mengingatkannya ketika mereka di Kanada dulu. Jika Reiner yang dulu akan bersungut-sungut ketika digoda habis-habisan oleh dirinya mau pun Regis. Namun sekarang, pria berambut merah itu terlihat sangat tenang dan lebih memilih cara aman untuk membuat kesal orang-orang di sekitarnya.
Contohnya seperti sekarang, ketika Naveen yang hendak duduk di sampingnya harus kembali mengurungkan niat karena perkataan pedas yang keluar dari mulut Reiner.
Begitu katanya. Dengan nada yang terlampau datar serta tanpa menatap lawan bicaranya, Reiner berhasil membuat Naveen merasa kesal setengah mati. Rallin bisa tahu dari ekspresi wajah Naveen yang berubah masam.
Tak ingin berdebat, Naveen memilih untuk menjaga jarak dari Rallin, meski pun mereka masih berada di sofa yang sama. Mengeluarkan ponsel dari saku jaketnya lalu memainkannya tanpa minat. Sesekali, ia melirik ke arah Rallin melalui ekor mata. Berbagai ekspresi di wajah Rallin terlihat jelas ketika Reiner mengatakan omong kosong yang entah apa pada perempuan berambut merah muda itu. Terkadang, perempuan itu akan merengut dengan kedua alis yang menyatu, lalu tak lama kemudian dia tertawa saat Reiner mengeluarkan lawakan yang menurut Naveen tak lucu sama sekali.
Tanpa sadar, Naveen mengulas senyumnya. Ia tak bisa mengalihkan atensinya pada Rallin untuk waktu yang lama. Lalu—
"Kenapa kau tersenyum seperti itu?"
—bisikan setan dari mahluk bernama Xavier yang kini duduk di antara dirinya dan Rallin berhasil membuat senyum Naveen langsung lenyap dari bibirnya bahkan dari muka bumi.
"Apa kau menyukainya?"
Lagi, bisikan laknat Xavier terdengar. Sangat menjengkelkan hingga membuat Naveen ingin menyumpal kedua telinganya dengan apa saja.
"Kalau begitu, dekati dia lalu dapatkan hatinya."
Xavier gila! Orang yang memiliki julukan playboy kelas teri oleh banyak orang—yang sayangnya adalah kakak kandungnya sendiri itu benar-benar gila. Mata Naveen memicing pada sang kakak yang kini menampilkan seringai seraya mengangkat kedua alisnya tinggi.
"Jika kau tidak mau, biar aku saja yang—"
__ADS_1
"Aku akan membunuhmu jika kau berani melakukannya!"
Perkataan Naveen yang cukup keras berhasil mengalihkan semua orang yang ada di ruangan tersebut ke arahnya. Terlihat, Regis mengangkat alisnya tinggi sedangkan Rallin menatap penasaran ke arah dirinyanya dan juga Xavier. Reiner hanya menatapnya sekilas, memilih untuk tak ambil pusing karena menurutnya itu adalah hal tak penting. Pemuda dengan surai merah terang itu masih duduk tenang, memetik senar gitar seraya menyanyikan lagu Hana milik band My First Story. Omong-omong, suara lelaki itu cukup bagus. Selain menjadi seorang pengusaha muda dan chef handal berpenampilan aduhai, Reiner juga pantas menjadi seorang penyanyi.
Sedangkan Xavier, lelaki itu mati-matian menahan tawa karena telah berhasil membuat adiknya kesal. Ia menaik turunkan alisnya, masih mencoba menggoda Naveen.
"Bagaimana?" tanya Xavier lagi.
"Berhenti berbicara omong kosong, B*jing*n!" umpat Naveen dengan nada sangat pelan. "Kau tahu, kan, kalau aku sudah memiliki kekasih? "
Xavier kembali menyeringai. "Tak masalah, selagi Rallin tak mengetahuinya."
"Dasar b*jing*n gila!" Naveenmengambil sebatang rokok yang ada di atas meja lalu berjalan menuju teras rumah. Jarak antara ruang tengah kediaman Rallin dan teras rumah cukup jauh, jadi Naveen tak perlu merasa terganggu dengan suara gaduh dari orang-orang yang ada di dalam sana.
Ia menghela napas, duduk di atas teras rumah Rallin lalu mulai menyesap rokok yang di apit oleh jari telunjuk serta jari tengahnya dengan perlahan. Pandangannya menerawang, memikirkan kembali perkataan Regis beberapa jam lalu.
Terasa ada yang janggal, namun Naveen tak menemukan di mana letak kejanggalannya. Bukan tanpa alasan Naveen sempat menanyakan hal tersebut pada Regis. Sikap Regis yang kelewat protektif pada kekasihnya membuat Naveen mau tak mau harus menyimpulkan hal yang tak seharusnya ia simpulkan; kemungkinan bahwa Regis memiliki perasaan pada Ayana.
Asap keluar dari celah bibir Naveen ketika meniupkannya ke udara.
"Ah, sudahlah. Selama dia tidak macam-macam aku tak peduli," gerutunya dengan nada kesal. Naveen membuang puntung rokok yang tinggal setengah ke pekarangan rumah, lalu tersentak kaget saat merasakan tepukan pelan pada bahunya. "Astaga! Kau mengagetkanku!"
Beruntung ia tak memberikan kata-kata manis andalannya pada sang pelaku. Karena jika memberikannya, Naveen yakin ia akan merasa sangat bersalah.
"Kau baik-baik saja?" Naveen mengangguk, pandangannya setia mengikuti Rallin yang kini ikut duduk di sebelahnya. "Dari tadi kau terlihat gusar."
Naveen hanya mengangkat bahu. "Yah, bukan hal yang serius. Kau tahu, kan, jika semua orang memiliki permasalahan? "
"Kau benar," ujar Rallin menyetujui. "Dan sebisa mungkin kita harus menyelesaikan masalah yang kita hadapi seorang diri."
"Terkadang ada beberapa masalah yang tak bisa kita selesaikan seorang diri. Kita membutuhkan orang lain untuk menyelesaikannya."
Sakura yang saat ini menatap pekarangan rumahnya segera menoleh, menatap sisi wajah Naveen. Rahangnya yang terlihat tegas membuat Rallin harus mati-matian menahan tangannya agar tak terulur untuk menyentuhnya. Naveen tetap terlihat tampan bahkan ketika hanya mengenakan pakaian santai. Rallin merasa sedikit penasaran, berapa banyak wanita yang mengantri menjadi kekasih Naveen ketika SMA atau semasa kuliah? Tanpa mengalihkan tatapannya, Rallin menggeleng pelan. Memilih untuk mengenyahkan tentang semua pikiran aneh yang baru saja hinggap di kepalanya.
Namun semuanya berubah kacau saat Naveen tiba-tiba saja menoleh, menatapnya dengan terkejut, meski pun hanya sekilas. Namun hal tersebut membuat Rallin harus menahan napas saat membalas tatapan dari sepasang bola mata indah di hadapannya. Tanpa ia sadari, sebelah tangannya terulur , benar-benar mengusap rahang tegas Naveen dengan lembut hingga tubuh lelaki itu menegang hebat.
Keinginan lain muncul dalam diri Rallin, keinginan yang tak seharusnya ia lakukan pada siapa pun yang tak memiliki hubungan apa pun dengannya. Namun, Rallin memilih untuk mengabaikan hal tersebut. Dengan debaran jantung yang kian menggila, Rallin mendekatkan wajahnya ke arah Naveen lalu mengecup sudut bibir pria itu. Hanya sekilas. Namun memberikan efek yang luar biasa pada seluruh bagian tubuhnya.
Ia kembali mengulas senyum pada Naveen, mulai beranjak dari sana untuk masuk ke dalam rumah. Sebelum tubuhnya benar-benar tertelan daun pintu, Rallin berkata dengan nada riang.
"Selamat malam, Nav."
.
.
__ADS_1
.
-To be continued-